
Birma dengan segera melepaskan tangannya dari pinggang Dinda, lalu berlari mengejar istrinya yang dirinya sadari tengah marah, meskipun belum paham apa penyebabnya.
“Kamu mau ke mana?” Birma menarik tangan Clara begitu wanita itu hendak menghentikan taxi yang baru saja melintas.
“Pulang!” ketusnya, berusaha menepis.
“Ya udah ayo kita pulang,” selembut mungkin Birma membujuk istrinya itu.
“Gak sudi gue pulang sama lo.” Clara mendelik, sebelum kembali memberontak, berusaha membebaskan diri dari Birma yang kini memeluknya.
Air mata sudah tidak bisa Clara tahan dan melihat wajah Birma membuat kekesalannya semakin memuncak. Ia benci menjadi lemah, dan inilah alasan mengapa ia begitu benci jatuh cinta. Menjadi bodoh dan lemah.
“Kamu kenapa sih, hm? Mommy gak biasanya seperti ini,” satu kecupan Birma berikan di puncak kepala sang istri yang masih saja berontak. “Lebih baik sekarang kita pulang, gak enak kalau kita sampai berantem disini, banyak orang yang nonton, kamu gak malu emang?” masih dengan lembut Birma membujuk.
Tersadar, Clara menoleh sekeliling, dan benar saja ada beberapa orang yang menyaksikan mereka termasuk perempuan yang menjadi sumber kecemburuannya. Berbagai macam tatapan Clara dapatkan entah itu yang menatap bingung, kasihan, juga menatap tak suka. Clara sadar ia sudah mempermalukan diri sendiri.
“Kita pulang ya, bicarain di rumah, dan kamu boleh marah sepuasnya sama aku.”
Clara akhirnya menurut dan itu membuat Birma lega, setidaknya untuk saat ini, sebelum nanti benar-benar diamuk oleh singa betina kesayangannya. Birma memang harus lebih sabar menghadapai Clara, dan sepertinya kesabaran kali ini harus di lipat gandakan.
Selama mengenal, tidak pernah sekalipun Birma melihat emosi Clara meluap seperti ini, belum pernah juga melihat sorot kemarahan di kedua manik indah itu. Birma tak paham, tapi mulai saat ini Birma akan berusaha untuk memahami.
Birma menuntun istrinya mendekat ke arah mobil yang beberapa menit lalu dirinya parkirkan, membuka pintu penumpang depan dan meminta istrinya itu masuk, namun sayang Clara dengan cepat menolak, dan memilih duduk di jok penumpang belakang. Sampai di sini Birma hanya bisa menghala napas pasrah dan membiarkan Clara dengan kemauannya sendiri.
Bukan berarti Birma lemah menjadi laki-laki, tapi satu yang Birma takutkan saat berdebat dengan Clara yang penuh emosi, Birma takut terpancing dan berakhir menyakiti istrinya, apalagi saat ini wanita itu tengah mengandung anaknya.
Dinda yang masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mobil yang di kendarai Birma. Sejujurnya ia paham dengan apa yang terjadi, termasuk kemarahan Clara. Bersalah tentu saja Dinda rasakan, tapi sesak di dada tak urung ikut menyiksa hatinya.
Bagaimanapun juga Birma adalah cinta pertamanya, cinta masa kecilnya dan pernah ia harapkan sebagai cinta terakhirnya. Meskipun pada kenyataannya laki-laki itu memilih perempuan lain untuk menjadi pedamping sisa hidupnya.
Masih jelas dalam ingatan, bahwa saat itu Birma baru saja masuk SMP, sedangkan Dinda masih berada di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kelas 5, dan cinta monyet terjalin di antara mereka. Dinda selalu bahagia berada di samping Birma, perhatian yang laki-laki itu berikan membuatnya merasa di lindungi dan Dinda benar-benar jatuh cinta meskipun saat itu belum terlalu paham akan apa arti dari cinta.
Namun ketika ia bisa memahaminya, keadaan memaksa mereka berpisah. Dinda harus meningalkan Birma, meninggalkan kampung halamannya yang penuh akan cerita manis bersama Birma remaja.
“Mas, jangan lupa kangen sama Dinda ya, karena Dinda pasti akan rindu Mas Birma. Dinda sayang, Mas Birma.”
Dinda menyeka sudut matanya saat ingatan terakhir pertemuan mereka ketika kecil kembali melintas di kepalanya. Dinda tidak pernah melupakan laki-laki itu, meskipun sempat tidak mengenali wajahnya.
Saat kembali bertemu di Yoygakarta saat itu, Dinda sadar bahwa perasaan itu masih belum hilang, malah justru semakin bertambah dan ia berharap bahwa laki-laki itu pun memiliki perasaan yang sama.
Sayangnya begitu ia kembali ke Amsterdam, Dinda lupa meminta kontak Birma, sampai pada akhirnya ia memilih untuk lebih semangat belajar dan menyelesaikan sekolahnya agar segera kembali ke tanah air, dan bertemu dengan sang pujaan.
Namun ternyata sekeras apa pun dirinya berusaha di negara orang agar segera kembali, cintanya lebih dulu dimiliki orang lain. Dinda terlambat, atau mungkin memang Birma yang tidak di takdirkan untuknya.
🍒🍒🍒
Begitu mobil yang birma kendarai berhenti di pekarangan rumah minimalis itu, Clara dengan cepat keluar dan membanting pintu mobil keras-keras, membuat Birma yang baru saja membuka sabuk pengamannya terlonjak kaget. Setelahnya segera berlari menyusul Clara sebelum wanita itu mengunci pintu dan mengurung diri di kamar, karena itu akan semakin menyulitkan dirinya memaham kemarahan sang istri.
“Lepas!” Clara berseru kesal saat tangannya di tarik Birma.
“Kamu kenapa?” tanya Birma lembut.
“Gue bilang lepas!” Clara terus berontak, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sang suami.
Menggeleng adalah jawaban yang Birma berikan, laki-laki itu malah justru memeluk Clara begitu erat, lalu melayangkan kecupan di kepalanya, berusaha untuk meredakan kemarahan istrinya. Namun malah pukulan berutal yang wanita itu berikan. Sakit memang, tapi Birma berusaha tetap bertahan memeluk Clara. Tidak apa tubuhnya babak belur, yang penting tahu apa alasan kemarahan istrinya yang meledak seperti ini.
Birma memilih diam, mengelus punggung dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya itu, membirkan sang istri melampiaskan kekesalannya, mencurahkan air matanya dan memaki dirinya, hingga wanita itu lelah dan berakhir tertidur dalam dekapannya.
“Kamu kenapa, sayang?” Birma berujar sedih, seraya menggendong Clara menuju kamar mereka di lantai atas.
“Tolong bicara apa yang memang kamu rasakan, jangan buat aku bingung seperti ini.” perlahan, Birma membaringkan tubuh Clara yang terlelap, melayangkan satu kecupan lembut di kening istrinya, lalu menyeka wajah basah Clara yang kacau.
“Kamu tahu aku bukanlah laki-laki yang tahu segalanya, aku bukan laki-laki yang mampu membaca tatapanmu, membaca hatimu dan mengartikan emosi serta kemarahanmu. Aku bodoh, dan aku minta maaf untuk itu. Maafkan aku jika memang membuatmu terluka, maafkan kesalahanku, dan maafkan ketidakpekaanku.” Birma terus berucap, memandang sedih istrinya yang tertidur lelap dengan jejek-jejek air mata yang tersisa.
“Kamu tahu, aku tidak pernah ingin melihat kamu menangis, aku tidak pernah ingin melihat kamu terluka, dan rasanya hatiku seolah teriris sembilu melihat bagaimana kacaunya kamu saat ini.” Birma mendongakkan kepalanya, menahan air mata untuk tak jatuh saat ini.
“Tolong, tolong maafkan aku. Meskipun aku belum paham di mana letak salahku, aku sadar bahwa semua yang terjadi kepadamu adalah kesalahaku. Jadi, tolong katakan, biar aku perbaiki, biar aku sadar salahku, dan biar aku tidak lagi mengulanginya.”
Dalam tidurnya, samar-samar Clara mendengar semua yang di ucapkan suaminya dengan nada bergetar, di susul dengan tetesan air hangat yang mengenai pipinya. Clara merasakan itu, dan ia tahu bahwa Birma menangis. Di tambah dengan pelukan Birma yang semakin erat di tubuhnya, membuat Clara yakin Birma benar-benar merasa bersalah. Padahal laki-laki itu sendiri belum memahami salahnya. Apa gunanya permintaan maaf jika kesalahannya saja tidak diketahui? Rasanya Clara ingin sekali membenturkan kepala suaminya ke tembok yang paling keras.