Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 38



Clara mengerjapkan mata saat cahaya hangat itu mengganggu tidurnya. Dan pemandangan pertama yang dirinya lihat adalah senyum sang suami yang begitu manis, berdiri di depan jendela yang sepertinya baru saja pria itu buka.


“Selamat pagi sayang.” Birma melangkah mendekati sang istri tercinta lalu mengecup kening Clara dengan penuh kasih sayang.


Clara mengerutkan kening, ingat bahwa semalam dirinya menonton televisi dan tidur di sofa ruang tengah, lalu bagaimana bisa sekarang terbangun di kamarnya? Mencari jawaban atas pertanyaan di kepalanya, Clara mendongak menatap Birma yang masih setia dengan senyumannya.


“Lain kali jangan tidur di sofa lagi, nanti badan kamu sakit, kasihan juga bayi kita.” Ujar Birma seraya menyingkirkan rambut-rambut nakal dari wajah cantik istrinya itu.


Begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, Clara dengan segara menepis tangan Birma, lalu bangkit dari tidurnya dan melanggang masuk ke dalam kamar mandi, mengabaikan panggilan Birma. Kekesalannya semalam masih bersarang, dan Clara berjanji untuk tidak bicara pada laki-laki itu sebelum penjelasan keluar dari mulut suaminya.


Clara yang biasanya manja saat bangun tidur berubah cuek dan seolah tak peduli dengan sapaan manisnya membuat Birma mengerutkan keningnya bingung. Ah, kebingungan itu memang sudah Birma rasakan sejak semalam, apalagi saat menunggu istrinya yang tak kunjung kembali, membuat Birma pada akhirnya menyusul ke lantai bawah, dan terkejut mendapati istrinya tertidur di sofa dengan jejak air mata yang belum sepenuhnya mengering.


Birma tidak tahu apa yang membuat istrinya menangis, karena seingatnya Birma tidak melakukan kesalahan, dan sekarang Birma semakin tak paham mengapa Clara mengabaikannya.


“Sudahlah, mungkin karena mood-nya sedang tak baik.” Birma menyimpulkan, sebelum kemudian berdiri dan mulai merapikan tempat tidur. Sampai tak berapa lama Clara keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, tapi tidak sama sekali perempuan itu menoleh kearahnya, tidak juga mengucapkan sepatah kata pun.


“Mom…”


“Airnya udah aku siapin.” Clara memotong ucapan suaminya cepat, lalu melangkah menuju lemari. Birma semakin tak paham, tapi mengurungkan niatnya untuk bertanya mengingat hari ini ia harus bekerja.


Begitu pintu kamar mandi di tutup, Clara menoleh dan menatap nanar pintu tersebut. Ia sadar bahwa ini bukan kebiasaannya, tapi entah kenapa, rasanya saat ini Clara memilih untuk diam dari pada berlaku bar-bar seperti biasanya. Meskipun sebenarnya memang seharusnya ia bertanya langsung agar tidak sampai menimbulkan kesalah pahaman. Namun untuk saat ini izinkan ia menjadi egois. Clara ingin tahu sampai mana suaminya itu akan terbuka.


🍒🍒🍒


Hari berlalu cukup cepat, dan seharian ini Birma merasa kurang fokus pada pekerjaannya. Sikap Clara yang membuat Birma bingung, karena tidak biasanya istrinya bersikap cuek sampai mengabaikan setiap ucapannya. Tidak biasa juga istrinya menepis tangannya saat berusaha menyentuh perut wanita itu, dan tidak biasanya juga, Clara enggan di genggam tangannya selama dalam perjalanan di mobil.


Birma bukanlah laki-laki peka yang bisa tahu begitu saja mengenai perubahan pasanganya, Birma juga bukan laki-laki yang pandai menebak-nebak seperti yang dilakukannya saat ini. Sekeras apa pun ia berpikir dan berusaha mengingat mengenai kesalahan apa yang sudah di perbuatnya, tetap saja ia tidak menemukan jawaban, selain rasa pusing yang melanda.


“Mas Birma mau pulang?”


Birma menoleh begitu suara perempuan bertanya. Mengulas senyum tipis, Birma menganggukkan kepala. “Kamu mau pulang juga?” balik Birma bertanya.


Wanita itu menggeleng kecil, dengan senyum lembut yang terukir. “Aku mau mampir ke supermarket dulu, Mas, belanja bulanan.”


“Mas juga mau jemput istri Mas di tempat kerjanya, sekalian aja, Din.”


“Gak usah, Mas, aku biar naik taxi aja. Nanti ngerepotin Mas Birma,” tolaknya halus.


Sesaat menimbang, perempuan itu akhinya mengangguk setuju, dan mengikuti Birma menuju parkiran.


“Beneran gak ngerepotin 'kan, Mas?” tanyanya begitu duduk di bangku penumpang depan bersebelahan dengan Birma.


“Gak apa-apa, Dinda, lagi pula kita satu tujuan.” Birma mengulas senyum tipis, lalu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir. Wanita bernama Dinda itu mengangguk canggung, merasa tak enak hati. Setelahnya suasana hening. Birma sibuk dengan kemudinya, sementara Dinda sibuk dengan pikirannya sendiri.


Lama tidak bertemu dengan pria itu membuat kecanggungan tercipta diantara mereka. Padahal dulu keduanya begitu dekat, sampai jarak memisahkan bertahun-tahun lamanya, dan Dinda tidak menyangka akan kembali di pertemukan saat laki-laki itu memutuskan untuk kuliah di Yogya.


Saat itu Dinda tengah pulang menjenguk ibunya yang sakit, siapa menyangka bahwa saat itu pun Birma tengah berada di rumah bersama Eyangnya. Dinda awalnya tak mengenali, tapi setelah Eyang mengenalkan mereka, barulah keduanya saling mengingat dan waktu satu minggu yang Dinda habiskan di Yogya begitu berwarna dengan mengenang masa kecil mereka dulu. Namun pada akhirnya mereka harus kembali di pisahkan oleh jarak dan waktu, karena Dinda harus kembali ke Amsterdam untuk kuliahnya, padahal kerinduan belum sepenuhnya terobati.


“Sudah sampai, Din.” Birma menepuk pelan lengan wanita di sampingnya, menyadarkan Dinda dari lamunan.


“Ah, iya.” Dinda berujar gugup, lalu membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil diikuti Birma setelahnya.


Clara yang sejak beberapa menit lalu menunggu suaminya menjemput, melihat Birma dengan perempuan itu turun dari mobil. Cemburu itu sudah pasti, melihat wajah Clara yang merah padam, tapi sepertinya Birma tidak menyadari itu, dan malah justru tersenyum sambil melangkah untuk mendekat.


Wanita di sampingnya masih mengikuti dan tatapan Clara dengan perempuan itu beradu untuk beberapa saat sebelum terhalang tubuh tegap Birma yang berdiri di hadapan Clara, melayangkan kecupan seperti biasa di kening istrinya.


“Udah lama nunggu?” tanya Birma meringis kecil saat tidak mendapat respons dari Clara, hanya tatapan tajam yang tak mampu Birma artikan yang dirinya dapat.


“Dia siapa?” tanya Clara menatap lurus suaminya.


“Dinda, di…”


“Oh.” Hanya itu dan Clara langsung pergi begitu saja, tanpa menunggu kelanjutan ucapan suaminya. Sekilas memberikan delikan tajam dan dengan sengaja Clara menyenggol pundak perempuan di belakang suaminya, membuat Dinda terhuyung dan hampir jatuh jika saja Birma tidak dengan cepat menariknya. Dan itu membuat kekesalah Clara memuncak, apalagi saat melihat posisi keduanya yang membuat hati Clara terbakar api cemburu.


“Lo datang ke sini mau jemput gue apa mau mesra-mesraan sama cewek itu?”


“Mo…”


“Kalau gitu gue pulang naik taxi.” Setelahnya Clara berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Dinda serta Birma yang masih berada dalam posisi sebelumnya. Berpelukan.


Clara tidak ingin menangis, tapi air mata itu jatuh dengan sendirinya. Inginnya ia marah, inginnya ia melepaskan sesak di dada akibat yang di saksikannya, tapi kali ini Clara seolah menjadi pengecut, entah karena alasan apa.