Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 40



Dua hari sudah Birma di abaikan oleh istri tercinta. Padahal pada malam itu Birma sudah memohon untuk di beri tahu mengenai apa yang menjadi alasan Clara marah. Namun sayangnya Clara tetap bungkam, memilih abai pada setiap pertanyaan yang Birma lontarkan.


Lelah karena tidak juga mendapat jawaban, Birma pun pada akhirnya memilih untuk menyerah, membiarkan hingga istrinya bisa menceritakan sendiri tanpa harus ia memaksa.


Sayangnya Birma tidak memiliki cukup kesabaran untuk itu, ia tidak tahan saling diam, dan Birma tidak sanggup membiarkan rumah tangganya di ambang kehancuran. Birma tidak suka itu, dan ia tidak menginginkan itu.


“Sekarang kamu bilang, apa kesalahanku?” Birma langsung membuka suara begitu pintu kamar mandi di buka dari dalam, memunculkan Clara yang baru saja selesai mandi.


Pura-pura tak mendengar, Clara melanjutkan langkah menuju lemari. Dan itu membuat Birma kesal sendiri, namun sebisa mungkin ia redam agar tidak sampai kelepasan dan menyakiti istrinya.


“Aku berusaha memutar otak, mencari kesalahanku yang membuat kamu marah, aku berusaha memahami kamu beberapa hari ini. Tapi kamu tahu sendiri bukan, aku bukan laki-laki yang pandai untuk hal itu, aku gak tahu dimana letak salahku hingga membuat kamu semarah ini sampai mengabaikanku,”


“Makanya belajar untuk peka.” Clara menyahut dengan nada juteknya.


“Kamu sendiri tahu, aku bodoh akan hal itu, makanya aku minta kamu jelasin. Biar aku tahu dan berusaha untuk memperbaiki diri.” Birma masih setia berdiri beberapa langkah di belakang istrinya. Berharap bahwa kali ini akan mendapat jawaban yang pasti.


“Kenapa selalu aku yang harus jelasin?” Clara menghentikan gerakan tangannya memilih pakaian. “Apa kamu gak pernah mengerti perasaan aku?” lirih Clara bertanya.


“Maksud kamu apa?” alis Birma menyatu, menimbulkan sebuah kerutan, tidak paham dengan apa yang coba di sampaikan istrinya.


Clara membuang napasnya pelan. “Sudahlah, aku lagi gak mau berantem sama kamu.” Setelahnya Clara mengambil satu baju untuk di kenakan, dan kembali masuk ke kamar mandi, melewati Birma begitu saja.


“Kenapa sih sebenarnya kamu, Cla? Aku gak paham apa yang menyebabkan kamu marah sampai diemin aku kayak gini. Selama ini kamu selalu langsung mengucapkannya, kamu marah-marah jika memang ada yang gak kamu suka dari aku, lalu kenapa sekarang diam? Aku gak bisa jika harus menebak-nebak. Harusnya kamu tahu itu, Clara.” Birma mengacak rambutnya frustrasi, sudah tak sanggup menahan kesabarannya, lalu menatap nanar pindu di depannya yang tertutup.


“Kamu mau aku gimana? Aku minta maaf atas semua kesalahanku, tapi tolong … beri tahu aku letak salahku, biar aku bisa memperbaikinya,” lirih Birma berucap, namun Birma yakin bahwa istrinya dapat mendengar. “Mau sampai kapan … mau sampai kapan kamu siksa aku seperti ini, Cla?”


Detik berlalu dan menit terus maju, tapi tidak ada satu pun suara yang Clara keluarkan, membuat Birma menghela napasnya lelah, lalu membenturkan kepala pada dinding berkali-kali berusaha memecahkan ingatannya mengenai apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga membuat istrinya begitu marah. Namun sekuat apa pun benturan itu kepalanya ia hantam tidak satu pun ingatan yang Birma dapatkan, ia mereasa tidak melakukan kesalahan, tapi entah jika tanpa sadar.


“Kalau kamu memang belum mau bicara, gak apa-apa Cla, aku tunggu sampai kamu siap membuka suara.” Putus Birma pada akhirnya. Dan lagi-lagi tidak ada jawaban yang Birma harapkan dari dalam sana.


“Aku butuh menjernihkan pikiran, aku keluar sebentar, Cla.” Birma menghela napasnya lelah, lalu berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar, tapi sebelum benar-benar pergi Birma kembali menoleh, melihat pintu kamar mandi, dengan harapan sang istri keluar dan berlari memeluknya. Namun Birma harus kecewa pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.


Mengulas senyum sedihnya, Birma melanjutkan langkah keluar dari kamar, bahkan laki-laki itu berlalu keluar dari rumah tanpa memakai jaket sama sekali. Angin malam sepertinya cocok untuk menjernihkan pikirannya saat ini. Birma bukan bermaksud meninggalkan sang istri yang dalam keadaan hamil dan mengabaikan permasalahan rumah tangganya, tapi berada di rumah dalam keadaan hubungan tak baik, membuatnya tak nyaman.


🍒🍒🍒


Clara keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya yang di penuhi dengan air mata. Sebelum suaminya mengatakan akan pergi, Clara sudah ingin menghampiri laki-laki itu, tapi tangis yang tak dapat di hentikan membuatnya berakhir menahan diri untuk tetap tinggal.


Clara tidak ingin menghampiri Birma dengan keadaan menangis. Alasannya bukan karena tidak ingin terlihat lemah, tapi Clara tidak ingin membuat suaminya semakin merasa bersalah, meskipun sebenarnya ini memang kesalahan pria itu, tapi Clara tidak sanggup jika melihat suaminya kembali meneteskan air mata seperti malam itu.


Bukan keinginan Clara memperpanjang kemarahannya, dan mengabaikan Birma beberapa hari ini. Clara sudah berniat mengutarakan alasan mengenai kemarahannya, ia sudah ingin mengucapkan kecemburuannya, tapi pesan masuk yang di kirimkan kontak bernama Dinda, membuat kekesalan itu kembali naik kepermukaan, apalagi saat membaca semua chat mereka, memang tidak terlalu banyak, tapi ada satu yang membuat kekesalan Clara semakin memuncak, ajakan makan siang bersama yang suaminya kirimkan. Istri mana yang tidak akan cemburu?


Ting …


Suara dentingan dari ponsel Birma yang tergeletak di atas nakas, mengalihkan Clara dari pikirannya mengenai ke mana perginya sang suami


Mengernyitkan kening, Clara lalu meraih benda pipih itu dengan ragu. Hatinya mengatakan untuk tidak membuka pesan itu, tapi tubuhnya mendorong untuk melakukannya agar menjawab rasa penasaran mengenai siapa pengirim pesan tersebut, meskipun pikiran negatifnya sudah menyebut-nyebut nama wanita yang dirinya cemburui.


Belum sampai pesan itu terbuka, ponsel kembali berdering dan kali ini di akibatkan dari panggilan masuk dengan nama Dinda muncul sebagai penelepon. Niatnya Clara untuk langsung menggeser tombol merah di layar itu, tapi malah tombol hijau yang pada akhinya ia tekan, dan suara dari seberang sana terdengar begitu lembut.


“Mas Birma,” Clara meremas kuat ponsel ditangannya begitu panggilan bernada lebut itu dirinya dengar. *Mas? S*edekat itukan hubungan mereka? Clara bertanya dalam hati.


“Barusan Dinda lihat Mas Birma gak jauh dari minimarket kompleks Teratai Estate. Mas ngapain ngelamun sendirian malam-malam gini?”


Wajah Clara mengeras menahan amarah, masih belum berniat untuk membuka suara, ia hanya ingin tahu sampai mana perempuan itu bicara.


“Mas, dengar Dinda kan, Mas? Mas masih ada disana ‘kan? Dinda bayar dulu belanjaan. Mas Birma tunggu, Dinda ke sa…”


Suara itu terdengar khawatir, dan Clara yang tidak suka mendengarnya segera memutuskan sambungan.


Tangis tidak lagi bisa Clara tahan, dadanya sesak dan hatinya benar-benar retak. Ia tidak tahu seberapa dekat hubungan suaminya dengan wanita itu sampai sudah berani memberikan panggilan ‘Mas’. Clara cemburu, ia tidak suka ada perempuan lain yang memanggil suaminya dengan sebutan itu, meskipun ia tidak pernah setuju saat Birma memintanya memanggil degan sebutan itu, tapi saat ada perempuan lain yang memakainya, Clara tidak terima. Ia istrinya, dan hanya dirinya yang berhak memanggil Birma dengan sebutan itu, bukan perempuan lain.


“Arrgghhh sialan!” teriak Clara seraya melempar benda pipih di tangannya pada tembok dengan sekuat tenaga, hingga membuat ponsel Birma hancur berserakan di lantai. Dan setelahnya Clara luruh di lantai, dengan tangis memilukan.


“Astaga, Clara kamu kenapa?”