Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 55



Lupakan cemburu-cemburuan, pagi ini seperti biasa Clara menyiapkan sarapan untuk suami tercinta, sekaligus membuatkan bekal untuk prianya itu bawa ketempat kerja. Clara malas jika harus mengantarkannya dan kembali bertemu dengan masa lalu pria itu. Bawaannya selalu saja panas dan ingin menelan Dinda hidup-hidup. Jadi, dari pada selalu mengeluarkan emosi lebih baik dirinya berada di rumah, menonton drama sambil selonjoran kaki di temani camilan kesukaannya. Ah, sudah lama rasanya ia tidak menjadi nyonya Birma yang sesungguhnya.


“Kamu gak kerja lagi, Yang?” tanya Birma begitu tiba dan duduk di kursi makan.


Clara yang berdiri di depan penggorengan menoleh, menaikan sebelah alisnya. “Emangnya aku belum bilang kalau udah resign?”


“Kamu resign?” ulang Birma untuk memastkan. Clara mengangguk, lalu kembali fokus pada wajan di depannya.


“Sejak kapan? Bukannya harusnya satu bulan lagi, ya?”


“Kenapa memang? Kamu gak senang aku resign? Oke kalau gitu, biar nanti ak…”


“No no no! Aku senang kamu akhirnya berhenti kerja,” Birma yang semula duduk, bangkit dan menghampiri istrinya, memeluk juga melayangkan kecupan di puncak kepala istrinya. Bahagia karena akhirnya Clara melepaskan pekerjaannya tanpa harus ia paksa-paksa lagi.


Clara tersenyum kecil merasakan kebahagiaan suaminya. Tidak menyangka bahwa hanya berhenti dari pekerjaan membuat laki-laki itu sebahagia ini. Birma memang mudah di bahagiakan.


Di balik sosoknya yang menyebalkan dan keras kepala, Clara tetap wanita yang ingin membuat pasangannya bahagia. Ia sadar selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya, maka dari itu di awali dengan resign-nya dari pekerjaan, Clara berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memperbaiki diri untuk menjadi istri yang lebih baik untuk suaminya juga ibu yang baik untuk anaknya kelak.


“Lepasin pelukannya, Bir. Aku lagi masak ini.” pinta Clara pada suaminya yang masih saja betah memeluknya dari belakang.


Menggeleng adalah jawaban yang di berikan laki-laki itu. Membuat Clara menghela napasnya perlahan. Menjadi pribadi yang tidak menyebalkan untuk suaminya memang tidak mudah. Clara harus banyak-bayak menyabarkan diri demi meredam segala amarahnya yang selalu saja di uji sang suami.


“Lepasin ya, Daddy sayang, Mommy harus masak. Kalau Daddy terus-terusan seperti ini, kapan Mommy selesainya? Nanti kesiangan ke kantor, kena marah abang sama ayah.” Dengan lembut Clara berucap, berusaha mereda kekesalannya, meskipun harus ia akui inginnya melayangkan tendangan saja pada suaminya yang mulai menyebalkan itu. Please! Membujuk lembut seperti ini bukanlah kebiasaan Clara.


“Gak apa-apa, nanti aku tinggal bilang aja kalau aku lagi kangen kamu. Ayah pasti paham, kok.” Nyatanya Birma menolak menjauh.


Untuk kedua kalinya Clara membuang napasnya perlahan, berusaha menyabarkan diri. Menjadi istri lemah lembut memang tidak mudah ternyata. Apalagi yang tengah di hadapinya adalah seorang Birma.


“Daddy sayang, coba jangan uji kesabaran istrimu kali ini. Aku lagi belajar jadi istri yang lembut loh ini,” ujar Clara masih berusaha tidak melayangkan umpatan dan getokan pada suaminya.


“Udah sadar nih kalau selama ini kamu kasar jadi istri?” ledek Birma seraya melepaskan lilitan tangannya di perut Clara.


Mendengar itu, Birma menarik kedua sudut bibirnya, meraih kepala Clara dan melayangkan kecupan singkatnya di kening wanita hamil tercintanya itu. “Kamu gak gagal, Sayang, karena selama ini kamu sudah menjadi yang terbaik buat aku.”


“Uhhh terharu.” Ujar Clara dengan nada menyebalkan, membuat Birma mundur satu langkah dan melayangkan delikkan. Kemudian mendengus dan berlalu duduk kembali di kursinya yang semula ditinggalkan. Istrinya itu memang paling bisa merusak suasana.


🍒🍒🍒


Setelah kepergiaan sang suami tercinta, Clara hanya duduk di sofa ruang tengah, menonton televisi dengan di temani camilannya, sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya. Namun nyatanya duduk sendiri tidaklah menyenangkan, hingga pada akhirnya Clara memilih mengabari kakak iparnya untuk datang.


Dan tidak lebih dari satu jam kemudian, yang di undang datang tidak hanya sendiri, melainkan bersama kedua bocah kesayangannya yang sedang aktif-aktifnya itu. Hari Clara tidak lagi kesepian sekarang, karena tingkah kedua ponakannya mampu membuat suasana ceria. Meskipun tidak jarang di buat kesal dan pusing. Clara jadi membayangkan sendiri bagaimana anaknya nanti.


“Jadi makin gak sabar gue nunggu lahiran,” Clara membuka suara, mengelus perut buncitnya dengan lembut. Lalu kembali menatap kedua ponakannya yang saling menjerit dan berlarian. Rumah ramai dengan celotehan anak kecil lebih menyenangkan dari pada sunyi bagai tak berpenghuni. Dan Clara benar-benar ingin segera mewujudkannya. Membuat rumahnya ramai, dengan tangis, tawa, dan teriakan anak-anaknya.


“Jangan sok-sokan bicara kayak gitu, Tu. Sekarang bilangnya gak sabar pengen segera lahiran, nanti lo kewalahan di saat anak-anak lo mulai gak mau diam kayak mereka,” Cleona menunjuk kedua anaknya yang tengah saling mengejar.


Clara kini menoleh pada wanita yang menjadi kakak iparnya itu. “Serepot apa sih, Queen? Gue ngerasa asyik-asyik aja saat lihat anak-anak lo gak mau diam kayak sekarang ini.”


“Ya memang asyik, karena lo belum ngerasain lelah yang sebanarnya. Selama ini yang lo lihat dan ajak main anak gue, anak orang lain. Rasanya akan berbeda jika lo mengasuh anak lo sendiri, karena emosi akan ikut main di dalamnya. Meskipun kesenangannya luar biasa, tapi lelahnya pun sebanding.” Cleona sedikit menjelaskan pengalamannya.


Memang terasa menyenangkan mengasuh anak kecil, tapi nyatanya mengasuh anak sendiri tidaklah semenyenangkan di saat mengasuh anak orang lain. Kesabaran kita sebagai orang tua di uji, selain itu banyak yang juga harus di pertaruhkan, salah satunya adalah waktu dan tenaga.


Clara mengangguk paham. Untuk beberapa saat wanita hamil itu terdiam, memikirkan sesuatu yang tiba-tiba saja melintas di kepalanya. “Apa mungkin gue akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak gue nanti?” tanya Clara pelan.


Meskipun merasa senang-senang saja melihat kedua ponakannya tidak mau diam, Clara yang sebentar lagi akan menjadi orang tua, tentu saja sudah mencemaskan hal ini sejak awal kehamilannya. Apalagi saat mengingat bagaimana sikapnya terhadap Birma yang bisa dikatakan jauh dari kata lembut. Clara masih belum bisa mengendalikan emosi, dan ia khawatir tidak bisa menahan pada anaknya nanti.


Cleona menepuk bahu adik iparnya itu pelan, dengan seulas senyum untuk menenangkan. Cleona paham akan kekhawatiran iparnya, karena bagaimanapun ia pernah merasakannya dulu. Namun di sampingnya ada Rapa yang selalu menemani, membantu dan meyakinkannya. Clara pun memiliki Birma, sosok suami yang sayang terhadap istrinya, pengertian juga sabar. Cleona yakin, Clara pasti mampu menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya nanti. Lagi pula di bandingkan dengan Birma, nyatanya masih ada sosok yang lebih menyebalkan, yaitu Rapa. Tapi dia mampu menjadi ayah yang baik untuk kedua putranya.


Semua orang akan berubah, termasuk Birma dan Clara. Apalagi di saat status bergantin menjadi sosok orang tua. Sikap kenakanan, keras kepala dan emosian akan perlahan di kendalikan, demi memberi yang terbaik untuk buah hati yang diimpikan.