
Masa bodo dengan pengusiran tuan rumah, Cella malah anteng mengobrol dengan orang-orang yang ada di ruang tamu kediaman Lyra-Pandu, mertua dari mantan atasannya dulu. Hingga menjelang malam dan pasangan paruh baya yang nempelnya bagai ulat dan bulu tidak juga keluar lagi setelah itu. Namun beruntunglah saat makan malam kedua orang itu kembali menampakkan diri, membuat Cella kegirangan dan gombalan kembali wanita hamil itu layangkan untuk Pandu, yang tentu saja membuat Lyra cemberut.
Jika biasanya Lyra selalu bisa membungkam dan mempermalukan perempuan lain yang berusaha menggoda suaminya, untuk kali ini Lyra mengaku kalah. Cella teramat menyebalkan membuat Lyra lelah sendiri menghadapi perempuan itu. Mungkin karena usianya yang sudah tidak muda lagi atau karena Cella yang memang tebal muka. Untunglah wanita itu bersuami, jika tidak … akan Lyra pastikan bahwa tidak akan ada lagi matahari yang dapat perempuan itu nikmati di hari esok.
Namun jika di telisik lebih dalam, Lyra merasa melihat gambarannya sendiri. Hanya saja Lyra tidak seliar dan segenit itu. Ia hanya senang menempel pada Leo dan Rangga, itu pun hanya untuk memanasi suaminya. Tidak pernah ia melayangkan gombalan menggelikan seperti yang dilakukan teman dari anaknya itu. Lyra jadi kasihan pada suami Cella yang harus memupuk sabar lebih sering untuk tingkah istrinya itu.
“Tante Ly, Cella pamit pulang ya, terima kasih untuk makan malamnya. Maaf sudah membuat tante kesal juga. Cella hanya suka becanda, Tan, jangan di masukin hati ya?” ucap Cella dengan tulus.
“Entahlah, saya berat maafin kamu,” Lyra membuang muka, pura-pura enggan memaafkan wanita muda di depannya. Padahal tidak ada sedikitpun marah yang Lyra miliki untuk teman dari putrinya itu, meskipun ya … rasa kesal itu ada. Tapi Lyra tidak sedikitpun menelan setiap ucapan menyebalkan Cella.
Lyra cukup bisa membedakan mana yang serius dan mana yang hanya sekedar candaan. Tidak ada alasan untuk Lyra marah pada wanita muda itu. Meskipun tingkahnya layak pelakor, Lyra percaya, Cella tidak seburuk itu. Bram sudah pasti akan murka jika istrinya benar-benar seorang penggoda, dan lagi, Clara tidak akan mungkin betah berteman dengan wanita itu di saat suaminya pun menjadi sasaran godaan Cella.
Satu lagi yang menambah keyakinan Lyra bahwa Cella memanglah baik, wanita itu begitu mencintai suaminya, terlihat jelas setiap kali mata itu memandang Bram. Dan sepertinya laki-laki itu pun sudah amat percaya pada istrinya. Lyra hanya berdoa kebahagiaan akan selalu mengiringi pasangan suami istri itu.
“Jangan gitu, Tan, dosa tahu kalau gak mau memberi maaf. Tuhan aja maha pemaaf, masa Tante gak mau maafin saya?”
“Lah bodo, suka-suka saya mau maafin kamu atau enggak. Saya ‘kan bukan Tuhan.” Lyra mencebikan bibirnya.
“Ish, Pak Pandu kok mau sih punya istri kayak Tante Lyra? Udah galak mahal maaf lagi. Pak Pandu mendingan sama saya aja deh, di jamin bahagia dunia akhirat,” ujarnya seraya melirik pada Pandu yang berdiri di samping Lyra.
“Ya gimana dong, Cell. Cuma pelet Tante kamu ini yang mempan sama saya,” kata Pandu membuka suaranya, seraya mempererat rangkulannya di pundak sang istri.
“Wah hebat berarti itu peletnya. Bagi resep dong, Tan?”
“Aish, apaan sih pelat pelet segala yang di omongin. Gak ada yang kek begituan ya! pulang sana kamu, perempuan hamil gak baik masih di luar malam-malam gini.” Satu delikan Lyra layangkan pada Cella dan Pandu. Di akhirnya dengan pengusiran pada sahabat dari sang putri, membuat Cella mencebikkan bibirnya dan sekali lagi pamit pada si tuan rumah yang galaknya memang mirip ibu macan. Tidak lupa juga untuk pamitan pada Pandu dengan kecupan jauh sebagai perpisahan. Namun pawangnya dengan cepat maju dan berdiri di depan, seolah menghalangi ciuman itu sampai pada orang yang di tuju.
“Bikin darah tinggi gue naik aja tuh bocah!” gerutu Lyra menyentuh kepalanya seraya menggeleng kecil.
“Sabar Bun, Cella emang gitu orangnya, senang banget bikin kesel!” Clara yang juga berada di teras untuk mengantar kepergian temannya itu menepuk pundak sang bunda untuk menenangkan. “Bunda mah belum ada apa-apanya … Atu selama enam tahun ini udah pengen banget banting dia dari jendela kantor Birma,” tambahnya seraya terkekeh pelan. “Tapi Cella baik kok, Bun, meskipun dia pernah berusaha goda Birma waktu kami belum nikah, nyatanya dia gak seburuk anggapan Atu dulu. Buktinya sekarang kami bisa berteman. Cella itu apaadanya.” Lanjut Clara sedikit memuji. Namun memang begitulah pada kenyataannya sosok Cella di mata Clara.
Meskipun baru pertama kali bertemu dan pertama kali juga berinteraksi dengan perempuan genit itu, Lyra sudah dapat membenarkan apa yang dikatakan putrinya. Dan ia bersyukur di pertemukan dengan perempuan menyebalkan itu. Mesipun membuat kepala pusing, Cella akan menjadi penghibur dan teman yang baik. Lyra bisa memastikan itu.
“Hari ini jadi periksa kan?” Birma yang baru saja kembali dari kamar mandi segera menghampiri istrinya yang masih saja betah di ranjang, padahal matahari sudah berada di atas kepala. Clara hanya menjawab lewat anggukan singkat. “Lalu kenapa kamu masih belum mandi?”
“Mager,” ucapnya singkat, menarik kembali selimut yang sebelumnya Birma singkirkan. Laki-laki itu mendengus pelan dengan kemalasan istrinya yang semakin menjadi, sebelum kemudian menarik kembali selimut tebal yang di menutupi tubuh istrinya dan mengangkat Clara yang beratnya semakin hari semakin bertambah menuju kamar mandi. Tidak peduli dengan protesan wanita itu, karena yang penting sekarang adalah istrinya mandi, siap-siap dan berangkat menuju rumah sakit. Birma sudah benar-benar tidak sabar untuk segera mengetahui jenis kelamin anaknya di perut Clara.
“Mau aku mandiin, apa mandi sendiri?” tanya Birma saat sudah mendudukan istri pemalasnya di closet yang tertutup.
“Aku gak mau mandi, Birma!”
“Dih jorok banget, mandi lah, Yang. Bau tahu gak?!” ujar Birma seraya menutup hidung, membuat Clara memutar bola matanya malas.
“Bau-bau gini juga lo doyan!” cibir Clara dengan suara pelan, namun tidak lagi memprotes. Memilih melepaskan bajunya sebelum kemudian melangkah menuju shower dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Mengabaikan Birma yang menatapnya dengan lapar. Cih, dasar laki-laki, untung suami. Jadi, mesumnya termaafkan.
Tidak butuh waktu lama untuk Clara menyelesaikan mandinya di bawah tatapan lapar sang suami yang berkali-kali terpergok menelan ludah. Clara benar-benar tidak memedulikan suaminya itu, dan memilih melewati Birma begitu saja, meraih handuk yang tergantung di belakang pintu lalu masuk ke dalam kamar. Tidak lupa Clara mengunci pintunya, mengurung Birma di dalam sana sebelum laki-laki itu menyusul masuk dan menerkamnya.
“Tunggu di sana bentar, Bir, aku siap-siap dulu.” Clara berteriak di balik pintu yang sudah berhasil di kunci. Dan tak lama suara gedoran pintu terdengar di susul suara Birma yang meminta di bukaka. Tapi Clara tidak sama sekali menurut, wanita hamil itu melanjutkan niatnya untuk bersiap dan akan membukakan pintu setelah dirinya selesai.
Namun sayang, karena suara gedoran pintu tidak lagi terdengar begitupun dengan suara Birma, membuat Clara lupa dan malah keluar kamar tanpa lebih dulu membuka kunci pintu kamar mandi. Dengan bodohnya menunggu di sofa ruang tengah dengan cemilan di pangkuan. Lima menit, sepuluh menit hingga lima belas menit terlewati Clara masih menunggu Birma yang tidak juga kunjung muncul, membuat wanita hamil itu kesal bukan kepalang dan hampir saja mengeluarkan makiannya jika saja tidak dengan cepat ingat bahwa sang suami terkurung di kamar mandi.
Seolah lupa tengah berbadan dua, Clara lari menaiki undakan tangga menuju kamarnya, dan dengan panik membuka pintu kamar mandi. Semakin panik saat mendapati Birma yang duduk bersandar pada tembok dengan mata terpejam.
“Bir, Birma? Kamu gak mati kan, Bir?” Clara yang panik luar biasa mengguncang tubuh suaminya itu. Takut sang suami kenapa-kenapa. “Birma bangun, jangan dulu mati, Bir. Aku belum siap di tinggal kamu. Birma maafin aku, maaf aku lupa kalau kamu ada di dalam. Birma bangun,” kembali Clara mengguncang tubuh suaminya ketika tidak ada juga pergerakan dari laki-laki itu. Membuatnya semakin panik dan tentu saja ketakutan.
“Birma bangun, maafin aku,” isak tangis tidak lagi bisa Clara sembunyikan. Ia sungguh belum siap dan tidak akan pernah siap ditinggalkan Birma, apalagi secepat ini. “Birma, Bangun. Aku mohon, bangun. Aku sama bayi ini masih butuh kamu. Jangan dulu mati, Birma!” sayang, masih juga tidak ada respons dari pria tampan dengan mata terpejam itu.
***
Yok guys jangan lupa dukung author dengan like komen dan votenya. di tunggu ya. 😊