Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 63



“Sayang, aku pulang!” seru Birma begitu masuk ke dalam rumah yang pintunya kebetulan terbuka lebar. “Kamu dimana, Yang?” teriak Birma begitu kakinya semakin masuk, namun tidak juga mendapati kehadiran istrinya. Hingga satu suara menyahuti membawa langkah Birma, dan setelahnya dapat ia temukan si cantik berperut bulat itu tengah sibuk di halaman belakang rumah mereka bersama si bibi, asisten rumah tangganya.


“Astaga, kayak bocah banget sih kamu, Cla. Ini udah sore bukannya mandi malah kotor-kotoran main tanah,” gerutu Birma saat tahu apa yang sedang dilakukan istrinya.


“Aku lagi berkebun, bukan main tanah!” sahut Clara mendengus kecil seraya melayangkan lirikan kesalnya.


“Apa bedanya? Udah cepat berdiri, mandi!” titahnya, namun tidak sama sekali Clara hiraukan. “Bocah masih di dalam perut udah lo ajak main tanah, gak kebayang gue nanti tuh anak brojol lo ajak dia main api kali.” Lanjut Birma dengan gerutuan, yang lagi-lagi di abaikan Clara.


Perempuan hamil itu tidak main tanah dan kotor-kotoran seperti yang di ucapkan suaminya. Ia tengah menanam bunga yang tadi di minta dari tetangga sebelah rumahnya. Dan dari pada tidak memiliki pekerjaan, maka berkebun menjadi pilihannya di kala waktu kosong. Siapa yang tahu suaminya akan pulang lebih awal dan dirinya tidak dapat menyambut laki-laki itu.


“Yang main api bukannya kamu, ya, Bir?” Clara berucap dengan nada menyindir, kemudian menoleh seraya menaikan sebelah alisnya.


“Maksud kamu?” tanya Birma mengernyitkan keningnya bingung.


“Hp aku di meja, noh, kamu lihat sendiri.” Clara menunjuk dengan dagunya ke arah ponsel baru yang di belikan suaminya beberapa hari lalu untuk mengganti ponselnya yang di gunakan Birma setelah ponsel laki-laki itu Clara banting kala cemburu melanda akibat kesalahpahaman dulu.


Birma yang penasaranpun segera berjalan dan mengambil ponsel milik istrinya, membuka dan melihat Chat yang menurut tebakannya tempat dimana kejutekan itu berasal. Dan benar saja, Birma mendapatkan alasan di balik sindiran yang dilayangkan sang istri barusan. Satu pesan berupa foto masuk tadi pagi, dan pengirimnya sudah jelas sang kakak ipar yang tingkat menyebalkannya sudah berada di level paling tinggi. Namun dengan melihat itu tidak ada alasan untuk Birma panik, selain hanya sebuah foto dirinya yang berdiri berhadapan dengan Dinda tidak ada yang macam-macam lainnya. Dari sana Clara sendiri sudah bisa melihat bahwa ada jarak di antara dirinya dan Dinda. Hanya saja tambahan pesan yang dikirimkan Rapa-lah yang membuat Birma mendengus kesal, bisa-bisanya sang abang ipar mengompori dan mengatakan bahwa dirinya selingkuh, dan meminta Clara untuk siap di madu. Abang durhakim memang!


“Kamu percaya, Yang?” tanya Birma pada sang istri yang kali ini tengah mengarahkan selang air pada tangkai bunga mawar yang baru saja di tanamnya, dan satu per satu di tata oleh si bibi agar terlihat rapi.


“Percaya,” jawab Clara singkat, tanpa menoleh sedikitpun pada suami tampannya itu yang kini terlihat was-was, dan berjalan cepat menghampiri Clara yang masih sibuk dengan selang airnya.


“Aku bisa jelasin loh, Yang. Ini bukan seperti yang kamu bayangkan, bukan pula seperti yang Bang Rapa laporkan. Aku memang ketemu Dinda pagi tadi, dia…”


“Aku percaya sama kamu, bukan foto yang Abang kasih …,” potong Clara cepat seraya menoleh dan memberikan senyum tulusnya pada Birma yang tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu jarak mereka hanya tingga beberapa langkah. “Aku percaya kamu gak akan khianati aku, aku percaya kamu gak sengaja menuin dia, aku percaya di antara kalian ada obrolan, tapi aku sangat percaya bahwa yang di bahas bukan menganai ajakan menikah.” Kembali Clara melanjutkan ucapannya dengan santai, senyumnya tidak terlihat di paksakan, membuat Birma yakin bahwa wanita itu tidak salah paham mengenai dirinya dan Dinda.


“Aku mamang gak sengaja ketemu Dinda tadi pagi, dia manggil aku saat aku tiba di lobi. Dia minta maaf karena sudah menjadi pengganggu rumah tangga kita, membuat aku dan kamu berantem akibat kesalahpahaman, dan dia juga sekaligus pamit mau kembali ke Yoyga, katanya kalau masih disini dia gak bisa lupain aku yang gantengnya gak bisa di abaikan ini …,” Clara memutar bolamatanya saat mendengar nada percaya diri laki-laki itu, sungguh Clara tidak percaya Dinda mengucapkan kalimat terakhir yang suaminya itu layangkan. “Dia juga bilang minta maaf sama kamu, maaf udah suka sama suami tampan kamu.” Lanjut Birma tidak menghilangkan kepercayaan dirinya. Calon anaknya perempuan, tapi entah dari mana pria itu memiliki tingkat percaya diri sebesar itu, selalu saja membangga-banggakan bahwa dirinya tampan, ya, meskipun memang tampan, sih. Ah, sudahlah, Clara malas mengakui.


“Ukhhuukk!”


Brima dan Clara yang mendengar suara pura-pura batuk itu segera menoleh, dan mendapati asisten rumah tangganya tengah mengusap tenggorokan, seakan wanita baya itu memang benar-benar merasakan gatal dibagian itu. “Eh, ada Bibi ternyata,” ucap Birma yang seolah baru sadar ada wanita itu di sana. “Bibi sehat?” lanjutnya bertanya dengan nada sopan dan perhatian.


“Tenggorokan Bibi seret, Den,” katanya kembali mengusap tenggorokannya.


“Mau minum, Bi?” tanya Birma kemudian. Si Bibi hampir saja mengangungguk, namun urung ketika mendengar lanjutan ucapan Birma, “Yang, semprotin airnya ke Bibi biar tenggorokannya gak kering lagi.”


“Dasar majikan uwedan!” ujarnya, membuat Birma dan Clara tertawa begitu puas. Sementara si bibi melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua majikannya itu di halaman belakang masih dengan tawanya yang terdengar hingga dapur.


🍒🍒🍒


“Bir, tadi ada acara pelukannya gak?” tanya Clara begitu mereka selesai melaksanakan makan malam bersama, dan saat ini duduk di ruang tengah, menonton televisi. Birma menaikan sebelah alisnya tanda bahwa ia tidak paham dengan pertanyaan yang dilayangkan istrinya. “Biasanyakan kalau perpisahan itu di akhiri dengan pelukan. Antara kamu sama Dinda tadi ada adegan itu gak?” jelasnya, membuat Birma kini mengangguk paham.


“Pengennya?” Birma menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. “Coba kamu tebak, ada adegan peluk-pelukannya gak tadi aku sama dia?”


Mendengar itu, Clara mendengus pelan, seraya mendorong suaminya yang sudah mepet-mepet menjauh dari hadapannya, kemudian meraih ponsel dan membuka kembali pesan yang sang abang kirimkan. Clara menelisik foto itu untuk menilai raut wajah kedua orang di dalam sana yang fotonya di ambil dari samping dan sembunyi-sembunyi membuat gambar itu terlihat blur. Namun meskipun tidak terlalu jelas, Clara masih dapat melihat ada senyum dan tatapan lembut yang Birma berikan, membuatnya cemburu. Abangnya memang paling bisa membuat hatinya ketar-ketir sepanjang hari tadi. Namun untunglah ia bertekad unuk mempercayai sang suami, jadi sedikit bisa tenang.


“Dilihat dari ekspresinya sih kayaknya ada,” Clara kembali bersuara begitu beberapa detik mengamati gambar di layar ponselnya. “Tapi aku gak yakin kamu mau meluk dia,” lanjutnya seraya menyimpan jari telunjuk dan ibu jarinya di dagu yang kini terasa lebih bulat akibat tubuhnya yang tambah berisi semenjak kehamilan.


Kini Clara benar-benar seperti seorang pengamat sungguhan, begitu jeli menjelaskan raut wajah Birma dan perempuan di foto itu. Membuat laki-laki yang akan segera menyandang panggilan ayah itu mengerucutkan bibirnya, dalam hati juga was-was, takut sang istri kembali salah paham dan berakhir marah seperti beberapa waktu lalu.


Pletak!


“Maksud lo, gue gendut?” deliknya tajam.


“Aku gak bilang gitu loh, Yang, cuma bilang kalau kamu empuk, enak di peluk, anget!” ucap Birma seraya mendekat dan memeluk tubuh istrinya dengan erat. Membuat perempuan itu berontak, mendorong-dorong tubuh suaminya agar menjauh. Bukan Clara tidak ingin di peluk suaminya, tapi susah napas di peluk begitu erat apalagi perutnya yang besar menambah rasa sesaknya.


“Ya itu juga sama aja, secara gak langsung kamu bilang aku gemuk. Sadar dong, aku gini juga gara-gara kamu ….”


“Iya sayang aku sadar kok,” kata Birma dengan cepat memotong sebelum istrinya itu kembali sensitif dan tidak percaya diri dengan tubuhnya sekarang. “Kamu gemuk gara-gara aku, aku yang buat kamu hamil. Tapi kan bagus, kamu jadi lebih hangat. Aku seneng peluk-peluknya, gak butuh lagi selimut,” Birma semakin mendusel memeluk istrinya itu, hingga Clara terpojok pada ujung sofa. Untung saja ada tangan sofa yang menahannya agar tidak terjatuh. “Lagi pula dengan seperti ini, membuktikan bahwa kamu bahagia hidup bersamaku,” lanjutnya sedikit mendongak untuk memberikan seulas senyum pada si cantik yang begitu amat dicintainya.


“Sepercaya itu kamu kalau aku bahagia hidup sama kamu?” tanya Clara menaikan sebelah alisnya.


“Memangnya kamu gak bahagia hidup sama aku?” Birma malah balik bertanya dengan satu alisnya yang naik. Clara menggelengkan kepala dengan wajah polos, membuat Birma hampir saja merobohkan tubuhnya saking ia terkejut mengetahui kenyataan itu. Benarkah istrinya itu tidak bahagia? “Kamu beneran gak bahagia hidup sama aku?” kembali Birma melontarkan pertanyaannya untuk meyakinkan bahwa yang sebelumnya salah. Clara-nya tidak bahagia, itu tidak mungkin bukan?


“Aku memang gak bahagia hidup sama kamu …,” ‘kretek’ ada yang retak tapi bukan gelas, lalu apa? Tentu saja hati Birma. “Tapi aku bahagia banget, banget, banget hidup sama kamu,” tambahnya dengan seulas senyum manis dan lembut, membuat pecahan itu kembali menyatu dan tidak sama sekali menimbulkan bekas. Yang ada malah semakin sempurna bentuknya.


“Terima kasih sudah menjadi suami yang amat menyayangiku, menjadi suami yang baik, setia, dan sabar menghadapi segala tingkahku. Terima kasih sudah bersedia menjadi sandaranku, menjadi tempatku berkeluh kesah, dan menjadi tempatku untuk berlindung. Terima kasih sudah memilihku untuk melahirkan keturunanmu, aku bahagia, amat bahagia bisa memilikimu, menjadi istrimu dan menjadi ibu dari anak-anakmu. Perjalan kita masih panjang, tugas kita belum selesai dan bahkan mungkin akan bertambah. Tapi aku tidak takut menjalaninya, karena ada kamu yang menenani setiap langkahku.”


Bagai perempuan yang tersentuh akan kata manis yang di berikan pasangannya, kini Birma tidak malunya meneteskan air mata mendengar setiap ucapan yang istrinya itu lontarkan. Birma benar-benar tersentuh, dan ia tidak mampu membendung air matanya. Clara bukanlah sosok manis yang selalu mengucapkan kata-kata seperti itu, tapi sekarang … dengan tatapan tulus dan sorot mata yang memancarkan rasa cintanya dapat Birma nikmati secara langsung, live di depan matanya. Bagaimana mungkin ia tidah tersentuh.


Rumah tangganya dan Clara memang tidak seperti kebanyakan suami istri lainnya. Hubungan mereka lebih sering terjadi seperti sepasang musuh, berdebat, dan saling meneriaki. Jarang ada kelembuat, jarang ada kata cinta, bahkan ungkapan sayang saja selalu diakhirnya dengan menyebalkan. Pernikahannya tidak sempurna dan tidak senormal orang kebanyakan, tapi pada akhirnya mereka bahagia dengan caranya sendiri.


Ketakutan tidak memiliki keturunan sempat menjadi bayang-bayang yang menyakitkan, stress yang tidak berkesudahan dan luka yang semakin hari semakin dalam akibat tuntutan yang tidak dapat dengan mudah di kabulkan selain Tuhan yang memberikan, hingga pada akhirnya kesabaran yang Clara dan Birma lakukan membuahkan hasil yang memuaskan. Kini yang di harapkan datang menyempurnakan kebahagiaan yang semula terasa hambar.


Jika menurut orang lain awal pernikahan itu begitu manis, tidak sepenuhnya menurut Clara yang memiliki kisahnya sendiri. Kehidupan setelah menikah tidak selalu di warnai keindahan, tidak selalu di mulai dengan kemanisan, dan tidak juga di awali sebuah keromantisan. Namun jangan takut, karena tidak selamanya itu ada, dan tidak selamanya kesedihan dan kebahagiaan bertahta, ada saatnya kita berada di salah satu titik itu. Dulu Clara boleh merasa tersiksa, tapi kini hidupnya sudah lebih bahagia bersama yang dicinta.


------------------------------ End ----------------------------


Ini bukan akhir dari bahagianya, tapi ini adalah akhir dari ceritanya. Selanjutnya biarkan Clara dan Birma melanjutkan kisah cintanya, kisah bahagianya dan kisah rumah tangganya yang penuh dengan warna tanpa menjadi konsumsi mata semua pasangan yang mengharap berada di posisinya, karena sekeras apa pun berusaha mencapai, percayalah bahwa kebahagiaan setiap insan berbeda takarannya. Jadi, berbahagialah dengan cara masing-masing.


----------------->Happy Ending guys ‹----------------


Hallo guys, uhh akhirnya Life After Merriage tiba di penghujung acara alias End. sedihkah kalian? atau justru ikut bahagia bersama Clara-Birma?


Pasti akan banyak yang bertanya, thor kok udah end aja sih, kok ceritanya gantung, Clara belum lahiran loh.


Benar bukan tebakanku? 😆


Maaf ya harus aku akhiri di sini kisah meraka, sebenarnya awalnya gak kepikiran buat end sih, tapi pas lagi nulis, eh kok ngerasa ini pas buat di jadikan ending, jadi ya udah deh akhir aku akhiri juga.


Tapi jangan sedih, akan ada bonus chapter kok nanti 😊😊


Untuk yang kurang puas maafin aku ya, takutnya nanti keburu nge-blank lagi dan yang ada cerita ini gak selesai-selesai, kalian tersiksa nunggu, aku pun sama, bedanya aku tersiksa karena kehabisan ide 😁😁😁


Jadi relakan aku berakhir disini ya, maaf, maaf dan maaf tidak membuat kalian puas 😢😢😢


Sampai jumpa di karyaku selanjutnya! 🙋🙋