
Selesai dengan urusannya bersama papi Leo untuk mencabut pengunduran diri Clara hingga tiga bulan ke dapan, Birma melangkah meninggalkan ruangan laki-laki tua itu, menoleh ke arah ruang kerja istrinya dan menatap pintu yang tertutup itu beberapa saat, sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan supermarket untuk kembali ke kantornya. Ada hal yang harus segera Birma selesaikan untuk kelangsungan hidupnya juga nama baiknya sendiri.
Begitu melajukan mobilnya menembus macetnya jalanan, ponsel yang Birma letakkan di dasbord berbunyi dengan nyaringnya dan menampilkan nama sekertarisnya. Birma cukup tahu dengan adanya sambungan telepon dari wanita itu, karena jelas saja Cella tidak akan menghubunginya jika tidak ada hal yang penting untuk di bicarakan.
Meskipun wanita itu dulu sempat menggodanya, tapi benar apa yang di katakan Clara, bahwa Cella adalah wanita baik. Bukan perempuan yang akan mengusik rumah tangga orang lain, karena meskipun pernah melakukan hal yang sedikit murahan, Cella adalah sosok perempuan yang memiliki harga diri. Itu juga alasan kenapa Clara tidak terlalu khawatir pada Birma yang berada di sekitar Cella.
“Saya sedang di jalan, sebentar lagi sampai.” Jawab Birma saat menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Tanpa menunggu wanita itu bicara pun, Birma sudah cukup tahu apa yang akan di sampaikan sekertaris cantiknya. Maka dari itu tanpa membuang waktu, Birma dengan segera menarik pedal, menambah kecepatan laju mobilnya begitu di rasa jalanan di depannya sedikit lenggang. Dan tidak butuh waktu lama untuk ia sampai di gedung pencakar langit yang menjadi tempat kerjanya selama enam tahun ini.
Beberapa orang yang menyapa Birma hanya di jawab dengan anggukan kecil, sampai Birma hilang di balik pintu besi lift yang baru saja tertutup. Hingga tak berapa lama laki-laki itu keluar dan segera melangkah menuju ruangannya, di sambut oleh Cella yang wajahnya terlihat gelisah dan panik.
“Bos besar sudah menunggu di dalam, Pak,” kata Cella langsung, tanpa menunggu di tanya lebih dulu.
“Kamu gak cerita apa-apa 'kan sama istri saya?” tanya Birma dengan sorot mata memicing. Cella menggelengkan kepala dengan cepat, sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. Birma menghela napas lega, setelah itu mengangguk kecil dan masuk ke dalam ruangannya di ikuti Cella dari belakang.
“Selamat siang Pak. Maaf membuat Anda menunggu lama.” Birma sedikit menunduk sopan pada laki-laki tua di depannya yang duduk tenang di sofa. Anggukan kecil di berikan, di susul dengan mempersilahkan Birma dan Cella untuk duduk.
“Birma Dirgiantara, kamu tahu kenapa saya memberi jabatan ini pada kamu?” tanya Pak Mario, laki-laki tua yang tak lain adalah bos dari perusahaan tempat Birma bekerja itu langsung begitu Birma mendaratkan pantatnya di sofa. Birma menjawab melalui anggukan pelan. “Kecerdasan, ketelitian, dan ketekunan kamu dalam bekerja membuat saya yakin bahwa kamu bisa menjadi orang yang hebat di kemudian hari, menjadi penerus bangsa yang di segani di dunia bisnis. Kemampuan kamu itu membuat saya tidak segan memberikan tanggung jawab sebesar ini pada kamu, tapi kenapa kamu mengecewakan saya?” Pak Mario menggelengkan kepala tak habis pikir. Birma masih berusaha untuk tenang, menunggu kelanjutan ucapan bosnya itu, walau dalam hati Birma ingin segera menyanggah tuduhan itu.
“Kenapa kamu berani mengambil yang bukan hak kamu? Apa gaji yang saya berikan kurang? Sebenarnya kamu bisa bicara langsung pada saya, berapa yang kamu butuhkan, tidak harus sampai mengambil uang perusahaan yang kamu sendiri tahu bagaimana akibatnya.” Dari setiap kata yang di ucapkan laki-laki tua itu memang tidak ada emosi, Pak Mario sama seperti ayah Pandu yang tenang, namun kejam dalam mengurus bisnisnya.
“Sebelumnya saya minta maaf Pak, jika mungkin saya telah mengecewakan Bapak. Tapi untuk penggelapan uang, saya berani bersumpah bahwa saya tidak melakukan itu.” Birma berbicara sambil menatap berani tepat pada mata bosnya, mengatakan bahwa dirinya benar-benar tidak melakukan seperti apa yang di tuduhkan.
“Kamu bisa mengelak, tapi semua bukti ini sudah jelas menjurus pada kamu. Lalu bagaimana cara kamu menjelaskannya?” Pak Mario menoleh sekilas pada laki-laki yang duduk di sampingnya.
Birma menatap beberapa dokumen yang baru saja di berikan oleh sekretaris pria tua itu. Meraihnya dan membuka satu per satu map tersebut. Kepalan tangan Birma menguat begitu juga dengan rahangnya yang mengetat saat membaca isi dari kertas-kertas itu yang menyatakan bahwa bukti memang mengarah padanya.
Birma tidak mengetahui siapa yang melakukan hal kotor seperti ini padanya, karena bagaimanapun Birma tidak merasa memiliki musuh di kantor yang sudah memberinya penghasilan selama enam tahun terakhir ini.
“Bapak dapat semua bukti ini dari mana?” tanya Birma kembali menoleh pada bosnya itu, penasaran akan asal usul dokumen palsu di tangannya saat ini.
“Tidak penting saya tahu semua itu dari mana. Yang saya butuhkan saat ini adalah penjelasan kamu dan juga pertanggung jawabannya. Lima belas miliyar, bukanlah jumlah yang kecil, Birma dan kamu tahu itu. Meskipun kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri, tapi untuk hal ini...” Kembali Pak Mario menggelengkan kepalanya. “Maaf, tapi saya sudah benar-benar kecewa terhadap kamu.”
“Tapi saya tidak melakukan itu, Pak! Jangankan 15 miliyar, seribu pun tidak pernah saya mengambilnya jika itu bukan hak saya.” Sanggah Birma dengan cepat.
“Kalau memang seperti itu, saya tunggu bukti-buktinya dalam waktu satu minggu ini. Jika tidak, maka dengan terpaksa saya akan menyeret kamu ke dalam penjara.”
Birma tidak bisa mempercayai ini, tuduhan yang di tujukan memang lengkap dengan bukti, tapi sungguh ia tidak melakukan itu, dua minggu dirinya mengambil cuti kerja yang niatnya akan bulan madu saat itu nyatanya malah menjadi kesempatan orang lain untuk menjatuhkannya, dan sampai saat ini pun Birma belum mengetahui siapa dalang di balik semua ini.
Kabar mengenai penggelapan dana pun bukan baru saat ini saja Birma dengar, karena sejak masuk pun kabar itu sudah sampai di telinganya, tapi Birma masih bersikap tenang, sambil mencari dalang di balik tuduhan yang menjurus padanya. Namun siapa yang menyangka bahwa kasus ini akan lebih cepat berkembang, dengan bukti yang bahkan tidak dapat dirinya elakkan. Siapa sebenarnya yang mencoba menjatuhkannya? Apa tujuan orang itu, dan mengapa seseorang itu melakukannya? Birma mengacak rambutnya frustrasi, ia tidak pernah menyinggung siapa pun, lalu mengapa ada orang yang begitu tega mendorongnya dari belakang?
“Bapak baik-baik saja ‘kan?” Cella yang sejak tadi memperhatikan atasannya itu, meringis iba. Selama ini Cella jelas tahu bahwa Birma adalah atasan yang bertanggung jawab pada pekerjaan, ulet dan tidak mungkin melakukan hal sekotor ini demi mendapatkan uang, karena bagaimanapun keluarga istrinya adalah pengusaha sukses semua, bahkan perusahaan yang di tinggalinya saat ini belum ada apa-apanya di bandingkan dengan perusahaan milik mertua Birma itu. Namun siapa yang menyangka bahwa kelicikan ini malah menimpa laki-laki tampan yang saat ini tengah di pusingkan dengan kasus yang sama sekali tidak pria itu lakukan.
Cella menepuk pundak Birma dua kali, untuk setidaknya menyalurkan kekuatan. “Bapak yang sabar, mungkin ini memang ujian yang harus Bapak jalani. Saya percaya, Bapak tidak bersalah. Jadi, jangan terlalu bersedih, Pak, mari kita cari kebenarannya sama-sama.” Ujar Cella diiringi dengan senyum sebagai dukungan pada bos kesayangannya itu.
“Bapak tidak perlu khawatir, saya bersedia tutup mulut untuk Bapak.” Potong Cella cepat, lalu mengacungkan jari tengah dan telunjuknya yang di tautkan. Birma sekali lagi mengulas senyum, dan mengucapkan terima kasih sebelum kemudian membiarkan sekretarisnya itu kembali ke meja kerjanya.
🍒🍒🍒
“Udah kayak gini lo baru nyari pengacara, kemarin ngapain aja?” Rapa memutar bola matanya jengah pada sang adik ipar yang saat ini terlihat kacau, duduk di hadapannya sambil menyesap kopi yang baru saja di pesan.
“Gue awalnya ngira bahwa itu hanya kesalahan, dan dapat gue selesaikan sendiri. Siapa yang menyangka bahwa kasusnya malah semakin serius seperti ini? Dan sialnya semua bukti menjurus pada gue. Sedangkan gue sendiri gak sama sekali tahu ke mana uang itu pergi.” Entah sudah berapa banyak untuk hari ini Birma mengeluarkan helaan napas lelahnya.
“Pakai pengacara Ayah aja gimana?” usul Rapa setelah beberapa saat berpikir.
Dengan cepat Birma menggelengkan kepala. “Lo gila, itu sama aja kita ngasih tau Ayah mengenai masalah gue. Gak Bang, gue gak mau ngerepotin banyak orang!” Birma kembali menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak usulan kakak iparnya itu. “Semakin banyak orang yang tahu malah semakin luas juga kesempatan Clara mengetahui masalah ini. Istri gue lagi hamil, Bang, dia gak boleh panik, apa lagi sampai kepikiran.” Suara Birma berubah lirih, tidak tahu bagaimana nasib anak dan istrinya jika mendengar kabar ini.
“Ayah bisa tutup mulut, Bir. Ayah juga gak akan mau sampai Bunda tahu, bisa jantungan Emak gue nanti!” Rapa memberikan delikan pada adik ipar di depannya itu. “Lagi pula kita tidak bisa menangani ini sendirian, apa lagi dengan waktu satu minggu. Emang lo siap masuk penjara?” tanya Rapa menaikan sebelah alisnya. Tentu saja Birma menggelengkan kepala. Bagaimanapun juga mana mungkin seseorang mau di tahan di saat tidak melakukan kesalahan? Jangankan yang tidak bersalah, yang salah saja sudah tidak ingin masuk ke dalam jeruji besi.
“Tapi gue gak mau ngerepotin siapa pun,” cicit Birma pelan.
“Terus kenapa lo ngerepotin gue?” tanya bengis Rapa.
“Karena lo spesial,” jawab Birma dengan kekehan kecilnya, sebelum kembali pada raut seriusnya “Tapi benaran, Bang gue gak bisa terus-terusan ngerepotin keluarga lo. Sebenarnya gue juga gak mau ngelibatin lo, tapi mau bagaimana lagi, cuma lo yang gue punya sebagai kakak. Orang tua gue mana bisa bantu, yang ada begitu dengar anaknya kena kasus korupsi aja mereka sudah serangan jantung mendadak.”
Rapa cukup mengerti dengan apa yang di ucapkan adik iparnya itu, karena bagaimanapun, Rapa akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Birma saat ini. Memangnya anak mana yang ingin merepotkan orang tuanya? Jika pun ada, itu berarti anak yang tidak tahu diri, dan jelas bahwa itu bukanlah Rapa orangnya.
“Sejak lo nikahin bagian dari keluarga kami, itu artinya lo juga sudah masuk menjadi bagian dari kami, Bir. Lo gak perlu sungkan, kalau memang gue bisa, pasti gue bantu, begitu juga dengan Ayah. Bapak gue mana mungkin ngebiarin anggota keluarganya kesusahan, apa lagi lo menantunya, suami dari Clara, yang tak lain adalah anak kesayangannya, beliau akan lebih marah jika tahu-tahu lo nelantarin anaknya demi masuk penjara.”
“Ta...”
“Udah, mending sekarang lo pulang, pikirin tawaran gue dan besok pagi gue tunggu keputusan lo. Ingat Bir, kita gak punya waktu banyak.” Potong Rapa untuk mengingatkan, lalu bangkit dari duduknya setelah menyeruput tegukan terakhir kopinya, lalu meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi.
“Gue balik duluan, kangen istri.” Pamit Rapa seraya menepuk pudak adik iparnya itu, lalu melangkah pergi meninggalkan Birma yang hanya memberikan anggukan kecil.
Sekepergiannya Rapa, Birma tidak langsung bangkit dari posisinya semula, ia masih terus memikirkan mengenai usulan abang iparnya itu, karena bagaimanapun kasus yang di alaminya ini bukanlah kasus yang sederhana, tapi Birma masih saja merasa enggan meminta bantuan dari keluarga istrinya. Bukan karena tidak percaya, melainkan Birma terlalu malu dan segan pada keluarga dari Clara yang selama ini sudah dirinya repotkan.
Namun sejujurnya pun Birma tidak bisa menangani ini seorang diri, apalagi tuduhan yang dirinya dapatkan sudah terlampau serius, dengan bukti yang menyatakan dirinya memang bersalah. Mengelak sekukuh apa pun pengadilan tidak akan mendengarkannya jika tidak ada bukti yang kuat.
Berlama-lama berpikir nyatanya membuat kepala Birma di serang rasa sakit yang luar biasa, maka memilih untuk bangkit dan pulang adalah tujuannya saat ini. Birma juga merindukan istrinya di rumah, merindukan anak dalam perut Clara, dan semoga saja dirinya pulang di sambut dengan senyum cantik istrinya, karena jujur saja, ia belum siap jika harus menghadapi sikap menyebalkan Clara, meskipun sebenarnya ia rindu beradu argumen dengan kesayangannya itu, becanda dan saling mengejek. Birma rindu, tapi keadaannya kini sedang tidak mendukung suasana hatinya, dan ia takut emosinya tidak terkendali, yang berakhir dengan menyakiti istrinya. Birma tidak ingin itu sampai terjadi.
***
TBC