Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 48



"Bangun, Mom udah siang.” Birma menciumi wajah istrinya, mengusik wanita hamil itu agar segera membuka mata, tapi bukannya bangun, Clara malah semakin mengeratkan selimutnya.


“Bangun Mommy sayang,” kali ini gigitan gemas di pipi bulat istrinya, Birma berikan untuk membangunkan wanita kesayangannya itu.


“Dingin Bir, bangunnya nanti aja.” Gumam serak Clara masih dengan mata terpejam. Di luar memang tengah hujan sejak pagi mulai menjelang, dan tidur memang lebih enak apalagi sambil berpelukan.


Namun rasa lapar tetap tidak bisa di abaikan, dan Birma tidak ingin datang ke ruang makan seorang diri mengingat ini masih berada di rumah mertuanya. Sedikit sungkan, meskipun keluarga istrinya tidak pernah mengabaikannya, apalagi membeda-bedakannya. Mertuanya menganggap Birma sebagaimana anak kandung, sebaik itu mereka. Tapi rasa malu itu kadang selalu ada kecuali jika di dampingi istrinya.


“Semalam sok-sokan mau liburan ke Aarhus, dingin segini aja udah ngeluh.” Cibir Birma, lalu menarik selimut yang di kenakan istrinya itu, membuat Clara langsung membuka matanya dan manatap tajam suaminya itu, tidak terima kehangatannya di rebut.


“Ganggu aja sih, Bir. Aku masih ngantuk tahu gak!” cemberutnya kembali meraih selimut dan membungkus kembali tubuhnya yang dingin. Namun sebelum itu terjadi Birma lebih dulu melempar benda itu menjauh, membuat bibir istrinya semakin mengerucut.


“Cuci muka sama gosok gigi sana, udah itu kita sarapan. Yang lain pasti udah nunggu di bawah.” Birma menarik istinya untuk berdiri, tapi Clara malah berusaha untuk kembali membaringkan tubuhnya, membuat Birama gemas sekaligus jengkel. Dan akhirnya memilih untuk menggendong wanita hamil itu menuju kamar mandi, menggosokan gigi dan mencuci wajah Clara, karena jika malasnya sudah dalam mode on, Clara tidak bisa di andalkan mengurus dirinya sendiri. Birma yang harus sabar menghadapinya.


“Encok pinggang gue, Cla!” keluh Birma saat menggendong Clara menuruni anak tangga. Sedangkan si nyonya hanya terkekeh pelan, sambil menyandarkan kepalanya di dada Birma. Begitu nyaman, tanpa memikirkan penderitaan sang suami.


“Loh, Atu kenapa, Bir?” tanya sang bunda khawatir saat Birma berhasil menuruni tangga dengan beban berat yang di bawanya.


“Biasa Bunda, lagi dalam mode malas tinggkat paling tinggi.” Jawab Birma seraya memberikan delikan pada istrinya yang tetap anteng dalam gendongannya.


“Anj*r, itu Nenek sihir kenapa di gendong-gendong? Sadar diri woy, lo udah mau beranak masih aja minta di gendong, kalah lo sama anak-anak gue!” cibir Rapa saat Birma tiba di ruang makan, masih dengan Clara dalam gendongannya.


“Sirik aja lo, Bang mentang-mentang gak ada yang mau gendong lo.” Sahut Clara begitu di turunkan dari pangkuan suaminya.


“Dih ngapain juga sirik sama lo,” Rapa memutar bola matanya. “Kasian gue sama Birma, punya istri yang manjanya kebangetan. Dikira lo gak berat dengan perut melendung itu?” menggunakan dagunya, Rapa menunjuk perut buncit adiknya.


“Aku ringan ya, Bir?” tanya Clara mencari pembelaan.


“Iya, saking ringannya kamu, aku sampe sakit pinggang ini.” Birma memijat-mijat pinggangnya yang memang sungguh pegal, tangannya pun kebas karena menahan tubuh Clara yang berat.


“Lagian kamu mau aja gendong-gendong Atu,” Pandu membuka suara, seraya menggelengkan kepala.


🍒🍒🍒


Begitu hujan reda, Rapa beserta anak dan istrinya berniat pergi jalan-jalan untuk mengisi waktu liburnya. Clara yang tahu niat itu pun langsung mengajukan untuk ikut, dan mau tak mau Birma juga harus ikut meskipun sebenarnya malas. Tapi mau bagaimana lagi, menolak pun sudah pasti Clara akan menyeretnya. Birma memang tidak pernah menang dari wanita itu.


Dan disinilah mereka kini berada, di sebuah pusat pembelanjaan di kotanya yang saat ini ramai oleh pengunjung, mengingat ini adalah hari libur.


Tujuan mereka adalah arena bermain anak untuk memanjakan si kembar Nathan dan Nathael. Namun sepertinya malah Clara yang lebih asyik di dalam sana ketimbang dua bocah yang belum genap tiga tahun itu, membuat Birma menepuk keningnya tidak habis pikir. Ia berasa mengajak anaknya ketimbang istrinya.


“Bir, istri lo.” Tunjuk Rapa ke arah dimana adiknya tertawa bahagia layaknya anak kecil usia lima tahun.


“Astaga, gimana kalau perutnya ketindih anak-anak itu.” Desah pelan Birma, ngeri melihat istrinya duduk di tengah-tengah kolam bola dengan banyak anak yang main-main di sana, ada pula yang melompat seolah tengah berenang. Birma khawatir pada anak di dalam perut istrinya.


“Gak kebayang gue gimana pecicilannya anak gue nanti, kalau liat ibunya aja kayak gini.” Birma dengan segera menggelengkan kepalanya saat bayangan itu melintas di kepalanya.


“Gak usah lo bayangin, nikmatin aja hasilnya nanti. Haha ….” Tawa Rapa lepas, sementara Birma mendengus sebal. Kakak iparnya itu memang paling bahagia di saat orang lain menderita.


Satu jam lebih menunggu dengan bosan, akhirnya Nathan dan Nathael menyudahi mainnya, tapi Clara mengerucutkan bibirnya, seolah menunjukan bahwa wanita hamil itu belum puas bermain. Namun setelah Cleona mengatakan bahwa mereka akan makan, barulah senyum itu kembali terbit, bahkan malah Clara yang sibuk memilih tempat makan dan lebih dulu memesan berbagai macam makanan yang diinginkannya.


Birma sengaja tidak memesan apa pun karena tahu apa yang di pesan istrinya tidak akan perempuan itu makan, karena memang sejak kemarin itu sudah terjadi. Menginginkan ini dan itu tapi pada akhirnya hanya di makan sedikit.


Dan benar saja Birma juga yang menjadi tempat sampah pada akhirnya, karena Clara sudah lebih dulu mengatakan kenyang walau baru dua sendok melahap makanannya. Ini sih rezeki Birma kalau sekiranya di traktir, tapi sayang, kakak iparnya itu mana mau mengeluarkan uang untuk orang lain meskipun adiknya sendiri. Tapi tak apa, setidaknya ia tidak terlalu boros karena tidak membayar double, mengingat dirinya tidak memesan apa pun selain latte.


Selesai makan, acara jalan-jalan mereka tak sampai di situ saja, karena si ratunya shoping kini beraksi, menunjukan kepiawaiannya menghabiskan uang suami. Cleona memang pandai jika urusan yang satu itu. Birma masih beruntung karena istrinya tidak terlalu gila dalam belanja, tidak seperti Rapa yang sudah mulai merapalkan doa agar tidak sampai terlalu membobol isi rekeningnya.


Sementara Rapa duduk di depan toko bersama anak-anaknya yang asyik memakan es krim, Birma di tarik Clara masuk ke dalah toko perlengkapan bayi, memilih dan membeli barang-barang mungil itu untuk persiapan anaknya nanti.


Setelah selesai mendapatkan apa yang di mau, Clara dan Birma kembali keluar dari baby shop, menghampiri Rapa dan si kembar yang terlihat bosan menunggu Cleona.