
“What!” terkejur, Leo dengan lebay bereaksi. Melepaskan tangannya yang di peluk Clara, kemudian menatap tak percaya pada anak kesayangan Pandu itu. “Kamu kerja baru tujuh bulan loh, Tu, dan sekarang minta cuti dua minggu?” Leo menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu tahu, tujuh bulan itu termasuk anak baru di tempat kerja, dan masa cuti belum di berikan pada karyawan. Kamu malah minta cuti dua minggu di saat masa percobaan kerja baru aja selesai,” lagi, Leo menggelengkan kepalanya, tak habis pikir bagaimana bisa dirinya memiliki karyawan seperti wanita di sampingnya yang tidak merasa bersalahnya, malah cengengesan dengan tatapan mata seperti anak kucing yang minta di pungut dari tong sampah.
“Atu ‘kan karyawan Papi yang spesial, jadi boleh dong anak Papi yang cantik ini minta cuti dua minggu," Clara mengedip-ngedipkan matanya lucu. "Itu sebentar loh Pi, cuma empat belas hari.” Bujuk Clara kembali memeluk tangan Leo.
“Mau apa sih memangnya sampai kamu minta cuti selama itu?” tanya Leo yang masih juga enggan memberikan izin. Bisa bangkrut supermarketnya jika memiliki karyawan seperti Clara. Apalagi wanita itu memiliki jabatan yang cukup penting di supermarket miliknya.
“Mau bulan madu dong, Pi, biar cepat-cepat kasih Papi cucu.”
“Bulan madu ke mana?” Leo menaikan sebelah alisnya bertanya.
“Ke Maldives.”
“Gila, jauh banget! Kamu kalau mau bulan madu cukup kunci kamar aja, gak perlu jauh-jauh sampai ke Maldives segala, buang-buang uang tahu gak.”
“Hidih, itu mah Papi-nya aja yang pelit!” Clara memutar bola matanya. “Jadi boleh ya, Atu minta cuti dua minggu? Sekalian doain biar pulang dari sana Atu hamil. Atu kan juga pengen segera punya bayi, Pi. Atu iri sama Queen yang udah punya si kembar. Apalagi orang tuanya Birma selalu nanyain kapan Atu hamil,” raut wajah Clara kini berubah sedih, dan itu sukses membuat Leo iba.
“Atu gak baik-baik aja, Pi. Dan Papi juga tahu alasan kenapa Atu minta izin untuk kerja, Atu gak mau berlarut dalam kesedihan dan juga gila karena selalu memikirkan hal itu. Wanita yang sudah menikah seperti Atu gini, paling sensitif jika di tanya kapan hamil, apa lagi sama mertuanya sendiri.” Clara menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi.
Leo tahu bagaimana Clara memendam kesedihan itu, karena saat itu, anak kesayangan dari pasangan Lyra-Pandu memang menceritakan alasannya ingin bekerja. Kesedihan yang semula di tutup-tutupi wanita itu akhirnya terbuka dengan paksaan Leo, dan kenyataan mengenai bagaimana tersiksanya Clara selama ini membuat kedua orang tua wanita itu juga terpukul. Namun jelas mereka tidak bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan kesedihan putrinya.
Sebagai orang tua, Pandu, Lyra juga Leo hanya bisa mendoakan yang terbaik, dan merangkul Clara untuk sekedar menenangkan dan memberikan kekuatan. Mereka tidak bisa banyak ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya, selain memberikan dukungan. Kecuali jika Birma sudah tidak lagi memperlakukan Clara dengan baik, itu akan beda lagi ceritanya. Jangankan untuk ikut campur, memisahkan keduanya pun akan mereka lakukan demi kebahagiaan putri tercinta mereka.
“Atu tertekan, Pi. Meskipun itu hanyalah kata sederhana dan terdengar sepele, tetap saja itu membuat pikiran Atu terbebani. Padahal dokter sudah mengatakan bahwa Atu jangan terlalu banyak pikiran, apalagi terlalu stres.”
Leo membawa kepala Clara ke dalam pelukannya, lalu memberikan kecupan singkat di puncak kepala perempuan cantik yang sudah di anggapnya sebagai anak sendiri, walau pada kenyataannya, Clara bukanlah lahir dari perut istrinya, tapi Lyra sudah dirinya anggap sebagai saudaranya sendiri, dan ia menyayangi wanita itu dengan separuh hidupnya. Baginya, anak Lyra adalah anaknya juga, begitupun sebaliknya. Apalagi hubungan mereka semakin erat dengan pernikahan antara Cleona dan Rapa yang menjadi tali penghubung.
“Tu, Papi akan kasih izin kamu cuti untuk pergi bulan madu sama suami kamu itu, tapi ... seminggu aja apa gak cukup? Dua minggu kelamaan, Tu, Papi belum siap bangkrut.” Leo meskipun merasa begitu iba pada Clara, masih saja melayangkan negosiasi, membuat Clara melongo dan tidak tahu harus berkata apa selain memberikan puppy eyes-nya, dan itu membat Leo pada akhirnya kalah, sehingga sebuah persetujuan laki-laki itu berikan walau dengan berat hati.
Bukan karena tidak ingin di tinggal oleh Clara, tapi Leo lebih kepada memikirkan nasib supermarketnya. Pekerjaannya di Hotel peninggalan sang papa sedang banyak-banyaknya, ia tidak mungkin mengurus kedua pekerjaan itu sekaligus oleh dirinya sendiri, mengingat usianya yang kini tidak muda lagi.
“Udah, pergi sana ke rumah bunda kamu, masakin Papi cumi goreng saus padang. Papi mau mandi dulu.” Leo bangkit dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya, meninggalkan Clara yang sudah mengembangkan senyum bahagia karena mendapat izin dari sang papi yang juga menjadi bosnya di tempat kerja.
“Oke Papi, Atu masakin yang spesial buat papi.” Melenggang pergi, Clara keluar dari rumah besar yang hanya menjadi tempat untuk tidur papi-nya, karena laki-laki itu memang selalu menghabiskan waktu di rumah sebelah, tak lain adalah kediaman Lyra-Pandu yang bertambah ramai dengan kehadiran si kembar Nathan dan Nathael.
🐾🐾🐾
Makan malam di mulai bertepatan dengan kedatangan Birma yang memang pulang lebih telat dari hari-hari biasanya. Melihat wajah lelah sang suami tentu saja membuat Clara tidak tega, dan sebuah pelukan juga kecupan singkat di pipi pria itu menjadi bentuk perhatian dan semangat untuk Birma.
“Bisa manis juga ternyata lo, Tu?” cibir Rapa saat melintas di depan pasangan itu.
“Gue udah manis dari orok, Bang. Lo aja yang baru sadar!” Clara meletakan dagunya di punggung tangannya yang seolah menyerupai kuncup, bergaya dengan semanis mungkin. Setelah itu membimbing suaminya untuk duduk di meja makan bergabung dengan yang lainnya.
“Heleh, gue sejak orok ada di samping lo, gak pernah tuh nemuin kemanisan lo. Kalau ngeselin, nyebelin dan galak, baru gue tahu itu lo. Untung aja ada cowok yang mau sama lo!”
“Cowok yang mau sama gue jelas banyak, secara gue secantik ini,” dengan sombongnya Clara membanggakan wajah cantiknya. “Lo aja yang selalu halangin mereka mendekat. Untung Birma secinta itu sama gue, dan saat itu lo lagi galau-galaunya di tinggal pergi pujaan hati, jadi gak buat Birma tersingkirkan sama lo yang posesifnya ngalahin tingginya monas, juga ancaman-ancaman menyebalkan lo lainnya.” Clara memberikan delikannya pada sang kakak yang dulu memang selalu membuatnya darah tinggi karena tingkah pria itu yang selalu menyingkirkan siapa saja yang mendekatinya dengan cara yang tidak beda jauh dengan pereman pasar, memberikan ancaman pada siapa saja yang tidak mau memberikan setoran pajak tidak tertulis.
“Gue menjauhkan lo dari pria-pria gak baik, Tu. Lagi pula sebagai kakak yang baik, tampan dan penuh pesona kayak gue, mana mungkin gue mau biarin adik tersayang gue jatuh ke tangan laki-laki berengsek. Lagi pula Birma juga gak semudah itu lolos jadi adik ipar gue, lo-nya aja yang gak tahu.” Kata Rapa, lalu menerima suapan dari sang istri.
“Emang apa yang lo lakuin, Bang?” tanya Clara dengan penuh rasa penasaran, karena selama ini suaminya tidak sedikit pun menceritakan pernah mendapat pertentangan dari kakaknya.
“Kepo lo, Dek.”
“Abang, ceritain.” Rengek Clara yang sama sekali tidak Rapa hiraukan. “Abang!” teriak Clara kesal, namun tetap saja Rapa bungkam dan dengan santainya menerima suapan dari istrinya, sedangkan tangannya sibuk dengan ponsel.
“Makan dulu, Cla.” Birma yang sejak tadi hanya diam menyimak mulai menghentikan istrinya. Tidak ingin Clara sampai melupakan makannya hanya karena rasa penasaran wanita itu, yang sebenarnya apa yang di katakan Rapa adalah sebuah kebohongan.
Niatnya tadi Birma akan membantah apa yang di katakan Rapa, sebelum kemudian sinyal berupa kedipan jahil dari kakak iparnya Birma dapatnya, membuat Birma pada akhirnya diam saja, mengikuti alur kejahilan Rapa. Sudah lama juga dirinya tidak melihat kakak beradik itu berantem. Apa lagi wajah kesal Clara adalah favorit-nya. Jadi biarkanlah dirinya bersekongkol untuk mengerjai sang istri tercinta. Setelah itu ia akan menikmati wajah istrinya yang menggemaskan.