Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 43



"Kalau sampai kamu makan siang sama cewek itu lagi … awas lo, Bir, gue gak akan segan-segan kunciin pintu supaya lo gak bisa masuk rumah.” Ancam Clara serius.


“Kalau pintu gak di buka ya aku pergi ke apartement-nya Dinda aja, dia pasti bersedia buka.”


“Berani lo, huh?! Gue kirim surat cerai langsung kalau sampai lo berani!”


Brak.


Clara menutup pintu mobil dengan keras, membuat Birma yang berada di dalamnya terkejut bukan main sampai refleks menekan dadanya, takut-takut si jantung lompat dari tempatnya.


“Sadis emang istri gue.” Birma menggelengkan kepala menatap kepargian sang istri lewat kaca mobil hingga sosok cantik itu menghilang di balik pintu supermarket tempatnya bekerja. Seulas senyum terukir setelahnya sebelum kemudian Birma melajukan mobil menembus jalanan macet menuju kantor tempatnya bekerja yang hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit untuk tiba di sana.


“Mas Birma.” Panggil seorang wanita saat Birma baru saja turun dari mobilnya.


Birma menghembuskan napasnya pelan sebelum melayangkan senyuman pada sosok cantik yang dikenalnya itu. Sudah beberapa hari Birma menghindari Dinda karena selalu teringat akan ancaman sang istri, meskipun ia yakin Clara tidak akan berani membunuhnya, tapi Birma yang terlalu bucin memilih jalan aman.


Jika di hadapkan dengan pilihan, Birma lebih memilih kehilangan sosok yang di anggap adiknya dari pada harus kehilangan sang istri tercinta. Kecemburuan Clara tempo hari begitu nyata dan Clara lebih menyeramkan saat benar-benar cemburu. Birma tidak ingin sampai membuat perempuan itu kembali cemburu meskipun Birma menyukainya.


“Mas Birma baru datang?”


Birma mengangguk kecil seraya tersenyum tipis. Sebenarnya pertanyaan yang Dinda layangkan tidak butuh jawaban, karena pasti wanita itu sudah tahu jawabannya. Namun Birma tidak terlalu tega jika harus mengabaikan.


“Kamu baru datang juga?” tanya balik Birma untuk sekedar basa basi. Dinda mengangguk dengan seulas senyum manis yang membuat siapa saja terpesona, tapi tidak untuk Birma yang hatinya sudah terpaut pada Clara sepenuhnya. Istrinya itu meskipun galak dan kadang kasar tetap saja selalu menjadi ratu di hatinya, sesuai dengan nama tengah perempuan itu, Clara Ratu Yeima.


🍒🍒🍒


Jam istirahat kali ini, Birma berniat untuk menghampiri sang istri agar bisa makan siang bersama seperti saat dirinya masih di kantor yang dulu, sekaligus untuk menghilangkan kecurigaan istrinya mengenai dirinya dan Dinda. Birma tidak ingin kembali dengan kesalahpahaman dan ia lebih tak ingin jika harus bertengkar seperti beberapa hari lalu.


Berjalan keluar dari lift, Birma kemudian berniat hendak kembali berbelok saat melihat sosok Dinda di lobi, namun sayang, si cantik itu lebih dulu memanggilnya, membuat beberapa karyawan lain yang juga akan pergi istirahat menengok dan bisik-bisik mulai terdenga


Birma merutuki Dinda dalam hati karena tidak bisa bersikap propesional di kantor. Meskipun ini adalah jam istirahat, tetap saja, Birma merasa tak nyaman. Namun Birma sadar bahwa mungkin ini kesalahannya sejak awal, dimana ia yang beberapa hari lalu mengajak wanita itu untuk makan siang bersama, mengobrol, dan bahkan tertawa akrab. Birma merasa biasa saja, tapi itu beberapa hari lalu saat Birma belum tahu alasan istrinya marah. Kini Birma tidak lagi berani melakukan itu, ada hati yang harus ia jaga, dan Birma tidak ingin membuat istrinya kembali cemburu.


Meskipun sebenarnya Clara tidak akan bisa melihat apa yang dirinya lakukan, tetap saja Birma tidak bisa jika harus mencurangi. Bagaimanapun ia bekerja di kantor milik Pandu, ayah dari perempuan yang dinikahinya. Birma tidak ingin mertuanya salah paham, menganggap dirinya selingkuh. Terlebih tidak ingin menimbulkan gosip yang pastinya jauh dari apa yang sebenarnya, karena jika itu sampai pada telinga Clara, maka habislah Birma.


“Mas Birma mau makan siang?” tanya Dinda dengan senyum manis yang memikat.


“Iya.” Hanya jawaban singkat yang Birma berikan, ia pun tidak lupa memberikan tatapan datar yang sarat akan ketidaksukaannya mengenai Dinda yang datang menghampiri.


Birma sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa istrinya itu lebih cemburu pada Dinda, padahal jika di lihat dari sikap, Cella lebih patut di cemburui karena wanita genit itu jelas-jelas menggoda Birma secara terang-terangan, tidak seperti Dinda yang hanya berlaku biasa, dan terlihat kalem. Entahlah, itu urusan istrinya, Birma hanya cukup untuk menghindari wanita manapun demi menjaga perasaan wanita yang menjadi istrinya, ibu dari calon anaknya.


“Mas Birma ma…”


“Maaf Dinda, saya harus cepat, istri saya sudah menunggu.” Dengan cepat Birma memotong, lalu pergi begitu saja meninggalkan Dinda di lobi bersama orang-orang yang masih saja menyaksikan dengan penasaran.


Dalam hati Birma terus menggumamkan kata maaf, dan berharap bahwa Dinda paham dengan kodenya barusan. Birma tidak ingin menimbulkan gosip yang tidak mengenakkan, tidak ingin sampai istrinya kembali marah, dan tidak ingin juga sampai orang-orang menganggap Dinda sebagai perempuan yang mencoba mendekatinya, karena tidak semua orang tahu masa lalu mereka yang begitu dekat.


Dinda yang di tinggalkan hanya menatap nanar punggung Birma yang dengan cepat menjauh dan hilang dari pandangan. Bunyi retakan dan denyutan nyeri di hati menjadi sesuatu yang harus Dinda nikmati, lagi. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang sudah saling dorong meminta kebebasan.


Menekan dadanya kuat-kuat, Dinda terus mengingatkan dirinya sendiri mengenai kenyataan yang harus ia terima, dimana Birma bukan lagi sosok yang pantas dirinya kejar. Namun itu bukannya menenangkan, melainkan semakin membuat dadanya sesak. Apalagi saat kembali mengingat dari nada ucapan Birma yang sepertinya hendak memperingatkan Dinda untuk tidak berharap. Namun, mungkinkah laki-laki itu tahu mengenai perasaannya?


🍒🍒🍒


“Selamat siang istriku,” Birma menyembulkan kepala lewat pintu ruangan Clara yang sedikit terbuka, lalu setalahnya membuka lebar pintu bercat coklat itu dan melangkah masuk.


“Ngapaian ke sini?” heran Clara yang cukup terkejut dengan kedatangan suaminya akibat terlalu fokus pada pekerjaan yang memang sedang banyak-banyaknya.


“Ngajakin Dinda makan siang.” Jawab asal Birma dengan nada tak suka. Jelas saja, suami mana yang suka di beri pertanyaan seperti itu? Memangnya suami datang menghamipiri istrinya harus ada alasan?


“Sebut aja terus tuh cewek, dikira aku gak berani labrak masa lalu kamu itu.” Clara mendelik tak suka.


“Udah gak usah bahas dia.”


“Kamu yang duluan bawa-bawa nama dia segala.”


“Iya, aku salah, maaf.”


Birma membuang napasnya pelan, lalu menyimpan kantung bawaannya dan berjalan mendekati sang istri, memberikan kecupan sayang pada puncak kepala Clara kemudian mendorong kursi kerja istrinya itu dan berlutut, memposisikan wajah di depan perut sang istri untuk menyapa anaknya. Tidak ingin menanggapi Clara, apalagi jika membahas mengenai Dinda.


“Kamu gak genit-genit nemuin dia ‘kan?” tanya Clara memicing.


“Aku gak pernah genit, ya,” delik Birma. “Tadi pagi sama barusan memang ketemu dia, tapi gak sengaja. Lagi pula aku segera pergi kok, karena tahu istri aku bakalan cemburu kalau aku lama-lama sama dia.” Birma menjelaskan, namun di akhiri dengan kedipan jahil. Masih saja Birma senang melihat wajah kesal istrinya saat di ledek mengenai kecemburuan wanita itu beberapa hari lalu.


“Aku gak cemburu!” bantah Clara seperti biasa. Birma memutar bola matanya bosan. Sudah ketahuan masih saja istrinya itu mengelak. Padahal jika pun mengaku Birma tidak akan keberatan, ia justru bahagia istrinya cemburu, karena itu tandanya, Clara sangat mencintainya. Tapi sudahlah, gengsi Clara memang terlalu tinggi. Birma cukup mengangguk saja pura-pura percaya dari pada lebih panjang lagi berdebat dengan wanita hamil itu mengenai hal yang sepele. Perutnya lapar dan butuh makanan, buka perdebatan.