Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 23



Pukul tujuh pagi, Birma baru saja bangun dari tidurnya, itu pun karena di bangunkan oleh mertuanya, sementara Clara masih saja bergelung nyaman dalam selimutnya. Sebenarnya Birma pun ingin ikut masuk ke dalam selimut tebal itu, tapi apalah daya, dirinya harus bekerja, mencari puing-puing rupiah untuk biaya hidup yang semakin hari semakin mahal, apa lagi sekarang tanggungannya bertambah dengan Clara dan calon anaknya.


Melawan rasa malas, Birma masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dengan guyuran air dingin, agar rasa kantuk itu hilang.


Tidak butuh waktu lama, karena kini Birma sudah kembali masuk ke dalam kamarnya dan mendapati sang istri tengah berdiri di depan lemari, memilih pakaian yang akan Birma kenakan hari ini.


“Mau merah apa biru, Yang?” tanya Clara sambil memperlihatkan dua kemeja berbeda warna.


“Merah.” Jawab singkat Birma sambil mengeringkan rambutnya, menggunakan handuk.


“Tapi aku suka yang biru,” kata Clara dengan bibir mengerucut.


“Ya udah aku pakai yang biru aja.” Birma lebih baik mengalah memang, lagi pula kedua warna itu tidak akan membuat ketampanannya luntur.


“Loh, kok gitu?” alis Clara terangkat, menatap suami tampannya yang sudah mengenakan satu per satu pakaiannya, hanya tinggal menunggu kemeja yang masih menjadi pertimbangan istrinya.


“Karena kamu bilang lebih suka warna biru, ya udah aku pakai warna yang kamu suka aja.”


“Tapi kamu lebih cocok pakai yang merah,” Clara melangkah mendekat, mencocokkan kedua kemeja berbeda warna itu di tubuh Birma.


“Jadi aku harus pakai yang mana?” tanya Birma yang mulai gemas.


Clara mengetuk-ngetuk jarinya di dagu, seolah tengah berpikir. “Biru aja.” Ujarnya memberikan kemeja yang berada di tangan kanan Clara.


Birma menurut dan segera mengenakan kemeja tersebut. Namun baru saja akan memasangkan kancing-kancingnya, dengan cepat isrinya itu menghentikan kegiatan Birma, membuat laki-laki tampan itu menghela napas lelah.


“Pakai yang merah aja, kamu lebih ganteng pakai yang ini.” Menampilkan senyum cantiknya, Clara melepaskan kemeja yang semula di kenakan suaminya, di ganti dengan warna merah yang ada di tangannya.


Selesai dengan membantu pria itu memasangkan kancing-kancing kemejanya, Clara kini memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju lemari, mencari dasi untuk pria tersayangnya itu. Beruntunglah perlengkapan kerja dan sehari-hari Birma tidak lupa Clara sediakan juga di rumah orang tuanya ini, jadi tidak merepotkan harus pulang atau berbekal dari rumah jika akan menginap.


“Calon Daddy, sini aku pakaikan dasinya.” Pinta Clara agar suaminya mendekat. Birma yang tengah menyisir rambutnya di meja rias hanya menurut tanpa bantahan. Berdiri di samping istrinya yang sudah siap dengan dasi berwarna hitam bergaris putih.


“Kok belum di pasangin juga?” heran Birma saat beberapa detik berlalu dan istrinya masih saja diam memperhatikan dasi yang di pegangnya.


“Aku lagi mikir. Kamu buka kemejanya, Bir.” Titah Clara, membuat Birma mengernyitkan keningnya.


“Kenapa?” heran Birma menatap punggung istrinya yang kembali sibuk di depan lemari yang terbuka.


“Ganti lagi, pakai yang ini,” Clara menoleh dan memperlihatkan satu kemeja berwarna navy. Birma hanya menghela napas, lalu menolah pada jam dinding di kamar itu. Waktu sudah menunjukan pukul 7:35 pagi, itu artinya ia akan telat sampai ke kantor jika terus meladeni istri cantiknya yang luar bisa menyebalkan pagi ini.


“Oke aku pakai itu, gak ada ganti-ganti lagi!" segera Birma menyambar kemeja di tangan istrinya dan melepaskan yang sebelumnya.


“Kamu gak suka sama yang aku pilihin?” cicit Clara pelan dengan raut wajah sedih.


“Aku bukannya gak suka, sayang, tapi aku udah telat. Lagi pula bukannya ini semua pilihan kamu?”


“Masa iya?”


Mendengus, Birma kemudian meraih jas yang tergelatak di ranjang, mematut dirinya di depan cermin, lalu dengan segera melayangkan kecupan di kening istrinya yang entah kenapa berubah lambat, dan pelupa. Birma malas meladeni wanita hamil itu untuk saat ini, karena ia benar-benar sudah telat untuk bekerja. Ingatkan bahwa ia masih memiliki bos yang kapan saja bisa mendepaknya dari kantor.


“Gak sarapan dulu, Bir?” tanya Lyra begitu melihat menantunya tidak berbelok menuju dapur.


“Gak keburu, Bunda. Birma berangkat ya, Bun udah telat soalnya. Titip Clara ya, Bun.” Pesan Birma yang kemudian berlalu setelah memberikan satu kecupan di pipi mertua cantiknya itu, beruntunglah ayah mertuanya tidak ada di sana, karena bisa di pastikan bahwa urusannya akan semakin panjang dan membuat Birma semakin telat datang ke kantor.


“Hati-hati di jalan, Bir. Pulangnya jangan lupa beliin Bunda ayam bakar madu di depan kantor kamu.” Teriak Lyra begitu Birma menghilang di balik pintu utama.


🍒🍒🍒


“Tumben kesiangan, Pak?” tanya Cella begitu Birma baru saja sampai di depan ruangannya.


“Begadang semalam, makanya bangun kesiangan.” Jawab Birma sebelum masuk keruangannya di ikuti sang sekretaris.


“Wow, abis berapa ronde emangnya, Pak?” Cella yang begitu penasaran, melangkah cepat mensejajarkan langkah dengan atasannya itu. “Saya kasih tahu, ya, Pak, kalau istri lagi hamil muda, jangan dulu di ajak sampai begadang gitu, kasihan kandungannya yang belum benar-benar kuat. Kalau terjadi apa-apa sama anak dalam kandungan Bu Clara bagaimana coba, ‘kan Bapak sendiri yang nantinya terpukul.”


Birma mengernyitkan keningnya bingung mendengar ucapan Cella, ia tak paham dengan apa yang di maksud sekertarisnya itu.


“Saran saya, kalau memang Bapak gak tahan, ya, cukup satu ronde aja, Pak biar gak membahayakan anak dalam kandungan Bu Cla...”


“Kamu bicara apa, sih, Cell?” dengan cepat Birma memotong ucapan sekretarisnya itu.


“Saya lagi ngasih tahu Bapak untuk gak main sampai begadang, kasihan Bu Clara sama kandungannya yang masih mud...”


“Saya sudah puasa sejak tahu istri saya hamil, karena dokter tidak mengizinkan.” Birma berkata dengan tatapan tajam yang di layangkan pada sekretarisnya itu.


“Terus Bapak semalam begadang sama siapa? Jangan-jangan ...?”


Pletak.


Lemparan balpoin tepat mengenai kening Cella, dan tentu saja pelakunya adalah Birma yang terlihat sekali wajahnya kini memerah, kesal.


“Kalau bicara itu jangan sembarangan. Lagi pula pikiran kamu kotor banget sih, Cell,” gemas Birma yang ingin sekali mencabik-cabik sekretarisnya lalu ia buang lewat jendela ruangannya ini.


“Salah Bapak kenapa ambigu!”


“Ambigu dari mananya?” heran Birma sambil mengingat-ingat bagian mana perkataannya yang menjurus pada apa yang di katakan sekretarisnya itu.


“Itu tadi Bapak bilang gara-gara begadang makanya kesiangan. Jadi, ya, saya ngiranya bapak begadang plus-plus.”


“Makanya sering-sering kamu cuci otak, biar gak kotor terus pikirannya!” delik Birma. “Udah sana keluar, saya mau kerja.” Lanjutnya mengusir. Cella mencebikkan bibir, lalu bangkit dari duduknya hendak keluar dari ruangan sang bos yang dulu sempat menjadi incarannya.


Namun sayang langkahnya harus terhenti dengan perintah Birma yang kembali menyebalkan. Bagaimana tidak, atasannya itu meminta dirinya membuatkan kopi dengan gula tiga puluh ribu butir, di aduk sebanyak dua ratus lima puluh kali, dan itu harus benar-benar di hitung dengan teliti. Dikira dirinya tidak memiliki pekerjaan yang lebih penting! Kenapa bosnya itu tidak sekalian saja menyuruhnya menambahkan sepuluh ribu micin ke dalam cangkir kopinya?


“Kalau aja lo gak ganteng, udah gue kasih sianida lo dari dulu!” kesal Cella, membanting pintu ruangan sang atas cukup keras. Tidak peduli tatapan heran orang-orang, lebih tidak peduli lagi jika jantung Birma lepas dari tempatnya. Itu lebih baik menurut Cella.


***


TBC...