Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 42



Gara-gara masalah tempo hari yang menimpa, juga kemarahannya yang jika di ingat kembali begitu menggelikan, Clara harus dengan terpaksa menebalkan muka setiap kali suaminya membahas mengenai itu untuk menggodanya. Menyebalkan, dan rasanya Clara ingin sekali melakban mulut Birma agar diam. Sayangnya ia tidak setega itu.


“Dia di promosiin untuk jadi sekretaris aku loh, Mom.”


Mendengar itu, Clara yang tengah memasak langsung menoleh dan menatap tajam suaminya. “Siapa yang promosiin?” tanya Clara berang.


“Abang kamu. Karena dia kerjanya memang rajin, pin…”


“Gak usah lo terusin.” Potong Clara cepat sebelum suaminya itu lebih banyak lagi memuji perempuan itu di hadapannya.


Bagaimanapun dirinya masih belum bisa berlaku biasa saja pada wanita yang di akui suminya sebagai adik. Itu hanya anggapan Birma, entah jika dengan dianya sendiri.


Melepaskan celemek yang di kenakan dan di serahkannya pada sang suami, Clara dengan cepat bejalan meninggalkan dapur.


“Kamu mau ke mana, Mom?” teriak Birma begitu Clara menghilang di tembok pembatas. Namun Clara tidak sama sekali berniat untuk menjawab, ia memilih melanjutkan langkah menaiki undakan tangga menuju kamar, mengambil ponselnya dan menghubungi sang kakak untuk protes.


Tidak akan pernah dirinya membiarkan perempuan lain berkesempatan untuk mendekati suaminya. Apa lagi Dinda yang Clara khawatirkan menjadi duri dalam rumah tangganya.


Clara tidak bisa biasa saja pada perempuan yang pernah jadi bagian masa lalu suaminya. Dan lagi, Clara tidak sepercaya itu pada perempuan bernama Dinda, seperti dirinya percaya pada Cella, mantan sekertaris sang suami tercinta.


“Kamu abis nelepon siapa, Mom?” tanya Birma saat baru saja tiba di kamar bertepatan dengan Clara yang menutup sambungan dan melempar ponsel pada ranjang dengan makian kekesalan. “Wanita hamil jangan keseringan ngomel-ngomel, apalagi maki-maki. Gak baik tahu, Mom, nanti kalau anak kita suka ngumpat gimana coba?”


“Ya jangan sampailah, anak aku harus kalem, kayak ibunya.”


“Kok aku jadi tiba-tiba pengen muntah ya dengar ucapan kamu,” Birma berkspresi seolah akan muntah. Sedangkan Clara hanya mendengus dan melewati suaminya begitu saja. Kembali turun ke dapur mengingat kegiatan masaknya belum selesai ia kerjakan.


Tapi baru saja tiba di undakan tangga terakhir, bau gosong begitu menyengat masuk ke indra penciumannya, membuat Clara mempercepat langkah menuju arah bau itu berasal.


“Birma!!!” teriaknya begitu melihat wajan yang sudah mengepul dan api hampir saja naik. “Ya Tuhan, kenapa gue punya suami yang susah banget di andelin.” Keluh Clara segera mematikan kompor, dan membahasi kain lap untuk menutup wajan yang mengepul itu.


“Astaga, Mom, ada apa ini?” tanya Birma dengan panik.


“Lo kapan benernya sih, huh! Cuma dititipin masakan aja bisa sampai gosong gini.” Jeweran kemudian Clara berikan di salah satu telingan Birma, membuat laki-laki itu mengaduh dan meringis nyeri. Clara mana peduli, cukup kekesalannya akibat mendengar Dinda di promosikan sebagai sekretaris suaminya, di tambah dengan Birma yang terus menggodanya menggunakan kecemburuannya beberapa waktu lalu, dan sekarang di tambah dengan masakan gosong hampir membakar dapur. Bisa tolong gambarkan bagaimana kesalnya Clara saat ini?


“Kamu gak bilang titip, Mom, cuma ngasih celemek dan pergi gitu aja. Dari mana letak titipnya coba?” Ujarnya membela diri. Clara yang bertambah geram semakin mempelintir telinga Birma dan melepaskannya dengan kasar.


“Sakit, Cla. Lo jahat banget sih jadi istri, gimana coba kalau kuping gue putus.” Dengusnya kesal, seraya mengusap telinganya yang panas akibat jeweran sang istri super tega, yang sayangnya tidak pernah ingin Birma gantikan dengan yang lebih kalem.


“Kalau putus nanti aku ganti sama kuping cicak.”


“Emang cicik punya kuping?” tanya polos Birma, membuat delikkan Clara layangkan semakin jengkel.


“Lo tanya aja cicaknya, kalau nyaut berarti dia dengar dan itu artinya punya kuping.” Setelahnya Clara melengos pergi meninggalkan dapur dan Birma yang masih dalam mode polos mendekati bodohnya.


“Jangan lupa beresin, cuci sekalian wajannya sampai kinclong kembali. Sebelum bersih jangan harap kamu aku kasih makan.” teriak Clara sebelum benar-benar meninggalkan dapur.


“Ya, lo makan aja itu tumisan yang gosong di wajan.” Sahut Clara entah dari mana, karena suaranya yang sudah terdengar mengecil.


“Astaga, nasib gue buruk banget pagi-pagi.” Keluh Birma menatap nanar pada wajan yang benar-benar gosong.


“Punya istri juga tega baget sama suami. Untung gue sayang, kalau enggak … gue tukar tambah lo sama yang lebih menggoda dan jinak.” Gerutu Birma pelan.


Meraih wajan yang menghitam itu dan membawanya menuju wastafel untuk ia cuci, dan ternyata tidaklah mudah. Warna hitam akibat gosong dari tumisan yang entah apa itu menempel dengan rekat, membuat Birma harus mengeluarkan tenaga penuh untuk membersihkannya, dan itu pun tidak semudah yang di bayangkan.


Selesai dengan gosok menggosok wajan gosong, Birma merapikan yang lainnya, lalu meninggalkan dapur untuk mencari sang istri super tega untuk meminta bayaran atas kerja kerasnya. Namun begitu langkahnya tiba di ruang tengah, rahang Birma hampir saja jatuh dari tempat saat melihat Clara tengah asyik-asyiknya menikmati ketupat sayur sambil menonton televisi. Di saat dirinya susah tenaga menggosok wajan, sang istri justru duduk selonjoran, bolehkan ia mengumpat?


“Yang, punya aku mana?” Birma berjalan mendekat, lalu duduk di sofa sebelahnya, menatap kedua mangkuk yang ada di atas meja. Yang satu sudah kosong dan satunya tinggal sisa setengah, sedang di nikmati sang istri.


“Jatah kamu udah aku makan, abisnya bayi kamu masih kelaperan jadi, ya udah deh … aku makan punya kamu juga, hehe.” Jawabnya cengengesan dan meraih mangkuk di meja begitu tatapan penuh minat Birma layangkan pada ketupat sayur yang masih tersisa.


“Bayi aku aja terus yang di jadiin alasan.” Ujarnya menyindir.


Birma menghempaskan punggung pada sandaran sofa, wajahnya yang cemberut tidak sama sekali membuat Clara bersalah, wanita hamil itu malah justru melanjutkan makannya dengan tenang hingga mangkuk di tangannya kosong dan suara kekenyangannya begitu merdu terdengar. Clara memang tidak ada anggun-anggunnya, dan Birma selalu bertanya-tanya mengapa bisa ia tertarik pada perempuan model istrinya ini.


“Yang, terus aku makan apa? Laper nih,” rengek Birma mengusap-usap perutnya yang tanpa lemak.


“Tunggu abang sama Queen datang aja, aku udah minta mereka bawa makan.” Kata Clara tanpa menoleh sedikitpun pada sang suami.


“Emang kapan mereka datang?”


“Nanti siang.” Jawabnya santai. Dalam hati segala macam doa Birma layangkan untuk mengganti makiannya pada sang istri. Bagaimanapun Clara sedang mengandung anaknya. Orang tua dan mertuanya bilang ia harus banyak-banyak berdoa dan mengucapkan hal-hal yang baik agar kelak anaknya pun memiliki perangai yang baik. Makanya Birma memilih untuk berdoa dari pada menghujat, meskipun sebenarnya ia ingin melakukan itu.


“Aku gak akan sanggup nunggu selama itu, Mommy.” Rengek Birma sememelas mungkin.


“Nunggu aku kembali sama kamu selama empat tahu aja kamu mampu, masa cuma nunggu makanan untuk waktu beberapa jam aja kamu gak sanggup.” Satu kedipan jahil, Clara layangkan pada suaminya yang sudah tak enak di pandang. Wajahnya yang cemberut dan tatapannya yang memelas itu sungguh tidak ada lucu-lucunya. Birma sudah tua dan tidak lagi menggemaskan seperti si kembar Nathan dan Nathael, keponakannya.


“Lo kok nyebelin jadi istri?”


“Bukannya itu yang buat lo jatuh cinta sama gue?” Clara menaik turunkan alisnya menggoda. Birma hanya mendengus dan memalingkan wajah, tidak lagi bisa menjawab. Istrinya memang semenyebalkan itu, ngeselin, super tega, dan jahat.


“Oh Tuhan, haruskah aku cari istri lagi?” teriak Birma frustrasi, yang langsung saja mendapat lemparan bantal sofa dari Clara.


“Buat makan kamu ada tuh, di bawah meja.” Clara menunjuk dengan dagunya. Awalnya Birma tidak ingin menoleh dan mempercayai ucapan istrinya. Tapi setelah sudut matanya tak sengaja menatap ke arah yang di tunjuk, keberadaan satu kantung ketupat sayur mengalihkan matanya dan tangannya langsung bergerak mengambil.


Birma tidak tahu sejak kapan itu ada di sana, karena sejak tadi ia sama sekali tidak meneliti meja kaca itu. di tambah memang keberadaan beberapa majalah yang sepertinya sengaja di letakan untuk menutupi keberadaan sang ketupat sayur.


Jika tidak membuat ini menjadi rumit bukan Clara namanya. Istri seorang Birma memang super, pintar, dan mengesalkan. Sudah pasti dapat penghargaan jika di ikut sertakan dalam award dengan kategori istri menjengkelkan.