
“Ngapain aja sih lo, Cell lama amat di dalam?!” tanya Clara dengan nada kesal karena di buat menunggu oleh mantan sekretaris suaminya itu.
“Ngasih wejangan dulu sama saingan lo,” jawab ringan Cella, seraya duduk di bangku penumpang belakang menyusul Clara yang sudah lebih dulu duduk. Sementara Birma dan Bram berada di jok depan.
Hari ini mereka berencana untuk makan bakso di kedai favorit kedua ibu hamil itu, sekaligus Birma dan Bram yang akan membahas mengenai pekerjaan, itulah alasan mengapa pagi tadi Cella datang ke kantor Birma.
Clara yang akan merasa bosan dengan obrolan kedua laki-laki itu memilih mengundang Cella agar ada teman untuk bercerita atau berau argument seperti biasanya. Yang penting suasana tidak sepi dan tidak membosankan.
“Saingan gue?” alis Clara terangkat. Cella menganggukan kepalanya singkat. “Maksud lo Dinda?”
Cella mengedikan bahunya. “Mana gue tahu. Belum sempat kenalan. Pokoknya yang tadi di sapa Pak Birma.”
Birma yang di sebut namanya menoleh dengan raut muka seolah bertanya.
“Udah kamu nyetir aja.” Tegur Clara pada suaminya itu.
“Ngapain bahas-bahas Dinda?” tanya Birma yang kini sibuk dengan kemudinya.
“Kesayangannya di belain.” Cibir Clara sinis.
“Gitu ya Bram kalau perempuan cemburu.” Birma menoleh sekilas pada laki-laki di sampingnya. Bram hanya merespons dengan kekehan.
“Aku gak cemburu!” bantah Clara tegas.
“Masa, kok aku gak percaya?” Birma menatap wajah kesal istrinya di spion depan dengan kekehan geli.
Clara hanya mendengus dan tak lagi menanggapi suaminya itu. Birma lebih menyebalkan jika sudah berbangga diri di cemburui Clara.
“Awas lo, Bir, gue bikin cemburu tahu rasa nanti!” gumam Clara dalam hati.
🍒🍒🍒😂
Dua puluh menit waktu yang di habiskan untuk tiba di kedai bakso yang kedua ibu hamil itu inginkan. Birma juga tidak habis pikir kenapa makan bakso saja harus sejauh ini, padahal di samping kantor ada juga kedai Bakso yang tak kalah enaknya.
Tapi balik lagi pada keinginan ibu hamil yang memang kadang merepotkan, untuk apa ada yang jauh kalau harus di tempat yang dekat. Begitulah kiranya.
Clara dan Cella yang biasa lebih suka beradu argument, kali ini sepertinya memilih akur. Makan bakso ditemani dengan gosip heboh, membuat Birma dan Bram yang tengah membahas pekerjaan di buat geleng kepala. Untung saja kedai Bakso sudah sepi saat ini, jadi kehebohan dua wanita hamil itu tidak terlalu jadi tontonan.
Jangan lupakan Clara yang menceritakan mengenai Dinda bersungut-sungut. Delikan demi delikan tak jarang di layangkannya pada Birma. Dan Birma yakin orang yang menjadi bahan pembicaraan istri serta mantan sekretarisnya kini pasti sedang bersin-bersin. Tapi itu lebih baik dari pada keselek, bahaya jika sampai menghambat pernapasannya.
“Clara?”
Suara asing itu membuat si empunya nama menoleh, begitu juga dengan Cella yang mendengar. Suara pekikan Clara selanjutnya membuat Birma dan Bram yang tengah serius membahas pekerjaan teralihkan, penasaran dengan apa yang membuat wanita hamil itu terpekik kegirangan. Birma mengeraskan rahang saat tahu seorang laki-laki cukup tampan berdiri di hadapan istrinya yang tersenyum ceria.
“Ditdit?” tanya Clara tak percaya. Laki-laki itu mengangguk kecil dengan senyum manis yang terukir. Menambah panas laki-laki yang duduk di meja belakangnya.
“Lagi ngapain lo disini?” tanya laki-laki yang Clara panggil Ditdit itu.
“Ngemis!” serunya ketus. “Namanya di kedai bakso yang makan bakso-lah, gimana sih lo!” deliknya kemudian. Laki-laki tinggi dan cukup tampan itu tertawa merdu seraya mengusak rambut Clara dengan gemas.
“Lo masih gak berubah, gemesin!” ujarnya kemudian menjawil hidung mancung Clara. Sedangkan Clara merespons dengan cengirannya. Cengiran polos yang tentu saja belum pernah Birma lihat sebelumnya.
“Lo ngapain disini?” tanya Clara kali ini.
“Gak sengaja aja liat lo, jadi gue masuk buat mastiin. Eh, ternyata beneran lo, Rara-nya gue.” Jawab laki-laki itu, yang sekali lagi menjawil hidung mancung Clara yang sepertinya senang-senang saja, dilihat dari raut wajahnya yang terlihat ceria.
Birma semakin merasa kepanasan, tapi belum berniat untuk menghentikan. Ia ingin tahu sampai mana kedua manusia lupa penghuni lain itu akan bertingkah.
“Nanyanya bisa di pending dulu gak? Gue pegal nih berdiri terus.”
Clara tertawa mendengar nada kesal itu. Saking senangnya bertemu teman lama membuat ia lupa untuk mempersilahkan laki-laki itu duduk. Bahkan sepertinya bukan hanya itu saja yang Clara lupakan, tapi Cella dan juga sang suami Clara lupakan keberadaannya.
“Sampe lupa gue, saking senangnya ketemu lo,” Clara menepuk keningnya singkat. “Abis lo langsung ngilang setelah lulus kuliah. Untung aja gue masih ingat wajah lo.” Ujar Clara kesal, lalu melayangkan pukulan ringannya pada lengan laki-laki yang sudah duduk di sampingnya itu.
“Sorry, waktu itu gue gak ngabarin lo,” sesalnya. “Lo pasti kangen, ya?”
“Ka…”
“Ekhemm!” deheman yang cukup keras itu menghentikan Clara yang hendak berucap, lalu menoleh pada arah deheman berasal, kemudian meringis kecil melihat bagaimana keruhnya wajah sang suami saat ini.
“Kenapa Pak, keselek?” tanya Clara dengan polosnya. Laki-laki di samping Clara ikut menoleh dan mengernyitkan kening bingung saat mendapatkan tatapan tajam dari orang tak dikanalnya itu.
“Keselek duri cemburu kayaknya.” Sahut Cella terkekeh geli. Clara melirik, lalu ikut terkekeh geli.
“Baru tadi niat balas dendam, eh, udah langsung muncul aja.” Senang Clara dalam hati, menahan senyumnya.
“Lo kenal mereka, Ra?”
“Dia istri gue! Mau apa lo?” sahut Birma dengan tatapan tajam seolah ingin menguliti.
“Benar, Ra?” Clara tidak mengiyakan, tidak juga menyalahkan, hanya seulas senyum yang dia berikan untuk respons laki-laki yang di panggil Ditdit itu. Yang tentu saja di artikan iya olehnya. “Anjir, kenapa lo gak bilang kalau ke sini sama laki lo?”
“Lo gak nanya,” santai Clara menjawab.
“Pantesan dari tadi gue ngerasa horror duduk di sini.” Katanya seraya mengusap tengkuk yang tiba-tiba saja merinding.
“Lo kira gue setan!” protes Birma galak. Bangkit dari duduknya untuk menghampiri meja sang istri dan mengusir hama di dekatnya.
“Lebih serem dari setan sih.” Gumamnya pelan. Tapi tetap saja Birma, Clara dan Cella dapat mendengar termasuk Bram yang ada di belakang sana. Sementara kedua perempuan hamil itu terkikik, Birma malah semakin mengetatkan rahangnya siap menelan siapa pun hidup-hidup.
Tidak ingin keselamatannya terancam, Radit, yang diberi panggilang sayang Ditdit oleh Clara itu segera memperkenalkan diri sebagai sahabat dekat Clara semasa kuliah dulu. Tidak lupa laki-laki itu pun bergegas menuju mobil mengambil sesuatu untuk diberikan pada sahabatnya. Berupa undangan pernikahan untuk menyelamatkannya dari amukan herder Clara yang lebih menyeramkan dari di tinggal pacar di saat tengah sayang-sayangnya.
Bukan cuma perempuan cemburu yang menyeramkan, tapi laki-laki yang tengah di penuhi kabut cemburu pun sama menyeramkannya, bahkan mungkin lebih menyeramkan karena baku hantam pasti tidak akan terelakkan.
“Ya udah deh, Ra, gue pamit ya, jangan lupa datang ke pernikahan gue nanti.” Kata Radit, bangkit dari duduknya.
“Gue pasti datang selama banyak makanan, Dit.” Ujar Clara cengengesan.
“Gak berubah lo, Ra, masih aja makanan yang jadi tujuan lo!” Radit mengacak rambut Clara dengan gemas.
“Tangan lo minta di patahin, heh?!” Birma menepiskan tangan Radit dengan kasar.
“Herder lo ngamuk, Ra. Gue pulang deh. Bye-bye sayang, sampai ketemu lagi.” Ujarnya seraya mengedipkan mata genit, kemudian berlari sebelum benar-benar menerima kemarahan Birma.
🍒🍒🍒
Yo yo guys, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen dan Votenya ya.
Yuk sapa Author di ig : @Lenii13_
see you ...