
Berkali-kali Birma menarik dan membuang napasnya sebelum turun dari mobil, begitu sampai di parkiran kantor sang ayah mertua. Birma bukan ragu untuk menemui ayah mertuanya, tapi Birma tengah berusaha mengumpulkan keberanian, ia terlalu malu untuk meminta bantuan orang tua dari istrinya itu, meskipun kakak iparnya sudah mengatakan bahwa sang ayah bersedia membantunya, tapi ... ah sudahlah, Birma tidak mampu menjabarkannya.
“Lama banget lo keluar dari mobil aja, Bir!” kesal Rapa yang entah sejak kapan berada di depan mobilnya.
“Lo sejak kapan disana?” tanya Birma, mengabaikan kekesalan kakak iparnya itu.
“Itu gak penting, lebih baik sekarang kita masuk, Ayah udah nunggu. Lo mau ngerepotin dia, jadi jangan buat Bapak gue nunggu lama," ujar Rapa melangkah lebih dulu tanpa menunggu jawaban Birma.
Sekali lagi Birma menarik dan membuang napasnya, sebelum kemudian melangkahkan kaki menyusul kakak iparnya yang sudah lebih dulu masuk ke lobi. Beberapa karyawan menunduk hormat pada Rapa begitupun pada Birma yang memang sudah banyak dari mereka tahu sebagai menantu pemilik perusahaan.
“Lo bawa berkas-berkas yang kemarin ‘kan, Bir?” tanya Rapa begitu langkah mereka sejajar. Birma mengangguk seraya mengacungkan map biru yang tidak akan dirinya lupakan untuk di bawa, karena itu adalah sesuatu yang penting untuk nasibnya ke depan.
Rapa membawa adik iparnya itu menuju ruangan sang ayah yang sudah menunggu sejak tadi, demi mendengar kasus yang di alami menantunya itu, Pandu sampai membatalkan semua meeting pentingnya. Karena menurut laki-laki tua itu keluarga adalah yang utama.
Mengetuk pintu beberapa kali, Rapa kemudian membukanya dan masuk begitu si pemilik ruangan sudah mempersilahkan, di ikuti Birma dari belakang yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara jika tidak Rapa yang memulai bertanya.
“Datang juga akhirnya kamu, Nak," ujar Pandu menyambut menantunya itu dengan senyum ramah, yang membuat Rapa mendengus kecil.
“Giliran Birma di senyumin, lah, Abang ...? Ck, dasar orang tua pilih kasih.” Gerutu kesal Rapa yang tidak sama sekali mendapat respons dari sang ayah, karena lelaki tampan di usianya yang tak lagi muda itu lebih memilih mempersilahkan menantunya duduk ketimbang meladeni anaknya yang memang kadang pecemburu.
“Kenapa baru datang sekarang?” tanya Pandu begitu menerima map dari menantunya, yang sejenak dirinya baca untuk memahami isi di dalamnya.
“Awalnya Birma kira itu hanya kesalahan, dan menganggap bahwa ini bisa di tangani sendiri. Tidak menyangka ...” Birma menghela napasnya berat. Pandu mengangguk paham akan masalah yang di hadapi menantunya itu. Kasus seperti ini bukanlah perihal jumlah uangnya, tapi harga diri lebih utama, nama baik di pertaruhkan dan keluarga menjadi ancaman.
“Sebelumnya Ayah mau tanya, apa benar kamu tidak melakukan itu?” pertanyaan bernada tegas itu, membuat Birma yang semula menunduk lesu, mendongak dan menjawab dengan yakin pertanyaan yang di lontarkan ayah mertuanya. Birma tidak akan sefrustasi ini jika dirinya memang benar-benar melakukan penggelapan uang itu, yang ada mungkin dirinya akan kabur ketimbang mengusut kasus ini yang pasti akan menjerumuskannya sendiri pada jeruji besi.
Rapa yang sudah sedikit banyak tahu mengenai kasus yang tengah di hadapi Birma hanya diam menyimak, sementara adik iparnya itu lebih banyak berkonsultasi dengan ayah dan pengacaranya. Raut frustrasi jelas Rapa dapatkan dari wajah keruh adik iparnya, kekesalan pun terpancar dari sorot mata sang ayah. Tentu saja orang tua itu pastinya akan merasakan kesal, karena bagaimanapun pihak yang di salahkan adalah menantunya, bagian dari keluarganya. Bukan hanya nama Birma seorang yang pastinya nanti akan tercoreng, tapi juga nama keluarga Pandu akan ikut terseret.
Namun sekali lagi ini bukan hanya mengenai jumlah uang, Rapa percaya ayahnya akan dengan mudah mengeluarkan uang dengan hanya senilai 15 miliyar, bukan pula soal kedudukan, karena sang ayah sudah pernah menawarkan kedudukan yang lebih tinggi pada menantu kesayangannya itu, tapi ini soal harga diri.
Tidak akan ada seorang pun yang mau menerima tuduhan, apalagi mengenai penggelapan uang yang akan berdampak besar pada masa depan, dimana tidak akan adanya orang yang kembali percaya, tidak akan adanya lapangan pekerjaan yang memperkerjakan mengingat status yang pernah masuk tahanan karena tuduhan korupsi. Dan disini, Pandu sebagai seorang ayah tidak peduli jika harus mengeluarkan uang sebesar itu demi menyelamatkan harga diri menantunya, mengembalikan kepercayaan semua orang terhadap pria yang sudah menikahi putrinya empat tahun lalu.
“Kamu cukup diam di meja kerja kamu, Bir. Selesaikan pekerjaan kamu yang memang harus kamu kerjakan sebelum kamu meninggalkan kantor kamu itu. Ingat hanya satu minggu, dan setelahnya kamu harus bersedia mengurus cabang kantor Ayah. Mengenai kasus ini kamu tidak perlu khawatir, percayakan pada pengacara Ayah dan timnya, kamu akan tahu beres nanti.” Pandu kembali mengingatkan akan perjanjian yang sedari awal mereka buat.
Pandu yang seorang pebisnis sukses tentu saja tidak akan membantu siapa pun tanpa adanya perjanjian, termasuk memantunya sendiri. Dan ini adalah kesempatan untuk membawa menantunya itu bergabung di perusahaan, menggantikan Rapa yang akan segera menjadi penerusnya.
Birma mengangguk setuju, dan menjabat tangan adalah tanda bahwa keduanya sudah sepakat dengan perjanjian yang di buat. Rapa yang menyaksikan hanya mencibir sang ayah yang memang kadang licik jika mengenai pekerjaan. Dan sekarang Birma-lah yang menjadi sasaran kelicikan pria tua itu. Mengapa begitu? Karena dengan begitu Birma akan terikat dengan sang ayah, dan itu menjadikan pria tua kesayangannya bebas dari tugas dan tanggung jawab di perusahaan, sementara Rapa terkena batunya, menggantikan sang ayah yang kadang sibuknya melebihi presiden.
Rapa sebenarnya tidak ingin menjadi penerus sang ayah, karena itu hanya akan membuat waktu kebersamaannya dengan istri dan anak-anaknya berkurang, padahal Rapa saat ini tengah berencana untuk pengerjaan proyek ganda campuran dengan istri cantiknya di Negara Sakura. Ah, sudahlah, setelah ini Rapa tidak tahu masih memiliki harapan atau tidak. Jika pun tidak, mungkin kamar di rumah sang papi masih bisa menjadi pilihan, meskipun sebenarnya, Rapa begitu menginginkan sensasi di negara yang berbeda.
“Kamu kenapa cemberut, Bang?” Pandu yang kebetulan menoleh ke arah putranya mengernyit heran.
“Gak apa-apa, Abang cuma sedang mempersiapkan siksaan baru aja," jawab Rapa dengan nada ketusnya. Pandu hanya mengangguk, lalu setelahnya kembali menoleh pada sang menantu yang masih mengobrol dengan pengacara pribadi Pandu, yang akan menangani kasus yang di hadapi Birma saat ini, sementara Rapa semakin cemberut di tempatnya karena merasa tidak di pedulikan.
“Dasar orang tua gak peka.” Gerutu Rapa dalam hati.
Begitu selesai dengan obrolannya, Birma menyerahkan map yang di pegangnya pada si pengacara, sebelum laki-laki setengah baya itu pergi meninggalkan ruangan Pandu. Birma tidak hentinya mengucapkan kata terima kasih pada sang mertua yang sudah bermurah hati untuk membantunya, membuat Birma kini bisa sedikit bernapas lega.
“Ayah sarankan untuk kamu memberitahu istri kamu, Bir. Bagaimanapun keterbukaan dalam rumah tangga itu perlu,” ujar Pandu sesaat setelah meneguk kopinya yang baru saja di antar oleh sang sekretaris.
“Tapi, Yah...”
“Ini demi kebaikan kalian. Ayah tahu, kamu tidak ingin membuat istri kamu cemas yang akan berakibat pada kandungannya, tapi coba kamu pikirkan bagaimana jika Ratu tahu dari orang lain? Itu akan lebih membuatnya terpukul. Jadi, cobalah bicarakan, lagi pula tidak ada yang mesti kamu cemaskan lagi. Pengacara Ayah dan timnya akan mengungkap kebenaran mengenai kasus kamu. Ingat, dukungan seorang istri itu perlu.”
Birma mencerna dan mempertimbangkan apa yang di katakan mertuanya, sebelum kemudian mengangguk menyetujui.
Apa yang di katakan ayah mertuanya memang benar, ia membutuhkan dukungan sang istri, karena bagaimanapun menyembunyikan masalah yang tengah di hadapinya ini dari Clara malah semakin menjadi beban berat yang bertumpuk di kepalanya. Birma juga tidak akan mungkin bisa terus berbohong pada Clara, apalagi setiap hari mereka bertemu.
***
TBC...