
Menunggu dengan bosan, Clara entah sudah berapa kali mengecek ponselnya yang sunyi. Orang yang diharapkan akan menghubunginya malah tidak ada entah ke mana. Membuatnya uring-uring dan tidak fokus untuk bekerja. Jangan lupakan perut keroncongan yang sejak tadi di tahan.
“Daddy kamu yang menyebalkan itu ke mana sih, Nak! Gak tahu apa, anak istrinya kelaparan.” Gerutu Clara seraya mengusap perutnya yang menonjol, lalu melirik pada jam yang menempel di dinding ruangannya. Sudah hampir menunjukan pukul satu siang. Namun orang yang biasanya datang tiba-tiba tanpa di minta malah belum juga menampakan diri.
Kesal, itu yang Clara rasakan saat ini. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi orang yang sudah membuatnya menunggu selama ini, dan sial, apa yang di ucapkan laki-laki itu di dalam telepon malah semakin membuatnya semakin kesal hingga ingin menelan orang itu hidup-hidup. Sadis? Memang.
Kembali harus menunggu, Clara akhirnya melanjutkan pekerjaannya hingga satu jam kemudian pintu ruangannya di buka, dan orang yang di tunggu menampakan diri.
“Serba salah deh jadi aku.” Birma yang mendapatkan telepon sang istri datang dengan kantung berisi bento pesanan perempuan hamil itu. Berasa jadi abang go-food, di butuhkan saat wanita itu kelaparan.
Tanpa menghiraukan gerutuan suaminya itu, Clara langsung bangkit dari duduknya dan menyambar kantung yang di bawa Birma. Matanya berbinar saat melihat isi di dalamnya sesuai dengan yang dirinya inginkan. Melupakan Birma yang semakin mengerucutkan bibirnya.
“Sabar Bir, istri lo lagi hamil.” Ucapnya sambil mengusap dada, menyabarkan diri untuk tidak menghujat istrinya itu. Ia masih teringat nasihat mertuanya untuk lebih banyak mengalah pada ibu hamil semenyebalkan Clara.
“Kamu ngapaian berdiri si situ?” tanya Clara mengernyitkan keningnya.
Birma menghela napasnya pelan. “Ya udah, aku balik ke kantor, kamu…”
“Kamu gak nemenin aku makan?” kata Clara menghentikan langkah Birma yang hendak menarik hendel pintu. Membuat laki-laki itu menoleh dengan kening berkerut, tidak paham.
Namun belum sempat Birma mencerna, Clara sudah lebih dulu menariknya dan membawanya duduk di sofa. Senyum manis perempuan itu terukir indah, semakin membuat Birma melongo, apalagi saat tangan mungil Clara menyuapinya.
Birma merasa dirinya sedang bermimpi, tapi saat tamparan dirinya berikan dan rasa sakit itu ia dapatkan, barulah Birma yakin bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
“Kamu kenapa nampar pipi kamu sendiri? Ada nyamuk?” tanya polos Clara dengan satu alis terangkat.
“Gak apa-apa, aku cuma pengen tahu aja, aku lagi mimpi atau bukan.” Setelahnya Birma memeluk istrinya itu dengan habagia. Setelah beberapa hari di abaikan, akhirnya Clara mau kembali berdekatan.
“Kamu kenapa sih, Bir?” tanya Clara dengan heran, tanpa berniat menyingkirkan suaminya yang tengah memeluknya dengan erat. Birma terlihat aneh, tapi Clara terlalu nyaman dalam pelukan suaminya itu.
“Aku kangen kamu,” ucap Birma pelan, masih dalam posisi yang sama.
“Tiap hari kita ketemu loh?”
“Iya, tapi belakangan ini kamu selalu menghindar. Jangankan bisa aku peluk gini, baru nempel aja udah di tendang.”
Clara meringis bersalah, sadar bahwa memang belakangan ini dirinya terlalu kejam pada sang suami. Namun mau bagaimana lagi, ini jelas bukan keinginannya. “Maaf, tapi baby-nya yang gak mau dekat-dekat kamu.” Sesal Clara.
“Ck, padahal Daddy-nya ganteng. Kenapa pula di jauhin, aneh emang anak kita.” Gerutu Birma dengan decakan pura-pura kesal dan bibir manyun. Membuat Clara terkikik geli. Lucu melihat laki-laki dewasa di hadapannya bertingkah menggemaskan hanya karena di jauhi calon anaknya.
“Dari mana aja lo jam segini baru balik?” dari kursi kerja di ruangan Birma, Rapa menatap datar pada sosok yang baru saja muncul dari balik pintu.
Kesal pada sang adik ipar yang pergi sesuka hati dan kembali dengan tidak tahu diri. Di saat dirinya sibuk dengan pekerjaan, Birma malah bersenang-senang.
Tidak tahukah adik iparnya itu bahwa dirinya lelah mengurusi pekerjaan yang numpuknya kebangetan, dan harus ia selesaikan seorang diri.
Birma menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal, kemudian melangkah semakin masuk ke dalam ruangannya. Tak enak juga pada kakak iparnya itu, tapi mau bagaimana lagi, sang istri menahannya untuk tidak kembali, dan sekarang pun bahkan Clara memilih ikut dan meninggalkan pekerjaannya di supermarket. Beruntunglah yang memiliki tempat itu adalah papinya sendiri, jadi Clara tidak akan sampai di deportasi.
“Abis nemenin gue. Mau apa lo?” tak lama Clara masuk bersama dengan ayahnya. Menyelamatkan Birma dari suasana canggung bersama iparnya.
“Ck, lo mah seenaknya aja, Dek. Udah tahu laki lo masih kerja malah di ajak main-main.” Rapa bangkit dari duduknya dan melangkah, duduk bergabung di sofa.
“Birma pergi izin Ayah,” Pandu mulai membuka suaranya, memberi pembelaan. “Lagi pula yang dia temani istrinya, anak Ayah. Pekerjaan Birma juga udah selesai.”
Pandu bukan hanya memberikan pembelaan, tapi memang seperti itu pada kenyataannya. Saat Clara menelepon dan marah-marah karena Birma tak kunjung datang, menantunya itu memang sedang berada di ruangnya, menyerahkan dokumen yang dirinya butuhkan. Pandu juga yang memberi izin laki-laki itu pergi.
“Sekarang Ayah tanya deh, kenapa kamu ada di sini? Bukannya kerjaan kamu banyak?” Rapa hanya memberikan cengirannya seraya menggaruk kepalanya salah tingkah.
“Abang niatnya nyari Birma, eh, malah keburu nyaman. Rindu ruangan ini.”
Clara memutar bola matanya malas. “Ngapain nyari laki Atu?”
“Minta bantuin kerjaan Abang.” Jawab Rapa diiringi cengirannya. Dan setelahnya lemparan balpoin mengenai tepat di kening Rapa, membuat laki-laki itu mengaduh seraya mengusap keninggnya yang sedikit berdenyut.
Memang itu niat Rapa datang keruangan Birma yang dulu menjadi ruangannya juga. Ia ingin meminta adik iparnya itu membantu pekerjaannya yang benar-benar banyak, membuatnya pusing bagai kincir di tiup angin.
Sungguh tidak enak naik jabatan. Memang terdengar keren, tapi Rapa tidak sanggup dengan dokumen yang menumpuk minta di manjakan.
Please, Rapa terlalu selengean untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Rapa tidak sanggup, dan inginnya ia mengibarkan bendera putih saja pada tugas yang di berikan ayahnya, tapi sayang, sang ayah malah lebih dulu memberikan bendera perang yang harus Rapa terima senang hati. Hhuufffh … Beratnya menjadi cucu dan anak dari pemilik perusahaan. Desah Rapa pelan.
“Di kira kerja kelompok, minta bantuin.” Cibir Birma pelan.
“Ya gimana dong, mertua lo gak kira-kira ngasih kerjaan." Rapa mendelik pada pria paruh baya yang duduk tenang di depannya.
“Gue jadi bertanya-tanya, sebenarnya gue anaknya apa bukan. Perasaan nyiksa mulu.” Rapa menggeleng tidak habis pikir, sementara Pandu tidak sama sekali terusik dengan sindiran putranya. Jangankan anaknya, dirinya pun masih bertanya-tanya anak siapa sebenarnya Rapa, mengingat tingkah laki-laki itu yang jauh berbeda dengannya.