
“Kamu belum tidur?” tanya Birma begitu keluar dari mobil yang baru saja di masukannya ke dalam garasi.
Clara menggelengkan kepala. “Aku nunggu kamu.”
Birma mengulas senyumnya, lalu meraih pinggang istrinya dan memberikan satu kecupan di kening wanita cantik itu, yang sudah kembali terlihat tingkah manjanya. Setidaknya ini lebih baik dari pada harus menghadapi tingkah menyebalkannya. Merasa lelah, juga angin malam tak baik untuk si ibu hamil, Birma kemudian membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah.
“Kamu sudah makan?” tanya Clara sedikit mendongak, agar bisa melihat wajah lelah sang suami yang sejak sore tadi dirinya tunggu kedatangannya. Gelengan pelan adalah jawaban yang di berikan Birma, membuat Clara menunjukan raut tak sukanya dan mendorong suaminya itu menjauh. “Sesibuk itu kamu sampai gak sempat makan?” tanya Clara dengan suara yang terdengan kesal. “Please, jangan pernah melupakan untuk mengisi perut kamu meski di tengah kesibukan. Makan itu penting Bir, aku gak mau sampai kamu sakit.” Lanjutnya dengan lirih.
Birma kembali meraih istrinya masuk ke dalam pelukan, melayangkan kecupan singkatnya di puncak kepala Clara. “Terima kasih sudah khawatirin aku,” ujar Birma lembut di iringi dengan senyum lembutnya. “Tapi aku memang sengaja gak makan malam di luar, pengen di rumah aja di temani kamu.”
Hanya mendengar ucapan itu saja, Clara sudah merasa hangat, dan kekesalannya meluap begitu saja. “Ya udah, aku hangatin dulu makanannya, kamu mandi dulu aja. Aku tadi udah siapin air hangatnya, tapi kayaknya udah dingin lagi deh,” ujar Clara meringis pelan, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Birma menggelengkan kepala, tanda tidak keberatan dengan itu, lalu kembali melayangkan kecupan singkat di kening perempuan hamil kesayangannya. Tidak lupa Birma pun melayangkan kecupan di perut Clara yang sudah sedikit menonjol, menyapa buah hatinya untuk beberapa saat sebelum kemudian berlalu menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara Clara masih bertahan di tempatnya untuk beberapa saat, menatap punggung suaminya yang terlihat begitu lelah. Entah lah ini hanya perasaannya saja atau memang tengah ada beban yang suaminya pikul karena yang pasti, sebagai istri dan ibu dari anak lelaki itu, Clara seolah merasakan perasaan suaminya yang tidak baik-baik saja.
Mengenyahkan semua pemikirannya, Clara berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam suaminya yang sudah tertunda beberapa jam dari seharusnya, sampai tak lama kemudian suaminya itu datang sudah dalam keadaan segar.
Clara menarikan satu kursi untuk suaminya itu duduk, setelahnya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi juga beberapa lauk. “Makan yang banyak biar tidurnya nyenyak,” ujar Clara seraya memberikan piring di tangannya yang sudah terisi penuh.
“Yang ada nanti perut aku buncit kayak punya kamu,” ucap Birma yang menjulurkan tangannya untuk menyentuh perut sang istri.
“Jadi kamu ngatain perut aku buncit!” kesal Clara yang sepertinya sisi sensitif seorang ibu hamil baru saja Birma usik.
“Kan emang iya,” jawab polos Birma seraya menyuapkan nasi beserta lauknya ke dalam mulut. Dan perkataan Birma tersebut sukses membuat Clara melayangkan cubitan pedas di pinggangnya, hingga sebuh ringisan Birma kelurkan begitu rasa perih dan panas di rasakannya. “Kok aku di cubit sih, sayang?”
“Ya, kamu jahat, ngatain perut aku buncit,” ujar Clara dengan cemberut.
“Kalau gak buncit gimana anak kita tumbuh dong, sayang,” Birma menaikan sebelah alisnya heran mengenai apa yang menjadi masalah dalam ucapannya.
Clara terdiam sejenak untuk lebih memahami ucapan suaminya itu, sebelum kemudian menunduk malu, dan mengusap perutnya yang memang sedikit menonjol, walau belum terlalu ketara. Tumbuh dengan sehat anak mommy. Bisik hati Clara.
“Bir, nanti kalau perut aku makin besar, kamu bakalan ilfeel gak sama aku?” tanya Clara begitu bayangan perut besarnya melintas.
“Kenapa aku harus ilfeel? Perut kamu besar juga kan gara-gara aku, lagi pula itu terjadi karena ada bayi kita di dalam sana, di bandingkan ilfeel, yang ada aku makin cinta, karena kamu sudah bersedia mengandung anak aku. Jadi, sebesar apa pun perut kamu nanti jangan pernah merasa minder. Ingat kamu itu selalu cantik dalam keadaan apa pun, bahkan meskipun telanjang sekali pun.” Kedipan genit Birma berikan di akhir ucapannya, dan itu membuat Clara malu juga kesal dalam waktu bersamaan pada suaminya.
“Dasar mesum!” ujar Clara memalingkan wajah merahnya, sementara Birma tertawa puas di tempatnya, sampai laki-laki tampan itu tersedak karena lupa untuk menelan makanannya.
“Makanya kalau makan itu jangan sambil ketawa, Bir. Untung aja belum ada berita mengenai kematian mendadak gara-gara tersedak.” Clara menepuk-nepuk punggung suaminya, setelah memberikan segelas air minum pada pria kesayangannya itu.
“Kalau aku mati, nanti kamu jadi janda, emangnya mau?” tanya Birma dengan satu kening terangkat.
“Huss, jangan bicara sembarangan!” tegur Clara dengan cepat.
Birma tidak lagi bicara setelah itu, fokus pada makanan yang berada di hadapannya dan sesekali menyuapi ibu hamil itu, yang katanya sudah kenyang, tapi tetap di kunyah dan di telan hingga piring Birma yang sudah di isi nasi beberapa kali habis tidak bersisa, di makan oleh keduanya.
Begitu selesai membereskan kembali meja makan dan mencuci piring yang kotor, bekas di gunakan, Birma menggendong istrinya menuju kamar. Tentu saja itu dirinya lakukan bukan atas dasar kesukarelaan, melainkan seperti biasa, titah sang ratu yang manjanya mulai kumat dengan alasan terlalu kenyang makan hingga membuatnya sulit untuk sekedar melangkah. Ibu hamil memang ada-ada saja alasannya.
Namun sebagai suami mana mungkin Birma berani tidak patuh, apa lagi istrinya modelan Clara yang lembut di luar tapi buas di dalamnya. Untunglah wanita itu dirinya yang taklukkan, jika tidak, Birma kasihan pada laki-laki selain dirinya, takut bahwa mereka tidak bisa menghadapi kebuasan Clara, juga tingkah manjanya yang kadang kala masuk dalam barisan keterlaluan. Seperti saat ini, menggosok gigi dan cuci muka saja, Clara meminta dirinya tetap menggendong.
“Ah lega.” Birma menghela napasnya begitu menurunkan sang istri di atas ranjang. Merentangkan tangan juga pinggangnya yang sedikit sakit akibat terlalu lama menggendong istri cantiknya itu, setelah itu barulah bergabung di ranjang yang sama dengan Clara yang sejak tadi entah sudah berapa kali menguap.
“Kamu gendong aku sampai sakit pinggang gitu, memangnya aku seberat itu?” tanya Clara seraya masuk ke dalam pelukan suami tampannya.
“Ya coba aja kamu kira-kira berat badan kamu berapa. Gendong Nathan sama Nathael yang masih bocah aja kadang pinggang aku encok. Jadi, apa kabar kira-kira aku pas gendong kamu?” Birma memberikan delikkan pada istrinya yang selalu menyebalkan jika sudah dalam mode polos yang Birma tahu itu di buat-buat.
“Hais, dasar suami gak pengertian. Bukannya nyenengin istri, malah buat kesal. Gak bisa memangnya berkata manis. Bohong sedikit demi bahagiain istri itu gak dosa padahal.” Gerutu Clara.
“Lebih baik jujur dong, dari pada nanti kamu tiba-tiba tahu kenyataanya, itu akan menyakitkan, Cla. Lagi pula aku gak suka bahagiain kamu dengan kebohongan. Jika jujur itu lebih indah, lalu kenapa harus berbohong?” tanya Birma sedikit menunduk agar wajahnya setara dengan wajah sang istri yang terlihat mungil dalam pelukannya. “Jadi biarkan aku jujur sama kamu, bahwa aku mencintai kamu sejak dulu, sekarang, besok dan selamanya. Apa pun yang terjadi nanti, tolong percaya sama aku, dan tetaplah berada di sampingku.” Birma mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan lembut di bibir mungil istrinya itu.
Clara yang masih tidak paham dengan apa yang di maksud dari ucapan suaminya itu hendak mempertanyakannya, tapi laki-laki itu lebih dulu ******* bibirnya dan membungkam Clara dengan ciuman, membuat Clara akhirnya terbuai dan memilih untuk mengikuti keinginan suaminya dari pada harus memperdebatkan mengenai apa yang belum dirinya mengerti, masih ada waktu untuk mempertanyakan itu, sementara sekarang Clara terlalu rindu akan sentuhan suaminya.
🍒🍒🍒
Begitu selesai dengan sarapan, tugas Birma adalah mengantar istrinya ke supermarket untuk bekerja, sebelum kemudian Birma berangkat ke kantornya. Akibat kejadian semalam membuat senyum terukir di bibir Clara begitu juga Birma yang sepertinya pasangan itu seolah kembali merasakan sensasi malam pertama.
Cella yang melihat atasannya itu datang dalam keadaan yang mencurigakan, mengernyitkan kening dan mengikuti laki-laki itu ke dalam ruangannya, duduk di depan meja kerja Birma tanpa mengucapkan apa pun selama beberapa menit, sebelum kemudian menggebrak sedikit meja itu yang membuat Birma terlonjak kaget.
“Astaga Cella! Sejak kapan kamu berada di sana?” Birma yang terkejut bukan main menatap tajam sekretarisnya itu yang sama sekali tidak merasa terusik.
“Sejak tadi saya ngikutin Bapak,” delik Cella. “Saya kepo lihat Bapak datang sambil senyum-senyum. Bahagia karena apa sih, Pak? Sudah dapat pengacara yang hebat yang bisa bantu kita? Atau sudah bebas dari tuduhan korupsi itu?” tanya Cella bertubu-tubi dengan rasa penasaran yang tidak di sembunyikannya. Mendengar itu senyum Birma perlahan hilang, dan itu membuat Cella mengerutkan keningnya heran.
“Buatkan janji dengan mertua saya, Cell tolong.” Pinta Birma dengan suara lesunya, tatapannya lurus ke depan. Dan Cella yakin bahwa kebahagiaan Birma beberapa menit lalu bukanlah mengenai kabar atas kasus yang tengah di hadapinya.
“Baik, Pak akan segera saya hubungi sekertaris Pak Pandu.” Cella mengangguk dan menundukan sedikit kepalanya seraya pamit untuk kembali ke meja kerjanya, sementara Birma mulai menghubungi Rapa untuk memberi tahukan kakak iparnya itu mengenai keputusannya untuk meminta bantuan sang ayah. Birma terpaksa harus merepotkan mertuanya itu, karena bagaimanapun waktu yang dirinya miliki semakin sempit, di tambah dengan tidak adanya jalan keluar lain yang dapat Birma tempuh.
Tak lama Cella kembali dan memberi tahukan jadwalnya untuk bertemu sang ayah mertua, setelah itu Birma sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen di hadapannya, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya itu sebelum benar-benar sibuk dengan kasus atas tuduhan yang menjurus padanya, Birma tidak akan pernah membiarkan seseorang di balik ini semua bebas dan menikmati kemenangan terlalu lama. Birma akan memastikan bahwa bukan dirinya yang berakhir di dalam jeruju besi nanti.
“Cella, tolong pesankan beberapa makanan untuk istri saya dan kirimkan ke tempat kerjanya. Atau kamu yang datang sendiri ke sana untuk menemani Clara makan, pastikan istri saya makan dengan baik, tapi jangan sampai kamu keceplosan mengatakan masalah ini.” Ujar Birma di akhiri dengan ancaman.
“Itu bisa saya atur, Pak. Tapi ngomong-ngomong ada bayarannya gak? Ingat loh Pak zaman sekarang gak ada yang gratis,” Cella mengembangkan senyum miringnya, kemudian memberikan kedipan genit pada atasannya itu.
“Nanti saya bayar kamu pakai bakso yang biasa kamu kunjungi sama teman-teman kamu.”
“Semurah itu harga saya?” Cella menggeleng tak percaya. “Minimal tas chanel keluaran terbaru, Pak atau hermes gitu, atau...”
“Ck, dalam mimpimu!” Birma mencebikkan bibirnya. “Lagi pula kamu tinggal ikut makan nemenin istri saya, perut kamu kenyang, pikiran senang bisa gosip sama Clara. Sudah saya enakin masih aja main tawar menawar.”
“Aw ... aw mau dong di enakin.” Ujar Cella dengan begitu genitnya, membuat Birma bergidik geri dan segera berlari keluar dari ruangannya meninggalkan Cella yang tertawa dan memanggil-manggil dengan nada menggoda. Birma heran sendiri mengapa dirinya bisa memiliki sekretaris semacam Cella yang tingkat kewarasannya berada di bawah rata-rata, hanya tingkat kemesumannya saja yang melebihi kapasitas otak wanita itu.
Birma yang sudah tiba di luar ruangannya, tiba-tiba kembali menyembulkan kepala di balik pintu ruangannya yang terbuka. “Ingat Cell, jangan sampai keceplosan mengenai saya. Jika itu terjadi ...” Birma menatap mengancam pada sekretarisnya itu. “... jangan salahkan saya kalau Mas Bram-nya kamu tahu, kamu sering godain saya.” Setelahnya Birma pergi tanpa mempedulikan gerutuan juga makian Cella yang terdengar samar-samar di telinga Birma.
***
TBC