Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 22



“Kok lama banget, jam segini baru pulang?” Clara melirik jam di pergelangan tangannya begitu Birma, Rapa dan kedua ayah baru saja tiba di rumah dengan wajah yang sama-sama lelah dan mengantuk.


“Laki lo ngeselin!” dengus Rapa, menghampiri istrinya yang tertidur di sofa. Clara menaikan sebelah alisnya bingung melihat kekesalan sang kakak.


“Sudah, lebih baik kalian sekarang tidur. Atu ajak suami kamu ke kamar. Dan kamu, Bang gendong Queen untuk pindah ke kamar kalian. Ayah juga ngantuk pengen tidur.” Setelah memberikan titah itu, Pandu lebih dulu melenggang menuju kamarnya, menyusul Lyra yang sepertinya sudah bergelung nyaman di ranjang.


“Jir, cuma gue yang tidur sendiri.” Ringis Leo nelangsa, lalu melangkah menuju kamar tamu yang memang selalu dirinya gunakan di saat menginap di rumah besannya itu, meninggalkan kedua pasangan muda yang kini puas menertawakan.


“Peluk guling aja, Pi!” teriak Rapa sebelum mertuanya itu benar-benar hilang di balik pintu, kemudian menggendong istrinya yang tertidur nyenyak menuju kamar, meninggalkan Birma dan Clara yang duduk di sofa.


“Birma,” panggil Clara manja, merentangkan kedua tangannya ke arah sang suami yang masih setia duduk di sampingnya.


“Apa?” tanya Birma menaikan sebelah alisnya, pura-pura tidak paham dengan apa yang di inginkan istrinya.


“Gendong,” masih tidak juga menghilangkan nada manjanya, Clara mengedip-ngedipkan matanya lucu, membuat Birma gemas. Namun laki-laki itu masih saja cuek dan seolah tidak terganggu dengan wajah menggemaskan istrinya.


“Ogah, kamu berat!”


“Aku berat juga gara-gara kamu. Buruan gendong, aku ngantuk pengen tidur!” titah Clara yang masih merentangkan kedua tangannya, tapi kali ini dengan tatapan mengancam.


Clara memang selalu seperti ini, jika tatapan manjanya tidak berhasil membuat Birma luluh, maka jalur terakhir adalah paksaan yang wanita hamil itu berikan.


“Boleh, tapi langsung aku tidurin, ya?” Birma menaik turunkan alisnya jahil.


“Gak usah makasih, aku bisa jalan sendiri.” Clara bangkit dari duduknya, melangkah kesal menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Birma tergelak, sebelum kemudian menyusul Clara yang berhasil dirinya buat kesal.


“Mau jadi aku gendong gak, Cla?” tanya Birma begitu berada beberapa langkah di belakang istrinya.


“Gak!” ketus Clara tanpa menoleh.


“Yakin?” goda Birma yang kini sudah berdiri sejajar dengan wanita cantik itu.


“Au ah, lo nyebelin!”


“Iya aku tahu, aku ganteng.”


“Najis, pede.” Clara memutar bola matanya, mempercepat langkah meninggalkan suami tampannya yang semakin hari semakin menyebalkan.


“Aku bukannya pede, Cla, tapi aku memang ganteng, buktinya kamu aja mau jadi istri aku.” Kata Birma yang sudah kembali mensejajarkan langkah dengan wanita hamil itu.


“Aku khilaf waktu terima kamu.”


“Halah, sok khilaf, padahal cinta banget sama aku, buktinya dulu kamu yang pertama kali ngajak balikan. Sadar bahwa kamu tidak bisa tanpa aku.”


Clara memutar tubuhnya mendengar ucapan Birma yang kembali mengingatkan akan masa lalu yang memalukan itu. Tatapan tajam Clara berikan pada sang suami yang kini menampilkan cengirannya.


“Gak sadar diri, kamu juga nemuin aku emang niat ngajak balikan. Gak ingat siapa yang selama empat tahun selalu kirim pesan tanpa henti ngingetin aku ini dan itu? Bilang kengen hampir tiap hari, ngasih kabar tanpa ada yang min...”


Cup.


Clara berdecih dan mencebikkan bibirnya, lalu menyusul suaminya naik ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya yang sudah lelah dan mengantuk karena menunggu Birma selama berjam-jam hanya untuk memenuhi ngidam laki-laki itu.


“Kamu gak mau madep aku tidurnya?” kata Clara setengah bangkit hanya untuk mengintip suaminya, yang Clara yakini belum tidur.


“Malas!” seru Birma tanpa menoleh, dan malah semakin menarik selimut hingga menutupi kepalanya, membuat Clara kesal dan berakhir dengan menendang kuat suaminya itu hingga terjatuh ke lantai.


“Argggh, Clara sakit!” ringis Birma menahan geram. Istrinya itu benar-benar senang membuatnya jatuh, dan sepertinya Birma harus memeriksakan tubuhnya ke dokter ahli, takut-takut ada tulang-tulangnya yang bergeser akibat seringnya ia terjatuh yang di akibatkan dorongan atau tendangan istri cantiknya.


“Bodo amat, aku gak peduli. Awas aja kamu, Bir, aku cari suami baru, jangan nyesel.” Kesal Clara yang kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.


“Gak akan ada laki-laki yang mau sama perempuan hamil, Cla.” Birma kembali naik ke atas tempat tidur setelah meregangkan tubuhnya yang sedikit sakit.


“Gak usah sok tahu, teman bisnis supermarket papi ganteng dan naksir aku. Besok aku ketemu dia untuk meeting, sekalian mau minta dia buat nikahin aku dan jadi ayah anak dalam kandungan aku.”


Mendengar itu, Birma mengeraskan rahangnya, wajahnya yang tadi menahan sakit, kini berubah marah dan tangannya mengepal kuat. “Coba bilang siapa laki-laki yang berani naksir kamu? Berani banget itu cowok! Belum tahu rasa sakitnya di gebukin? Cih, paling juga gantengan aku.” Dumel Birma dengan emosi.


“Ganteng dia-lah, wajahnya aja kayak pangeran arab.” Sahut Clara seolah tidak peduli dengan kekesalan suaminya.


Mendengar istrinya memuji laki-laki lain di depannya, tentu saja membuat Birma semakin emosi, dadanya tiba-tiba bergemuruh dan hatinya memanas. “Pokonya besok kamu gak boleh kerja!” tegas Birma yang saat ini sudah berdiri di samping tempat tidur, menatap istrinya dengan kekesalan, sementara Clara berusaha menahan tawa, karena tidak kuasa melihat wajah suaminya yang benar-benar menggemaskan di saat cemburu.


“Mana bisa aku gak kerja, besok itu meeting penting. Tentu saja aku harus hadir.”


“Gak ada! Kamu ikut ke kantor aku, biar nanti aku yang bilang sama Papi, kalau kamu resign. Titik, gak ada bantahan!” tegas Birma tidak ingin di bantah, tapi jelas saja itu tidak berlaku untuk Clara yang keras kepala.


“Gak bisa gitu dong! Perjanjian kita sampai usia kandungan aku lima bulan, baru aku berhenti. Sekarang kandungan aku baru dua bulan, itu artinya masih ada tiga bulan lagi. Kamu jangan se...”


“Gak ada bantahan, pokonya mulai besok kamu berhenti kerja. Gak ada alasan apa pun!” Birma dengan cepat memotong protesan istrinya. “Salah kamu sendiri kenapa sebut-sebut laki-laki yang naksir kamu.” Lanjut Birma mencebikan bibirnya.


“Salah kamu juga kenapa bikin aku sebal, dan gak mau tidur madep aku,” balas Clara tak ingin kalah.


“Kamu juga salah, kenapa bahas masalah dulu.”


“Kamu yang mulai!” kesal Clara, karena sang suami tidak juga ingin mengalah.


“Jelas-jelas ka...”


“Udah, lebih baik sekarang tidur. Aku ngantuk.” Clara meraih tangan suaminya, membimbing laki-laki itu untuk kembali naik ke tempat tidur dan berbaring.


“Selamat menjelang pagi, suamiku.” Clara mencari posisi nyaman dalam pelukan suaminya, menyudahi perdebatan yang mungkin tidak akan ada habisnya jika di lanjutkan.


Untuk kali ini Clara memilih untuk mengalah dulu, karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat di tahannya. Namun tolong ingatkan bahwa nanti Clara harus kembali mempertahankan masa kerjanya selama tiga bulan yang tersisa, jangan biarkan suaminya itu menang.


***


TBC...