Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 60



Pletak!


“Jelek banget lo doain gue,” Birma yang terusik akan tangis dan pelukan erat istrinya langsung melayangkan jitakkan di kepala belakang Clara, membuat perempuan itu mengaduh dan menjauhkan tubuhnya.


“Kamu gak jadi mati, Bir?” pertanyaan bodoh yang Clara ucapkan itu membuat Birma mendelik tak suka, menyingkirkan tangan Clara dari wajahnya kemudian bangkit dari duduk dan pergi begitu saja keluar dari kamar mandi, mengabaikan kebingungan Clara.


Namun wanita hamil itu tentu saja tidak tinggal diam, mengikuti dan terus bertanya mengenai keadaan ayah dari calon anaknya. Kekhawatirannya masih belum bisa ia hilangkan meskipun sang suami sudah sadarkan diri. Apalagi tadi ia mendapati tubuh suaminya dingin. Bukankah orang mati memiliki suhu seperi itu?


“Birma!” panggil Clara dengan nada kesal, karena masih saja diabaikan.


“Apa! Kamu berharap aku mati?” mendadak Birma menoleh, menghentikan aktivitasnya yang tengah berganti pakaian, dan menatap istrinya itu dengan kesal. Siapa memangnya yang tidak kesal? Sudah di siksa dengan tubuh telanjang, kemudian di kurang di kamar mandi, setelah itu di tanya gak jadi mati. Haruskah ia menjedotkan kepala istrinya?


“Mana ada aku berharap seperti itu! Aku khawatir, kamu tahu? Aku takut kamu kenapa-kenapa, aku takut kamu pergi …,” ucap Clara dengan suara semakin melemah dan air mata kembali meleleh.


Birma yang melihat air mata itu menghembuskan napasnya perlahan, lalu berjalan menghampiri sang istri dan meraihnya ke dalam pelukan. Wanitanya memang paling bisa membuat kekesalahnya luruh.


“Aku gak apa-apa, tadi cuma ketiduran aja,” ucap Birma dengan suara pelan, masih dalam posisi memeluk wanita hamil itu dengan tangan bergerak lembut mengusap rambut panjang Clara yang terasa halus di telapak tangannya.


“Mana ada cuma ketiduran sampai gak terusik aku guncang-guncang?” Clara mendorong tubuh suaminya menjauh, menatap kesal pria itu. Ia benar-benar kahawatir dan ketakutan, sementara laki-laki itu bilang hanya ketiduran, baru di guncang sedikit saja seharusnya sudah bangun apalagi posisi Birma yang duduk tidak nyaman di lantai kamar mandi yang dingin. Kalau pingsan, Clara percaya. Ini tidur? Please, ia tahu suaminya tidak se-kebo itu jika tidur. Dirinya lebih susah jika di bangunkan. Clara akui itu.


“Ya gimana dong, aku ngantuk banget. Semalam kamu gak biarin aku tidur, ngerengek minta di elusin perutnya. Di tambah kamu kurung aku lama banget di kamar mandi, dari pada lelah gedor-gedor mendingan aku tidur dulu.” Panjang lebar, Birma menjelaskan. Dan ternyata itu sukses membuat Clara meringis, merasa bersalah.


“Maaf,” gumamnya penuh sesal.


“Kenapa minta maaf?” Birma mengerutkan keningnya seraya menangkup wajah menunduk sang istri. “Aku memang kesal gara-gara di kunciin di kamar mandi, tapi gak apa-apa kok, gak terlalu buruk juga, meskipun benar-benar dingin.” Kata Birma dengan seulas senyum di birinya.


“Maaf soal semalam, aku udah ngerepotin kamu.” Rasa bersalah itu masih ada meskipun Birma tidak sama sekali merasa di repotkan.


Birma menggelengkan kepala, Clara istrinya, dan dalam perut itu adalah anaknya, sudah tugas Birma untuk menuruti segala keinginan istrinya, termasuk mengusap perut besar wanita itu dikala tidak nyaman dirasakan. Birma tidak bisa protes, toh anak di dalam sana ada juga karena ulahnya. Meskipun ya … kadang kekesalan tidak mampu di tahan saat istrinya mulai menjengkelkan, namun Birma sebisa mungkin menahannya. Ini adalah ujian rumah tangga, dan beginilah kehidupan setelah menikah apalagi saat kondisi istri mengandung.


Selesai dengan acara maaf-maafan itu, keduanya melanjutkan niat awal untuk memeriksakan kandungan ke rumah sakit dengan di temani sang bunda yang memang ingin lebih dulu mengetahui jenis kelamin calon cucunya dari sang putri. Sementara Pandu, Rapa dan Leo bekerja, Cleona tetap di rumah menjaga kedua putranya yang semakin hari semakin luar biasa menjengkelkan saking aktif-nya. Ah, jangan lupakan bahwa ibu dari Birma pun turut ikut karena sama penasarannya. Bahkan wanita baya itu yang lebih antusias, mengingat ini adalah cucu pertama di keluarganya.


Tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit, tidak pula butuh waktu yang lama juga untuk mengantri, Clara yang sudah lebih dulu membuat janji tidak perlu membuatnya lama-lama mengantri. Dan kini keempat orang itu sudah dapat melihat makhluk kecil yang bersemayam di dalam perut Clara dari layar USG yang di tampilkan dokter kandungan sambil menerangkan mengenai kondisi dan tentu saja jenis kelamin bayi itu sendiri.


Perempuan, sesuai dengan yang mereka inginkan. Bayi yang sudah Birma gadang-gadangkan akan secantik apa besarnya nanti, sementara Clara sudah tidak sabar membeli pernak-pernik lucu untuk putrinya kenakan. Sungguh kebahagiaan yang tidak dapat di tukarkan dengan apa pun.


Beberapa tahun lalu, Clara sempat mengalami masa sedihnya. Menjalani rumah tangga dalam sebuah tekanan mertua yang menuntut seorang cucu, stress yang melanda membuat Clara ingin sekali menyerah dan hampir meminta Birma menikah lagi.


Empat tahun pertama pernikahannya adalah hal yang tak mudah bagi Clara. Namun semenjak dirinya dinyatakan hamil, dunianya berubah 180 derajat. Bahagianya bertambah dan tawanya semakin lebar. Tidak ada lagi kepalsuan yang selama empat tahu itu Clara perlihatkan.


Meskipun Birma tidak ikut menuntut seorang anak, dan tetap memberikan kebahagiaan untuknya, tetap saja ketika itu masih ada luka yang menganga, dan kebahagiaan yang suaminya beri tidak mampu menutupnya dengan sempurna. Berbeda setelah dirinya hamil, meskipun suaminya lebih banyak mengesalkan, bahagia tidak dapat Clara sembunyikan. Kini ia semakin tak sabar menanti hadirnya seorang bayi dalam rumah tangganya. Clara tidak bisa bayangkan akan sebahagia apa hari-harinya nanti.


“Kita jadi lanjut belanja ‘kan?” tanya sang bunda ketika mereka baru saja keluar dari ruangan dokter yang menangani kehamilan Clara.


“Jadi Bun, lagian kandungan Atu juga kan udah hampir menginjak usia delapan bulan. Terlalu telat aja kita nanyain jenis kelamin, padahal dokter selalu mau ngasih tahu. Bapaknya sok-sokan minta di rahasiain, tau-nya gak bisa nahan penasaran juga!” jawab Clara dengan di akhiri cibiran pada sang suami yang kini sudah duduk di balik kemudi.


“Gimana mau aku rahasiain kalau chek up ke dokternya selalu sama kamu? Aku harus bisik-bisik gitu?” tidak beda jauh Clara pun ikut memutarkan bolamatanya malas.


Kadang tidak habis pikir pada si tampan di sampingnya itu, dia sendiri yang meminta di rahasiakan agar menjadi kejutan, dia sendiri yang akhirnya penasaran. Giliran telat tahu, malah ia yang di salahkan. Clara jadi bertanya apakah suaminya itu sehat? Lagi pula ia hanya mengikuti keinginan suaminya. Kalau Birma ingin di rahasiakan ya di rahasiakan, kalau ingin tahu, ya, ia minta dokter menjelaskan. Dasarnya saja serba salah menjadi istri seorang Birma. Untung saja cinta, kalau tidak … inginnya Clara mencari suami baru.


“Kan konsultasi lewat Chat bisa,” Birma masih juga belum mau menerima kekalahan, membuat Clara mendengus kesal. Paling bisa memang suaminya itu mengajak berdebat, untung saja Clara sabar menghadapinya.


“Lupa kalau hp aku kamu terus yang pake?”


“Itu salah kamu kenapa punya aku di banting,”


“Ya, kamu yang salah kenapa selingkuh!”


“Aku gak selingkuh, Yang!”


“Kalau Chat-an, makan siang bareng, terus ke supermarket bareng itu apa namanya kalau bukan selingkuh?”


Dan pada akhirnya kejadian yang sudah berlalu kembali di bahas lagi. Masalah yang semula sepele malah jadi bertele-tele gara-gara tidak ada salah satu yang mau mengalah.


Kedua orang tua yang duduk di jok belakang sejak tadi hanya menjadi penonton, mendengarkan, geleng kepala dan saling pandang setelah kata selingkuh menjadi pembahasan kedua orang di depannya.


“Siapa yang selingkuh?” tanya kedua wanita paruh baya itu, namun tidak sama sekali Birma dan Clara hiraukan, keduanya masih asyik berdebat hingga jalan saja tidak sepenuhnya Birma perhatikan. Untung saja semesta tengah berpihak kepadanya, hingga mereka bisa tiba dengan selamat di pusat perbelanjaan yang ada di kotanya. Tapi perdebatan itu tidak juga berhenti sebelum Lyra dan Arindi angkat suara.


“Stop! Kalian sebenarnya suami istri apa musuh sih? Debat aja terus, mana gak tahu tempat lagi. Gimana kalau sekiranya celaka?” Arindi melayangkan kekesalannya.


“Kalian mau mati sia-sia?!” tambah Lyra yang langsung saja mendapat perhatian putra putrinya.


“Bunda jelek banget doa-nya!” protes Birma dan Clara bersamaan.


“Ya abis Bunda kesal banget sama kalian. Apa-apa diributin, mana ngerembet ke mana-mana lagi. Ck! Lagian kamu ya, Tu, sebagai seorang istri itu harus banyak ngalah sama suami …,”


“Lah, kebalik kali Bun, yang ada juga suami yang harus lebih ngalah. Dimana-mana juga perempuan itu selalu benar, berat badan naik aja timbangan kok yang salahin,” potong Clara cepat. Membuat Lyra melayangkan delikkannya. Benar-benar tidak sopan putrinya itu.


“Kamu juga Birma, udah punya istri jangan ada main-main sama perempuan lain, apalagi sampai chat-chat-an, makan bareng. Gak ada yang seperti itu, hargai istri kamu!” kali ini Arindi yang melayangkan omelannya pada sang putra. Mendengar kata selingkuh tadi, sebagai orang tua, Arindi tidak ingin sampai putranya menyakiti wanita, apalagi Clara tengah mengandung.


Mendengar wejangan yang di bumbui omelan dari kedua orang tua itu, Clara dan Birma hanya bisa menunduk, lalu mengangguk-anggukan kepala seolah paham, namun tanpa Arindi dan Lyra sadari bahwa kedua orang itu saling melayangkan tatapan permusuhan. Nasihat-nasihan yang di berikan kedua ibu itu nyatanya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Selalu seperti itu jika memang sepasang suami istri yang sebentar lagi akan memiliki anak itu belum puas dengan perdebatannya. Nasihat siapa saja akan di anggap angin lalu, yang hanya melintas sesaat kemudian di bawa terbang dan berakhir disambar burung.


***


**jangan lupa beri dukungan author guys, berupa like komen dan vote. terima kasih.


follow author di ig @Lenii13**_