Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 31



Sejak setengah jam yang lalu sebenarnya Bram sudah berniat mengajak istrinya pulang, tapi Birma selaku tuan rumah mencegah dan meminta mereka untuk makan malam terlebih dulu. Cella yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu pun pada akhirnya menyetujui dengan cepat. Apa lagi tadi atasan tercintanya mengatakan bahwa pria tampan kesayangannya itu akan segera meninggalkan kantor tempatnya bekerja saat ini. Cella tidak ingin menyia-nyiakan momen terakhir kebersamaan mereka yang tak lagi lama. Dan disinilah keempatnya kini berada, ruang makan dengan hidangan berbau nikmat yang begitu menggugah selera, di tambah dengan perut keroncongan yang meminta di puaskan.


Dasarnya Cella yang tidak tahu malu bahkan tak tahu diri, tanpa di persilahkan pun, wanita cantik itu sudah membalik piringnya, mengisi nasi dengan beberapa lauk untuk suaminya, setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri. Bram yang merasa tak enak pun menunduk memohon maaf atas tingkah Cella yang seenaknya, tidak lupa juga melayangkan cubitan kecil di tangan mungil istrinya itu.


Clara tidak sama sekali keberatan dengan itu, karena meskipun sering kali beradu argumen dan berantem tak penting, pada kenyataannya Clara sudah menganggap calon mantan sekertaris suaminya itu seperti keluarga sendiri, Clara terlalu menyayangi Cella meskipun tidak pernah memperlihatkannya pada perempuan itu, karena Clara tidak ingin sampai Cella besar kepala dan dirinya menjadi bual-bualan perempuan itu jika mengaku yang sesungguhnya. Lagi pula berkat Cella juga Birma terjaga dari perempuan-perempuan genit di kantor, jadi Clara harus berterima kasih, tapi tentu saja Clara enggan mengucapkannya langsung, cukup dalam hati dan Tuhan yang mendengar.


“Terima kasih untuk makan malamnya Pak Birma sayang,” ucap Cella genit saat sudah berada di teras depan rumah bos-nya itu, hendak pulang begitu selesai makan malam bersama beberapa menit lalu.


“Di depan laki sendiri masih aja lo genit sama laki orang,” cibir Clara.


“Sirik aja lo mentang-mentang gak terlahir jadi cewek genit.” Balas Cella sengit. Birma dan Bram yang berdiri di samping istri masing-masing hanya menggelengkan kepala menyaksikan kedua perempuan itu, yang sejak tadi tidak hentinya saling mengejek.


“Jadi cewek genit aja lo bangga!” Clara memutar bola matanya. “Gue kasihan sama laki lo yang harus kuat mental punya istri kayak lo.” Lanjutnya seraya menoleh pada laki-laki di samping Cella dan menatapnya dengan prihatin. Laki-laki itu tidak tesinggung dengan ucapan Clara, melainkan memberikan anggukan setuju, membuat Cella melayangkan cubitan di perut suaminya, yang sama sekali tidak merasakan sakit.


“Pak Birma, Bu Clara kalau begitu kami pamit. Maaf sudah perepotkan, dan terima kasih untuk jamuannya. Maafkan juga tingkah istri saya entah kenapa lebih banyak erornya ket—aw!” Bram yang belum selesai berucap harus di hentikan dengan rasa sakit dari gigitan yang di berikan macan di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Cella? Istrinya memang sebuas itu, dan Bram tidak mengerti kenapa bisa dirinya menikahi wanita itu. Bram terkadang mendadak hilang ingatan saat di tanya bagaimana awal mereka kenal, sampai akhirnya bisa menikah. Tapi, ya sudahlah, Bram memang harus mengakui bahwa cinta menjadi pokok utama dalam pernikahannya.


“Sembarangan aja ngatain istri sendiri eror!” Cella mencebikan bibirnya.


“Lah kan emang iya,” seruan Bram tersebut membuat Cella kembali melayangkan gigitan di tangan suaminya, dan laki-laki itu kembali meringis. Sementara Birma merasa tak asing dengan pemandangan yang di saksikannya kini, dan Birma sadar bahwa dirinya tidak beda jauh dengan laki-laki di depannya itu yang sering kali mendapat kebuasan sang istri.


“Pak Birma sayang, Cella pamit pulang dulu, ya, kapan-kapan kita makan malam bareng lagi,” Cella mengedipkan matanya pada Birma, yang dengan segera mendapat pelototan dari Clara.


“Sekali lagi lo genit sama laki gue, awas aja lo!” ancam Clara tajam, tapi tidak sama sekali membuat Cella takut dan malah kembali melayangkannya sampai pada akhirnya Bram menarik istrinya itu untuk pulang, tentu saja lebih dulu mengucapkan terima kasih dan pamit undur diri. Semakin di biarkan, Cella akan semakin kesenangan, jadi menyeretnya lebih baik dari pada mereka berakhir dengan pulang semakin larut malam.


Begitu mobil yang di kendarai Bram melaju meninggalkan pekarangan rumah, Birma mengajak istri cantiknya itu untuk masuk, tidak lupa juga untuk mengunci pintu terlebih dulu mengingat mereka yang memang tidak akan kembali keluar, apa lagi di hari yang sudah malam seperti ini.


“Mau mandi dulu gak?” tanya Clara begitu sampai di kamar mereka.


“Pengen di mandiin boleh gak?” gedipan menggoda itu Birma layangkan, dan tendangan di kaki dengan cepat diterimanya. Ini lah salah satu kebuasan Clara yang tidak beda jauh dengan Cella. Mengkin itu yang menjadi alasan kenapa keduanya bisa akrab, meskipun percekcokan yang menjadi menu wajib di saat keduanya bertemu.


“Pakai air dingin aja sana mandinya, biar otak mesum kamu itu beku.” Ujar Clara yang di akhiri dengan delikkannya. Birma yang merasa gemas pun langsung meraih tengkuk istrinya dan melayangkan kecupan demi kecupan di bibir wanita kesayangannya, setelah itu melangkah menuju kamar mandi, tidak lupa meminta istrinya itu untuk menyiapkan baju ganti. Meskipun sambil menggerutu, Clara tetap melakukannya karena bagaimana pun itu adalah salah satu tugasnya sebagai seorang istri.


“Gak mau sekalian pakein, Yang?” Birma menaikan sebelah alisnya menatap piyama yang masih dalam genggaman Clara.


Clara memutar bola matanya. “Kamu gak bisa pakai sendiri?”


“Bisa,” kata Birma dengan polosnya, dan Clara melengkungkan senyum manisnya.


“Kalau memang bisa, ya, pakai sendiri gak usah manja!” ujar Clara pedas. “Kecuali kalau kamu memang benar-benar gak bisa melakukan itu sendiri, baru aku bantu.” Kembali senyum Clara ukir, manis memang, tapi bagi Birma itu seperti tengah mengejek. Meraih piyama itu dengan kasar, Birma tak lupa memberikan dengusannya, lalu segera mengenakan pakaiannya dengan bibir yang terus menggerutu.


Meski suara suaminya kecil Clara tetap dapat mendengarnya, tapi ini lebih baik dari pada seperti beberapa hari kebelakang, dimana laki-laki yang menjadi suaminya itu lebih sering terlihat murung dan lelah.


“Hari-hari kamu belakangan ini pasti berat, ya?” Clara yang tiba-tiba memeluk dari belakang dengan lontaran tanya itu cukup membuat Birma terkejut, gerutuannya terhenti, dan di gantikan dengan rasa hangat yang berdesir menuju hatinya.


Birma mengakui bahwa belakangan ini harinya memang begitu berat sampai ia tidak sanggup untuk melangkah, tapi sekarang beban itu perlahan menghilang, apa lagi sejak sore tadi mendengar kepedulian, dukungan, semangat dan senyum sang istri, di tambah dengan pelukan yang selalu menggetarkan jiwanya. Membalik tubuhnya agar berhadapan dengan Clara, lalu menangkup wajah cantik istri cantiknya dab memberikan kecupan demi kecupan di seluruh wajah itu.


“Sekarang sudah lebih ringan dengan adanya kamu,” senyum lembut terukir di bibir Birma. “Maaf sempat menyembunyikan masalah aku dari kamu, maaf sempat berpikir untuk berbohong padamu dan maaf jika belakangan ini emosiku sering kali membuat kamu kebingungan.” Birma menunduk menyesal.


“Maafin aku juga sudah menambah beban kamu dengan marah-marah waktu itu, maaf sudah membuat kamu emosi juga kesal, dan maaf sudah menjadi istri yang keras kepala untuk ka…”


“Jadi kamu sudah setuju untuk berhenti kerja?” potong Birma dengan cepat, senyum di bibirnya sudah terukir sempurna, dan binar di kedua matanya memancarkan kelegaan. Namun semua itu harus pupus begitu sedetik kemudian satu gelangan istrinya berikan.


“Sesuai perjanjian awal, aku akan berhenti saat usia kandungan aku lima bulan.” Ujar Clara dengan senyum tak bersalahnya.


Birma menghela napasnya kecewa, istrinya masih Clara si keras kepala, dan mengalah bukanlah yang akan dengan mudah perempuan itu lakukan. Keputusan Clara tidak dapat di patahkan. Padahal setahu Birma, sekeras-kerasnya Ayah Pandu masih akan selalu luluh dengan tatapan memelas istrinya, dan sekeras-kerasnya Bunda Lyra masih bisa kalah dengan rengekan suaminya.


Jadi, anak siapa sebenarnya Clara? Mungkinkah wanita kesayangannya itu lahir dari batu? Tapi setahunya batu pun akan berlubang jika sering terkena tetesan air. Ah, sudahlah mungkin memang seharusnya Birma sabar sebentar lagi untuk membuat istrinya itu menuruti keinginannya.


“Baiklah, kamu menang lagi, Cla.” Desah pasrah Birma yang kemudian melepaskan tangannya yang menangkup wajah cantik istrinya itu, lalu melangkah menuju tempat tidur meninggalkan istrinya tanpa mengatakan apa pun lebih dulu. Berharap bahwa dengan begini istrinya bisa sedikit merasa bersalah dan luluh pada akhirnya. Jika pun ini tidak berhasil juga, Birma sepertinya memang harus mengambil jalur kekerasan. Meminta sang ayah mertua meratakan supermarket milik Papi Leo tercinta, akan menjadi pilihan Birma selanjutnya. Ia yakin, Ayah Pandu akan setuju dengan ini.