Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 47



Lyra bahagia bukan main saat tahu suaminya pulang bersama kedua anaknya, di tambah sang menantu kesayangan yang sudah beberapa hari tidak datang berkunjung. Pelukan kerinduan itu Lyra berikan pada sang putri juga menantunya. Tapi selalu saja ada yang mengganggu kesenangan ibu dua anak itu. Siapa lagi jika bukan sang suami yang posesifnya kebangetan. Sudah tua masih saja tidak rela istrinya di peluk laki-laki lain, meskipun anaknya sekalipun. Begitulah pada kenyataannya jika laki-laki sudah jatuh cinta terlalu dalam pada pasangannya.


“Jangan pernah peluk-peluk laki-laki lain, apa lagi di depan Ayah.” Ujarnya mengancam, tapi bukan Lyra jika menurut begitu saja. Wanita yang usianya tak lagi muda itu malah menggandeng menantunya menuju dapur, mengabaikan panggilan suaminya.


“Awas loh, Bun kalau ngajak malam mingguan nanti, gak akan Ayah turutin pokoknya.” Teriak Pandu mengancam.


“Mantu Bunda lebih tampan dan segar untuk di ajak malam mingguan. Ayah di rumah aja peluk guling.” Sahut Lyra dari arah dapur.


Clara yang masih berdiri di samping ayahnya hanya tertawa melihat nasib sang ayah. Antara geli dan jijik dengan wajah cemberut laki-laki tua yang amat di sayanginya itu.


Namun tak urung Clara bahagia dengan keharmonisan kedua orangtuanya. Clara bahagia karena hingga usia tuanya, cinta sang ayah tidak lekang oleh waktu, tidak habis di telan masa dan tidak hilang meskipun ingatan mulai berkurang. Clara sangat bahagia menyaksikannya, dan berharap ia dan Birma pun akan memiliki kisah yang sama. Saling mencintai hingga ujung masa.


“Ayah nanti malam mingguannya sama Atu aja, kita ke pasar malam.” Ujar Clara mengaitkan tangannya di lengan sang ayah, lalu menarik laki-laki itu menuju dapur, menyusul Birma dan Lyra.


“Emang cuma kamu yang selalu ngertiin Ayah.” Senyum terukir di bibir Pandu, mengusak sayang rambut putrinya, lalu memberikan kecupan singkat di ubun-ubunnya.


Gadis kecilnya dulu sudah dewasa, sudah akan memiliki seorang bayi. Pandu kadang masih tidak mampu mempercayai itu. Waktu terlalu cepat berjalan, dan rasanya Pandu belum siap jika harus pergi meninggalkan kehidupan sempurnanya.


🍒🍒🍒


Malam minggu ini semua orang keluar, termasuk si kembar yang usianya baru akan menginjak angka tiga. Leo tidak ingin ketinggalan, meskipun tidak ada pasangan, laki-laki tua itu tetap ikut untuk meramaikan.


Tujuan mereka adalah pasar malam di alun-alun kota. Rapa, Cleona, Pandu dan Lyra begitu asyik menaiki setiap permainan, sementara Clara hanya bisa menggingit jari, iri karena hanya bisa menyaksikan di temani sang suami, juga sang papi yang kebagian menjaga dua bocah kembar yang sama sekali tidak ingin diam. Menarik kakeknya ke sana ke mari, dan berjoget dengan badut. Malam minggu yang menyenangkan, tapi tidak untuk Clara yang tidak bisa bebas menaiki ini dan itu karena kehamilannya.


“Bir, duduk di sana yuk, aku pengen ikutan mancing.” Clara menunjuk tempat memancing anak-anak di sebelah kirinya, ada Nathan dan Nathael juga di sana. Meloncat-loncat dengan gembira saat pancingan magnetnya menangkan ikan dari kolam balon itu.


Birma hanya menuruti dan membantu istrinya duduk di kursi plastik kecil untuk anak-anak. Birma meringis ngeri, takut jika saja kursi itu patah karena di timpa tubuh mungil Clara yang memiliki berat badan setara dua karung beras isi 25kg, bahkan mungkin lebih, mengingat kandungan Clara yang semakin hari semakin membesar.


“Yeeyy, dapat!” seru Clara gembira, saat sebuah ikan mainan menempel di pancingan magnetnya.


Birma geli melihat Clara seperti anak kecil seusia ponakannya. Bukan hanya dirinya, tapi beberapa orang tua yang tengah menunggu anaknya bermainpun sama gelinya melihat ibu hamil itu. Leo bahkan sampai melayangkan toyorannya karena merasa malu dengan tingkah anak dari sahabatnya itu.


“Oty kelen!” puji kedua bocah kembar di sampingnya, bertepuk tangan meriah seolah apa yang di lakukan Clara adalah hal yang sungguh menakjubkan.


Tak lama keempat orang yang lupa anak dan usia itu datang dengan napas tak beraturan, wajah gembiranya menunjukan bahwa mereka puas bermain, sementara Leo melayangkan delikannya. Kesal karena di jadikan pengasuh. Padahal seharusnya Leo yang bebas bermain mengingat hanya dirinya yang datang seorang diri.


“Cemberut aja lo, Le mentang-mentang gak ada gandengan.” Lyra menyikut tangan besannya dengan kekehan geli melihat wajah masam Leo. Tidak sama sekali merasa bersalah meskipun tahu penyebab sahabat sekaligus tetangganya itu cemberut.


“Anaknya, Mommy nanti jangan ambekan kayak kakek kamu ya,” Clara mengelus perut buncitnya di ikuti Birma.


Setelahnya, mereka semua pergi menyusul Leo yang sudah lebih dulu duduk di gerai penjual sate yang cukup ramai oleh pengunjung. Beruntung tempatnya luas dan masih banyak tempat kosong untuk mereka bertujuh.


Sementara Nathan berada dalam pangkuan Birma, Nathael lebih senang bersama Leo. Dan itu selalu membuat Pandu khawatir sang cucu ketularan menyebalkannya Leo. Meskipun laki-laki itu pun tetep kakek dari cucunya.


Melihat bagaimana lucunya tingkah si kembar, Birma jadi semakin tak sabar menunggu anaknya lahir. Keinginannya memiliki anak kembar juga, tapi sepertinya Tuhan tidak mempercayai mereka untuk itu. Namun Birma tidak sama sekali merasa kecewa. Ia bersyukur meski hanya satu, Birma akan tetap menyayangi anaknya, karena di dalam tubuh anak di kandungan sang istri mengalir darahnya.


“Sehat-sehat anaknya Daddy. Daddy sayang kamu dan Mommy-mu.” Gumam hati Birma, mengelus lembut perut istrinya.


Malam minggu mereka selesai setelah menghabiskan sate masing-masing. Bukan selesai dalam artian sebenarnya, melainkan menyudahi mainnya dan pulang ke rumah mengingat ada ibu hamil dan anak kecil yang tidak baik terkena angin malam terlalu lama.


“Nanti kalau anak kita sudah lahir, kamu mau kan ajak kita ke pasar malam lagi?” tanya Clara saat mereka berdua sudah berada di kamar.


Melihat bagaimana serunya pasar malam tadi membuat Clara ingin segera membawa anaknya ke tempat itu, mengasuhnya, berlari-lari mengikuti anak-anaknya yang ingin ini dan itu, di pusingkan dengan rengekannya. Ah, rasanya Clara sudah tidak sabar melahirkan anaknya.


“Tentu. Ke manapun kalian ingin pergi akan aku temani.” Kata Birma, lalu melayangkan sebuah kecupan di kening istrinya itu


“Yang benar?” Birma mengangguk. “Kalau begitu aku pengen liburan ke Aarhus, dong, Bir.” Clara mengguncang pelan lengan suaminya dengan manja.


“Daerah mana tuh?” kening Birma mengerut benar-benar merasa asing dengan tempat yang di sebutkan oleh istrinya.


“Denmark.” Jawab Clara dengan cengiran khasnya.


“Jauh banget!” Birma dengan refleks menyingkir, sedikit menjauh dari istrinya. Terkejut bukan main mendengar nama negara yang berada hampir dekat dengan kutub utara. Birma menggelangkan kepala tak habis pikir. “Kenapa kamu pengen ke sana?” tanya Birma masih dengan raut tak percayanya.


“Pengen aja. Kamu bayangin aja berada di Negara yang letaknya di atas bola dunia … uhhh, itu pasti keren.” Clara menatap langit-langit kamarnya membayangkan serunya tinggal di Negara yang musim dinginnya lebih panjang. Di sana matahari jarang terlihat, bahkan nyaris tidak ada, tidak seperti di negaranya kini tinggal, terik matahari begitu menyengat dan merusak kelembapan kulitnya.


“Kalau cuma ingin tinggal di atas bola, gak perlu jauh-jauh pergi ke sana, Cla. Biar nanti aku yang beliin kamu bolanya, kamu bisa sepuas hati duduk di sana. Itu pun kalau bolanya gak ngegelinding.” Tawa Birma pecah begitu satu pukulan kecil istrinya berikan.


“Ish, Birma!”


“Lagian kamu aneh-aneh aja permintaannya. Kayak yang kuat aja tinggal di daerah dingin kayak gitu. Ujan gerimis aja kamu udah menggigil.” Cibir Birma yang kembali mendapatkan pukulan kecil tangan mungil itu.