
“Pak Pandu gimana kabarnya, sehat?” tanya Cella dengan manis. Pandu hanya menjawab dengan anggukan kecil. “Baguslah. Saya lega kalau Bapak sehat, saya khawatir soalnya satu minggu belakangan ini. Takut Pak Pandu demam karena rindu sama saya.” Lanjut Cella menghembuskan napas leganya.
“Berani godain laki gue lo, heh!” Lyra yang sejak tadi melayangkan tatapan membunuhnya, bangkit dari duduk dan berkacak pinggang. Cella sempat ngeri, tapi itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya wanita hamil itu sudah melemparkan senyum manisnya dan menyapa Lyra dengan nada ramah dan lembut.
“Selamat sore Tante, kenalin saya Cella, calon istrinya Pak Sayang …Eh salah, Pak Pandu maksudnya.” Kata Cella dengan malu-malu.
Pandu yang tahu Cella hanya becanda, tidak terlalu menanggapi, berbeda dengan Lyra yang wajahnya semakin memerah, dan rahangnya pun mengeras begitu mendengar ucapan dari teman anaknya itu.
“Duduk, Cell, kamu akan pegal kalau berdiri terus.” Kata Pandu dengan seulas senyum ramahnya. Tidak tahu bahwa istrinya sudah melirik dengan berang.
“Tidak apa-apa Pak selama berdirinya di temani Pak Pandu, apalagi kalau di pelaminan.” Sahut Cella kembali melayangkan gombalannya.
Clara, Birma dan Bram sudah menepuk kening masing-masing tidak habis pikir. Sementara sisanya hanya menjadi penonton, dan Rapa yang juga ada disana sudah sekuat tenaga menahan tawa agar tidak meledak, karena jika itu terjadi, maka siap-siap saja menerima amukan dari sang bunda tercinta yang kini sudah siap menelan mangsa hidup-hidup.
Cella memang berani, dan untuk ini Rapa memberikan acungan jempolnya. Tidak ada yang berani menggoda Pandu begitu mendapat tatapan membunuh Lyra, tapi Cella masih saja melayangkan godaannya meskipun ibu macan siap menerkam.
“Wah ngajak ribut nih bocah,” geram Lyra seraya menarik lengan baju yang di kenakannya ke atas pundak. “Sini lo, berani banget godain laki gue di rumah gue sendiri. Gak takut lo pulang-pulang tinggal nama?!”
Cella hanya memberikan cengirannya, lalu melangkah duduk di samping sang suami begitu rasa pegal dirinya rasakan. “Jangan, Tan, kasihan nanti suami saya kesepian kalau pulang tinggal nama. Lagi pula saya gak mau tinggal di sini, biar Pak Pandu aja yang datangin saya ke rumah. Saya gak suka di satuin sama istri tua, nanti yang ada malah berantem. Itu juga alasan kenapa saya gak tinggal serumah sama Pak Birma.”
Mendengar itu Lyra hampir hanya menjatuhkan rahangnya. Teman dari putrinya itu benar-benar menakjubkan, polos yang mendekati bodoh. Entahlah, rasanya Lyra lelah menghadapi Cella. “Astaga Atu, kamu punya temen kayak gini dari mana sih, Nak!” frustrasi, Lyra kembali menjatuhkan dirinya ke sofa, lalu memijat keningnya yang sedikit berdenyut.
“Haha, baru kali ini Abang lihat wajah menyerah Bunda.” Pada akhirnya Rapa berhasil mengeluarkan tawanya yang sejak tadi di tahan.
“Bunda kamu sadar diri bahwa usianya udah tua, Bang, wajar kalau pada akhirnya mengalah. Apalagi tandingannya perempuan secantik Cella yang masih segar dan unyu-unyu gini. Mengalah sebelum perang dia pada akhirnya.” Levin ikut tertawa dan melakukan tos ria bersama Leo dan Rapa. Ketiga laki-laki itu memang paling bahagia di saat Lyra berada di titik kekalahannya.
“Berani kamu bilang perempuan lain cantik? Gak ingat di sini masih ada istri?” suara lembut yang sarat akan penekanan itu menghentikan tawa yang ada.
Levin menoleh dan melayangkan cengiran polosnya pada sang istri yang sudah melayangkan tatapan tajam siap menghujam jantungnya. Levin lupa bahwa istrinya pun tidak kalah galak dari ibu macan.
“Mampus!” kata Lyra tanpa mengeluarkan suara, hanya gerakan bibir yang melayangkan itu dan senyum mengejek muncul setelahnya. Membuat Levin melayangkan tatapan kesal.
“Aku gak lupa, Ma, barusan cuma keceplosan aja. Lagi pula Papa kan bicara yang sebenarnya. Cella memang cantik, kalau Papa bilang dia jelek itu sama saja dengan Papa berbohong. Tapi Mama gak perlu khawatir, di mata Papa, Mama tetap yang paling cantik meskipun usianya gak muda lagi.” Satu kedipan genit Levin berikan pada sang istri. Jurus jitu meluluhkan Devi.
“Sirik aja lo, Le!” balas Levin mencebikkan bibirnya. “Lagian gue berani bertaruh, lo juga bakalan melakukan hal yang sama kalau istri lo masih ada.” Lanjut Levin tanpa sadar.
“Tapi sayangnya Luna udah pergi,” ujar Leo sedih.
Levin yang mendengar itu dan mendapatkan sikutan dari istrinya meringis, merasa bersalah. Ia lupa bahwa nama Luna sangat sensitif untuk di bahas di depan Leo.
“Jangan liatin suami saya terus, heh!” Lyra menegur dengan suara nyaring. Mengalihkan suasana yang berubah melow setelah nama Luna keluar.
“Gimana dong, Tan, abisnya Pak Pandu enak banget buat di pandang.” Celetuk Cella dengan polosnya, tidak sama sekali memalingkan matanya dari sosok tampan yang di kaguminya itu.
Lyra mendengus kesal, lalu berpindah duduk ke pangkuan suaminya, menghalangi Cella agar tidak selalu memandang Pandu. Meskipun sudah setua ini, tetep saja Lyra tidak rela suaminya di pandang berlebihan oleh perempuan lain, terlebih wanita muda seperti Cella yang cantik dan menggoda. Bisa bahaya kalau nanti suaminya kepincut dan berpaling darinya. Hi, Lyra tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
“Kamu punya suami noh, kasian gak kamu pandangin.” Lyra menunjuk pada Bram yang sejak tadi lebih banyak diam.
“Kalau Mas Bram biar nanti aja saya pandangin di rumah, Tan, bisa sepuasnya. Di sini jatahnya Pak Pandu dulu. Saya gak mampu sia-siain soalnya.”
“Tapi Pandu suami saya!”
“Saya gak akan keberatan kok jadi isti keduanya,” Cella menyahuti dengan nada menggoda lalu melayangkan kedipan genitnya pada Pandu yang kepalanya bertumpu di pundak Lyra yang masih setia duduk di pangkuannya.
Meskipun itu hanya candaan semata, tetap saja membuat Lyra kesal, sementara Devi dan Amel yang berada di sana tertawa melihat bagaimana wajah Lyra sekarang yang sudah merah padam dengan bibir mengerucut. Devi dan Amel yang melihat itu antara geli dan jijik, karena bagaimanapun Lyra sudah tidak lagi berada dalam usia yang pantas untuk bersikap seperti itu. Namun, ya, namanya juga Lyra, manjanya tidak pernah hilang, dan sikap kekanakannya masih kadang muncul meskipun sudah memiliki cucu.
“Jangan harap akan saya izinin!” serunya dengan galak. Cella tidak menanggapi, wanita muda itu hanya terus tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Entah apa arti dari pandang itu, tapi jelas saja membuat Lyra kesal dan pada akhirnya menarik sang suami untuk meninggalkan ruang tamu tanpa mengucap sepatah katapun dan mengabaikan suara-suara yang memanggilnya. Namun hanya satu suara yang membuat Lyra menghentikan langkahnya.
“Tante mau ajak Pak Pandu ke kamar, ya? Boleh saya aja gak yang ngelonin?” celetuk Cella yang membuat Lyra melayangkan tatapan membunuhnya.
“Ratu ajak teman kamu itu pulang. Buang sekalian di tempat yang paling jauh dari peradaban, Bunda gak mau tekanan darah Bunda naik gara-gara dia.” Teriak Lyra, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Semua yang masih ada di ruang tamu tergelek mendengar teriakan kesal Lyra, karena sungguh baru kali ini lagi Lyra mengeluarkan kekesalannya seperti barusan, setelah sekian lama anteng dalam kemanisan rumah tangganya.
Pandu sendiri bangga akan kecemburuan sang istri yang masih saja sama seperti saat mereka muda dulu, tidak sama sekali berkurang walau usia mereka sudah bertambah banyak. Sementara Cella bukannya tersinggung dengan teriakan pengusiran yang Lyra lontarkan, dia malah terkekeh karena berhasil menggoda ibu dari temannya itu. Tidak menyangka bahwa ternyata Lyra akan sama seperti Clara yang emosinya selalu meledak-ledak di saat miliknya di ganggu. Ck, inilah definisi jika buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.