Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 20



Sejak sampai di rumah, Birma terlihat begitu lesu membuat Clara mengernyit bingung, karena tidak biasanya laki-laki yang sudah hidup bersamanya selama empat tahu belakangan ini tidak berkicau seperti biasanya, tidak ada lagi yang merecokinya ketika memasak untuk makan malam, tidak ada keusilan dan tidak ada gombalan receh yang kadang tingkahnya membuat Clara kesal.


Laki-laki itu lebih pendiam, bahkan saat makan malam pun terlihat tidak berminat. Nasi di piringnya hanya di aduk tanpa ada satu pun suapan yang masuk pada mulutnya. Clara yang bertanya hanya di jawab dengan gelengan, menambah keheranan Clara. Kesal juga karena merasa di abaikan, tapi melihat mood suaminya yang kurang bagus, membuat Clara urung untuk mengganggu pria itu. Membiarkan suaminya sendiri menjadi pilihan Clara, karena bagaimanapun setiap orang pasti membutuhkan waktunya sendiri, begitu juga dengan Birma saat ini.


Namun rasa penasaran terus mengganggu Clara yang saat ini masih saja tidak bisa memejamkan matanya, walau rasa kantuk sudah menyerang, Clara terlalu penasaran, lebih tepatnya ia khawatir pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, Clara akhirnya mengguncang pelan tubuh suaminya yang ternyata juga belum tertidur.


“Kamu nangis?” tanya Clara yang terkejut begitu melihat air mata menetes dari sudut mata suaminya.


“Aku gak nangis,” kilah Birma menyeka bulir bening itu seraya menggeleng.


“Kamu kalau mau bohong yang pinter dong!” Clara memutar bola matanya lalu memicing, menatap suami tampannya yang kini sudah ikut duduk. “Kenapa nangis?” tanya Clara lagi, menatap galak suaminya. Gelengan kepala yang Birma berikan di balas dengusan kesal oleh Clara. “Jangan kayak bocah deh! Bilang sama aku kenapa nangis? Gak biasanya loh kamu seperti ini, Yang?”


“Aku gak apa-apa say...”


“Birma, Please kamu itu laki-laki, seorang suami, calon ayah juga, jangan kayak anak kecil gini bisa gak sih?!” geram Clara yang sudah gatal ingin mengacak wajah tampan suaminya.


“Aku pengen makan sea food,” cicit Birma pelan.


“Apa Bir, coba ulangi?” tanya Clara untuk lebih memastikan bahwa dirinya memang tidak salah mendengar.


“Aku pengen makan sea food.” Ulang Birma masih dengan suara pelan, terdengar malu.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik ...


Tawa Clara keluar begitu lepasnya, bahkan ibu hamil itu sampai memegangi perutnya, karena sedikit sakit akibat guncangan dari tawanya, air mata ikut menetes, lalu menggelengkan kepala menatap suaminya itu dengan raut wajah tak percaya. “Kamu nangis cuma gara-gara pengen makan sea food?” tanya Clara yang kemudian kembali tertawa. Birma mengangguk dengan polosnya.


“Astaga Birma sayang, aku gak nyangka loh kamu sampai nangis seperti ini,” Clara menyeka sudut matanya yang sedikit berair.


“Kamu gak ngerti, Cla. Ak...”


“Oke, aku mengerti, ini karena masa ngidam kamu, tapi apa harus sampai abaikan aku sejak sore tadi? Apa harus juga nangis? Kamu kalau mau makan itu tinggal beli apa sulitnya sih, sayang? Lagi pula tadi sore aku juga nyuruh kamu beli ‘kan?” gemas, Clara menguyel pipi suaminya yang masih saja cemberut.


“Aku pengen ada teman makannya, Cla, sementara kamu baru datang ke tempatnya aja udah mual-mual. Sebelum makan malam tadi aku juga udah ajak Bang Rapa, tapi dia nolak.”


Clara menghentikan tawanya, gurat geli hilang begitu saja, di gantikan dengan rasa bersalahnya. Apa lagi saat nada sedih itu terdengar jelas, begitupun dengan raut wajah pria kesayangannya itu. “Maaf.” Sesal Clara memeluk seuaminya. Kini Clara tahu bahwa tidak hanya ibu hamil yang merasakan perubahan mood dan lebih sensitif, karena calon ayah si bayi pun nyatanya bisa merasakan itu, dan Clara tidak pernah menyangka bahwa semua yang seharusnya di alaminya malah di rasakan oleh suaminya.


“Kita makan sea food sekarang aja, gimana? Aku temani.” Usul Clara mengembangkan senyumnya.


“Kamu 'kan gak tahan baunya, nanti mual lagi.”


Membanarkan apa yang di katakan suaminya, Clara memutar otak, berpikir, hingga tak lama kemudian ia meraih ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjangnya. Jam masih menunjukan pukul sepuluh malam, Clara berharap bahwa orang di rumah belum tidur, jika pun sudah, maka dengan paksa Clara akan membangunkan mereka dan meminta siapa pun itu untuk menemani Birma makan makanan laut yang sepertinya memang benar-benar suaminya inginkan, mengingat air mata yang sukses laki-laki itu keluarkan.


Berhasil!


“Hallo, ada apa telepon malam-malam gini?”


“Abang belum tidur ‘kan?” tanya Clara pada seseorang di seberang sana yang dari suaranya sudah dapat Clara tebak itu Cleona, sang kakak ipar.


“Belum, kenapa memangnya, Tu?”


“Sip kebetulan!” seru Clara gembira. “Bilang sama abang, temani laki gue makan sea food sekarang.”


“What? Ini udah malam, Ratu!” teriakan Rapa terdengan dari seberang telepon.


“Baru jam sepuluh,” Clara menoleh pada jam yang menempel di dinding kamarnya. “Pokoknya gue gak mau tahu, abang harus temani Birma makan sea food malam ini juga. Sekarang kita kita otw ke sana, abang siap-siap aja.”


“Ta...”


Tut.


Tanpa mau mendengarkan protesan dari kakaknya, Clara langsung menutup sambungan telepon dan turun dari tempat tidurnya, meraih jaket untuk dirinya juga Birma, setelah itu mengambil kunci mobil dan menarik suaminya yang masih terlihat lesu untuk segera pergi.


Birma sebenarnya tidak enak jika harus mengganggu keluarga istrinya malam-malam seperti ini, tapi keinginannya sejak sore tadi nyatanya tidak dapat Birma abaikan. Apa yang di katakan istrinya tadi memang benar, dirinya tidak harus sampai menangis, banyak orang yang bisa dirinya hubungi selain Rapa.


Namun entahlah, Birma merasa tak mampu, ia sungkan untuk mengganggu orang lain hanya demi menuruti ngidamnya. Birma sendiri pun tidak mengerti mengapa ia menangis, karena yang jelas air mata itu menetes dengan sendirinya tanpa bisa Birma tahan. Bayangan olahan kepiting, udang, kerang dan teman-temannya yang lain seolah menari-nari dalam bayangannya, memintanya untuk segera melahap mereka, tapi begitu mendapati pesan balasan dari sang kakak ipar yang menyatakan bahwa Rapa tidak ingin menemaninya, membuat Birma sedih, ia begitu kecewa hanya gara-gara hal sepele seperti itu. Itu lah yang sebenarnya membuat air matanya menetes. Birma tidak menyangka bahwa dirinya akan jadi sesensitif itu.


Birma rasanya ingin memaki diri sendiri yang berubah cengeng seperti layaknya perempuan, tapi itu tidak Birma lakukan karena sadar bahwa yang di alaminya karena perubahan hormon kehamilan Clara, apa yang di rasakannya adalah keinginan anak dalam perut istrinya. Memaki, itu sama saja Birma menyalahkan bayinya sendiri.


“Daddy tahu ini adalah bentuk rasa sayang kamu terhadap Daddy, Nak. Daddy tidak akan mengeluh, dan Daddy akan berusaha untuk menuruti semua keinginan kamu. sehat-sehat di perut Mommy. Daddy menyayangimu.” Gumam Birma sambil mengelus lembut perut Clara yang tertidur di jok sampingnya.


***


TBC