
“Kamu kok belum siap-siap?” heran Birma saat istrinya masih anteng dengan piyama tidurnya di pagi senin yang mana aktivitas kembali mulai di jalankan.
“Siap-siap apa?” balik Clara bertanya, pura-pura bingung dengan yang di maksud suaminya.
“Kamu gak kerja?” kembali Birma bertanya, seraya duduk di meja makan.
“Enggak.” Jawab singkat Clara, lalu berjalan kembali menuju kompor mengambil sayur yang baru saja matang.
“Libur?” Clara mengedikan bahunya, sementara Birma mengingat-ingat tanggal hari ini, ia merasa ini bukanlah tanggal merah, dan lagi sang papi bukanlah tipe orang yang memberi libur di tanggal seperti itu, karena supermarket biasanya lebih ramai dari hari-hari biasanya.
“Atau kamu mau cek kandungan?” Birma lagi-lagi bertanya, sambil mengingat-ingat di dalam kepalanya mengenai alasan apa yang membuat istrinya tidak masuk kerja. Itu tidak biasanya, karena Clara adalah tipe orang yang tidak ingin bolos jika tidak ada kepentingan atau sakit.
“Kamu makan aja deh, nanti keburu kesiangan, jalanan macet. Meskipun kerja di kantor Ayah, tetap aja kamu itu harus disiplin. Ayah Pandu gak suka orang yang tidak kompeten.” Ujar Clara menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang di layangkan suaminya, pusing juga mendengar kebawelan pria kesayangannya itu.
Birma menurut, dan menghabiskan makanannya, sarapan kali ini di isi dengan obrolan-obrolan kecil yang tidak penting juga pemberitahuan pada Clara mengenai kesibukan Birma yang cukup menyita waktu, hingga tidak bisa menemani wanita itu makan siang seperti biasanya.
Satu lagi keanehan yang Birma temukan, tidak biasanya sang istri mengangguk paham begitu saja layaknya anak anjing yang terlatih, karena biasanya, Clara akan melayangkan protesan atau setidaknya wajah cemberut dan rengekannya.
Mengabaikan keanehan Clara yang tidak biasanya itu, Birma memilih untuk segera berangkat ke kantor sebelum hari semakin siang dan jalanan semakin macet. Pagi ini ada meeting yang harus di hadiri, Birma tidak ingin terlambat datang, dan mengecewakan mertuanya yang sudah berbaik hati mempercayakan pekerjaan ini.
“Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa kabari aku jangan lupa.” Pesan Birma seraya melayangkan kecupan di kening istrinya itu.
“Kamu hati-hati di jalannya, jangan lupa hubungi aku kalau udah sampai. Ingat jangan genit-genit. Awas juga kalau nemuin masa lalu kamu itu!” selalu saja ada ancaman setelahnya.
“Iya sayang.” Ujar Birma dengan senyum terukir di bibirnya, senang dengan keposesifan istri tercintanya itu.
Satu kecupan di bibir Clara , Birma berikan, setelahnya ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari pelataran rumah, meninggalkan Clara yang masih berdiri menunggu kepergiannya dengan lambayan tangan dan senyum manis memabukan.
“Tumben banget pagi gue normal kayak gini.” Gumamnya setelah mobil Birma hilang di balik pagar yang kembali di tutup pak satpam.
🍒🍒🍒
“Mbak ruangan Pak Birma di lantai berapa?” tanya seorang perempuan cantik dengan tubuh seksinya. Berdiri anggun di depan meja resepsionis.
“Maaf dengan ibu siapa?” tanya si resepsionis dengan sopan.
“Saya istrinya Pak Birma.” Akunya yang tentu saja tidak resepsionis itu percayai, pasalnya semua orang tahu anak pemilik perusahaanlah yang menjadi istri dari manejer baru mereka.
“Maaf ibu, silahkan pergi.” Usir resepsionis itu tanpa menghilangkan keramahannya.
“Saya ke sini mau ketemu suami saya, enak aja lo main ngusir gue!” deliknya kesal. “Cuma tinggal bilang di lantai berapa ruangannya, susah amat sih, lo.” Lanjutnya mendengus malas.
“Maaf ibu, orang yang tidak berkepentingan tidak diizinkan masuk.”
Wanita cantik yang tak lain Cella itu membulatkan matanya tak terima. “Gue istrinya Birma, dan lo bilang gue gak berkepentingan?” Cella menggelengkan kepala tak habis pikir. "Gue datang ke sini karena permintaannya!”
Si resepsionis dengan name tag Nirmala itu memanggil satpam dan meminta untuk membawa wanita yang di anggap gila itu ke luar, beberapa orang yang kebetulan melintas menyaksikan dengan penasaran, termasuk Dinda yang ternyata mendengar apa yang di katakan wanita tidak di kenal yang mengaku-ngaku istri Birma.
Berjalan menghampiri, Dinda berdiri di hadapan Cella yang masih berontak berusaha melepaskan diri dari dua orang satpam yang mencoba menyeretnya pergi.
“Pak satpam lepasin, dong, nanti tangan saya copot, Pak. Udah sakit nih.” Ujar Cella dengan rengekannya.
“Jangan bikin kegaduhan, Mbak, ini kantor.” Kata salah satu satpam yang memegang tangan kiri Cella.
“Ya siapa juga yang bilang kalau ini diskotik, Pak.” Cella memutar bola matanya malas.
Cella menghela napasnya lega, lalu mengurut tangannya yang cukup sakit akibat tarikan dari kedua satpam menyebalkan itu. Tidak lupa, Cella mengucapkan terima kasih pada perempuan di depannya yang telah membantunya terlepas dari cengkraman yang hampir mematahkan tulang tangannya.
“Kalau sampai terjadi sesuatu sama kehamilan gue, tanggung jawab lo berdua!” Cella mengacungkan telunjukanya pada dua satpam itu dengan tatapan mengancam.
Mendengar itu, Dinda dan kedua satpam serta orang yang berkerumun disana menoleh pada purut Cella yang memang sedikit buncit di balik dress sexi yang mencetak bentuk tubuhnya.
Wajah Dinda memucat, ia masih ingat perempuan itu mengaku istri dari Birma, dan ia yakin Birma yang perempuan itu maksud adalah Birma yang dirinya kenal. Tidak ada lagi nama Birma di kantor ini selain suami dari anak si pemilik perusahaan, sekaligus laki-laki yang sudah sejak lama Dinda cintai.
“Sekarang kasih tahu gue, dimana ruangan Pak Birma!” ketus Cella yang kesal karena di permalukan.
Diam-diam si resepsionis menghubungi ruangan Birma dan menyampaikan keributan yang ada, sementara semua orang yang menyaksikan saling berbisik, tidak menyangka akan menejer barunya yang di anggap selingkuh dan tidak bersyukur memiliki istri secantik dan sekaya Clara.
“Mbak jangan ngaku-ngaku, semua orang disini tahu siapa istri Pak Birma. Dan itu bukan Anda.” Ujar Dinda sinis. Cella hanya memutar bola matanya, tidak menanggapi celotehan perempuan asing di depannya itu.
Cella kini hanya memikirkan bagaimana cara menghubungi Clara dan Birma agar turun untuk menyelamatkan dirinya dari situasi memalukan ini. Ponselnya kehabisan daya dan itu membuatnya sial.
“Lebih baik, Mbak pulang. Jangan mengganggu rumah tangga orang, Mbak, gak baik.”
“Heleh, sok-sokan nasihatin orang, dirinya sendiri nyatanya gak lebih baik. Perlu gue beliin kaca?” cibir Clara mengejutkan Dinda yang tidak sama sekali menyadari kedatanganya. Dan itu pun membungkam mulut semua orang yang berkerumun saling berbisik.
“Ada apa ini?” tanya heran Birma menerobos kerumunan. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Pak Bir,” panggil Cella dengan nada manjanya, merentangkan tangan meminta untuk di peluk, tapi Clara lebih dulu menepisnya, seraya melayangkan tatapan membunuhnya seperti biasa. Sedangkan Cella hanya mencebikan bibirnya.
“Ada apa ribut-ribut?” ulang Birma saat tidak ada satu pun yang membuka suara, namun tidak juga bergerak membubarkan diri.
“Ini Pak, perempuan ini bikin keributan,” adu salah satu resepsionis.
“Cell?” kini Birma menoleh pada wanita di depannya.
“Mana ada bikin keributan, merekanya aja yang mau nyeret saya.” Cella mengerucutkan bibirnya, masih kesal karena di permalukan.
“Gimana ceritanya?” Clara yang kali ini bertanya, mengerutkan kening menatap mantan sekretaris suaminya di perusahaan yang dulu.
“Gue cuma nanya ruangannya Pak Birma, eh malah di usir. Di kira gue gak ada kepentingan. Lah, buat apa gue datang kalau gak lo minta.” Cella menjelaskan masih dengan kekesalannya. Melayangkan delikan pada satpam dan resepsionis yang tadi mengusirnya.
“Ibu itu mengaku istri Pak Birma, maka dari itu kami usir.” Sahut si resepsionis yang tidak terima di salahkan.
Pletak.
Satu jitakan Clara layangkan di kening Cella, membuat wanita itu mengaduh, dan melayangkan tatapan protesnya. “Pantes aja lo di usir. Be*o masih aja lo pelihara.” Clara berdecak tak habis pikir, sahabat sekaligus mantan sekretaris suaminya itu masih saja tidak berubah.
“Salahnya gue dimana coba? Kan emang iya gue istri mudanya Pak Birma. Iya gak pak, Bir?” kedipan genit Cella layangkan ke arah Birma yang berdiri di samping istrinya. Laki-laki itu tidak membantah tidak juga mengiyakan, membuat semua orang termasuk Dinda semakin di buat penasaran.
“Godain laki gue lagi gue tendang lo, Cell!” ancam Clara, yang sama sekali tidak Cella hiraukan. Perempuan itu malah menggandeng Birma dan melangkah pergi meninggalkan kerumunan, juga meninggalkan tanda tanya semua orang yang menyaksikan.
“Laki gue, Cella!” teriak Clara menghentakan kakinya kesal, lalu melangkah cepat menyusul dua orang itu.
“Laki gue juga ini.” Cella menjulurkan lidah pada Clara. Tangannya masih menggandeng Birma menunggu lift terbuka, dan Clara yang lebih dulu sampai sebelum kotak besi itu terbuka langsung melayangkan jambakkannya, dan adu mulut terjadi setelahnya.
Birma yang sudah lama tidak menyaksikan ini, tidak berniat memisahkan keduanya. Biarlah, toh nanti juga akan akur dengan sendirinya.
Sementara semua orang yang sejak tadi menyaksikan saling menoleh penasaran, hingga kotak besi itu kembali tertutup dan pemandangan menarik tak lagi dapat mereka nikmati.