
Menunggu adalah hal yang sore ini Clara lakukan, setelah setengah jam lalu menyelesaikan masakannya untuk makan malan nanti bersama suami tercinta. Tekadnya untuk menjadi istri yang lebih baik kembali di mulai dengan hal-hal sederhana seperti ini; menyiapkan makan, pakaian, air untuk suaminya itu mandi dan tentu saja menunggu Birma kembali dari kantor.
Meskipun lelah terasa karena tadi siang bermain dengan kedua ponakannya, tetap tidak menghilangkan kebahagiannya menyambut kepulangan Birma yang sudah dirinya rindukan.
Padahal hanya di tinggalkan beberapa jam untuk bekerja, itu pun masih dalam komunikasi yang lancar. Tapi rindu itu tidak dapat Clara hiraukan. Tidak terbayang jika di tinggal berhari-hari dengan tidak adanya kabar sama sekali. Ah, memang benar ternyata, bahwa rindu itu begitu berat dan menyiksa. Pantas saja Dilan tidak membiarkan Milea-nya merindukan.
Entah sudah berapa kali Clara melirik ke arah jam yang tertempel di dinding, menunggu dengan tak sabar kepulangan Birma yang dua puluh menit lalu mengabarkan bahwa pria itu sudah dalam perjalanan pulang, namun belum juga menampakan diri hingga saat ini.
Tin … tin …
Clara yang duduk di sofa ruang tamu hendak menghubungi suaminya urung begitu suara klakson mobil yang sudah amat di kenalnya terdengar masuk ke dalam pekarangan rumah. Dengan segera, Clara bangkit dan berjalan menuju teras, menyambut kepulangan suaminya dengan seulas senyum manis. Membuat Birma yang baru saja turun dari mobilnya terpesona juga bahagia karena mandapatkan sambutan manis itu.
Lelah yang semula di rasa menguap begitu saja saat melihat istri tercintanya berdiri menunggu kedatangannya. Bukankah ini menyenangkan? Ah, Birma jadi merasa seperti tokoh di novel-novel romantis kesukaan istrinya.
Tidak sampai di situ saja, karena selanjutnya Birma di buat tercengang dengan sikap manis Clara lainnya, yang mana wanita hamil itu mengambil alih tas kerja yang Birma bawa dan meraih tangannya lalu memberikan kecupan di punggung tangan. Jika biasanya, mana pernah Clara mau melakukan itu. Di suruh memegang sebentar tas-nya saja Clara selalu melayangkan alasan. Dan sekarang tanpa dimintapun wanita itu melakukannya. Sunggu sebuah keajaiban.
Birma tidak menyangka istrinya benar-benar berusaha belajar lebih baik menjadi seorang istri, meskipun biasanya perempuan itu tidak lupa menyiapkan sarapan, pakaian dan kebutuhan Birma yang lainnya, namun jelas tidak pernah semanis dan selembut ini. Karena biasanya selalu saja di barengi dengan perdebatan atau ada saja kejahilan dari salah satunya hingga teriakan terdengar setelahnya memenuhi seluruh ruangan.
“Mau mandi dulu apa makan dulu?” tanya Clara sambil berjalan masuk ke dalam rumah menggandeng tangan Birma.
“Mandi dulu deh kayaknya,” kata Birma setelah beberapa saat menimbang-nimbang.
“Oke, kalau gitu aku siapin airnya dulu.” Clara melepaskan gandengannya, hendak melangkahkan kaki menaiki undakan tangga, tapi ucapan Birma lebih dulu menahannya.
“Sekalian mandiin, ya.” Dengan kedipan jahil Birma melontarkan itu, membuat Clara berakhir dengan melayangkan delikannya, padahal seharian ini ia berusaha untuk tidak memberikan itu pada suaminya. Tapi, ya, namanya Birma, selalu saja ada tingkah atau ucapannya yang mengundang kekesalan. Sesulit ini memang menjadi istri lembut untuk pria itu.
“In your dream!” seru Clara dengan sinis, lalu melanjutkan langkahnya perlahan menaiki satu per satu undakan tangga menuju kamarnya, meninggalkan sang suami yang masih terkikik geli di bawah sana.
“Kenapa? Padahal mandiin suami pahalanya besar loh, Yang.” Teriak Birma sebelum Clara berhasil menapaki undakan tangga teratas.
🍒🍒🍒
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman, Birma turun dari kamarnya, menghampiri istri tercinta yang menunggu di meja makan. Dan begitu menyadari kedatangannya itu, Clara yang semula sibuk mengupas buah,menoleh, melayangkan senyum manisnya. Ternyata kekesalannya yang tadi sudah hilang, membuat Birma tidak menyangka bisa secepat itu, karena biasanya, Clara akan terus cemberut dan melayangkan kekesalannya hingga Birma bertekuk lutut.
“Sini Bir,” panggilnya masih dengan senyum yang terukir sempurna. “Tadi aku masak cumi bakar madu.” Lanjutnya, membuat Birma yang memang menggemari makanan satu itu berbinar dan segera duduk di kursi samping istrinya. Liurnya hampir saja menetes begitu melihat menu makan malam yang di buat istrinya nampak begitu menggugah selera.
Clara mengambil piring di depan suaminya, mengisinya dengan nasi dan lauk yang tersedia, lalu setelah itu memberikannya pada Birma yang terlihat sudah tidak sabar untuk melahap semua itu.
“Enak gak?” tanya Clara meminta penilaian. Meskipun percaya diri akan rasa masakannya, Clara tetap ingin pujian dari suaminya itu.
“Gak, biasa aja.”
Hilang sudah senyum di bibir Clara. Tapi ia berusaha untuk tidak melayangkan getokkan dan makian pada suaminya itu. Ia masih ingat dengan tekadnya yang ingin menjadi istri lemah lembut dan penyabar.
“Yakin gak enak?” Clara kembali bertanya untuk memastikan.
“Iya gak enak. Liat dong, ngebakar cuminya aja gosong.” Birma menunjuk piring di depannya, seraya mengambil satu lagi potongan besar dan memindahkan pada piringnya yang sudah kembali di isi nasi, karena yang sebelumnya memang sudah habis. Secepat itu? Clara bahkan belum menyentuh nasinya barang sesendok pun.
“Gak enak tapi lahap bengat makannya.” Pada akhirnya cibiran itu melayang dari mulut Clara. Terlalu gatal rasanya jika hanya sekedar diam sambil merapalkan kata sabar, karena pada kenyataannya Clara bukanlah sosok yang bisa sesabar itu, apalagi menghadapi Birma yang bermulut nyinyir.
“Ini karena aku lapar, Yang.” Elak Birma, lalu kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tampa menoleh sedikitpun pada istrinya iti.
“Cih, alasan!” Clara berdecih malas.
Birma tersenyum samar, karena sudah berhasil membuat istrinya kesal. Tidak dapat di bohongi bahwa Clara yang lembut memang manis, tapi Birma lebih menyukai wanita itu seperti sebelumnya, sedikit galak dan mudah kesal. Kenapa? Karena Clara yang seperti itu cukup menghibur.
Birma suka dengan perdebatan kecil mereka yang tidak pernah membuat rumah sepi. Selain karena itu, ada satu lagi alasan yang membuat Birma lebih suka istri galaknya, ia tidak bisa bersikap romantis. Itu poin yang paling utama. Berusaha menjadi manis dan romantis pun bukan tidak Birma usahakan, tapi nyatanya Birma selalu gagal dan berakhir membuat istrinya kesal. Jadi, lebih baik Clara bertahan dalam galak dan ketusnya dari pada berubah lembut dan manis yang malah akan membuat Birma terlihat lebih buruk di sampingnya.