Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 33



Tiba pada saatnya kebenaran Birma ungkapkan di depan semua orang yang mendapatkan undangannya kemarin. Sejak dua jam lalu mereka berada di ruang meeting membahas mengenai kasus penggelapan dana yang di tuduhkan pada Birma, kini orang-orang yang menjatuhkannya itu di bungkam oleh bukti yang Birma miliki dari hasil penyelidikan orang-orang keparcayaan Pandu.


Sebenarnya ayah mertuanya itu mengusulkan semua ini di bongkar di depan pengadilan, tapi sebagai manusia yang masih peduli akan sesama, Birma memilih untuk mengambil langkah ini, ia hanya ingin berdamai dengan orang-orang yang menjatuhkannya, sementara untuk urusan dana, biarlah petinggi perusahaan yang memutuskan, meskipun Birma yakin bahwa jalur hukum yang tetap bos besar ambil. Birma tidak peduli dengan itu, karena sejak awal yang dirinya perjuangkan adalah nama baiknya, harga dirinya dan menghilangkan tuduhan yang menjurus padanya.


Keluar dari ruang meeting, Birma menghela napasnya lega, senyum terukir sempurna apa lagi saat melihat kehadiran istrinya yang saat ini sudah berdiri di tengah-tengah ruangannya dengan senyum yang terukir manis, selalu berhasil membuat jantung Birma berdetak dengan tak semestinya.


“Bagaimana, apa sudah selesai?” tanya Clara menganyunkan langkah mendekati suaminya yang masih berdiri di ambang pintu.


“Su…”


“Pak Birma apa kita bisa bicara?” satu suara dari belakangnya menghentikan suara Birma yang hendak menjawab istrinya. Menoleh, dan mendapati Pak Mario bersama sekertaris pria tua itu. Birma mengangguk, dan menggeserkan tubuhnya untuk memberi jalan pada bosnya itu untuk masuk.


“Ah kebetulan, ada Bu Clara juga. Boleh saya berbicara dengan kalian berdua?” Pak Mario mengulas senyum formalnya saat menemukan Clara di ruangan Birma.


“Tentu, mari silahkan.” Clara membalas senyum atasan dari suaminya, lalu mempersilahkan laki-laki tua itu untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Birma, di ikuti sekertaris Pak Mario dan Birma di belakangnya. Cella yang baru saja kembali dari panty dengan segelas jus mangga permintaan ibu hamil, segera meletakan gelas itu di mejanya, lalu kembali melangkah menuju pantry lagi, membuatkan kopi untuk tamu Birma.


Menjadi sekertaris nyatanya memang sudah seperti pembantu, dan Cella sendiri bingung kenapa dirinya begitu menyukai profesinya ini, di tambah dengan Birma yang menjadi atasannya. Tapi … Cella menghela napas pelan, raut wajahnya tiba-tiba sedih mengingat bahwa mungkin ini adalah hari terakhir pria kesayangannya itu berada di kantor ini.


🍒🍒🍒


“Meskipun sebenarnya saya berat melepaskan kamu, tapi saya tetap harus menghargai keputusan kamu. Terima kasih sudah membantu perusahaan saya hingga berada di titik ini, dan mohon maaf atas kesalahan saya yang sempat tidak mempercayai kamu.” Pak Mario menunduk, menyesal. Sedangkan Birma hanya mengulas senyum dan menepuk bahu laki-laki tua yang duduk di sebelahnya itu, sebelum kemudian memberikan pelukan hangat sebagai tanda terima kasih, dan salam perpisahan kedua laki-laki itu lakukan.


Birma pun sebenarnya berat meninggalkan perusahaan yang sudah mengajarkannya banyak hal, menjadikan dirinya yang semula tidak tahu apa-apa menjadi tahu dan paham segala hal dalam berbinis. Namun kesepakatan tetap harus Birma jalankan, itu pun sebagai bentuk terima kasih pada sang ayah mertua yang sudah berhasil membantunya mengembalikan nama baik di perusahaan dan di mata orang-orang yang menjadi rekannya.


Bruk.


“hiks … hiks … Pak Bir, jangan pergi.”


Birma benar-benar terkejut dan tubuhnya hampir saja tersungkur ke lantai saat mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Cella. Birma memang mengantar Pak Mario hingga pria tua itu masuk ke dalam lift, sementara Clara di biarkan menunggu di ruangannya bersama Cella, dan siapa sangka bahwa dirinya akan langsung di terjang oleh sekretarisnya dengan pelukan erat.


Tentu saja Clara pun ikut terkejut, terlebih saat sadar bahwa suaminya di terjang kucing liar, membuat wanita hamil itu mengepalkan tangannya, dan dengan segera manarik Cella agar melepaskan pelukannya dari tubuh Birma. Sumpah serapah sudah Clara layangkan, bahkan jambakan wanita hamil itu berikan, tapi itu tidak sama sekali berhasil menghentikan Cella. Sementara Birma yang awalnya terkejut dan berniat melepaskan pelukan sekertarisnya, berakhir tertawa geli menyaksikan kedua perempuan yang saat ini tengah memperebutkannya.


Bukan, Birma bukannya senang menjadi rebutan, hanya saja kekesalah istrinya adalah hal yang menarik untuk di saksikan saat ini, sudah lama ia tidak mendapatkan tontonan seperti sekarang, dimana tingkah bar-bar Clara muncul dengan menggemaskannya, tentunya itu menggemaskan di mata Birma, entah di mata orang lain.


“Lepasin laki gue, Cellaram!” teriak Clara sambil menarik tangan Cella yang melingkar di pinggang Birma.


Kegaduhan itu membuat beberapa orang datang dan menyaksikan mereka, salahkan Cella yang langsung menerjang Birma di saat laki-laki itu belum sepenuhnya masuk ke dalam ruangannya.


Bisikan-bisikan terdengar, tapi sama sekali tidak mereka hiraukan. Birma masih bertahan dengan tawa gelinya, Cella yang mempertahankan pelukannya dan Clara yang terus berusaha menyingkirkan hama dari suaminya. Hingga lelah itu Clara rasakan, dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu, memulihkan tenaganya untuk kembali memberi hukuman pada Cella yang sudah berani menyentuh suaminya.


Tapi sebelum melangkan menuju sofa, Clara tidak lupa memberikan jambakan di rambut panjang sekertaris sialan suaminya itu.


“Awas lo, Cell kalau tenaga gue udah pulih, gue tendang lo sampai jatuh ke lantai paling bawah.” ujar Clara dengan delikan tajamnya, Cella hanya mencebikkan bibir ke arah Clara, dan melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Birma, lalu menyusul wanita hamil itu untuk duduk di sofa yang sama.


Satu per satu membubarkan diri, setelah memberikan gelengan kepala dan memaklumi tingkah mereka, sudah biasa memang, dan ini terjadi bukan untuk pertama kalinya. Sekertaris genit dan istri galaknya memang sudah terkenal di penjuru kantor, dan tidak semua orang memiliki pikiran terbuka, bermacam-macam gosip Birma dengar mengenai dirinya dan Cella, tapi itu sama sekali tidak membuat Birma maupun Cella terganggu, apa lagi Clara yang bahkan sering kali bertingkah seolah gosip itu memang benar adanya. Mereka tidak peduli anggapan orang, karena pada dasarnya semua orang memang tidak mengetahui bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Clara maupun Cella tidak suka membungkam mulut orang-orang untuk berhenti bergosip. Jadi biarkan saja.


“Mulai besok mereka gak akan melihat hal seperti ini lagi,” ucap Clara yang kini bersandar di pundak Cella yang duduk di sampingnya.


“Gue gak rela kesayangan gue pergi, hiks.” Cella menyeka sudut matanya yang mengeluarkan setetes embun.


“Gue juga gak rela kehilangan teman berantem gue,” Clara menyahuti dengan suara lirih, karena kesedihan itu nyatanya memang ada. Clara mengakui bahwa dirinya pasti akan merindukan sekertaris suaminya yang genit dan tidak tahu diri itu.


“Gue bakalan kangen omelannya, suruhannya, dan segala macam tentangnya, ah andai kasus ini gak ada, pasti Pak Birma gak akan meninggalkan kantor ini.” Desahan pelan Cella keluarkan, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap Birma yang duduk beseberangan.


“Gue juga bakalan kangen nyuruh lo, Cell, kangen bikin lo iri, berdebat sama lo dan gue pasti akan kangen nindas lo,” lagi-lagi Clara menyahuti, dan untuk kali ini Cella melayangkan toyoran di kening istri dari mantan bosnya itu.


“Gue kangennya sama Pak Birma, bukan lo, dedemit!” delik Cella seraya menyingkirkan kepala Clara dari pundaknya.


“Bodo amat, yang penting gue bakalan kangen sama lo.” Ujar Clara.


“Eh Cellaram, kenapa gak lo ikut pindah aja, jadi sekertaris laki gue lagi di kantor barunya?”


Usulan Clara memang ada benarnya, dan itu cukup menggiurkan, tapi … Cella menggelengkan kepala dengan lesu. “Gue gak bisa,” cicitnya pelan.


“Kenapa?” Birma da Clara bertanya bersamaan.


“Mau resign, gue. Mas Bram tersayang udah pengen gue jadi ratu di rumah, yang akan mengurus dia dan anak-anaknya ….”


“Setuju! Saya sependapat dengan suami kamu, lebih baik kamu resign, urus suami sama anak di rumah dan tunggu suami pulang kerja. Ongkang-ongkang kaki sambil menikmati hasil jerih payah suami, kurang enak apa coba? Kamu memang harus nurut sama suami kamu Cell, jangan kayak yang di sebelah … keras kepala.” Birma melirik istri cantiknya, lalu memberikan delikan pada wanita hamil itu yang melayangkan tatapan protes.


“Kamu nyindir aku?”


“Kamu ngerasa?”


Kedunya saling melemparkan tatapan penuh permusuhan, dan Cella hanya jadi penonton yang berada di tengah-tengah kedua lawan.


“Berantem ayok berantem,” kompor Cella dengan kegirangan. “Kalau berakhir di pengadilankan Pak Birma bisa jadi suami mudanya saya.” Kedipan genit tak lupa Cella layangkan.


Peletak.


Panas dan berdenyut itu lah yang Cella rasakan dari jitakan kuat wanita di sampingnya, Clara memang tak pernah main-main dengan kekerasan.


“Mau gue matiin lo, heh!”