Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 37



Cleona, Rapa juga Leo tertawa begitu kencangnya saat mendengar cerita dari Clara yang mengatakan alasan di tekuknya wajah Birma. Sejak pulang dari bekerja, Clara memang langsung ke rumah orang tuanya, dan Birma menyusul. Bukan tanpa alasan mereka datang, tapi atas undangan si nyonya rumah yang katanya ingin makan malam dengan para anak dan menantu, sekaligus juga memberi sambutan untuk Birma yang akhirnya bergabung dengan perusahaan keluarga.


Sejak semalam Birma memang sudah menekuk wajahnya, akibat nafsu yang tidak tersalurkan pada tempat seharusnya. Meskipun itu di sebabkan atas kepolosannya yang sedikit mengarah pada kebodohannya sendiri, tatap saja Birma merasa sudah di permainkan oleh si cantik yang sedang mengandung anaknya itu.


Hari pertama bekerja di perusahaan ayah mertua tidak berjalan dengan baik akibat mood yang berantakan. Bercerita pada sang kakak ipar tadi siang pun nyatanya malah menambah buruk mood-nya karena di tertawakan, dan bertemu dengan Clara saat pulang kerja, kembali menaikan kekesalahnnya. Itu alasan kenapa sekarang ini Birma menjadi bahan tertawaan. Clara menceritakan mengenai alasan Birma cemberut dan mengabaikannya, di tambah dengan Rapa yang juga menceritakan bagaimana uring-uringannya Birma di kantor.


“Tenggelamkan gue di rawa-rawa Tuhan!” Birma membatin frustrasi. Malu dan merasa bodoh itu lah yang Birma rasakan. Tapi memang pada kenyataannya seperti itu. Mau bagaimana lagi, mengelak pun Birma tak bisa.


Seandainya semalam bisa cepat mencerna, sudah dapat di pastikan bahwa Birma tidak akan sebodoh ini. Padahal Birma tidak sama sekali melupakan kehamilan istrinya.


“Tanang, nanti bisa di ulang kok.” Pandu menepuk pundak menantunya itu.


Memang cuma ayah mertuanya yang memiliki jiwa kemanusiaan, yang lainnya masuk ke dalam golongan menyebalkan, termasuk istrinya yang hingga saat ini masih saja tertawa dan sesekali menatapnya dengan mengejek. Memiliki istri seperti Clara memang ujian.


🍒🍒🍒


“Udah dong jangan cemberut lagi, jelek tahu!” Clara menjawil gemas hidung suaminya, dan tak lupa memberikan kecupan singkat di bibir laki-laki di depannya itu.


Saat ini mereka sudah berada di kamar rumahnya sendiri, karena Clara memang memutuskan untuk tidak menginap. Senyaman-nyamannya rumah orang tua, tetap saja lebih nyaman rumah sendiri.


“Diam gak usah goda-goda aku.” Menepis tangan istrinya, Birma lalu membuang muka. Berusaha menahan diri untuk tidak luluh.


“Cie Daddy marah, gak malu nih sama kecebong di perut aku.” Tidak ingin menyerah, Clara mengambil tangan Birma dan meletakan di perutnya yang sedikit buncit, lalu menggerakkannya pelan hingga menciptakan sebuah elusan lembut.


Jika sudah seperti ini mana mungkin Birma tidak luluh, anak dalam perut istrinya memang kelemahan, dan panggilan Daddy yang keluar dari mulus sang istri terdengar begitu manis.


Birma tak kuasa untuk berlama-lama cemberut dan mengabaikan istrinya. Marah lama-lama pada Clara memang tidak pernah berhasil dirinya lakukan.


“Sembarangan aja manggil anak sendiri kecebong,” deliknya, lalu memberikan sentilan kecil di kening istrinya. Sedangkan wanita hamil itu hanya memberikan cengirannya.


“Kenapa sih gue bisa punya istri senyebelin lo, Cla?” tanya Birma dengan raut wajah herannya, seraya melayangkan cubitan gemas di pipi istrinya itu.


“Kamu pernah dengar, jodoh itu adalah cerminan diri? Jadi, coba kamu ngaca, kalau aku nyebelin, itu berarti karena kamunya juga nyebelin.”


“Pantas sama Dinda aku gak berjodoh, dia kalem banget abisnya.” Birma mengangguk paham, entah sadar atau tidak menyebutkan nama perempuan lain di depan istrinya, karena yang jelas, mendengar itu membuat raut wajah Clara mengeras, dan tatapannya pun berubah ganas.


Buk.


Bantingan pintu yang membuat Birma menoleh dan sudah tidak mendapati sang istri di sampingnya.


“Cla, kamu mau ke mana?” teriak Birma masih tidak menyadari kemarahan istrinya.


Meskipun mendengar, Clara tidak berniat menjawab. Kesal, tentu saja Clara rasakan, karena bagaimana pun baru pertama kali ini mendengar suaminya menyebutkan nama perempuan lain selain Cella.


Clara tidah tahu apa alasan pria itu membawa nama perempuan lain di depannya, entah hanya untuk memanasi, atau tidak sengaja terucap, yang jelas Clara cemburu.


Sejak pacarana dulu, Birma tidak pernah membahas perempuan lain di depannya dan laki-laki itu pun mengatakan bahwa tidak pernah pacaran sebelumnya. Clara adalah satu-satunya, sejak dulu hingga usia pernikahan yang hampir lima tahun berlangsung.


Namun malam ini, untuk pertama kali nama perempuan selain Cella keluar dari mulut Birma. Siapa sebenarnya Dinda? Mungkinkah ada perempuan baru yang mendekati suaminya di kantor? Tapi sepertinya tidak mungkin, karena masalah jodoh tidak akan secepat itu di bahas jika baru mengenal, lalu … apa mungkin perempuan dari masa lalu pria itu?


“Argghh, Birma sialan!” teriak Clara frustrasi.


Sulit rasanya menghilangkan sesak di dada saat ini, pikiran-pikiran yang tak semestinya ia miliki malah bergentayangan di dalam kepalanya, begitu pun dengan pertanyaan-pertayaan mengenai perempuan bernama Dinda. Siapa sebenarnya perempuan itu? Apa hubungannya dengan Birma? Dan dimana perempuan itu berada?


Clara meneguk habis air dingin dalam gelas, lalu berjalan meninggalkan dapur, beberapa saat menatap lantai dua dimana kamarnya berada, menimang, kembali atau tidaknya ia ke sana. Namun setalah beberapa menit berlalu, pada akhirnya Clara memilih untuk melangkah menuju ruang tengah, menyalakan televisi dan menata bantal-bantal sofa untuk dirinya tiduri.


Beberapa kali Clara menatap ke arah tangga, berharap suaminya itu datang menyusul, tapi; lima menit … sepuluh menit berlalu tidak juga sosok itu menampakan diri, membuat dadanya semakin sesak dan tidak terasa air mata menetes begitu saja.


Clara sadar, tidak seharusnya ia seperti ini, tidak seharusnya pikiran-pikiran negatif mengenai suaminya itu ada, dan tidak seharusnya Clara menuduh suaminya selingkuh, meskipun tuduhannya tidak di utarakan secara langsung, tapi otaknya terus melontarkan itu.


Clara tidak ingin memiliki pemikiran itu, tapi mau bagaimana lagi, otaknya tidak dapat ia hentikan, dan sangkalan di hatinya perlahan meragu.


Tidak tahu harus bagaimana jika nama itu memang ada. Clara tidak tahu harus bagaimana jika apa yang di ucapkan Birma bukan hanya gurauan untuk memanasinya, dan ia juga tidak tahu harus bagaimana jika wanita itu datang mengganggu rumah tangganya. Oke, ini terlalu jauh, tapi salahkah seorang istri berpikiran seperti itu di saat suaminya menyebutkan nama wanita lain? Clara memang lebih berhak atas Birma, pria itu suaminya, calon ayah dari anaknya, tapi bagaimana jika wanita bernama Dinda itu yang lebih di cintai Birma?


Entahlah, mengapa Clara merasa malam ini teralu banyak berpikir, tapi yang jelas perasaan tak nyaman itu mengganggu hati dan pikirannya, dan rasa takut hinggap begitu saja.


Tidak biasanya Clara terusik hanya karena nama perempuan, tidak biasanya Clara tak tenang seperti ini hanya karena suaminya menyebutkan nama perempuan lain, padahal kedekatan pria itu dengan Cella lebih harus Clara waspadai saat itu, tapi nyatanya hatinya tidak bereaksi ketika nama Cella yang Birma sebut, perasaannya tidak berontak saat dengan langsung menyaksikan Cella menggoda Birma, dan pemikiran negatif tidak pernah Clara miliki untuk kedekatan mereka.


Namun nama Dinda, mengapa tidak bisa dirinya abaikan begitu saja? Mungkinkah karena hormon kehamilannya yang tidak stabil, jadi membuatnya berlebihan? Atau … karena alasan lain?