Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 25



“Sepertinya memang aku yang tidak mampu mengerti kamu, Cla.” Birma yang beberapa saat terdiam untuk meredam emosinya agar tidak menyakiti sang istri kembali buka suara, lebih tepatnya ia memilih untuk mengalah. Pikiran dan emosinya sedang tidak stabil saat ini, dan bertengkar dengan Clara bukanlah yang dirinya inginkan.


Menunduk menatap istri cantiknya itu, Birma lalu membuang napasnya pelan, setelah itu mengusap kasar wajahnya dan membawa Clara ke dalam pelukannya. Tanpa ada kata, keduanya sama-sama diam dalam posisi berpelukan. Lebih tepatnya hanya Birma yang memeluk, melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan punggung wanita cantik yang sudah empat tahun menemani hidupnya.


Clara tentu saja bingung, tapi ia juga tidak mampu hanya untuk mengeluarkan suara, entah kenapa untuk kali ini dirinya merasakan hal yang berbeda, dari mulai surat pengunduran diri, kecemburuan tak mendasar suaminya, emosi suaminya yang tidak biasa, dan perkataan terakhir suaminya itu, yang entah kenapa mengusik hati dan pikirannya. Seharusnya ia senang mendengar nada mengalah suaminya, tapi untuk kali ini, Clara merasa hampa, ia merasa bersalah dan Clara tidak menyukai suaminya yang seperti ini.


“Bir...”


“Sekarang aku antar kamu pulang, ya, atau mau ke supermarket? Biar sekalian aku cabut surat pengunduran diri kamu.” Birma memotong ucapan istrinya, melepaskan pelukannya yang sama sekali tidak Clara balas, lalu mengambil jas kerjanya yang tersampir di kepala kursi. Tanpa menatap wajah istrinya seperti biasa, Birma meraih tangan Clara dan membawa wanita hamil itu keluar dari ruangannya.


“Cella, jika ada yang mencari saya, katakan saya keluar sebentar.” Pesan Birma pada sekertarisnya, lalu melangkah bersama Clara yang masih juga tidak membuka suaranya.


Cella sendiri di bingungkan dengan apa yang di saksikannya. Bos serta istrinya yang berubah pendiam itu memberikan kesan horor untuk Cella, hawa di sekitarnya tiba-tiba dingin dan itu membuat Cella bergidik ngeri.


“Mau makan siang dulu gak?” tanya Birma yang fokus pada jalanan di depannya. Clara melirik jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukan pukul 11:15 siang. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa perutnya memang sudah berontak meminta asupan.


“Boleh. Nasi padang biasa,” kata Clara yang di balas anggukan oleh suaminya, dan keadaan di dalam mobil kembali sunyi.


Sejak mereka keluar dari ruang kerja Birma, memang tidak ada obrolan, hingga mereka kini berada di tengah kemacetan, laki-laki yang menjadi suaminya itu pun masih tidak juga mengajaknya mengobrol atau setidaknya berdebat seperti biasanya. Bahkan hanya sekedar lirikan saja tidak ada laki-laki itu berikan, membuat Clara kesal juga heran, namun Clara tidak mampu untuk mempertanyakan mengenai apa yang terjadi pada suaminya itu.


Mulutnya yang biasa tidak terkendali, mendadak kelu hingga mereka tiba di tempat makan Padang yang sudah menjadi langganan keduanya. Dan selama makan pun Clara merasa seolah berada seorang diri, Birma tidak sama sekali membuka suara, bahkan hanya untuk sekedar menatapnya, memarahinya seperti biasa, atau mengomel tiada henti.


Birma-nya kini mendadak anah dan Clara bertanya-tanya mengenai kemungkinan apa yang membuat suaminya menjadi pendiam seperti ini. Clara sebenarnya tidak menyukai suasana sepi seperti ini, apa lagi di saat suaminya diam seolah tidak memedulikannya.


Tak lama menyelesaikan makannya, Clara tak lupa membelikan untuk Leo serta karyawannya di supermarket, setelah itu Birma kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Clara ke tempat kerja, sekaligus Birma pun akan berbicara dengan Leo mengenai pembatalan surat mengunduran diri Clara. Ya, Birma memilih untuk menuruti keinginan istrinya itu, setidaknya ini yang bisa Birma lakukan untuk menghindari pertengkaran. Ia tidak ingin menambah perdebatan dengan istrinya dan semakin membebani pikirannya yang tengah kacau, Birma tidak ingin melampiaskan masalahnya pada sang istri dan berakhir menyakiti wanita yang tengah mengandung anaknya.


Begitu tiba di parkiran supermarket milik Leo, Birma keluar lebih dulu dan tidak lupa membukakan pintu untuk istrinya itu, setelahnya masuk masih tanpa obrolan yang mereka lakukan.


“Birma...”


“Kamu marah?” cicit Clara pelan, penatap punggung kokoh suaminya itu.


Terlebih dulu Birma menarik dan membuang napasnya, sebelum kemudian berbalik dan menatap istrinya yang terlihat sendu. “Aku gak marah.” Birma berucap lembut.


“Kamu marah, Bir, aku tahu! Ka...”


“Aku gak marah sayang,” Birma lagi-lagi memotong ucapan istrinya. Mengusak rambut perempuan cantik itu, lalu memberikan senyum lembutnya. “Aku gak marah.” Sekali lagi Birma mengatakan itu untuk meyakinkan sang istri yang kini sudah berkaca-kaca.


“Terus kenapa kamu diemin aku dari tadi?” isakan kecil mulai terdengar, membuat Birma sedikit merasa bersalah. Tanpa mengatakan apa-apa, Birma menarik istrinya itu ke dalam pelukan, melayangkan beberapa kecupan di puncak kepala Clara, setelah itu mengurai pelukannya dan menyeka pipi tembam itu dari air mata yang mengalir.


“Aku minta maaf, ya, sayang.” Hanya kata itu yang bisa Birma ucapkan, dengan senyum yang di paksakannya, lalu kembali melayangkan satu kecupan di kening Clara yang kini menatap suaminya dengan kening mengerut, semakin aneh pada sikap Birma yang tidak sama sekali Clara kenali.


“Birma, kamu lagi ada masalah?” tebak Clara dengan mata memicing curiga.


“Sok tahu!” satu sentilan Birma berikan pada kening istri cantiknya itu. “Aku harus kembali ke kantor, kamu hati-hati kerjanya, jangan terlalu kecapeaan. Dan ingat jangan nakal!” Birma memperingati. “Nanti kamu pulang bareng Papi, ya, aku harus lembur hari ini. Gak apa-apa 'kan?”


“Iya gak apa-apa, tapi jangan terlalu malam.” Kata Clara sedikit merengek, tidak rela sebenarnya mengizinkan pria itu pulang telat karena sudah di pastikan bahwa dirinya akan kesepian di rumah.


Birma tersenyum, lalu mengangguk. “Kalau begitu aku temui Papi dulu sekarang. Ingat jangan terlalu kecapean, kasihan jagoan kita!” sekali lagi Birma berpesan sekaligus memperingati istri cantiknya, lalu memberikan secupan singkat pada perut istrinya dan berlalu meninggalkan Clara yang masih kebingungan dengan sikap suami tampannya itu.


Rasanya Clara ingin kembali mencegar pria itu pergi, tapi ia tidak tahu harus memberi alasan apa untuk suaminya tetap tinggal, di tambah dengan ucapan suaminya yang mengatakan akan lembur, membuat Clara yakin bahwa mungkin suaminya itu tengah memiliki banyak pekerjaan.


Clara sudah seharusnya memahami itu dan bisa di pastikan juga bahwa sikap aneh suaminya hari ini ada hubungannya dengan pekerjaan. Mungkin Birma terlalu lelah. Namun entah kenapa Clara merasa bahwa suaminya masih marah mengenai becandaannya tempo hari, tapi ya sudahlah, sepertinya ia hanya terlalu banyak berpikir. Biar masalah yang tadi ia bicarakan lagi nanti.


***


TBC...