
“Gila aja, cewek secantik gue di seret dengan tidak berperasaannya. Tangan sampe memar gini lagi. Ck, tanggung jawab kalian berdua, gak mau tahu gue!” gerutu Cella sejak dari lift hingga kini duduk di sofa ruangan Birma.
“Lo emang gila,” Clara melayangkan toyorannya, tidak kuasa menahan tawa mendengar cerita yang lebih pantas di sebut gerutuan mantan sekretaris suaminya itu. “Udah tahu ini kantor Bapak gue, pake acara ngaku istri Birma segala, ya di usir lo yang ada. Haha.” Kembali Clara menyemburkan tawanya, tidak jauh berbeda dengan Birma yang saat ini duduk seorang diri di sofa single.
“Siap-siap aja gue di anggap punya seli…”
Brak.
“Birma lo selingkuh?” tanya seseorang bersamaan dengan dobrakan di pintu ruangan Birma, membuat ketiga orang yang berada di dalamnya menoleh, menatap Rapa yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah sarat akan kekesalan.
“Pak Rapa kenapa?” Cella yang pertama kali membuka suara. Rapa yang semula menatap tajam Birma, beralih ke arah suara, dan cukup terkejut mendapati wanita cantik yang di kenalnya di duduk di sana.
“Cella?” si empunya nama mengangguk, bersamaan dengan itu pula wajah marah Rapa surut dengan sendirinya. “Jadi kamu yang bikin heboh di lobi?” tanya Rapa seraya berjalan menuju sofa, bergabung dengan ketiganya.
“Emang sampai seheboh itu ya, Pak?” tanya polos Cella yang di angguki Rapa setelahnya. “Ck, emang deh kalau artis mah selalu aja apa-apa di hebohin.” Ujarnya mengibaskan rambut indahnya ke belakang, membuat Clara yang duduk di samping perempuan cantik itu mendelik dan melayangkan jitakkan lebih keras dari sebelumnya, membuat Cella meringis.
“Lo seneng banget sih aniaya gue!” protesnya, seraya mengusap keningnya yang berdenyut.
“Lo emang aniaya-able, Cell.” Ujar Clara ringan.
“Ish, dasar lo nenek sihir!”
“Kedua bini lo masih aja gak bisa aku, Bir.” Rapa menggelengkan kepala, melihat kedua perempuan itu saling adu mulut. Cella memang lawan yang cocok untuk seorang Clara yang tidak pernah mau mengalah.
“Makanya gue gak berani serumahin keduanya,” sahut Birma. Tentu saja itu hanyalah candaan. Lagi pula Cella sudah memiliki suami, sedang mengandung juga, terlebih Birma tidak berniat berpoligami. Memiliki Clara saja sudah serepot ini. Apa kabar jika di tambah Cella? Melambai ke kamera, Birma yang ada.
“Lo dapat kabar dari mana soal gue selingkuh, Bang?” tanya Birma yang masih penasaran, dengan kedatangan kakak iparnya yang langsung menuduhnya selingkuh.
“Dari karyawan yang lagi gosip-lah, siapa lagi? Lo jadi tranding topik di perusahaan kali ini. Ayah juga dengar, dan dia keliatan marah. Tahu sendiri seberapa protektifnya Bapak gue sama princess-nya,” ujar Rapa seraya menoleh pada Clara dan melayangkan delikkannya.
“Bukannya lo juga marah barusan? Lo kan sama aja protektif-nya, Bang.” Cibir Birma.
“Ya jelaslah gue marah, kakak mana yang gak akan marah kalau adiknya di selingkuhin? Untung aja gue kenal mantan sekretaris lo, dan tahu gimana kalian. Kalau enggak … babak belur lo saat ini!”
Kedua laki-laki itu kemudian tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, karena kedua perempuan yang semula tengah adu mulut itu memilih mengabaikan Rapa juga Birma, tidak berniat mengetahui apa yang mereka bahas. Karena para perempuan itu jelas memiliki pembahasannya sendiri, yang tak lain mengenai kehamilan masing-masing. Seperti biasa, habis gelap terbitlah terang. Sama halnya dengan Cella dan Clara, cape berdebat akurlah kemudian.
Tok tok tok.
Suara pintu yang di ketuk, di susul dengan terbukanya pintu itu tanpa ada yang mempersilahkan, membuat keempat orang disana menoleh hanya untuk melihat siapa yang datang.
Cella terpaku melihat sosok tampan di ambang pintu, walau usianya terlihat tak lagi muda, tapi pesonanya yang melekat, tidak bisa Cella abaikan. Cella tahu siapa orang tua itu karena bagaimanapun sosoknya sering kali ada di majalah-majalah bisnis. Cella sudah tidak lagi asing dengan sosoknya, hanya saja untuk bertemu langsung sepertinya baru kali ini, dan ia merasa beruntung.
“Cla itu bokap lo ‘kan?” bisik Cella di depan telinga Clara. tidak ada respons dari si lawan bicara. Namun setelahnya Cella bisa tahu saat Clara dengan manjanya menghampiri laki-laki paruh baya itu.
“Kalian lagi apa?” tanya Pandu sedetik setelah mendaratkan bokongnya di sofa samping sang putri yang kini tengah bermanja.
“Noh istri mudanya Si Birma,” tunjuk Rapa dengan dagunya. Pandu mengikuti arah yang di tunjuk dan tatapannya bertemu dengan si cantik yang menatapnya penuh pemujaan.
“Kamu selingkuhannya menantu saya?” tanya Pandu datar dan dingin.
Cella mengerjap, kemudian mengangguk. “Iya, eh bu—bukan,” gagap Cella menjawab, tanpa melepaskan tatapannya dari kakek-kakek tampan itu, meskipun sebenarnya Pandu belum pantas di panggil kakek, mengingat wajahnya yang awet muda itu.
Pletak.
“Tumben lo jadi gagap?” cibir Clara.
“Gue deg-degan, Cla.” Kata Cella seraya menekan dadanya, mendramatisir. Terlalu terpesona pada sosok tampan di depannya.
“Kalau gak deg-degan lo mati, Cella!” gemas Clara kembali melayangkan jitakkannya. Selalu saja kekerasan yang wanita itu layangkan.
“Lo seneng banget sih, Cla jitak kepala gue. Kalau gue **** gimana? Lo mau tanggung jawab?!” kesal Cella menatap protes perempuan di sampingnya itu.
“Lo emang udah **** dari dulu!”
“Kalau gue **** mana mungkin jadi sekretaris laki lo dulu.”
Pandu yang belum paham dengan situasinya hanya mengernyitkan kening, sementara Rapa dan Birma berusaha memisahkan kedua perempuan yang mulai kembali adu mulut. Memang memusingkan kedua perempuan itu.
“Ekhem!” deheman Pandu yang pada akhirnya menghentikan perdebatan kedua wanita hamil itu. “Jadi?” tanya Pandu pada Cella yang kini mengubah ekspresinya seanggun dan selugu mungkin. Sementara Clara hanya mampu memutar bola matanya malas. Sahabat sekaligus mantan sekretaris suaminya itu memang bermuka dua.
“Saya memang istri mudanya Pak Birma, Sayang … eh Pak, maksudnya. Tapi sekarang saya lebih milih jadi istri mudah Bapak aja deh, gak kalah ganteng dari Pak Birma soalnya.” Ujarnya genit.
“Mulai deh jiwa jalangnya keluar.” Cibir Clara, memutar bola matanya malas. Sedangkan Pandu mulai was-was dan Birma serta Rapa menepuk keningnya tak habis pikir. Cella memang berani dan tidak tahu malu.
“Cell, jangan godain Ayah saya, nanti pawangnya ngamuk, kamu abis di telan idup-idup.”
“Eh, semenyeramkan itu, Pak?” Cella bergidik ngeri. Rapa mengangguk mengiyakan. “Pantes anaknya macam Nenek sihir, pasti turunan sih.” Lanjut Cella mengangguk-anggukan kepalanya polos seolah paham.
Pandu yang mendengar itu memelototkan matanya, sementara Rapa dan Birma berusaha menahan tawa.
“Tapi gak apa-apa deh, saya udah biasa hadapin Clara, masa ia ibunya nenek sihir gak bisa saya hadapi.” Satu lagi kedipan genitnya Cella lemparkan pada Pandu yang mulai bisa membaca situasi.
Perempuan yang duduk di samping putrinya itu suka sekali becanda, dan ia baru tahu bahwa ternyata itu adalah mantan sekretaris menantunya di kantor sebelumnya.
Ngomong-ngomong tentang itu, Pandu merasa pernah mendengar ceritanya dari sang putri dan kini ia tahu rumor yang tersebar di kalangan karyawannya hanyalah gosip semata. Lagi pula mana berani Birma membawa selingkuhannya ke kantor di saat keluarga dari istrinya ada di dalamnya.
***
Jangan lupa vote, komen dan like-nya guys.