
Menunggu adalah sesuatu yang memang selalu rutin Birma lakukan. Saat sekolah dulu, Birma menunggu Clara memberikan nomor ponselnya, menunggu wanita itu menerima cintanya, dan menunggu kejujuran untuk di kenalkan pada abangnya, sampai pada ahkirnya dirinya menunggu wanita itu kembali dalam pelukannya dan sekarang Birma harus kembali menunggu wanita itu selesai dengan urusannya.
Mungkin jika urusan itu penting, Birma akan melakukannya dengan senang hati, tapi saat ini yang Birma tunggu adalah sang istri yang tengah asyik memanjakan diri di salon. Untuk para laki-laki di luaran sana mungkin akan tahu bagaimana kebosanan yang Birma rasakan saat ini.
Inginnya Birma meninggalkan tempat membosankan ini, berjalan-jalan keluar sepertinya lebih menyenangkan. Namun apa daya, Birma yang takut istri terpaksa harus menunggu hingga wanita tercintanya itu selesai, karena memang Clara tidak mengizinkannya untuk angkat kaki dari tempatnya.
Mengancam adalah yang selalu wanita itu lakukan, dan Birma yang berhati lembut dan sayang istri hanya bisa mengangguk dengan patuh. Padahal ia tahu bahwa hewan peliharaan saja tidak selamanya akan menuruti titah majikannya.
Entah sudah berapa kali Birma menghela napasnya sejak dua jam yang lalu, saking banyaknya dan Birma malas untuk menghitung. Sebenarnya tadi Clara memintanya untuk ikut perawatan tubuh, yang katanya agar kulit semakin kencang dan cerah, tapi tentu saja Birma menolak dengan tegas. Bukan apa-apa, tapi Birma memang tidak suka tubuhnya di raba-raba orang lain, cukup Clara saja yang menyentuh tubuhnya, karena hanya wanita itu lah yang Birma beri kepercayaan penuh atas dirinya.
Clara memang mengatakan bahwa seorang laki-laki yang akan melakukan perawatan untuk dirinya, tapi tetap saja Birma tidak ingin melakukan itu. Meskipun di tangani oleh sejenisnya, tapi laki-laki seperti apa yang bekerja di salon? Bagaimana kalau mereka menyuka sesama jenis? Bukankah akan kesenangan jika salah satu dari mereka menyentuh tubuhnya yang sempurna ini? Membayangkannya saja sudah membuat Birma merinding, apa lagi kalau tangan halus seorang laki-laki benar-benar menyentuhnya, Birma pastikan bahwa dirinya akan berlari secepat yang ia bisa untuk terhindar, karena jika pingsang, Birma tidak bisa membayangkan bagian mana tubuhnya yang tidak terjamah.
Puk.
“Pak Birma ngapain disini?”
“Astaga!” Birma terlonjak saat pundaknya di tepuk oleh seseorang. Memikirkan tubuhnya di sentuh laki-laki berlengan lembut membuat Birma sedikit parno, dan segera menepis tangan seseorang itu dengan kasar.
“Pak Birma ngapain disini?” ulangnya bertanya, seraya memicingkan mata melihat Birma yang panik berlebihan.
Merasa mengenal suara itu, Birma dengan segera menolehkan kepalanya untuk memastikan. “Kamu ngapain disini?” bukannya menjawab, Birma malah justru balik bertanya pada orang yang masih berdiri di samping sofa yang didudukinya.
Memutar bola matanya, seseorang itu kemudian mendengus dan menjatuhkan diri di sofa yang sama dengan Birma, melipat kedua tangannya di dada lalu menatap Birma dengan sebal. “Bapak di tanya malah balik tanya!”
Menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, Birma cengengesan serba salah. Dan tingkahnya tersebut malah membuat seorang perempuan yang baru saja duduk di sampingnya menatap Birma dengan berbinar, kemudian menguyel pipi Birma dengan gemas.
“Hentikan Cella!” ujar Birma seraya melepaskan tangan mantan sekretarisnya dari wajahnya yang terasa kaku akibat siksaan tangan mungil wanita itu.
“Makanya jangan bertingkah ngegemesin depan saya, Pak, nanti kalau saya khilaf ‘kan Bapak sendiri yang repot,” seperti biasa, kedipan mata genit yang selalu Cella layangkan untuk menggoda mantan atasannya itu. “Eh, Bapak belum jawab pertanyaan saya, Bapak lagi ngapain disini?” Clara kembali melayangkan pertanyaannya.
"Ngapain lagi kalau bukan nemenin Nenek sihir.” Jawab Birma dengan di akhiri dengusan kecil, Cella yang mendengar itu terkekeh pelan.
“Gak usah genit bisa?” Bram yang baru saja datang menatap istrinya itu tak suka.
“Kalau sama Pak Birma aku gak bisa,” Cella menjawab tanpa rasa bersalah. Kembali menoleh pada Birma dan mengabaikan suaminya yang berdiri cemberut.
Birma menyapa suami dari wanita di sampingnya itu, yang dirinya yakini mereka sama-sama menjadi korban sang istri. Mungkin karena alasan ini, dirinya di pertemukan dengan Bram tiga tahun lalu di salah satu hotel tempat acara ulang tahun perusahaan tempat Birma bekerja saat itu di adakan.
Hingga pada akhirnya Bram bertemu dengan Cella, dan terpikat pada perempuan setengah waras itu. Mengapa Birma berkata demikian? Karena memang itu lah kenyataannya, orang waras tidak akan memperkenalkan diri sebagai istri kedua, sedangkan Cella dengan percaya diri mengatakan itu sebagai perkenalannya dengan Bram.
Jangan lupakan tingkah genitnya pun Cella layangkan untuk Bram yang saat itu terkejut mendengar pengakuan bernada bangga dari mulut Cella.
Disanalah awal mereka mengenal sampai kabar mengejetkan di berikan oleh Cella yang membawa undangan pernikahan kehadapannya. Entah apa yang membawa Bram memilih Cella sebagai mempelai perempuannya, Birma dan Clara sama-sama tidak bisa mempercayai itu, tapi takdir Tuhan siapa yang bisa menghalangi?
“Cellaram lo gapain disini?” Clara yang baru saja kembali selesai dengan perawatannya agar tetap muda dan segar, menghampiri ketiga orang yang duduk di sofa lobi salon.
“Mulung!” delik Cella begitu melihat kedatangan Clara, yang begitu berat Cella akui semakin hari semakin cantik. “Udah tahu gunanya salon untuk apa, masih aja nanya.” Cibir Cella dengan suara pelannya. Namun tetap saja itu dapat di dengar oleh Clara yang masih berada beberapa langkah di depannya.
“Ya siapa tahu lo datang cuma mau nyamperin laki gue doang.” Balas Clara, lalu menyapa ramah suami dari wanita yang selalu menjadi temannya beradu mulut.
“Kalau itu bonus. Gak nyangka aja gue bisa ketemu sama kesayangan gue, tahu gitu nyesal gue kenapa gak datang agak pagian.”
Sekali lagi kedipan genit itu Cella layangkan pada Birma yang sudah meraih Clara untuk duduk di tengah-tengah antara dirinya dan Cella. Membiarkan kedua perempuan itu terus beradu argumen, sampai pada akhirnya Cella di persilahkan untuk masuk oleh salah satu karyawan salon, membuat keduanya di haruskan berpisah, dan kata rindu barulah terucap dari mulut keduanya. Tak lupa berjanji untuk melakukan perawatan bersama di lain hari.
Wanita kadang memang sulit untuk di mengerti, apa lagi modelnya seperti Clara dan Cella yang pertemanannya memang terbilang aneh. Lewat perdebatan mereka mengakrabkan diri, dan saling mengejek adalah salah satu cara mereka saling menyayangi. Hanya menyiksa suami yang sepertinya menjadi kekompakan keduanya. Entah Birma harus menyesal atau justru bahagia Clara memiliki sahabat seperti Cella, dan entah dirinya harus berbangga diri atau justru mengeluh memiliki si cantik menyebalkan itu menjadi istrinya.
"Sesuai perjanjian, Yang, iga bakar madu." Bisik Birma saat mereka baru saja keluar dari salon, mengingatkan sang istri mengenai kesepakatan yang mereka buat sebelum dirinya setuju untuk menemani wanita hamil itu perawatan.
Clara mendengus pelan, "Bawel!"
"Gue racunin sekalian iga bakarnya nanti."