
“Cih suami siaga!” cibir Rapa entah untuk keberapa kalinya sejak Birma masuk ke dalam ruangan. “Gak ada yang namanya suami siaga tapi nyeyak tidur di saat bininya mau lahiran.”
Sebenarnya Birma sudah panas telinga mendengar setiap cibiran Rapa, tapi diladeni bukanlah hal yang mudah dilakukan. Birma akan tetap kalah dengan mulut nyinyir abang iparnya. Dan yang nyinyir itu bukan hanya Rapa, tapi orangtuanyapun sama saja. Untunglah sang istri tidak ikut-ikutan memojokannya, dan masih mengizinkan ia untuk menggendong sang buah hati yang begitu cantik mewarisi perpaduan antara wajahnya dan wajah sang istri.
“Udah kali, Bang, kasian itu laki gue wajahnya udah merah banget,” kata Clara mengeluarkan pembelaannya untuk sang suami yang sejak tadi menjadi sasaran cibiran semua orang yang ada di ruangan rawatnya.
Meskipun sedikit kesal karena tidak di temani sang suami saat berjuang melahirkan buah hati mereka, tapi Clara tidak bisa egois. Kantuk itu manusiawi kok, meskipun tidurnya Birma sudah menyamai orang mati. Setidaknya ketika ia sadar dari tidurnya, sang suami sudah ada di sampingnya menunggunya dengan raut khawatir. Kata maaf juga sudah Birma utarakan bahkan sampai pria itu meneteskan air mata saking menyesalnya. Bukan hanya padanya, tapi pada sang buah hati juga. Dan pada akhirnya permintaan maaf Birma meredam kekesalan yang tadinya ingin Clara semburkan.
“Kesel gue abisnya!” delik Rapa pada sang ipar. “Kalau aja lo sama bayi lo gak butuh dia, udah gue lempar suami lo itu lewat jendela.” Birma hanya mencebikan bibirnya saja, memilih fokus pada sang putri yang ada di gendongannya saat ini, meski tidur, Birma enggan memindahkan si cantik ke box bayinya yang ada di samping ranjang pasien dimana istrinya terbaring.
“Bisa banget kamu ngatain Birma, kamu sendiri aja malah pingsan di suruh nemenin Queen lahiran,” Pandu mengingatkan anak lelakinya akan kejadian dimana laki-laki itu malah tidak sadarkan diri di tengah-tengah Cleona berjuang melahirkan putra kembarnya.
“Tapi Abang kan waktu itu terlalu shock, Yah. Lagipula Abang pingsan, bukan tidur, masih nemenin Queen sampei masuk ruangan bersalin. Gak kayak mantu Ayah, istrinya udah kebelet, dia malah enak-enakan tidur. Gimana coba kalau kita gak cepat datang semalam, belum tentu tuh bayi bisa di gendong sekarang.”
Perkataan Rapa kembali menimbulkan rasa bersalah Birma. Laki-laki itu menunduk, benar-benar tidak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika sampai tidak ada keluarganya. Sementara Clara yang menyadari suaminya terluka akan ucapan sang kakak segera melayangkan tatapan membunuhnya. Ia saja tidak mempermasalahkan suaminya yang tertidur di saat dirinya tengah kesakitan ingin melahirkan, tapi abangnya seenaknya menghakimi.
Clara bisa saja semalam menendang Birma agar terbangun, tapi ia tidak melakukan itu karena tahu bahwa sang suami kelelahan akibat beberapa hari menemani dirinya begadang, di repotkannya dengan segala hal untuk membuatnya nyaman. Itulah alasan mengapa Clara memilih membiarkan dari pada bersikeras membangunkan. Lagi pula tidak akan aman jika pria itu yang membawanya semalam ke rumah sakit di tengah rasa kantuk dan cemas.
“Berisik lo, Bang, pulang sana, nyinyir aja terus lo dari tadi, gak ikhlas nganterin gue lebih baik lo gak usah datang semalam. Bukannya gue gak tahu terima kasih, tapi lo terlalu nyebelin. Birma udah minta maaf dari tadi, bukannya lo juga dengar dan lihat sendiri?” dengus Clara yang sudah tidak lagi bisa menahan rasa jengkelnya. Rapa semakin dibiarkan akan semakin menjadi nyebelinnya dan akan keterlaluan.
“Gue aja gak permasalahin dia gak nemenin gue lahiran, lo dari tadi nyinyir mulu perasaan. Ini hari bahagia gue sama Birma, Bang, lo bisa gak sedikit aja menghargainya? Jangan sampai hubungan saudara kita jadi gak baik gara-gara lo terlalu menghakimi laki gue.” Tambah Clara dengan kekesalan yang tak lagi bisa di tahannya. Ia baru saja bangun dari melahirkan putri kecilnya, sakitnya masih berasa, bahkan lukanya saja masih basah, tapi sang kakak malah membuatnya harus menegeluarkan emosi. Clara tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu.
Para orang tua yang nyatanya masih berada di ruangan itu tidak menyangka bahwa keadaan malah akan menjadi setegang ini. Namun Pandu dan Lyra tidak sama sekali berniat menghentikan, berbeda dengan kedua orang tua Birma yang sepertinya merasa tak nyaman juga bersalah karena sumber masalah yang ada sedikit banyaknya di sebabkan oleh putra mereka. Mau membela Birma jelas tidak bisa, tapi untuk menyalahkanpun, ini tidak sepenuhnya salah putranya.
Rapa yang mendapati kemarahan adiknya tentu saja terkejut. Meringis kecil Rapa kini merasa bersalah karena sudah menyinggung adiknya, padahal niatnya hanya main-main, mencibir Birma ia tidak dengan hati. Tapi tidak mengangka bahwa responsnya akan seperti ini. Apa ia sudah keterlaluan? Rapa bertanya pada hatinya, lalu bangkit dan melangkah mendekati ranjang pasien Clara, dan makin meringis saat menyaksikan sorot kekesalan adiknya, sementara Birma sendiri masih saja menundukkan kepala di kursi samping ranjang istrinya dengan sang putri berada di gendongannya.
“Kalian beneran tersinggung ya sama ucapan gue?” tanya Rapa seraya menggaruk tengkuknya yang entah benar-benar gatal atau tidak.
“Lo pikir ucapan lo gak nyakitin?” Rapa kembali meringis begitu sang adik melayangkan delikkan tajamnya. “Saring dulu makanya sebelum lo nyinyir. Gak semua orang bisa baik-baik aja dengar perkataan lo barusan. Birma gak bisa baik-baik aja karena dia memang merasa dirinya salah, dan dengar setiap nyinyiran lo, lo pikir laki gue gak tersinggung? Jikapun dia enggak, tapi gue tersinggung. Harusnya lo paham, Bang!” isak tangis Clara mulai terdengar, dan itu membuat Birma dengan segera bangkit dari duduknya, meraih kepala sang istri dan membawanya ke dalam pelukan, bahkan seolah tahu perasaan ibunya sedang tidak baik-baik saja, bocah yang baru saja lahir beberapa jam itu menangis dalam gendongan Birma. Membuat suasana semakin tidak mengenakan.
Arindi sudah hendak akan maju, tapi ditahan oleh Lyra, memberi kode untuk besannya itu jangan ikut campur pada urusan anak muda. Memang seperti inilah Lyra dan Pandu, membiarkan anak-anaknya menyelesaikan masalah mereka sendiri, karena dengan begitu kedua anaknya akan tahu artinya bertanggungjawab juga saling menjaga keterbukaan. Pandu dan Lyra terbiasa membiarkan kedua anaknya saling mengeluarkan emosi masing-masing, karena dengan begitu tidak ada kekesalan yang akan terpendam. Dan hal itu membantu mereka menjadi lebih dekat sebagai saudara.
“Gue minta maaf, Bang, maaf karena gagal jadi suami yang siaga buat adik lo. Maaf udah ngecewain lo.” Birma menoleh pada Rapa dengan matanya yang sudah memerah kembali, ingin menangis bersama sang istri, tapi sekuat tenaga ia tahan karena tidak ingin menjadi laki-laki cengeng. Dirinya memang salah, dan ia bisa menerima setiap cibiran Rapa, namun tidak dengan istrinya. Dan sudah seperti ini Birma jadi bingung sendiri, ia tidak ingin ada pertengkaran dengan iparnya, tidak ingin juga sampai sang istri marah pada saudaranya. Tapi harus bagaimana ia mendamaikan kedua orang itu?
Rapa semakin mengacak rambutnya frustrasi karena keadaan malah semakin rumit. “Dek lo kok malah jadi baperan gini sih, gue niatnya becanda loh, eh gak becanda juga sih,” Rapa kembali menggaruk tengkuknya, bingung bagaimana cara menjelaskannya bahwa dirinya memang tidak sampai hati mencibir Birma. Sungguh, Rapa tidak serius, ia hanya ingin bermain-main seperti biasanya, tapi ternyata ia tidak sadar akan tempat.
“Ck, Dek, Bir, sumpah deh gue gak maksud buat kalian tersinggung. Gue minta maaf, mulut gue emang keterlaluan banget. Please maafin gue!” mohon Rapa, sudah benar-benar bingung caranya menjelaskan pada kedua orang itu, terlebih pada Clara yang masih sesenggukan dalam pelukan Birma.
“Selesaikan sendiri. Ingat harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat.” Pandu menyahuti dengan santainya, membuat Rapa kembali mengacak rambutnya frustrasi, sesekali memukul-mukul mulutnya dan memaki dalam hati.
“Ayolah Dek, maafin Abang. Janji gak akan ulangi lagi, lain kali abang saring dulu deh kalau mau nyinyir, eh janji deh Abang gak akan nyinyir lagi,” Rapa meralat ucapannya. “Maafin ya, please! Nanti abang beliin es krim kesukaan lo yang banyak, sumpah!” katanya seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
Clara bukannya senang dengan iming-iming itu, malah mendelik, sementara Pandu dan Lyra yang hanya menonton di sofa sana memutar bola matanya. Anak lelakinya itu tidak juga berubah, masih saja menggunakan es krim untuk membujuk adiknya. Mungkin dulu Clara akan dengan cepat tergiur dan luluh, tapi sekarang … ingin sekali rasanya Lyra melempar sendal hak tingginya pada kepala sang putra.
“Bir, gue benar-benar minta maaf, gue gak bermaksud buat lo merasa bersalah, buat lo tersinggung, dan buat lo sakit hati. Niat gue becanda, sumpah! Tapi gue sadar candaan gue udah keterlaluan. Gue minta maaf,” Rapa sungguh tulus mengucapkan itu, bahkan kini laki-laki itu menunduk, merasa bersalah.
Mendengar nada bersalah iparnya, Birma langsung menoleh pada istrinya yang saat ini sudah mengambil alih sang putri. Sebenarnya Birma tidak masalah, sejak tadi juga ia sudah memaafkan abangnya itu, tapi entah dengan istrinya yang malah mengedikan bahu itu.
“Bang…”
“Lo mau gue maafin kan, Bang?” Clara dengan cepat memotong Birma yang hendak berbicara karena sudah tahu apa yang akan di sampaikan suaminya, maka dari itu ia segera mengambil alih. Ia masih belum puas bermain-main dengan kakaknya. Clara ingin abang menyebalkannya itu benar-benar merasa bersalah, kalau bisa sampai pria itu kepikiran dan tidak bisa tidur, tidak juga selera makan. Namun Clara masih memiliki hati nurani, ia tidak setega itu pada saudara kandungnya sendiri.
Dengan antusias Rapa mengangukkan kepalanya, senyumnya terukir dengan sempurna karena akhirnya sang adik mau memaafkannya, tapi senyum itu tidak bertahan lama, karena sejurus kemudian, ucapan Clara membuat Rapa membulatkan matanya dengan sempurna.
“Sujud lo di kaki gue, kalau mau gue maafin,” kata Clara dengan lirikan sinisnya.
“Yang!” tegur Birma yang tidak setuju dengan permintaan istrinya. Clara melayangkan tatapan tajamnya, mengkode untuk suaminya itu diam saja.
“Tu…”
“Apa? Katanya mau di maafin,” sindir Clara mencebikkan bibirnya.
“Ya memang, tapi lo serius nyuruh gue …?”
“Kenapa, lo keberatan? Ya udah kalau gak mau, males juga gue maafin lo yang mulutnya nyinyir.” Kembali Clara memotong ucapan abangnya itu.
“Tapi yang benar aja lo nyuruh gue sujud di kaki lo? Gini-gini gue juga abang lo, Tu, jangan lupa!” kesal bercampur dengan frustrasi, Rapa mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan sejak tadi. Tidak menyangka bahwa meminta maaf pada adiknya saat ini akan sesulit ini, padahal dulu cukup dengan dirinya membelikan es krim saja, masalah kelar dan mereka bisa kembali tertawa bersama. Tapi sekarang …? Tidak akan Rapa menuruti apa yang di minta adiknya itu. sujud di kakinya? Yang benar saja!
“Ya terus kenapa?” Clara menaikan sebelah alisnya menatap Rapa yang frustrasi di depannya. Ia ingin tertawa, tapi ditahannya sekuat tenaga. Sesungguhnya Clara tidak serius meminta Rapa sujud di kakinya, hanya saja ia ingin memberi pelajaran pada laki-laki itu. Nyinyirannya yang pedas itu bisa dianggapnya hanya becanda. Jadi bisa dong Clara juga melakukan bacandaan ini, meminta Rapa sujud di kakinya untuk meminta maaf?
“Ratu, adik durhaka lo, ya!” bukannya melakukan perintah Clara, Rapa malah mengeluarkan geramannya, membuat wanita cantik itu tertawa puas di tempatnya meski sedetik kemudian meringis begitu rasa sakit habis melahirkan kembali dirasakannya, tapi itu tidak menghilangkan kepuasannya yang telah membuat sang abang kesal.