
Berhubung, Birma saat ini adalah seorang pengangguran, laki-laki itu memilih untuk mengikuti istrinya ke supermarket, tentunya bukan untuk belanja, melainkan bekerja, karena wanita hamil kesayangannya menolak untuk berlibur. Dan dari pada Birma menghabiskan waktu di rumah seorang diri, jadilah memutuskan untuk mengekor, tidak peduli dengan protesan Clara yang memintanya tetap istirahat di rumah.
Untuk kali pertama ini Clara mengalah dan membiarkannya duduk manis di sofa yang ada di ruang kerja perempuan itu. Duduk anteng memperhatikan Clara yang sibuk dengan pekerjaannya di depan komputer. Sejak tadi Birma sebenarnya tidak sepenuhnya terdiam menyaksikan, karena beberapa kali ia pun berusaha untuk mengambil perhatian Clara, tapi sayangnya itu tidak juga berhasil. Birma benci jika harus di abaikan, dan Birma benci saat melihat istrinya fokus pada hal lain selain dirinya.
“Yang, udah waktunya makan siang.” Birma melirik jam di pergelangan tangan kirinya yang memang sudah menunjukan di angka 12.
“Oke, ayo kita makan!” seru Clara melebarkan senyumnya, menghentikan pekerjaannya dan melangkah mendekat pada sang suami yang ia sadari sejak tadi sudah terduduk bosan, jangan lupakan juga raut kesalnya. Clara sejak tadi memang menyadari itu, tapi pura-pura abai, meski sesekali ia terkekeh di balik komputernya.
“Gitu, kek, dari tadi!” dengus Birma, seraya mencebikan bibirnya.
Clara tergelak melihat wajah cemberut suaminya, menguyel pipi tirus Birma lalu melayangkan kecupan demi kecupan di sana, hingga senyum itu kembali terbit di bibir laki-laki tampan yang menjadi kesayangannya. Percayalah, Birma itu memang sedikit murahan, di beri kecupan saja marahnya hilang, dan tentu saja itu keuntungan untuk Clara yang selalu malas membujuk.
“Mau makan dimana kita?” tanya Clara dengan wajah cerianya.
“Aku pengen makan masakan kamu, cumi bakar enak deh kayaknya, Yang.” Birma menatap langit-langit polos ruang kerja Clara, membayangkan makanan yang baru saja di sebutkannya itu seolah sudah berada di tenggorokan.
Sementara senyum Clara yang semula terukir lebar perlahan surut mendengar keinginan suaminya itu. Bukan masalah ia tidak menyukai makanan tersebut, bukan pula karena dirinya tidak ingin menuruti ngindam Birma yang memang sejak semalam kembali muncul, tapi sudah dapat Clara pastikan bahwa jika dirinya pulang saat ini untuk membuatkan keinginan Birma, itu artinya ia tidak akan kembali ke sini, pekerjaannya akan kembali ia tinggalkan seperti hari-hari sebelumnya dan Clara merasa tak enak pada Leo sebagai atasannya.
Bagaimana pun Clara bekerja di supermarket ini di bayar oleh laki-laki yang panggilnya ‘papi’ itu. Jika terus meninggalkan pekerjaan begitu saja, bukankah sama saja dirinya tidak propesional? Meskipun Clara tahu, pria tua itu tidak akan mungkin marah dan mengomelinya, tapi pekerjaan ini sudah menjadi tanggung jawabnya, sudah seharusnya Clara menyelesaikan semua itu.
“Oke, kita pulang sekarang, tapi izinin aku bawa pekerjaan ke rumah dan kamu harus janji gak ganggu aku nanti selama aku menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini, gimana?” pada akhirnya Clara memang harus lebih mengutamakan suaminya, karena bagaimanapun Birma adalah suaminya yang tidak dapat di abaikan, meskipun Clara cukup sadar bahwa selama ini dirinya masih saja menjadi istri yang tak pantas, sering membantah dan tidak hormat pada laki-laki yang sudah menjabat tangan ayahnya empat tahun lalu.
Selama ini, Clara bukan tidak memikirkan mengenai permintaan suaminya untuk resign, setiap saat tentu saja ia memikirkan itu, dan keputusan untuk keluar dari pekerjaannya sudah Clara tentukan, itu alasan mengapa Clara tidak ingin lebih sering lagi mengabaikan pekerjaannya, karena tidak mungkin dirinya pergi meninggalkan pekerjaan yang menumpuk untuk penggantinya nanti.
Clara hanya sengaja tidak memberi tahu suaminya mengenai ini, dan ia pun sudah mengancam Papi Leo agar tidak membocorkan mengenai rencana resign-nya, biarkan nanti menjadi kejutan untuk Birma darinya.
🍒🍒🍒
Oh Tuhan kucinta dia …
Kusayang dia …
Rindu dia …
Inginkan dia ….
Istrinya memang sadis dalam memberikan hukuman, padahal ia tidak melakukan salah apa pun. Hanya menjatuhkan bedak milik istrinya yang baru di beli minggu lalu, hal sepele yang menurut Birma tidak perlu di permasalahkan. Tinggal beli lagi, urusan beres, tapi Clara malah mengomel sepanjang kereta api di Jepang, dan berakhir dengan memberinya hukuman tidak elit seperti ini.
“Apa salahnya sih aku nyanyi?” tanya Birma sedikit berteriak. “Bukannya itu lebih baik, dari pada kamu yang suka ngomel?” cibir Birma dengan suara yang sedikit di pelankan agar istrinya itu tidak dapar mendengar. Namun Birma salah, karena pada kenyataannya istrinya itu sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.
“Suara kamu jelek, dan mengganggu. Bahkan ikan yang udah aku potong malah balik lari ke kolam dengar suara kamu yang ancur itu.” Dengus Clara, memberikan tatapan mengancam, sebagai peringatan agar suaminya itu tidak kembali melantunkan lagu dengan suaranya yang mampu merusak pendengaran. Setelah itu Clara kembali ke dapur, meninggalkan Birma.
“Dasar istri menyebalkan.” Ujar Birma pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan kesunyian sebagai temannya kini, walau pun pada kenyataan, dalam hati Birma ramai oleh gerutuan.
Sejak berhanti dari kantor sebelumnya beberapa hari lalu, Birma memang meminta waktu satu minggu untuk beristirahat, sebelum nanti kembali disibukan dengan pekerjaan barunya di kantor milik ayah mertua. Namun sepertinya keputusan itu harus Birma sesali, jika saja tahu bahwa akan mendapatkan siksaat seperti ini dari istri tercinta yang begitu menggemaskan sampai-sampai Birma ingin menguyel pipi bakpau Clara.
Meregangkan pinggang dan punggunya akibat rasa pegal yang menyiksa, Birma akhirnya bisa bernapas lega saat hukumannya sudah selesai dikerjakan. Bayangkan saja bagaimana lelahnya mengepel lantai dari ruang tengah hingga teras depan dengan berjongkok, meskipun rumahnya tidak seluas milik ayah mertua dan orang tuanya, tetap saja kini pinggang Birma serasa mau copot dan sendi kaki pun begitu sulit untuk di ajak berdiri normal.
Jika di dunia ini ada beberapa wanita seperti Clara, dapat Birma pastikan para lelakinya akan bernasib sama dengannya. Tapi Birma bahagia, karena setidaknya ia tidak menjadi satu-satunya laki-laki yang di siksa oleh istri sendiri.
“Udah selesai?” tanya Clara begitu menyadari kehadiran suaminya di dapur, tepatnya di depan kulkas yang terbuka, meneguk rakus air dingin yang baru saja di ambil pria itu.
“Udah!” ketus Birma. Sedangkan Clara terkekeh geli melihat raut wajah cemberut suami tampannya itu.
“Cape?” tanya Clara mendekati suami tampannya, dan membawa laki-laki itu duduk di meja makan yang di atasnya sudah terhidang berbagai macam makanan yang begitu menggugah selera.
“Gak!” lagi-lagi jawaban bernada ketus yang Birma berikan.
“Kalau begitu, mau sekalian pel setiap ruangan di lantai atas?”
Birma langsung menoleh pada istrinya yang masih saja menampilkan senyum manis yang begitu terlihat menyebalkan di mata Birma. Mendengus, Birma kemudian memberikan delikan sebal pada perempuan yang tengah mengandung anaknya itu.
“Gimana mau?” ulang Clara bertanya, masih dengan senyum yang di pertahankan semanis mungkin.
“Gak tertarik!” Birma kembali menjawab dengan ketus, lalu membalik piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang tersedia di atas meja makan.
Dalam hati Birma terus menggerutu, pinggang, punggung serta kakinya yang masih teras kaku dan sakit akibat mengepel lantai tadi saja belum sedikit pun hilang, sekarang istrinya malah akan menambahnya dengan mengepel lantai atas? Jangan gila, yang ada nanti tulang-tulangnya patah tak bersisa.