
“Lo nangis, Bir? Gak salah?” Rapa bertanya tak percaya saat mendengar cerita dari adiknya mengenai Birma yang begitu menginginkan makanan laut sampai tidak bisa tidur dan menangis.
Birma yang tidak bisa mengelak hanya mengangguk saja dan harus rela di tertawakan oleh keluarga dari istrinya itu, terutama Rapa yang kini tertawa paling kencang, sampai mengejutkan si kembar yang tertidur.
“Sok-sokan lo ngetawain laki gue, Bang. Gak ingat lo waktu Queen hamil, sengsaranya kayak apaan?” delik Clara yang tidak tega melihat suaminya menjadi bahan ledekan, meskipun sebenarnya itu gara-gara dirinya sendiri yang menceritakan bagaimana Birma beberapa jam yang lalu.
“Tapi 'kan gak sampai nangis kalau gue mah, Tu.”
“Masa? Kok Queen gak percaya ya?” Cleona menatap suaminya dengan alis terangkat. “Yang setiap malam nangis gara-gara gak bisa makan enak siapa ya?”
Rapa yang merasa bahwa rahasianya dulu di ketahui sang istri hanya menggaruk kepalanya salah tingkah, padahal Rapa selalu hati-hati dan menyembunyikan air matanya jika memang sudah tidak kuat dirinya tahan, tapi siapa yang menyangka bahwa istrinya bisa mengetahui itu.
Mendengar kenyataan itu, giliran Birma yang menertawakan Rapa dengan begitu puas. “Lo juga sama aja ternyata, Bang.” Ujar Birma meninju lengan kakak iparnya itu pelan.
“Hehe, gimana dong, abis gue kesiksa gak bisa makan apa-apa waktu itu, padahal perut udah keroncongan banget.”
“Kalau Birma mulutnya gak pernah berhenti ngunyah, lihat aja perutnya sekarang, udah mau nyamain perut Atu yang lagi hamil.” Papar Clara menatap suaminya sekilas, lalu memberikan delikan.
“Berarti disini cuma Ayah yang gak pernah ngerasain ngidam,” Pandu buka suara, saat mengingat kembali masa mudanya yang sepertinya memang tidak mengalami masa ngidam di saat istrinya hamil, tidak seperti Leo yang saat itu sampai merepotkan semua orang, tidak seperti Rapa yang tidak masuk makanan apa pun, dan tidak seperti Birma saat ini yang sampai menangis di saat menginginkan sesuatu.
“Emang iya?” tanya Lyra menaikan sebelah alisnya, lupa akan masa-masa itu.
“Iya, tapi manjanya lo kebangetan! Apalagi ganjennya." Ujar Leo yang memberikan cibiran pada Lyra.
“Maklumin aja kali Le, waktu itu 'kan gue emang gak bisa mengabaikan cowok ganteng. Tapi kan, gak sia-sia gue ganjeng, hasilnya udah mirip pangeran negeri dongeng. Harusnya lo bangga karena punya mantu ganteng kayak anak gue.”
Rapa yang mendengar perkataan bundanya itu, menoleh pada sang mertua, menaik turunkan alisnya dan bergaya sebagaimana layaknya model pria di majalah ternama. Leo yang melihat itu berekspresi jijik dan ingin muntah, sementara yang lain hanya menertawakan.
“Ini ngobrol mulu, terus mau makan sea food-nya kapan? Perut udah keroncongan nih, dari siang belum makan.” Birma bersuara, menghentikan tawa semua orang termasuk istrinya yang cengengesan karena kelupaan mengenai tujuan utama mereka datang ke rumah orang tuanya.
“Bang, temenin Birma ya? Pastikan suaminya Atu makan banyak.” Rapa hanya mengangguk pasrah, sementara Birma tersenyum bahagia karena akan segera menikmati makanan yang di inginkannya.
“Papi sama Ayah juga harus ikut,” titah Clara menoleh pada dua laki-laki tua yang masih anteng duduk di sofa.
“Kenapa kita ikut juga? Abang kamu aja udah cukup untuk nemenin suami kamu makan. Lagi pula Ayah masih kenyang.”
“Gak apa-apa kalau masih kenyang. Ayah sama Papi temani aja, ini keinginan bayi Atu loh?” Clara menampilkan wajah manjanya, tangannya mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Kedua laki-laki tua yang sesungguhnya sudah berniat masuk ke kamar itu harus dengan terpaksa menuruti keinginan Clara menemani Birma yang mengidam. Entah mengapa mereka selalu saja kena dan terlibat dalam urusan seperti ini, dan sialnya kenapa harus selalu di malam yang sudah larut.
🍒🍒🍒
Meninggalkan para istri di rumah, Rapa, Birma dan kedua ayah sudah duduk di warung pinggir jalan yang menyediakan makanan khusus laut. Makanan yang Birma impi-impikan sudah tersedia di depannya, namun melihat semua itu, tidak sama sekali membuat Birma antusias untuk melahapnya. Laki-laki mengidam yang bahkah hingga meneteskan air mata beberapa waktu itu pun hanya diam memperhatikan Rapa dan kedua ayah memakan makanan laut tersebut, membuat Pandu menaikan sebelah alisnya, heran.
“Gak selera, Yah. Birma pengen martabak bangka.”
Apa yang di katakan Birma barusan sukses menghentikan suapan Rapa dan Leo, delikan di berikan oleh kedua orang itu, sementara Pandu hanya menganggukan kepala. “Nanti kita beli, sekarang kamu makan dulu ini. Sayang kalau gak di habiskan. Lagi pula kasihan bayi kamu yang sejak sore tadi menginginkannya.”
Birma hanya mengangguk kecil, dan memakan makanan laut di depannya dengan tidak berselera, hanya satu suapan kecil udang asam manis, setelahnya Birma hanya menyaksikan ketiga orang di depannya hingga menghabiskan semua makanan yang di pesan.
Setelah selesai membayar, Birma, Rapa dan kedua laki-laki tua itu kembali ke dalam mobil, melajukannya dengan kecepatan rata-rata dan berhenti di penjual martabak bangka, sesuai keinginan Birma.
Begitu turun dari mobil, mereka berempat tentu saja menjadi perhatian orang-orang yang juga berada di sana, termasuk kaum perempuan yang entah sedang apa masih berkeliaran di malam yang larut seperti ini. Pandu dan Leo, meskipun usianya sudah lebih dari angka empat, tetap saja pesonanya tidak mampu di tolak oleh perempuan muda sekali pun.
Walau bisikan-bisaikan terdengar, keempatnya memilih untuk abai, menunggu pesanannya jadi sebelum mereka kembali ke rumah.
Namun, lagi-lagi kesialan itu harus Rapa, Leo dan Pandu terima karena begitu mobil melaju menuju arah pulang, Birma kembali merengek mengajak mereka mencari bakso cuanki, cilok, dan lebih parahnya laki-laki itu meminta rujak tumbuk di malam hari seperti ini.
Rapa sudah tidak sabar ingin sekali melayangkan makian pada adik iparnya yang merepotkan itu, tapi ia berusahan menyabarkan diri, sadar bahwa dirinya pun pernah berada dalam posisi Birma saat ini, merepotkan semua penghuni rumah. Tapi saat di diamkan, kenapa Rapa malah semakin ingin membunuh adik iparnya itu? Andai membunuh itu legal, sudah sejak tadi sepertinya Rapa mendorong laki-laki yang menjadi adik iparnya itu ke tengah jalan dan membiarkan Birma terlindes truk.
Jam sudah menunjukan pukul 02:25 dini hari, kedua ayahnya sudah tertidur di jok belakang, dan menyisakan Birma yang kini menikmati segala macam makanan yang di beli, sementara Rapa lelah menyetir, dan jangan lupakan rasa kantuk yang sudah dirinya rasakan sejak tadi.
“Lo mau apa lagi, Bir? Mumpung masih di perjalanan. Gue gak mau lagi di ganggu kalau udah sampai rumah, sumpah gue gantuk!”
“Pulang aja, Bang. Gue juga udah gak mau apa-apa lagi, pengen tidur.” Kata Birma pada akhirnya yang membuat Rapa bisa bernapas lega, dan membelokkan mobilnya menuju arah pulang.
“Bang balik lagi ke jalan tadi dong, gue pengen sekoteng.”
Ckittt.
Rapa menginjak rem secara mendakak begitu mendengar apa yang keluar dari mulut adik iparnya. Pandu dan Leo yang tengah tertidur pun terbangun dengan paksa, karena sakit akibat kepala yang membentur jendela mobil.
“Rapa sialan! Bisa nyetir gak sih lo?!” maki Leo sambil mengusap-usap keningnya yang berdenyut, sementara Pandu hanya meringis kecil, tidak bereaksi berlebihan sebagaimana besannya.
“Ada apa, Bang?” tanya Pandu yang khawatir terjadi sesuatu. Pandu takut anaknya itu menabrak orang yang datang menyebrang, atau apa pun itu yang terjadi di kala kantuk menyerang di saat memaksakan mengemudi.
“Mantu ayah nyebelin, minta sekoteng di saat kita sedikit lagi tiba di rumah. Boleh gak Abang bunuh dia aja?” keluh Rapa dengan wajah memelasnya meminta persetujuan sang ayah, sementara Birma hanya memberikan cengiran tak berdosa. Sialan memang.
***
TBC...