
Selama beberapa jam berada di kantor tanpa sekertaris kesayangan, Birma akhirnya memutuskan untuk pulang begitu jam sudah menunjukan pukul lima sore. Memang hari ini Birma memutuskan untuk tidak lembur, karena ingin segera membahas masalahnya dengan sang istri tercinta, menuruti kata hatinya juga usulan ayah mertua.
Statusnya kini adalah seorang suami, kepala keluarga juga calon ayah, sudah sepatutnya Birma berbagi setiap masalah bersama keluarganya. Bukan untuk membagi beban atau kesulitan, melainkan untuk menenankan hati dan pikiran dari segala masalah yang menimpa. Meskipun tidak akan mendapatkan solusi dari sang istri, setidaknya ada pelukan hangat yang mampu mengangkat sedikit bebannya.
Birma memasuki lift yang sama dengan beberapa karyawan lainnya yang juga akan pulang, banyak desas-desus yang terdengar mengenai dirinya dan tuduhan korupsi itu, tapi Birma tidak begitu memedulikan, toh ia tidak melakukannya, jadi untuk apa dia takut atau terganggu dengan bisikan ini dan itu mengenain gosip yang ternyata sudah menyabar luas di sepenjuru kantor tempatnya bekerja.
Ayah mertuanya bilang bahwa ia harus terus terlihat tenang, walaupun hati tetap merasa gelisah, karena dengan sikap itu lah hari akan terasa lebih ringan, dan orang yang menginginkan kehancurannya semakin kelimpungan.
“Hallo sayang, kamu masih di supermarket atau udah pulang?” tanya Birma begitu sambungan teleponnya di angkat oleh sang istri. “Oke kalau gitu, sampai ketemu di rumah.” Birma melemparkan ponselnya ke jok samping begitu sambungan telepon kembali di matikan. Tujuannya saat ini adalah rumah, tapi lebih dulu Birma memutuskan untuk mengunjungi restoran cepat saji untuk membeli berbagai macam makanan yang entah mengapa begitu di inginkannya sejak siang tadi.
Namun dengan ketidakberadaan sang sekertaris membuat Birma akhirnya menunda keinginannya itu. Tanpa Cella di kantor, Birma memang sedikit kesulitan, apalagi di saat dirinya menginginkan hanya secangkir kopi. Gara-gara terlalu sering mengandalkan Cella jika di kantor, membuat Birma ketergantungan pada perempuan itu. Padahal di kantor banyak OB dan OG, namun Birma terlalu nyaman mengandalkan sekretaris cantiknya yang kadang kala lebih banyak mengomel meski tetap melakukan apa yang dirinya minta.
Entah bagaimana dirinya nanti setelah pindah ke kantor milik sang ayah, mungkinkah ia akan kembali mendapatkan sekretaris seperti Cella? Sepertinya tidak, dan ia juga tidak akan lagi menyaksikan perdebatan kecil istrinya dengan sekretaris genitnya itu. Padahal Birma cukup terhibur jika keduanya sudah beradu argumen yang beberapa menit kemudian akan saling tertawa dan memesan makanan. Seketika itu juga perempuan itu akan kembali akur dan mengobrol seperti biasa, lalu di akhiri saling mengejek begitu akan pulang.
Birma mengernyitkan kening begitu mendengar suara tawa yang berasal dari dalam rumah, awalnya ia mengira bahwa kedatangan Cleona atau sahabat istrinya yang lain. Tapi ternyata dugaannya salah, karena yang kini dirinya saksikan adalah keberadaan sekertarisnya di ruang tamu bersama Clara, menonton drama dari flasdish yang di sambungkan pada televisi, sampai keduanya menyadari kehadiran Birma dan bangkit dari duduknya, kemudian saling berebut untuk lebih dulu menyambut kepulangan Birma, yang tentu saja Clara adalah pemenangnya, karena wanita hamil itu pantang untuk mengalah apalagi mengenai hak miliknya.
“Dasar nenek lampir!" cibir Cella dengan bibir yang maju beberapa centi. Clara sendiri tidak menghiraukan itu dan memilih bergelayut manja di tangan suaminya setalah Birma melayangkan kecupan di seluruh wajah perempuan cantik kesayangannya itu, sementara Cella semakin memajukan bibirnya. Kesenangan Clara memang membuat sekretaris dari suaminya itu kesal.
“Bapak bawa apaan?” tanya Cella begitu menyadari tangan Birma yang tidak menganggur.
“Saya bawa bungkusan,” jawab Birma menirukan lagu betawi yang cukup di kenal entah pada tahun berapa, kerana sepertinya Birma masih kecil saat itu, atau mungkin dirinya belum lahir.
“Bungkusannya apaan?” dan Cella menjawab dengan irama yang sama.
“Beginian,” Birma membalas sambil menunjukan kantong yang di bawanya dengan merek restoran cepat saji yang terkenal dimana-mana.
“Dasar lo berdua anak-anak jaman old.” Cibir Clara yang kemudian membawa suaminya itu untuk duduk di sofa, membuka makanan yang di bawa Birma dan menyajikannya di meja ruang tengah, karena Clara yang memang malas jika harus pindah ke dapur, drama yang di tayangkan tengah seru-serunya, itulah alasan yang sebenarnya.
“Pak Birma emang pengertian. Tahu aja kalau saya lapar,” ujar Cella seraya mengambil satu burger dari tempatnya. “Gak kaya nyonya rumah yang sejak tadi boro-boro nyungihin makanan, minum aja saya gak di kasih.” Lanjut Cella mengadu, seraya memberikan delikan pada Clara yang hanya merespons dengan cebikkan.
“Ada OG sama OB yang bisa Bapak suruh, kenapa juga harus saya? Lagi pula bukannya siang tadi Pak Birma bertemu Pak Rapa dan Pak Pan...” Cella langsung menutup mulutnya, dan merutuki diri kenapa bisa sampai bicara keceplosan, padahal dirinya sudah berjanji untuk tutup mulut di depan istri dari atasannya itu.
“Kamu ngapain ketemu Abang sama Ayah?” tanya Clara menerutkan keningnya heran, karena ia ingat bahwa siang tadi Cella mengatakan bahwa suaminya itu sibuk dan ada meeting di luar. Itu yang membuat Cella akhirnya tidak kembali setelah jam makan siang, karena mengatakan bahwa tak ada kerjaan.
Tatapan memohon maaf, Cella berikan pada Birma yang masih anteng dengan burgernya, membuat Cella mengira bahwa atasannya itu tidak mendengar ucapanannya yang hampir saja membocorkan masalah yang menimpa laki-laki itu. Namun sepertinya itu tidak mungkin, karena jelas bahwa Cella mengatakan itu dengan suara yang cukup dapat di dengar, apalagi oleh mereka yang duduk tidak sampai berjarak satu meter.
“Kamu gak perlu merasa bersalah, Cell. Saya sudah berniat memberitahu semuanya sama Clara,” ucap Birma begitu menelan gigitan burger terakhirnya. Dan perkataan suaminya itu membuat Clara semakin penasaran. “Ambilkan minum dulu dong Cell, seret nih tenggorokan saya.” Tambah Birma yang tidak langsung merespons keingintahuan istrinya, Birma sengaja memang, karena melihat wajah bingung Clara salah satu kesukaannya juga.
“Kenapa malah nyuruh Cella, aku istri kamu loh, Bir?” protes Clara yang tidak terima bahwa suaminya malah meminta perempuan lain meski hanya untuk mengambilkan minum di rumahnya sendiri di saat dirinya berada di depan laki-laki itu.
“Biar Cella aja, kamu tetep disini temani aku. Memangnya kamu rela aku berduaan sama perempuan lain?” Birma menaikan sebelah alisnya.
Sejenak Clara terdiam, sampai akhirnya memberikan cengiran yang terlihat manis di mata Birma, sementara Cella melayangkan dengusan, sebelum kemudian bangkit dan melangkah sambil menghentakan kaki.
“Gak di kantor, gak di rumahnya, doyan banget bikin gue kesal!” gerutu Cella yang mendapat tertawaan Birma serta Clara yang kini asyik bermesraan.
“Detik-detik terakhir, Cell sebelum nanti kamu rindu semua tentang saya dan Clara.” Sahut Birma sedikit berteriak agar sekretarisnya itu dapat mendengar.
“Detik-detik terakhir? Maksud Bapak?” Cella kembali menoleh dan bertanya dengan penasaran.
“Sekarang kamu ambilkan minum dulu, nanti saya jelaskan.” Ujar Birma, membuat Cella mencibir, lalu berbalik badan dan melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil minum sesuai pesanan Birma. Lama-lama Cella merasa menjadi seorang pembantu yang selalu di suruh ini dan itu oleh majikannya. Namun apa boleh buat, bukankah seorang sekretaris nama kerennya dari pembantu? Toh tugasnya sama saja, melaksanakan perintah sang bos. Meski hanya sedikit berkelas pekerjaannya.
***
TBC...