
“Mas Birma?” panggil seseorang, membuat si empu nama menoleh, di ikuti Clara dan Rapa.
Rapa yang mengenali wanita yang memanggil bahkan menghampiri adik iparnya itu langsung melirik pada Clara yang sudah cemberut di tempatnya. “Saingan lo, Dek.” Bisik Rapa tepat di depan telinga adiknya, membuat Clara mendengus dan semakin memajukan bibirnya. Sementara itu Birma sudah kalang kabut, tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Mengabaikan dan pura-pura tidak kenal, itu tidak mungkin, mengingat ia sudah menoleh dan Dinda sudah berdiri di depannya. Meladeni pun menjadi keputusan yang rasanya akan salah mengingat ada Clara di sampingnya. Istrinya itu bisa-bisa marah dan mengamuk seperti tempo lalu.
“Belanja, Mas?” tanya perempuan cantik itu, melihat pada kantung bawaan di tangan Birma. Clara memutar bola matanya malas, kemudian mendengus pelan.
“Udah tahu pake nanya!” ini jelas bukan Birma yang menjawab, bukan pula Rapa, melainkan si ibu hamil yang sudah melayangkan tatapan tajamnya. Gurat tak suka jelas memancar, tapi Dinda seolah tidak paham. Perempuan itu malah menunjukan senyum anggunnya, membuat Birma merutuki dalam hati dan berharap bahwa teman masa kecilnya itu segera undur diri sebelum istrinya semakin meledakkan emosi.
“Lo ngapain sih ke sini? Gak malu nyamperin laki orang?” sinis Clara dengan delikan tak sukanya.
“Gak apa-apa, kok, Mbak, saya cuma ingin menyapa Mas Bir…”
“Berhenti lo manggil-manggil laki gue, Mas! Gue istrinya bukan lo. Dan berhenti juga nyebut gue, Mbak. Gue bukan tukang jamu, bukan juga Mbak lo.” Potongnya cepat, masih dengan sinisnya.
Birma berusaha menegur, tapi Clara lebih dulu melayangkan plototannya. Meminta tolong Rapa tidak ada gunanya, karena sang kakak ipar malah puas menonton sambil menahan tawa. Birma melayangkan tatapan memohon maaf pada perempuan di depannya yang masih mampu mengukir senyum walau sudah mendapat kata-kata kasar dari Clara.
“Saya manggil seperti itu biar sopan aja, Mb…”
“Stop!” potong Clara cepat. “Lo kenapa susah di bilangin sih, hah?” Clara bangkit dari duduknya, berdiri di depan Birma agar menghalangi pria itu menatap Dinda. “Sebenarnya apa tujuan lo ke sini? Mau godain laki gue?” tanya Clara sarkastis.
“Mom …!” tegur Birma berusaha menghentikan istrinya, karena bagaimanapun mereka berada di tempat umum dan kini sebagian dari pengunjung mall sudah ada yang mulai tertarik dengan tontonannya.
“Diam Birma!” Clara menepis tangan suaminya itu.
“Ini tempat umum, Cla. Please!” mohon Birma agar istrinya itu mau berhenti, tapi Clara yang keras kepala dan emosi menguasi mengabaikan suaminya itu.
Birma yang berada di belakang istrinya itu sudah menatap Dinda, memohon untuk segera pergi. Namun nyatanya perempuan itu sama keras kepalanya dan tetap berdiri di tempatnya. Sama-sama mengabaikan Birma.
“Dulu kalian boleh saling cinta, tapi sekarang Birma laki gue. Harusnya lo paham posisi lo sekarang. Diantara lo sama laki gue hanya sebatas masa lalu. Ingat, masa lalu!” Clara menekankan di kalimat terakhirnya. Dinda menunduk berusaha menahan air matanya.
Sesak itu kembali terasa, padahal apa yang di katakan Clara tidak salah. Diantara dirinya dan Birma hanya masa lalu. Tidak ada harapan untuk ia mengulang masa itu, karena sang pujaan sudah memilih pedamping yang baru.
“Gue tahu lo wanita pintar, dan dengan kepintaran itu harusnya lo paham bahwa menjadi pengganggu itu bukan hal yang patut di banggakan, dan menjadi pelakor bukanlah hal yang terpuji. Jangan jadi perempuan be*o hanya untuk mendapatkan kasih sayang. Meskipun masa lalu lo menyenangkan bersama Birma, tetap saja sekarang ada gue di samping laki-laki yang lo puja.”
Dinda semakin menundukan kepalanya mendengar ucapan Clara. Terdengar menyakitkan, tapi Dinda tidak sama sekali bisa membantahnya. Perasaan yang dulu bersarang masih tetap ada dan Dinda tak mampu untuk menghilangkannya.
Semua yang di katakan Clara benar, masa lalunya dengan pria itu terlalu menyenangkan hingga membuatnya tidak bisa melupakan. Karena perasaan bodohnya itu jugalah Dinda di butakan, sampai tidak mengganggap keberadaan Clara di samping Birma, padahal sosok itu jelas berada di depan mata.
“Sakit Birma!” sentak Clara begitu mereka berhenti di parkiran, dimana mobi Birma berada. “Kenapa narik aku? Aku belum selesai bicara sama perempuan tidak tahu malu itu, Birma!”
“Cla…”
“Kenapa? Kamu marah? Kamu mau bela dia dan nyalahin aku?” tanya Clara. Kini air matanya sudah menetes membasahi pipi bulatnya
Kesal, Clara benar-benar kesal dengan adanya pengganggu dalam rumah tangganya, apa lagi pengganggu dari masa lalu yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dari suaminya. Clara tidak ingin kehilangan Birma, sangat tidak menginginkan itu.
Birma menarik istrinya ke dalam pelukan. “Aku gak marah, aku gak juga nyalahin kamu. Terima kasih, karena sudah tegas menyadarkan Dinda. Bukan aku gak ingin melakukan itu sendiri, tapi aku selalu gak tega. Kedekatan aku sama dia dulu sudah seperti saudara, itu yang membuat aku tidak bisa tegas sama Dinda. Aku selalu gak tega nyakitin perasaan dia…”
“Maksudnya kamu lebih tega nyakitin perasaan aku, gitu?!” lagi-lagi Clara memotong cepat. Mendorong suaminya hingga pelukan mereka terlepas, dan menatap Birma dengan tatapan terluka.
“Bukan begitu maksud aku, Cla…”
“Lalu bagaimana?” sentak Clara menuntut penjelasan.
Birma mengacak rambutnya frustrasi, bingung bagaimana cara menjelaskan pada sang istri mengenai perasaannya terhadap Dinda. Ini bukan cinta, bukan pula perasaan suka. Sekedar rasa sayang terhadap kakak pada adiknya. Itu yang membuat Birma tidak bisa berlaku tegas, hanya menghindar meskipun sesekali gagal. Tapi selalu saja istrinya itu salah mengartikan.
Meraih kembali istrinya ke dalam pelukan, Birma melayangkan kecupannya di puncak kepala Clara, berusaha menenangkan istrinya dari emosi yang melanda. Biasanya Clara bisa menghadapi ini dengan tenang, seperti menghadapi Cella dan beberapa perempuan lainnya yang berusaha mencari perhatian Birma. Tapi sekarang istrinya itu lebih mudah emosi, itu pun mungkin karena faktor kehamilannya, Birma harus paham, dan berusaha sesabar mungkin untuk menenangkan. Karena jika dirinya ikut emosi, maka siap-siap saja gunung api mengeluarkan laharnya.
“Dengar sayang, seperti yang kamu bilang tadi, antara aku dan Dinda hanyalah masa lalu. Masa depanku cukup kamu, hingga kapanpun hanya akan kamu. Sejak dulu, cinta itu tidak pernah ada, hanya keinginan melindungi layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya, hanya saja caraku salah, hingga membuat perasaan itu tumbuh di hati Dinda. Aku tidak bisa mencegah, karena bagaimanapun itu hatinya, perasaannya yang tidak bisa aku kendalikan, tidak bisa pula aku hilangkan, karena itu bukan kehendakku. Namun kamu harus percaya kepadaku bahwa hanya kamu yang senantiasa aku cinta.”
Birma menggerakan ibu jarinya, menghapus tetasan air mata yang membasahi pipi istrinya, setelah itu kecupan bergantian ia berikan di kelopak mata Clara yang sembab.
“Segitu cintanya ya kamu sama aku sampai nangis kayak gini?” tanya Birma dengan senyum menggoda.
“Dih geer!” ujarnya, menepis tangan Birma kasar lalu memalingkan wajahnya.
“Ngaku aja kali, Mommy, Daddy gak keberatan, kok, di cintai Mommy.” Goda Birma mencolek dagu istrinya.
“Geli Birma!” seru Clara bergidik, kemudian menepis tangan suaminya itu dan memalingkan wajahnya yang semakin memerah, malu juga kesal.
“I love you too.” Sahut Birma tidak nyambung, tapi tak urung senyum terukir manis di bibir Clara.
Kini masalah yang terjadi beberapa menit lalu seolah tidak pernah terjadi, dan Birma bersyukur karena kemarahan sang istri berangsur pergi.