Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 54



“Manyun aja, Pak. Kenapa? Sariawan?” ledek Clara setibanya di rumah. Ah, tepatnya Clara sudah berkali-kali melayangkan ledekan itu sejak kembali dari kedai bakso yang mereka kunjungi.


Bukan hanya Clara, tapi Cella pun nyatanya ikut-ikutan melayangkan ledekan itu. Dan untungnya mantan sekretarisnya itu tidak ikut ke rumahnya saat ini.


Memang sejak pulang dari kedai bakso dan kembali ke kantor, Birma tidak sama sekali mengeluarkan suara, bibirnya terus mengerucut dan segala celotehan Clara tidak pria itu hiraukan. Hingga saat ini, Birma masih juga seperti itu.


Tidak sama sekali Clara tersinggung dengan sikap suaminya, karena ia jelas tahu apa alasan di balik itu. Cemburu. Clara bahagia karena pada akhirnya bisa membuat laki-laki itu merasakan juga yang namanya cemburu. Dikira enak!


“Mau aku anterin ke dokter gigi gak? Atau aku anterin ke dokter cinta spesialis cemburu?” ledeknya lagi.


Birma tidak menanggapinya, dan malah melengos naik ke lantai dua rumah mereka, meninggalkan Clara yang terkikik geli di bawah tangga. Birma benar-benar menggemaskan jika sedang cemburu seperti ini.


“Lucu banget suami gue kalau lagi cemburu.” Gumam Clara lalu menapaki satu per satu undakan tangga menyusul sang suami yang ternyata sudah masuk ke bilik kamar mandi. Sepertinya suaminya itu sedang membutuhkan banyak air dingin untuk meredamkan rasa panas di hatinya. Lagi-lagi Clara melancarkan tawanya.


“Jangan lama-lama, Bir mandinya. Nanti kamu masuk angin. Bahaya kalau sampai sakit dan gak bisa antar aku ke pernikhannya Ditdit.” Clara berteriak agar suaminya dapat mendengar.


“Biar aja, supaya kamu gak pergi ke sana!” sahut Birma dari dalam kamar mandi dengan nada kesal yang membuat Clara menyemburkan tawanya.


“Aku tetap pergilah meskipun tanpa kamu. Ditdit sahabat baik aku, gak enak kalau gak datang. Lagian, sampai di sana ‘kan lumayan kalau mempelai perempuannya kabur, aku bisa gantiin.” Clara kembali menyahuti. Tidak tahu bahwa yang di dalam sana sudah memerah wajahnya, kekesalannya yang bertambah malah semakin membuat Birma ingin menggerogoti bak mandi. Istrinya itu memang paling bisa membuatnya sebal.


Brak!


Bantingan pintu yang tidak santai itu membuat Clara yang baru saja membaringkan tubuh lelahnya di kasur terlonjak kaget, dan refleks kembali duduk.


“Ngagetin aja sih kamu, Bir!" protes Clara, memegang dadanya yang berdebar kuat, hendak meloncat jika saja tidak cepat-cepat ia tekan menggunakan telapak tangannya.


Lagi, laki-laki itu tidak menanggapi. Berjalan menuju lemari, mengambil satu per satu isinya dan melempar sembarangan hingga membuat lantai yang di lapisi karpet hitam berbulu itu berantakan dengan pakaian Birma.


Menyaksikan itu, Clara hanya menggelengkan kepala. Baru tahu bahwa ini adalah cara pelampiasan kecemburuan sang suami. Clara tidak mau protes, memilih untuk membiarkan pria itu berontak sesukanya. Tidak peduli meski lantai sudah di penuhi pakaian yang pasti akan kembali kusut.


“Sebelahnya lagi belum tuh, Bir.” Clara dengan santai menunjuk lemari sebelahnya yang masih tertutup rapat, berisikan pakaian kerja Birma. Lagi-lagi sang suami tidak menanggapi, mengambil piyama paling bawah dan dikenakannya begitu saja. Setalah itu naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut hingga kepala.


“Lucu banget sih lo kalau lagi cemburu!” gemas Clara, menekan bantal di kepala suaminya yang tertutup selimut hingga membuat laki-laki itu berontak karena sesak napas.


Tidak setega itu untuk membunuh calon ayah dari anaknya, Clara melepaskan bantal tersebut, lalu tertawa setelahnya.


Wajah Birma semakin memerah, antara kesal dan sesak akibat ulah istrinya. “Lo mau bunuh gue?”


“Siapa bilang? Nanti kalau kamu mati anak aku gak punya ayah dong. Emang kamu rela jika ada laki-laki lain yang di panggil ayah sama darah daging kamu?” Clara menaikan sebelah alisnya.


“Jangan harap!” serunya ketus, seraya mendelik.


“Leuppphas!”


“Apa? Aku gak ngerti kamu bicara apa.” Kata Clara berpura-pura tak paham. Semakin menekan pipi tirus suaminya itu. Tatapan tajam suaminya tidak Clara hiraukan sama sekali. Ia terlalu bahagia, hanya karena berhasil membuat Birma cemburu.


Setelah berusaha melepaskan tangan mungil yang sayangnya kuat itu, Birma akhirnya bisa bernapas lega saat ini, meskipun tidak dapat di bohongi bahwa wajahnya terasa kaku.


“Senang banget kayaknya kamu hari ini?” tanya Birma sarat akan sindiran.


“Jelaslah aku senang, abis ketemu Ditdit!” bangganya, seraya melayangkan kedipan menggoda. Binar jahil dapat Birma tangkap dengan jelas, dan karena itu, ia benar-banar sebal pada istrinya.


“Dia udah mau nikah, gak usah kecentilan!” Birma berujar ketus.


“Itu kamu tahu, terus kenapa cemburu?”


“Siapa yang cemburu? Dih ge’er!” elaknya memalingkan wajah.


“Masa sih gak cemburu, kok, dari tadi manyun? Sariawan?” goda Clara menoel-noel pipi Birma yang mengembung.


“Diem!” tepisnya. Tapi Clara tidak sama sekali menghiraukan itu, kembali menoel dan menusuk pipi suaminya, dengan kekehan geli yang kembali meluncur.


“Kamu jadi tambah nyebelin, deh, Cla semenjak ketemu laki-laki tadi.” Dengus Birma kembali menepiskan tangan Clara dari pipinya.


“Masa iya?” tanya Clara dengan nada menyebalkannya. “Mungkin itu karena aku terlalu bahagia, Bir. Dia datang di saat waktu yang tepat dimana aku pengen balas dendam sama kamu.” Ucapnya, menyunggingkan senyum lebar. Manis sih, tapi tetap saja terlihat menyebalkan di mata Birma, setidaknya untuk saat ini.


“Balas dendam apa?” Birma mengernyit tak paham.


“Balas dendam bikin kamu cemburu! Dikira kamu aja yang bisa?” Clara mencebikan bibirnya. “Aku juga bisa!” ujarnya berbangga diri.


Birma memutar bola matanya. Baru tahu bahwa ternyata inilah tujuan sang istri sejak tadi menggodanya dengan sengaja menceritakan mengenai laki-laki bernama Radit itu selama di kantor dan perjalanan pulang.


Oke, Birma tidak bisa mengelak dari itu, ia memang cemburu. Bahkan sangat. Apalagi kedua orang yang tadi kembali di pertemukan setelah sekian tahun tak saling menyapa itu memiliki panggilan sayang masing-masing. Rara-Ditdit, cih, menggelikan!


Tidak perlu di perjelaspun Birma tahu sedekat apa mereka dulu. Tapi ia tidak menyangka bahwa kedekatannya itu di gunakan Clara untuk ajang balas dendam atas apa yang tidak pernah dirinya lakukan dengan sengaja.


Pembalasan perempuan memang menyebalkan. Tapi Birma tidak pernah sekalipun berniat membuat istrinya cemburu. Kejadian dengan Dinda real ketidak sengajaan.


Lagi pula apa gunanya sengaja membuat pasangan cemburu? Tanpa di panasi saja Birma sudah tahu istrinya begitu mencintainya. Karena jika tidak, mana mungkin Clara mau dinikahi olehnya.