
Seolah lupa dengan perdebatan di mobil beberapa menit lalu, sepasang suami istri aneh sekaligus menyebalkan itu kini terlihat mesra, berjalan berdampingan dengan tangan si suami yang merangkul posesif di pundak sang istri, masuk ke dalam mall yang menjadi tujuannya untuk membeli perlengkapan si bayi dalam perut.
Seolah dunia milik berdua, Birma dan Clara lebih asyik mengobrol dan becanda tanpa menghiraukan berbagai macam tatapan orang yang berada di tempat yang sama. Bahkan kedua ibunya pun mereka abaikan, berjalan tiga langkah di belakangnya. Namun nyatanya keakraban itu tidak berlangsung lama, karena begitu tiba di toko khusus perlengkapan bayi, mulai dari warna, bentuk, dan segala macam lainnya tidak lepas dari perdebatan antara Birma dan Clara, membuat Lyra dan Arindi pusing menyaksikannya.
“Kalian sebenarnya mau belanja apa berantem sih?” Lyra menggeram frustrasi, menatap anak dan menantunya bergantian. “Lebih baik duduk aja deh, dari pada bikin gak nyaman orang yang juga mau belanja. Biar Bunda sama Mama Arindi yang pilih untuk bayi kalian.”
“Ta…”
“Gak ada tapi-tapian, kalian duduk di luar aja sana biar gak ganggu!” potong Arindi dengan cepat, menujuk pintu keluar dan sedikit mendorong Birma pergi. Tentu Clara pun mengekor dan sepasang suami istri itu menghela napasnya pasrah.
“Awas kalau pilihan Mama sama Bunda jelek,” ancam Clara. Masih tidak rela sebenarnya untuk keperluan sang buah hati bukan dirinya yang memilih. Tapi mau bagaimana lagi, bunda-nya benar, jika di serahkan pada ia dan Birma, sampai lebaran monyet pun gak akan pernah selesai mereka belanja. Terlalu banyak perdebatan yang pasti di lakukan. Suaminya menyebalkan memang, tidak mau ngalah sedikitpun. Tuhkan Birma lagi yang di salahkan.
“Gak usah ngeremehin selera Bunda! Pilih pengganti Ayah kamu aja Bunda masih bisa, masa iya cuma pilih perlengkapan bayi Bunda ga bisa.” Lyra yang beberapa detik kemudian menyusul besannya yang menyeret Birma mencebikkan bibirnya, lalu menengadahkan tangan ke arah pria tampan yang beruntung putrinya dapatkan itu. Birma yang tidak mengerti dengan itu mengernyitkan kening. Ketidak pekaannya memang sudah mandarah danging sepertinya.
“ATM,” Arindi yang menjawab. Semakin memperdalam kerutan di kening Birma. Arindi menggelengkan kepala tidak habis pikir akan sang putra yang begitu sulit untuk mencerna maksud sederhana itu. Entahlah laki-laki itu menuruni kepala siapa sampai bisa selambat ini. “Jangan bilang kalau kamu gak mau bayarin belanjaan untuk anak,” katanya dengan mata memicing.
“Aish, bicara sama Birma emang susah, Ma,” Clara yang ikutan jengah pun akhirnya buka suara dan dengan cepat meraih dompet sang suami dari balik saku belakang celana jeans pria itu mengeluarkan benda tipis dengan nama Bank ternama dan memberikannya pada sang mertua.
“Bilang dong kalau Mama sama Bunda butuh kartu Credit,” ujar Birma dengan polos dan mengangguk-angguk kecil seolah sekarang dirinya sudah paham.
“Terserah kamu ajalah, Bir. Mama pusing. Kalian duduk aja di sini jangan mengacau!” ujarnya memperingati, lalu masuk kembali ke toko perlengkapan bayi bersama besan yang sejak kehamilan Clara sudah maaf-maafan dan mulai akur, tidak ada lagi percekcokan, saling sindir seperti beberapa waktu lalu. Kini keduanya sudah menjadi satu dan akrab bagai sahabat sejati.
“Kamu sih gak mau ngalah,” Clara mendelikkan matanya ke arah Birma yang sudah lebih dulu duduk di kursi tunggu yang berada tidak jauh dari toko yang baru saja mereka tinggalkan.
“Kok jadi nyalahin aku?”
“Ya kamu emang salah. Sebagai suami itu harusnya ngalah, lagiaan untuk keperluan bayi apa salahnya coba nurut sama aku. Perempuan itu lebih paham!”
“Lah kan emang iya,” sahut Clara cepat.
“Aish, udahlah gak usah di bahas lagi, udah ada Mama sama Bunda juga. Aku cape tahu gak debat sama kamu dari tadi. Perut aku lapar, butuh makanan,” ujarnya seraya bangkit dari duduk kembali. “Kamu mau nunggu di sini apa ikut cari makan?” tanyanya pada sang istri. Tentu saja Clara memilih ikut, bukan hanya perut Birma yang butuh asupan, karena perutnya pun membutuhkan itu, apalagi ada makhluk lain yang bersemayam di dalam perutnya yang semakin hari semakin membesar, membuat Clara lebih cepat lapar, dan lebih sering makan meskipun porsinya tidak terlalu banyak.
Akhirnya sepasang manusia itu melahkahkan kembali kakinya, menyusuri pusat perbelanjaan yang haris ini tidak terlalu penuh mengingat ini adalam jamnya orang kantor. namun meski begitu bayak remaja yang antri di depan tiket menuju bioskop entah itu bersama pasangan atau teman, yang jelas melihatnya membuat Clara kembali teringat akan masa remajanya dulu.
Clara masih ingat awal berpacaran dengan Birma saat itu, begitu sering ia berbohong dengan alasan kerja kelompok pada Cleona dan abangnya, sembunyi-sembunyi hanya agar bisa jalan dan nonton bersama pria itu. Tadinya Clara menganggap hubungan mereka hanya untuk pemanis masa remajanya, namun ternyata takdir Tuhan begitu indah, Tuhan malah justru menjodohkannya dengan laki-laki yang sejak remaja dulu memberinya warna.
Awal mula tidak ingin terlalu jatuh cinta, kini malah berbubah menjadi tidak ingin kehilangan. Jatuh cinta yang semula dirinya anggap sebagai kebodohan, kini malah memberi kebahagiaan, dan Clara tidak menyesal telah jatuh cinta. Apalagi pada sosok Birma yang tampan dan baik hati, pengertian juga penyabar, meskipun ya … menyebalkan.
“Bir, ingat tempat itu gak?” Clara menhentikan langkahnya, seraya menunjuk salah satu café yang cukup ramai oleh remaja berseragam putih-abu.
“Kenapa memangnya?” satu kernyitan di kening Birma berikan, tidak paham dengan maksud yang coba ingin istrinya sampaikan.
“Mengenang masa remaja, yuk, di sana,” ajaknya sekilas menoleh pada laki-laki yang tengah di gandengnya. Lipatan di kening Birma bertambah, berusaha mencerna seraya menatap tidak percaya pada sang istri.
“Kamu yakin?” dan satu anggukan yang di berikan wanita hamil itu nyatanya tidak dapat Birma tolak. Memilih masuk dan duduk di kursi yang tempatnya persis mereka duduki bertahun-tahun lalu. Entah kursi ini tidak terlihat atau memang semesta tengah berpihak pada sepasang suami istri itu untuk bernostalgial. Karena yang jelas si ibu hamil begitu bukan main bahagianya. Bukan hanya mengenai tempat duduk, tapi menu yang dulu mereka pesan pun menjadi pilihan Clara saat ini, roti bakar keju dengan toping es krim vanilla. Café ini tidak berubah, masih sama seperti bertahun-tahun lalu ketika Birma dengan gugupnya menyatakan cinta. Tidak manis memang, tapi cukup berkesan. Ah, tidak berkesan juga sebenarnya, karena Birma yang bukanlah sosok puitis dan romantis dambaan wanita. Laki-laki itu malah terkesan cuek, pendiam dan to the poin, apalagi saat itu dirinya belum terlalu menganai Birma.
“Cla, gue suka sama lo. Mau jadi pacar gue?”
Sesingkat itu Birma menyatakan cinta padanya, dan Clara tidak kalah singkat dari itu untuk memberikan persetujuan. Rasa suka dan penasaran yang membuat Clara menerima, bukan karena cinta yang semana mestinya. Dari sanalah mereka pacaran, mengenal semakin dekat dan Clara tahu seberapa menyebalkannya Birma. Hingga sekarang, menyebalkannya pria itu sudah seperti santapan sehari-harinya.
“Bir, ulang dong pernyataan cinta kamu waktu pertama kita jadian. Sedikit manis dari sebelumnya tapi, biar aku gak kesel setiap ingat itu,” pinta Clara yang belum sama sekali menyentuh makanannya yang datang beberapa menit lalu.
“Gak!” tolaknya cepat. Membuat Clara cemberut, tapi tidak patah semangat untuk memaksa suami tampannya itu, meskipun gelengan lagi-lagi pria itu berikan, sebelum kemudian dihentikan dengan jawaban Birma, “Aku sudah pernah mengucapkan yang lebih manis saat menggenggam tangan Ayah kamu di hari pernikahan kita. Jadi yang di ingat waktu ijab kobul aja, biar senyumnya ngembang terus.”