
“Ish, Birma jauh-jauh sana!” Clara menepis tangan Birma, begitu suaminya berusaha memeluknya yang tengah bersandar di kepala ranjang, membaca buku.
“Aku pengennya dekat-dekat kamu.” Birma malah semakin mendekat dan memeluk erat istrinya, tidak peduli walau Clara terus menepis dan berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di perut wanita itu.
“Kenapa sih, hem?” Birma mengubah posisinya jadi duduk, menatap istrinya dengan penasaran. “Belakangan ini kamu kayaknya gak mau banget dekat-dekat aku? Ada masalah? Apa marah lagi sama aku?” tanyanya bertubi-tubi. “Aku gak dekat Dinda deh belakangan ini…”
“Gak usah sebut nama itu!” sentak Clara yang membuat laki-laki itu terlonjak kaget.
“Jadi karena dia lagi? Sekarang karena apa kamu cemburunya? Aku gak ketemu dia loh belakangan ini?” Birma masih tak ingin menyerah, penasaran mengenai alasan apa yang membuat istrinya itu menghindar beberapa hari ini. Birma masih trauma tentang kemarahan Clara beberapa waktu lalu, mengenai kecemburuannya. Jangan sampai itu kembali terulang sekarang ini.
“Aku tahu.” Jawb santai Clara, tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang di pegang.
“Ya terus kenapa dong?” Birma menggeser duduknya lebih mendekat, tapi lagi-lagi perempuan hamil itu bergeser menjauh, bahkan kali ini pindah duduk di sofa. Membuat Birma semakin mengerutkan keningnya.
“Cla…”
“Stop di situ, Bir.” Dengan cepat Clara menghentikan Birma yang hendak turun dari dari tempat tidur.
“Loh kenapa?” Birma semakin mengerutkan keningnya.
“Aku gak mau dekat-dekat kamu.”
“Kenapa?”
“Mana aku tahu, tanya aja anak kamunya, kenapa gak mau dekat-dekat Daddy-nya.” Clara mengedikan bahunya, lalu kembali menoleh pada buku di tangannya, melanjutkan bacaannya yang sempat terhenti. Mengabaikan Birma yang cemberut di tempatnya.
“Di tolak anak sendiri kok sakit, ya?” Birma menekan dadanya dengan dramatis.
🍒🍒🍒
Gara-gara istrinya tidak mau di sentuh, bahkan hanya sekedar berdekatan, Birma pada akhirnya begitu lesu hingga siang ini. Membuat ipar dan mertuanya keheranan. Birma terlihat seperti laki-laki yang hidup segan mati tak mau. Begitu mengenaskan.
“Lo kenapa, Bir?” Rapa pada akhirnya memutuskan untuk bertanya. Menggeleng adalah jawaban yang laki-laki itu berikan.
“Cerita aja kalau memang ada masalah.” Pandu duduk di samping putranya, di ruangan Birma.
Menghela napasnya, Birma kemudian menoleh pada mertua dan iparnya itu, lalu bangkit dari singgasananya dan ikut duduk di sofa, berhadapan dengan kedua orang yang dirinya hormati sebagai keluarga sang istri.
“Berantem sama, Ratu?” tebak Rapa. Birma kembali memberikan gelengan. “Terus?”
“Apa masalah pekerjaan?” kali ini Pandu yang bertanya, dan kembali mendapat gelengan dari Birma.
“Lalu apa? Kenapa sehariaan kamu terlihat lesu?” Pandu menaikan sebelah alisnya.
“Clara lagi nyebelin, Yah, Bang.” Ucap Birma lesu.
“Atu mah emang udah nyebelin dari orok, Bir. Bukannya lo juga udah tau?” ujar Rapa terkekeh keci, baginya itu hal biasa. mendengar Clara menyebalkan bukanlah hal yang mengejutkan.
“Yang nyebelin kan ngangenin, Yah. Tuh buktinya Bunda, meskipun Ayah tahu Bunda nyebelin, tetap aja Ayah cinta. Sama halnya Queen yang selalu kangen dan cinta Abang. Entah kalau Atu, nyebelinnya bikin Birma kangen apa malah bikin sebal,” Rapa menunjuk Birma yang duduk di depannya, lalu terkekeh. “Tapi kalau di lihat dari tampangnya … Abang gak yakin kalau Atu ngangenin.” Lanjut Birma membentuk kotak menggunakan kedua ibu jari dan telunjuknya, mengukur-ukur ekspresi Birma yang terlihat kacau.
Pletak.
Satu jitakan sang ayah berikan di kepala bagian belakang putranya. “Sok bilang gak ngangenin,” Pandu mencebikkan bibirnya. “Gak ingat waktu Atu ikut liburan sama Grandpa, kamu nangis-nangis di bandara?” lanjutnya mengingatkan betapa memalukannya sang putra saat itu.
“Abang nangis karena gak di ajak liburan, Yah, bukan karena di tinggal Atu.” Ujarnya beralasan. Pandu hanya memutar bola matanya malas, memilih kembali fokus pada menantunya yang memang tidak terlihat baik-baik saja.
Sebagai orang tua, Pandu memang tidak seharusnya ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya, hanya saja Pandu peduli. Dan mengetahui apa yang terjadi bukankah tidak termasuk dalam mencampuri?
“Jadi, kenapa?” Pandu mengulang pertanyaannya.
“Clara nyebelin. Masa dari kemarin gak mau dekat-dekat Birma. Apa lagi semalam tuh, dia malah milih di sofa dari pada Birma peluk. Di tanya kenapa, malah bilang baby-nya yang gak mau,” Birma menghela napasnya lesu, lalu kembali menceritakan bagaimana istrinya itu sejak pagi. Gara-gara itu juga, Birma bertahan di kantor padahal sudah waktunya makan siang. Sang istri melarang dirinya datang, dengan alasan baby-nya tidak ingin bertemu dengan sang daddy.
“Apa separah itu wanita hamil?” tanya Birma mengakhiri ceritanya dengan desahan panjang.
Kedua laki-laki yang sejak awal mendengarkan itu bukannya merasa iba, tapi malah justru tertawa. Tentu saja menertawakan kesengsaraan Birma.
“Dulu Papi-nya Queen lebih parah,” kata Pandu berusaha menghentikan tawanya. “Mendiang Mami Luna waktu hamil Queen selalu muntah-muntah setiap dekat Papi-nya Queen.” Lanjut Pandu, kembali mengingat bagaimana sengsaranya besannya itu waktu muda dulu.
“Jadi, maksudnya itu wajar? Clara gak ngada-ngada? Bayinya gak akan benci Birma ‘kan?” pertanyaan polos yang Birma layangkan membuat kedua laki-laki beda generasi itu kembali tertawa.
“Polos sama **** emang gak beda jauh,” kata Rapa di tengah-tengah tawanya.
“Bukanya gitu, Bang, gue takut aja Clara mulai gak cinta. Kan bahaya kalau sekiranya itu terjadi. Gue belum siap di cari istri baru.”
“Siapa juga yang bakal izinin kamu cari istri baru!” Pandu mendelik tak suka.
“Ya tapi 'kan kalau salah satu gak cinta, masa iya di pertahankan.”
“Itu kalau kalian masih pacarana. Tapi sekarang kamu dan Clara bahkan sudah mau memiliki anak. Jika rasa itu tak lagi ada, maka kamu atau pasangan kamu harus bisa menumbuhkannya kembali. Bukannya malah menyerah. Pernikahan tidak serendah itu, Bir, dan Ayah berharap bahwa kamu akan menjadi pedamping hidup Clara hingga tutup usia. Maka pertahankanlah keharmonisan rumah tangga, buat istrimu jatuh cinta setiap hari. Apa pun yang terjadi, jangan sampai perceraian menjadi keputusan akhir yang kalian pilih.”
Nasihat Pandu berikan, dan itu bukan hanya untuk menantunya saja, tapi juga untuk Rapa yang duduk di sampingnya. Pandu tidak ingin sampai ada diantara keluarganya yang berakhir dalam perpisahan, karena itu pasti akan sangat menyakitkan.
“Istri kamu menjauh bukan karena keinginannya, tapi hormon ibu hamil memang kadang tidak mampu kita pahami. Tapi itu hanya sementara. Jadi, Ayah mohon agar kamu mau bersabar menghadapi Ratu yang mungkin membuatmu pusing, membuatmu serba salah, dan membuatmu tersakiti dengan kata-kata atau tingkahnya. Dan maaf jika selama ini anak Ayah merepotkan kamu.” Setelah mengucapkan itu Pandu menunduk, dan membuang napasnya perlahan.
“Gak perlu minta maaf mengenai itu, Yah. Sejak Birma bertekad menikahi Clara, sejak itu juga Birma bersedia menerima apa pun yang ada pada diri Clara, termasuk di repotkan oleh perempuan menyebalkan itu.” ucap Birma diakhiri denga cengirannya.
“Berani sekali kamu berkata seperti itu di depan Ayahnya!” Pandu kembali melayangkan delikannya, membuat Birma menggaruk kepalanya salah tingkah. “Tapi memang sih, Ratu itu nyebelin, gak beda jauh sama Abangnya. Ayah juga kadang heran, kenapa bisa punya anak semenyebalkan mereka berdua.” Lanjut Pandu dengan wajah keheranannya.
“Kenapa harus heran? Ayah coba aja ingat-ingat waktu bikin Abang sama Atu baca doa dulu apa enggak. Lagi pula buah itu gak jatuh jauh dari pohonnya, kalau anak-anaknya nyebelin, coba deh yang jadi orang tuanya ngaca dulu.” Rapa memutar bola matanya jengah. Punya orang tua memang kadang tidak sadar diri. Gimana anak-anaknya gak nyebelin kalau orang tuanya aja sama nyebelinnya. Oke, Pandu memang tidak semenyebalkan itu, tapi Lyra? Siapa yang tidak tahu seberapa menyebalkannya wanita itu?
“Harus berhenti nyebelin kayaknya gue. Bisa tekanan darah kalau sampai anak gue lebih nyebelin dari Ibu-nya.” Birma berucap dalam hati, lalu bergidig ngeri walau hanya membayangkannya saja.