
Karena merasa bersalah akibat beberapa hari berturut-turut membuat suaminya kerepotan dan kesal juga kecapean, akhirnya sepulang dari salon, Clara benar-benar mengajak asisten rumah tangganya untuk memasak makanan yang di inginkan Birma.
Meskipun Clara sering mengomel atas permintaan suaminya itu, tetap saja sebagai seorang istri, Clara tidak sepenuhnya sekejam itu. Tentu saja, karena bagaimaa pun Birma adalah suaminya yang paut dirinya hormati, walau kejengkelan itu kadang kala membuatnya ingin menukar Birma dengan seribu candi yang sepertinya akan indah jika berjejer mengelilingi rumah.
Namun Birma hanya ada satu, dan sayang jika harus dirinya lepaskan, karena bagaimanapun tingkahnya, Birma selalu menjadi raja di hati, sejak dulu hingga saat ini. Dan semoga saja seribu tahun ke depan pun masih akan seperti itu.
“Mau makan sekarang gak, Bir?” teriak Clara dari dapur, begitu semua hidangan sudah tersaji di meja makan.
Secepat kilat Birma muncul dan duduk di kursi depan meja makan, matanya yang berbinar melihat makanan yang terhidang, menerbitkan senyum di bibir Clara yang entah mengapa selalu bahagia jika melihat suaminya itu begitu antusias dengan makanannya.
“Pelan-pelan aja makannya,” tegur Clara saat melihat bagaimana Birma melahap iga bakar madu yang menjadi menu ngidam pria itu sejak pagi tadi.
“Abis enak, gimana dong?” Birma mangacungkan tulang iga di tangannya, sebelum kembali melahap sisa daging yang tertempel di sana. “Besok bikinin lagi, ya.” Pintanya dengan di akhir cengiran.
Clara mendengus pelan, tapi tak urung menganggukan kepala.
🍒🍒🍒
Selesai makan malam dengan menu yang di inginkan, Birma kini bersandar nyaman di kepala ranjang, menunggu sang istri yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan wajah cantiknya sebelum kemudian di olesi krim malam, yang tidak pernah Birma tahu untuk apa fungsinya.
Wanita memang seribet itu, tapi mau bagaimana lagi, keribetannya itu lah yang membuat laki-laki bertekuk lutut.
“Aku tahu aku cantik, gak perlu di pandang terus.” Ujar Clara, bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ranjang.
Birma mencebikkan bibirnya, tapi tak sama sekali membantah ucapan istrinya itu.
“Bir…”
“Sopan lo manggil suami!” potong Birma menegur, lalu memberikan jitakan kecil di kening Clara, sementara wanita cantik itu mencebikkan bibirnya.
“Terus maunya di panggil apa? Sayang?” tanya Clara memposisikan duduknya untuk menghadap sang suami.
Birma menggelengkan kepala. “Terlalu pasaran.”
“Baby?”
“Aku suami kamu, bukan anak kamu.”
“Ayah?”
“Nanti ketuker sama Ayah Pandu.”
“Honey?”
“No, no, no terlalu manis.”
Clara menghembuskan napasnya berusaha menyabarkan diri dengan tingkah menyebalkan Birma yang sepertinya kembali dalam mode on. Birma memang kadang seribet itu.
“Terus kamu maunya di panggil apa?” geram Clara, mendelik tajam pada saumi tampannya yang semakin hari semakin menyebalkan, dan menambuatnya selalu darah tinggi. Jika seperti ini, rasanya Clara ingin menjadi ibu hamil yang normal, dimana bisa sesuka hati menyiksa suami dengan permintaan-permintaan yang tak masuk akalnya. Tidak seperti ini, yang hamil malah yang di buat kesal.
Birma mengetuk-ngetik jarinya di dagu seolah tengah berpikir, sampai kemudian berseru dan mengejutkan Clara. “Panggil aku Daddy.” Katanya dengan senyum mengembang.
“Kenapa harus itu?” heran Clara.
“Harus banget aku panggil kamu begitu?” tanya Clara terdengar ragu. Birma mengangguk semangat, dan senyum terukir lebar.
“Ayo coba panggi aku dengan sebutan Daddy,” pinta Birma antusias.
Clara menelan ludahnya susah payah, membuka mulutnya hendak mengucap, tapi kembali terkatup sebelum kata itu berhasil keluar. Entahlah mengapa lidahnya tiba-tiba saja terasa kelu. Sebutan yang di minta suaminya, terlalu sulit Clara lontarkan.
“Bir, aku gak bisa,” cicit Clara pelan.
“Lah, kenapa?”
Clara menggelengkan kepala. “Geli. Aku ngerasa jadi sugar baby-nya kamu.”
Pletak.
Satu jitakan kecil Birma berikan di kening Clara. “Kamu istri aku, dan anak kita nanti manggil aku dengan sebutan itu. Sah-sah aja kalau kamu panggil aku, Daddy.”
“Memang, tapi nanti aja ya, kalau anak kita udah lahir. Sekarang lidah aku belum terbiasa.”
“Makanya di biasain dari sekarang.”
Clara dengan cepat menggelengkan kepala. “Gak bisa. Nanti aja, ya?” pintanya berkedip manja. Berharap si tampan di depannya itu mengalah.
“Harus sekarang! Ayo cepat panggil aku Daddy,” desak Birma yang tak sabar mendengar panggilan itu keluar dari mulut manis istrinya.
“Geli, Bir.”
“Biar terbiasa, Mommy. Ayo cepat panggil aku Daddy,” pinta Birma lagi, dan sebuah gelengan masih saja menjadi jawaban Clara, menolak mengucapkan apa yang di minta suaminya.
“Kalau gak mau juga, aku cium nih!” ancam Birma dengan sorot mata tajam.
“Aku milih di cium aja deh, dari pada harus manggil kamu Daddy. *P*lease, jangan paksa aku, aku gak bisa panggil kamu Daddy, lidah aku-nya macet.” Ucap Clara dengan tatapan memelas.
“Kamu beneran gak bisa mengucapkan kata Daddy?” Clara mengangguk yakin. “Pilih di cium aja?” tanya Birma yang kembali mendapat anggukan dari istri cantiknya yang entah mengapa malam ini berubah menjadi sedikit polos yang mendekati bodoh. Birma tidak habis pikir pada wanita yang di nikahinya hampir lima tahun ini. Mengatakan tidak bisa mengucapkan kata ‘Daddy’ lalu yang barusan perempuan hamil itu katakan apa?
“Kamu beneran milih aku cium?” Birma kembali memastikan, sembari terus memajukan kepalanya mengikis jarak antara wajahnya dan wajah sang istri.
“Iya, dari pada panggil Daddy, aku gak mampu, ya udah mending di cium aja, lagian enak kok.” Ujarnya polos, membuat Birma yang semakin mendekat tak kuasa untuk tidak melahap benda kenyal merah merekah di depannya itu. lagi pula Clara terlalu sayang untuk di abaikan, dan sepertinya menengok sang buah hati di dalam sana akan menyenangkan, hitung-hitung menambah energi untuk kembali mulai bekerja di esok hari.
“Ini kamu yang minta loh, Mommy. Jangan salahkan aku kalau menuntut lebih dari sekedar ciuman.”
Belum sempat Clara menjawab, Birma sudah lebih dulu melahap bibir istrinya yang seolah mengundang untuk di jamah. Salahkan hujan di luar sana yang tiba-tiba saja turun membuatnya kedinginan, salahkan juga Clara yang berubah polos dan memancing dirinya untuk bertindak sesuai keinginan. Jadi, biarkanlah malam ini menjadi malam yang penuh dengan pergulatan.
“Birma, jangan dong, aku lagi dapat tamu bulanan, loh,” bisik Clara begitu ciuman Birma turuh ke lehernya.
“Kamu yakin?” Birma menghentikan aktivitasnya menjelajahi tubuh sang istri.
Clara mengangguk dan menampilkan wajah bersalahnya, membuat Birma berguling ke sisi kiri ranjang yang kosong, menarik rambutnya frustrasi dan menendang-nendang udara untuk menyalurkan kekesalan akibat nafsu yang sudah memuncak harus terpaksa di redam.
Clara yang melihat itu, sekuat tenaga menahan tawa. Entahlah suaminya itu polos atau bodoh. Yang benar saja pria itu lupa kalau dirinya sedang mengandung? Dan mana ada wanita hamil kedapatan tamu bulanan? Clara menggelengkan kepalanya, lalu tawanya pecah begitu suara pintu kamar mandi di tutup dengan kasar oleh suaminya.
Birma oh Birma.