Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 24



Clara menatap tak percaya pada apa yang ada di depan matanya saat ini. Baru datang ke tempat kerja, dan baru saja duduk di meja kerjanya, Clara sudah di buat kesal dengan surat pengunduran dirinya yang sudah di acc oleh Leo selaku pemilik supermarket yang satu tahun ini menjadi tempat Clara bekerja.


Tanpa bertanya pun Clara sudah tahu siapa yang membuat surat itu, maka tanpa membuang-buang waktu lagi, ia bangkit dari duduknya, meraih tas dan ponselnya untuk segera menghubungi taxi online yang akan mengantarnya menuju kantor sang suami. Clara akan mengajukan protes, karena Birma sudah seenaknya mengirimkan surat itu tanpa persetujuannya.


“Kamu mau ke mana lagi, Tu?” tanya Leo yang baru saja datang.


“Mau labrak Birma, nyebelin emang Atu punya laki! Padahal sejak awal kita udah sepakat Atu akan resign setalah kandungannya 5 bulan, ini baru dua bulan, dia udah main kirim-kirim surat pengunduran diri aja, gak nepati janji. Papi juga sama, malah main acc aja bukannya tanya dulu sama Atu. Aish, kenapa sih laki-laki selalu seenaknya aja.” Cerocos Clara dengan wajah kesalnya, membuat Leo mengernyit heran, apa lagi saat diirnya ikut di salahkan.


“Kenapa juga gue ikutan kena?” Leo berucap sendiri sambil memperhatikan kepergian anak dari sahabatnya itu yang melenggang pergi begitu saja dengan kekesalannya.


“Anaknya Si Lyra gak ada yang normal. Emang dasarnya buah gak jatuh jauh dari pohonya, keduanya sama aja. Nurun Emaknya, sama-sama gak normal, padahal di buatnya sama Si Pandu yang sedikit normal. Untung bukan gue yang jadi suami lo, Ly ... kalau sampai itu terjadi ...?” Leo bergidik ngeri hanya membayangkannya saja, lalu pergi menuju ruangan kerjanya. Tidak ingin lebih lama lagi membayangkan hal-hal mengerikan mengenai apa pun yang berhubungan Lyra.


🍒🍒🍒


Setelah membayar ongkos, Clara melenggang masuk ke lobi kantor Birma tanpa lebih dulu bertanya pada si resepsionis mengenai keberadaan pria itu. Toh jika pun laki-laki itu pergi, dirinya tetap bisa bertemu karena Birma pasti akan kembali keruangannya.


“Laki gue ada ‘kan?” tanya Clara saat berpas-pasan dengan sekretaris dari suaminya itu.


Cella mengangguk dengan tampang heran mengenai apa yang membawa istri atasannya itu datang dengan wajah kesal yang tidak seperti biasanya. “Lagi ada tamu di ruangannya. Bu Clara kenapa? Lagi berantem sama kesayangan saya?” tanya Cella yang tidak bisa menyembunyikan keingintahuaannya.


“Ini gue baru mau ngajak dia berantem,” kata Clara mendengus kesal karena terpaksa harus menunggu tamu Birma keluar dari ruangan suaminya itu dan berakhir duduk di kursi kerja Cella yang saat ini memilih duduk di meja kerjanya.


“Ada masalah apa emangnya? Pak Birma selingkuh?” tanya Cella karena memang itu lah yang pertama kali melintas di pikirannya.


“Bukannya lo selingkuhan laki gue?” ujar Clara memberikan delikkannya.


“Ya, kali aja ada yang lain,” Cella menganggakat pundaknya sedikit, lalu menyesap teh hangat yang baru saja di buatnya.


“Jangan sembarangan lo ngomong! Kalau sampai laki gue punya selingkuhan lain selain lo, siap-siap aja gue kawinin mereka.”


“Serius lo, Cla mau kawinin mereka?” tanya Cella yang kini sudah menghilangkan ucapan formalnya. “Sama gue lo gak berniat ngawinin,” Cella mencebikan bibirnya. “Berarti tuh cewek lebih beruntung dari gue, kalau sampai lo serius mau ngawinin Pak Birma sama selingkuhannya.”


“Iya, nanti gue kawinin mereka setelah gue puas mutilasi keduanya.” Ujar Clara, membuat Cella merinding dengan apa yang di katakan istri dari atasannya itu. Wanita secantik Jihyo twice bisa sehoror ini? Cella dengan cepat menggelengkan kepala, tak habis pikir dari mana Clara memiliki jiwa spikopat.


“Kalau begitu berarti gue lebih beruntung.” Kata Cella menganggukkan kepalanya.


Tak lama, pintu ruangan Birma terbuka dan keluarlah dua orang laki-laki tampan, yang salah satunya adalah suami Clara yang di tunggu-tunggu untuk di ajak berantem. Clara bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri kedua laki-laki itu.


“Bu Clara gak nanya.” Cella menjawab singkat.


“Kenapa juga harus nunggu gue tanya dulu?” kesal Clara yang masih saja menatap Cella, membiarkan kedua laki-laki di sana menyaksikan dengan kening mengerut.


“Narasumber aja nunggu di tanya, masa iya saya harus inisiatif bilang duluan. Nanti gak sesuai naskah, Bu.” Mendengar jawaban sekretaris suaminya itu malah membuat Clara mengeluarkan dengusannya, semakin kesal.


Mengabaikan Cella yang hanya akan menambah kejengkelannya, Clara beralih menoleh pada suami tampannya, menatap pria itu dengan tajam sambil berkacak pinggang. “Maksud kamu apa kirim-kirim surat pengunduran diri aku sama Papi tanpa sepengetahuan aku?!”


“Emangnya kenapa?” tanya heran Birma dengan kening mengerut bingung juga tidak sama sekali merasa bersalah, menambah kekesalan Clara.


“Kita udah sepakat loh, Bir, aku akan resign setalah kandungan aku lima bulan. Kenapa kamu gak nepatin janji dan malah seenaknya aja kirim surat pengunduran diri aku? Kamu kan tahu, aku masih pengen kerja, Bir, setidaknya tiga bulan lagi.” Suara Clara berakhir lirih. Birma membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya dan menguncinya, tidak ingin orang lain menyaksikan lebih banyak mengenai rumah tangganya. Rapa, yang menjadi kakak iparnya pun lebih dulu Birma suruh pergi walau hanya lewat tatapan mata, yang untungnya pria itu paham dengan kode yang di berikan Birma.


“Apa alasan yang buat kamu masih pengen kerja? Karena kesal dengan orang tua aku yang selalu nuntut kamu hamil? Lihat, disini sudah ada jagoan kita.” Birma mengusap lembut perut Clara.


“Bukan itu...” cicit Clara pelan.


“Lalu apa? Karena kesepian? Bahkan di rumah Bunda, kamu tidak akan merasakan itu. Coba beri aku alasan yang lebih bisa aku terima, kenapa kamu masih kekeh ingin bekerja, sampai marah begitu aku mengajukan surat pengundiran diri kamu tanpa izin terlebih dulu. Apa karena mengenai laki-laki yang beberapa hari lalu kamu sebutkan itu?” tanya Birma yang Clara artikan sebagai tuduhan, membuat perempuan cantik itu mengeraskan kepalan tangannya, wajahnya yang memerah membuktikan bahwa Clara tengah marah saat ini.


“Aku sudah pernah bilang bahwa hanya ingin mencari pengalaman kerja, aku senang dengan kegiatan aku sekarang ini. Kamu jangan tuduh aku sembarangan gitu dong, Bir!” kesal Clara atas tuduhan yang di layangkan suaminya itu.


“Siapa yang tuduh kamu? Bukannya kamu sendiri yang bilang waktu itu?”


“Waktu itu aku cuma becanda Birma! Apa yang aku katakan kemarin-kemarin cuma becanda. Gak ada laki-laki yang aku maksud itu, kamu gak perlu cemburu.” Clara memutar bola matanya.


“Kamu pikir cemburunya aku sebencanda itu?” Birma menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Kita memang sering becanda, sering main-main, tapi harus kamu tahu bahwa perasaan aku terhadap kamu tidak sebecanda itu. Kecemburuan aku tidak bisa kamu permainkan, Clara.” Sekesal apa pun Birma, ia berusaha untuk tidak meninggikan suaranya dihadapan sang istri, karena Birma tahu, bahwa wanita tidak pernah menyukai itu.


Clara mendengus pelan, lalu menoleh kembali pada suaminya itu. “Tapi cemburunya kamu itu tidak mendasar, Birma. Kalaupun kamu mau cemburu itu harus jelas, melihat aku dengan laki-laki lain, memastikan bahwa apa yang aku katakan adalah yang sebenar...”


“Kamu muji laki-laki lain depan aku loh, Cla waktu itu. Masih kamu bilang bahwa cemburunya aku tidak mendasar?” Birma memotong ucapan istrinya, setelahnya Birma kembali menggeleng tak habis pikir.


“Aku tadi sudah bilang, tidak ada laki-laki itu. Aku hanya becanda, Birma, becanda! Kamu ngerti gak sih?!” kesal Clara dengan begitu gemasnya. Tidak mengerti harus seperti apa lagi menjelaskan pada suaminya. Birma yang kali ini sama sekali tidak Clara kenali, karena tidak biasanya laki-laki itu sekeras kepala ini.


***


TBC...