Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 41



Birma kembali setelah beberapa saat menghirup udara malam, yang ternyata tidak sama sekali membuat pikirannya nyaman. Ia terlalu khawatir meninggalkan istrinya di rumah seorang diri, maka dari itu Birma dengan cepat kembali. Tidak menyangka akan di kejutkan dengan suara sesuatu yang seperti di lemparkan pada dinding, membuatnya panik dan segera berlari menuju kamarnya. Sampai di sana kekhawatirannya terbukti begitu melihat Clara menangis duduk di lantai dengan ponsel yang hancur berserakan.


“Astaga, Clara kamu kenapa?” dengan cepat Birma menghampiri istrinya, merengkuh tubuh mungil Clara yang terlihat begitu rapuh.


“Lepas!” teriak Clara berusaha mendorong Birma yang memeluknya. Namun usahanya hanya sia-sia. Tubuhnya yang lemah tidak mampu menyingkirkan Birma yang semakin erat memeluknya.


“Kamu kenapa, Cla? Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya Birma dengan nada khawatir.


“Lepasih gue, berengsek!” teriak Clara sekali lagi, dan itu sukses membuat Birma terkejut. Bukan karena teriakannya, tapi karena ucapan yang keluar dari mulut istrinya barusan. Birma tidak menyangka kata itu akan terlontar dari mulut istrinya, dan lagi Birma tidak mengerti mengapa bisa istrinya mengucapkan itu.


“Kalau mau selingkuh seharusnya lo jangan terlalu terang-terangan, ****! Berengsek!”


Semakin tak mengerti, Birma hanya mengerutkan keningnya, diam saja walau pukulan terus dirinya terima. Ia masih tidak paham mengenai apa yang terjadi dan tidak mengerti dengan apa yang menyebabkan istrinya seperti ini.


Birma mengernyitkan dahi saat melihat dengan seksama ponsel yang hancur berceceran di lantai, itu seperti miliknya. Ah, benar itu memang ponsel miliknya.


“Cla…”


“Kenapa kamu tega lakuin ini sama aku, Bir, kenapa? Aku cinta kamu, tapi kenapa kamu malah khianati aku … apa salah aku sampai membuat kamu tega bermain di belakang aku.” Clara menatap penuh luka suaminya. Sedangkan Birma sendiri masih saja menampilkan wajah tak pahamnya.


“Selingkuh apa sih, Cla?" Birma menggeram gemas.


“Ya lo pikir aja sendiri!" galak Clara, membuat Birma terlonjak kaget dan sedikit mundur. Macan sedang ngamuk dan sepertinya ia memang harus lebih berhati-hati.


Birma menghela napasnya perlahan. Menatap ponsel ancur serta istrinya bergantian, lalu kembali mendekat dan menangkup wajah Clara yang sembab. Kemudian memberikan kecupan di kedua mata yang memerah itu dengan lembut.


Jika dalam keadaan hubungan yang baik mungkin Birma akan tertawa dengan begitu kencangnya melihat penampilan istrinya saat ini. Tapi sayang, alasan Clara seperti ini adalah ulahnya, Birma tidak berani untuk tertawa, setidaknya untuk saat ini.


Dirasa keadaan Clara sudah lebih tenang, Birma meraih istrinya berdiri dan pindah duduk di tepi ranjang. Sekarang ia harus benar-benar menyelesaikan permasalahannya. Sungguh Birma tidak ingin ini semakin berlarut, tidak tega juga melihat istrinya menangis, dan lagi suami mana yang mau dikatai berengsek, padahal tidak melakukan apa pun.


“Istrinya pangeran kenapa, hem, coba sini cerita?” Birma bertanya dengan nada selembut mungkit.


“Cih, gak ada pangeran yang berengsek."


“Lah aku mah gak berengsek, Yang.”


“Kalau suami selingkuh namanya apa kalau bukan berengsek?” delikan tajam Clara layangkan, dan itu mengundang kerutan di kening Birma. Sadar bahwa sepertinya ada kesalah pahaman di antara mereka beberapa hari ini.


Birma melepaskan tangannya dari wajah Clara, lalu menatap lekat istrinya yang membuang muka dengan bibir mengerucut dan gurat kemarahan yang begitu ketara. Oke, kali ini Birma tahu apa penyebab kemarahan wanita cantik itu, hanya saja belum tahu dari mana istrinya bisa menyimpulkan dirinya selingkuh. Selama ini ia tidak pernah dekat dengan perempuan lain, selain Cella dan itu jelas Clara ketahui. Lalu …


“Kamu dapat kabar dari siapa kalau aku selingkuh?”


“Jadi kamu beneran selingkuh?” dengan cepat Clara menyahut, dan kemarahannya semakin bertambah.


“Mana ada aku selingkuh, punya kamu aja udah kerepotan. Ya kali pake segala selingkuh.”


“Jadi maksud kamu aku ngerepotin?”


“Lah kan emang iya?”


“Lo kok jahat!” pukulan dari tangan kecil itu tidak sama sekali membuat Birma kesakitan. Pria itu malah justru tertawa, gemas melihat wajah kesal Clara saat ini.


“Jadi kamu kenapa?” Birma menangkap kedua tangan mungil itu, lalu melingkari pinggangnya dan menahannya di belakang, menghilangkan jarak di antara mereka. “Beberapa hari ini kamu cuekin aku, dan sekarang marah-marah gak jelas, ponsel aku sampai ancur gitu. Coba bilang sama aku, ada apa?”


“Siapa Dinda?” tanya Clara pada akhirnya.


“Dinda adik ak…”


“Jangan bohong! Aku tahu kamu anak tunggal, begitu pun dengan orang tua kamu, adik dari mana, hah! Adik ketemu gede?” dengan cepat Clara memotong seraya memberikan delikan tajamnya. Kemudian terus nyerocos mengutarakan kekesalannya berapa waktu lalu dimana perempuan bernama Dinda itu menghubungi, tidak lupa dengan pesan ajakan makan siang yang di kirimkan Birma pada perempuan itu. Kekesalannya di saat malam beberap hari lalu Birma yang tidak sengaja menyebutkan nama Dinda dan kekesalannya di saat laki-laki itu membawa Dinda ke supermarket. Semua Clara curahkan, tanpa memberikan celah untuk Birma menyela.


Dari napasnya yang terlihat turun naik dan memburu, Birma bisa menyimpulkan bahwa istrinya itu tengah emosi. Birma yang mendapat tuduhan dari sang istri awalnya memang terkejut, tidak menyangka Clara bisa menganggapnya selingkuh, tapi tidak sama sekali Birma tersinggung, ia malah justru sekuat tenaga menahan senyum. Bahagia rasanya milihat istri yang galaknya melebihi macan, cemburu hanya karena ucapannya yang terlontar tanpa sengaja.


Birma tidak menyangka, Claranya bisa cemburu, padahal bertahun-tahun di goda Cella mana pernah perempuan itu sampai mengabaikannya seperti sekarang, dan melihat Clara yang berapi-api, membuat Birma berpikir, haruskah dirinya berterima kasih pada Dinda?


“Udah selesai?” Birma bertanya, seraya mendaratkan kecupan singkatnya di bibir sedikit pucat itu, lalu mengelus punggung Clara yang masih turun naik akibat emosi yang baru saja di keluarkan wanita hamil itu.


“Respons kamu cuma gitu doang? Gak ada bantahan gitu?” Clara menggeleng tak percaya melihat raut wajah Birma yang biasa saja. “Atau jangan-jangan kamu mememang se…”


Cup. Satu kecupan kecil Birma layangkan untuk menghentikan ucapan istrinya. “Aku gak pernah selingkuh sama Dinda, tidak sama siapapun itu. Istri aku cuma kamu dan hanya akan kamu.”


“Bohong!”


“Tuh, kan sekarang kamu ngaku juga kalau Dinda itu bukan adik kamu. Dasarnya tukang bohong tetap aja tukang bohong!” potong Clara yang lagi-lagi memberikan delikannya, melepaskan diri dari pelukan Birma dan menggeser duduknya lebih jauh.


“Dengerin dulu makanya, jangan main potong!” satu sentilan kecil Birma layangkan. “Aku sama Dinda…”


“Jangan sebut-sebut nama itu, aku gak suka!” kembali Clara memotog ucapan suaminya dengan nada tak suka.


“Kamu cemburu?” goda Birma, mencolek dagu wanita hamil di depannya. Clara semakin menggemaskan saat cemburu seperti ini.


“Dih siapa juga yang cemburu.” Bantahnya, memalingkan wajah. Birma menggeser duduknya, memangkas jarak yang Clara ciptakan.


“Kamu lucu kalau lagi cemburu gitu, aku jadi gak tahan pengen gigit tuh bibir monyongnya.”


“Aku gak cemburu! Awas deh jauhan, ish!”


“Aku maunya dekat-dekat kamu, kalau jauh nanti aku lindu.” Ucap Birma menirukan suara anak kecil. Membuat Clara bergidik jijik, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Birma yang entah sejak kapan mengurungnya, lagi.


“Sejak kapan kamu kenal perempuan itu?” tanya Clara masih dengan nada kesal, mengalihkan obrolan agar tidak dengan cepat luluh. Bagaimanapun dirinya masih penasaran akan sosok peremuan sialan yang sudah membuatnya menjadi bodoh beberapa hari belakangan akibat rasa cemburu yang mendera hatinya.


“Sejak kecil. Eum, kalau gak saah saat usiaku lima tahun.” Birma berusaha mengingat.


“Kok kamu gak pernah cerita?”


“Kamu gak nanya.”


“Harusnya tanpa aku tanya ya kamu cerita dong! Bagaimanapun aku istri kamu, aku berhak tahu tentang kamu.”


“Nah ini aku baru mau cerita,”


“Telat!” kesalnya seraya membuang muka.


“Ya udah gak usah, yang jelas kamu harus tahu bahwa Dinda bukan selingkuhan aku. Dan gak akan penah jadi selingkuhan aku. Dia sudah aku anggap seperti adik aku sendiri, karena sejak kecil kami tumbuh bersama dan aku memang menginginkan adik, tapi Mama gak bisa ngasih. Lagi pula dia bukan tipe aku, meskipun waktu SMP dulu aku pernah ngajak dia pacaran agar aku bisa lindungin dia dari teman-teman sekolahnya yang nakal.”


“Kamu bilang aku yang pertama,”


“Memang iya. Saat itu kan aku belum tahu mengenai pcaran-pacaran, cuma ikuti kata teman-teman aku aja. Lagi pula aku sejak dulu memang sayang sama Dinda. Rasa sayang selayaknya seorang kakak pada adiknya.” Birma dengan cepat menjelaskan sebelum Macannya kembali ngamuk.


“Tapi waktu itu kamu bilang, pantesan gak jodoh…”


“Emangnya aku bilang gitu? Kok aku gak ngerasa, ya?” Birma mendongak pura-pura berpikir.


Bugh.


“Birma!” sentak Clara, membuat laki-laki itu terkekeh geli.


“Apa sayang?”


“Nyebelin!”


“Makasih, aku tahu aku emang ganteng.” Jawabnya tidak nyambung. Wajah Clara yang sudah kembali memerah karena sebal langsung saja mendorong Birma sekuat tenaga hingga membuat laki-laki itu terbaring di ranjang, dan Clara yang berada di atasnya melanyangkan pukulan demi pukulan di dada bidang suaminya. Sementara yang di pukuli tidak sama sekali merasakan sakit, malah tertawa dengan puasnya.


“Mommy, kamu udah gak marah lagi kan?”


“Aku masih marah.” Jawabnya masih sibuk memukuli Birma tanpa perasaan.


“Ya udah deh kalau mau marah terus, aku biar cari Din…”


“Berani lo, heh?! Minta di bunuh banget lo kayaknya, Bir.”


Kembali Birma terbahak dengan sorot ancaman yang istrinya itu berikan, setelahnya meraih pinggang Clara dan menggulingkan tubuh mungil itu ke sisi ranjang yang kosong, kemudian memeluknya layaknya guling.


“Aku senang kamu cemburu, tapi aku gak suka dengan kamu yang menyiksa diri sendiri, menyiksa aku dan anak kita. Kamu tahu bagaimana sedihnya aku melihat kamu begitu abai? Aku tersiksa Cla, hati aku sakit melihat kamu seperti itu, dan dada aku sesak saat melihat kamu menangis, Maaf- maaf sudah membuat kamu terluka, maaf karena tidak bisa menjadi suami yang peka, dan maaf karena sudah membuatmu merana. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, dan sejak aku menjabat tangan ayah kamu, aku sudah menyerahkan diri aku sepenuhnya untuk kamu."


"Aku tahu banyak perempuan cantik, anggun, dan baik di luar sana, tapi harus kamu tahu, kamu yang nyebelin, keras kepala dan galak ini yang aku mau. Bukan mereka, bukan Dinda dan bukan perempuan lainnya yang mungkin menginginkan aku. Aku tahu dengan kegantengan aku in… Aw, sakit Mommy.” Birma mengusap pinggangnya yang baru saja di cubit sang istri, entah seberapa kuat karena rasanya benar-benar sakit.


“Please, jangan sekali-kali lagi kamu nodai ucapan manis kamu itu dengan kepercayaan diri kamu. Aku yang semula mau nangis karena terharu, malah berubah pengen nangis karena kesal. Kamu itu gak ganteng, akunya aja yang buta, kenapa bisa cinta sama kamu.”


“Karena pada dasarnya, cinta memang tidak mengenal rupa, tidak mengenal harta dan tidak mengenal tahta. Cukup mengenal kamu dan aku, cinta itu akan ada. Sesederhana itu.”