
Pukul delapan malam, kedua orang tua Birma baru saja pulang, padahal Clara sudah menawarkan mertuanya itu menginap. Secanggung apa pun hubungannya dengan sang ibu mertua, Clara tetap menghormati Arindi, dan rasa sayangnya tetap ada setelah rasa tertekan itu Clara alami.
Clara memang tidak bisa menyalahkan mertuanya yang menjejalinya ini dan itu untuk segera hamil, tidak bisa pula membenci wanita baya yang sudah melahirkan suaminya itu karena menuntut seorang cucu darinya. Wajar memang, hanya saja mungkin saat itu Clara terlalu tidak siap hingga membuat jiwanya terguncang. Namun untuk perhatian dan kasih sayang dari mertuanya, Clara tidak bisa menampik bahwa ia memiliki mertua sebaik orang tua Birma. Meskipun sedikit nyinyir. Ah, bukan nyinyir, lebih tepatnya tidak sabaran.
“Birma?” panggil Clara begitu mereka sudah duduk di ranjang kamar. Suaminya yang sudah mulai sibuk dengan ponsel, membuat Clara sebal dan berkeinginan mengganti suami saja.
“Birma,” hanya deheman kecil yang menjadi jawaban Birma, Clara tentu saja cemberut karena tidak di perhatikan. Meskipun sudah biasa merasa kalah dari game yang tengah di mainkan suaminya, tetap saja bukankah seorang istri menginginkan menjadi yang spesial, menjadi yang di perhatikan dan di utamakan, bukan malah di abaikan seperti sekarang ini.
“Ini hari apa?” tanya Clara berusaha mengetes ingatan suaminya.
“Kamis.” Jawaban yang di berikan Birma tidak sama sekali membuat Clara puas. Suaminya benar-benar tidak memiliki kepekaan.
“Kamu gak ingat kalau hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ke-4?” tanya Clara dengan wajah cemberut, memberi kode pada laki-laki itu hanya akan membuatnya naik darah. Jadi, lebih baik mengingatkannya secara langsung seperti ini. Dan ternyata itu berhasil mengalihkan Birma dari ponselnya, menerbitkan senyum di bibir Clara.
“Emang sekarang tanggal berapa?” tanya Birma, kemudian menatap tanggal di ponselnya. “Astaga, aku benar-benar lupa loh sayang. Ini ponsel tumben-tumbenan juga gak nyala alarm peringatannya. Maaf, maafin aku.” Sesal Birma memeluk istri cantiknya.
“Gak apa-apa. Tadi aku juga sempat lupa, kok.” Menghilangkan ekspresi kesalnya, Clara kini melebarkan senyumnya, mengurai pelukan sang suami tercinta lalu melayangkan kecupan singkat di pipi Birma. “Happy 4th wedding anniversary suamiku sayang. Kali ini aku gak siapin hadiah apa-apa buat kamu, tapi sepertinya ini adalah hadiah terbaik kita yang langsung Tuhan berikan.” Tersenyum, Clara membawa tangan Birma pada perut ratanya.
Birma mengangguk, seraya membalas senyum istrinya, kemudian mengubah posisi duduknya menjadi berbaring dengan menjadikan paha Clara sebagai bantalannya. “Terima kasih sudah hadir menjadi kado terindah di usia pernikahan ke 4 kami, sayang. Terima kasih banyak telah mengisi perut mommy dan menjadi malaikat kecil kita. Sehat-sehat di dalam sana, Nak. Kami menunggu kehadiran kamu dan kami menyayangimu.” Beberapa kecupan Birma daratkan di perut sang istri, setelahnya kembali duduk dan menatap lembut Clara.
“Happy 4th wedding anniversary, sayang. Semoga di usia pernikahan kita yang semakin bertambah ini, menjadikan rumah tangga kita selalu dalam keharmonisan, berada dalam kebahagiaan dan semakin mendewasakan kita berdua. Maaf sempat melupakan hari penting ini, sayang. I love you.” Dan kali ini Birma melayangkan kecupan di kening istri cantiknya itu cukup lama, membuat Clara memejamkan mata.
Dalam memperingati ulang tahun pernikahan, keduanya tidak pernah mengadakan pesta apa lagi sampai mengundang banyak orang, cukup berdua dan saling memberikan ucapan dengan doa yang baik demi kelangsungan rumah tangga mereka. 4 tahun adalah perjalanan pernikahan yang masih cukup terbilang baru, dimana asam, manis, pahit dan asinnya kehidupan rumah tangga belum sepenuhnya mereka lalui. Dan Clara serta Birma pun tahu, bahwa langkah mereka masih panjang, kerikil masih menunggu dan ujian masih terus berlangsung. Entah apa yang akan mereka hadapi di hari selanjutnya, Clara selalu berdoa bahwa hingga usia mereka menua dan raga tak lagi bernyawa, mereka akan selalu bersama.
“Terima kasih, Cla. Terima kasih karena sudah bersedia menjalani sisa hidup ini bersamaku. Terima kasih karena kamu begitu sabar dalam menghadapiku. Aku tahu, aku masih belum layak menjadi suami yang baik untuk kamu. Namun aku tidak akan pernah berhenti berusaha menjadi apa yang kamu inginkan, menjadi apa yang kamu harapkan. Dan mulai saat ini aku akan berusaha juga belajar menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Tolong selalu ingatkan di saat aku mulai lalai akan kamu dan buah hati kita. Clara Ratu Yeima, terima kasih sudah bersedia mengandung anakku.”
Terharu mendengar semua yang di ucapkan suaminya, membuat Clara tak lagi bisa membendung air mata yang menerobos meminta kebebasan. Birma memang menyebalkan, tingkahnya yang kadang membuatnya kesal dan menjengkelkan, tidak serta merta mengurangi kebahagiaan yang Clara rasakan, dan tidak membuatnya menyesal telah memilih laki-laki itu untuk menjadi partnernya menghabiskan sisa hidup.
“Aku juga mau berterima kasih sama kamu, Bir. Terima kasih karena sudah memilihku untuk menjadi ibu dari anak kamu. Terima kasih sudah bersabar menghadapiku yang kamu tahu sendiri begini adanya, banyak kekurangan. Walaupun aku sadar bahwa kecantikanku tidak ada Kurangnya.”
Pletak.
“Tapi yang barusan aku ucapin itu serius loh, Bir. Aku bersyukur memiliki kamu, dan aku tidak akan pernah menukar kamu dengan kebahagiaan lain yang lebih menjanjikan. Bagiku cukup hanya kamu, dan selamanya akan hanya ada kamu yang menjadi bagian dalam hatiku, menjadi ayah dari anak-anak aku. Pokoknya, aku cinta kamu.” Ungkap Clara dengan senyum mengembang sempurna.
“Aku juga mencintai kamu, Cla, apalagi kalau kamu bersedia bikinin aku nasi goreng sekarang,” cengiran yang Birma layangkan membuat Clara mendengus dan segera melepaskan pelukan dari tubuh besar suaminya, lalu tertidur memunggungi Birma
.
“Sayang, ayolah bikinin nasi goreng, aku lapar, Cla.” Melas Birma meminta. Mengguncang pelan tubuh kecil istrinya yang pura-pura tertidur. “Clara sayang ....”
“Tidur, Bir udah malam.”
“Pengen makan dulu,” rengek Birma yang kini sudah berada di atas tubuh istrinya yang tidak juga mau berbalik. Tetap berusaha untuk tidak terlalu menindih tubuh kecil itu yang mana sekarang terdapat buah hati yang sejak lama sudah mereka tunggu.
“Gak ada nasi, abis.” Clara masih saja enggan menuruti keinginan suaminya. Cukup bosan untuk seharian ini melihat Birma makan.
“Ayolah, sayang. Ini aku lagi ngidam loh. Kamu memangnya mau kalau anak kita nanti ngeces pas lahir?”
“Jangan bawa-bawa anak kita deh, Bir.” Memutar bola matanya, Clara pada akhirnya bangun juga setelah mendorong suaminya hingga terjengkang ke belakang, dan untungnya tidak sampai terguling ke lantai.
“Ya terus siapa yang harus aku bawa-bawa? Masa iya tetangga!” Birma ikut turun dari tempat tidur dan mengekori istrinya keluar dari kamar. “Ini kamu mau ke mana? Bikinin aku nasi goreng 'kan?” binar di mata Birma sudah menyala saat mengikuti istrinya menuruni anak tangga.
“Dih geer banget kamu,” Clara mendelik pada suaminya. “Aku turun karena ingat kalau pintu belum di kunci.”
Awalnya Birma tak ingin percaya, tapi melihat istrinya yang melangkah menuju depan dan pintu benar-benar belum terkunci membuat bibir Birma melengkung ke bawah. “Mumpung udah di bawah, kamu bikinin aku nasi goreng dulu ya?” pinta Birma yang tidak ingin menyerah, karena cacing-cacing di perutnya yang memang sudah siap berburu.
“Gak mau, aku ngantuk.”
“Ayolah, Sayang. Aku pengen nasi goreng buatan kamu. Bikinin!” merengek adalah hal yang Birma lakukan saat ini untuk membuat istrinya luluh. Lagi pula kenapa harus dirinya yang ngidam? Ini jelas bukan keinginan Birma, bukan pula kehendaknya. Jadi, siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Dan siapa juga yang harus di salahkan?
***