
Meninggalkan ruangannya, Birma di temani kedua wanita cantik yang sama-sama hamil itu memasuki lift menuju lobi. Ini sebenarnya bukan keinginan Birma untuk pergi, melainkan kedua wanita hamil yang sama-sama menginginkan makan bakso.
Jika dulu Birma yang selalu merepotkan Cella, kini berbalik, Cella yang merepotkan Birma dengan rengekannya. Tidak peduli bahwa istri dari laki-laki itu berada di sana. Cella seolah-oleh meminta pada suaminya sendiri, membuat Clara dibuat kesal karena Cella berani pegang-pegang suaminya.
Keluar dari dalam kotak besi itu, Birma benar-benar menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, hampir semua orang yang melintas menatap Birma dengan pandangan berbeda karena dirinya yang di ampit dua wanita hamil yang terlihat akrab satu sama lain.
Kehebohan beberapa jam lalu menggeparkan seantero kantor di tambah dengan pemandangan saat ini. Habislah Birma menjadi tokoh terkenal dengan dua istri.
“Yang muda sama yang tua aku ya, Pak?” kata salah seorang karyawan yang memang cukup Birma kenal.
“Iya, Pak.” Sahut Birma menanggapi.
Karena candaannya itulah bisik-bisik mulai terdengar semakin menghebohkan, apa lagi jam istirahat akan segera habis, dan para karyawan mulai kembali berdatangan entah itu yang dari kantin perusahaan, atau dari luar.
“Gak nyangka gue kalau di sini akan lebih heboh lagi dari kantor yang dulu.” Cella menggeleng-gelengkan kepalanya.
Clara tidak menanggapi, memilih melepaskan gandengannya dari tangan Birma dan berjalan menuju resepsionis untuk meninggalkan pesan, lalu kembali berbalik menghampiri suaminya yang masih betah di gandeng Cella, lebih tepatnya Cella yang tidak mau melepaskan gandengannya dari Birma. Pelakor paling berani memang Cella ini.
Tatapan Clara tidak sengaja bertemu dengan Dinda yang terpaku pada sosok Birma yang tengah mengobrol asyik dengan Cella. Di lihat dari sisi ini memang Birma dan Cella terlihat layaknya pasangan suami istri. Wajar jika orang-orang membenarkan bahwa Birma memiliki dua istri.
“Habis makan siang, Din?” tanya Birma dengan seulas senyum tipis. Sekedar basa-basi karena berpas-pasan, bagaimanapun Dinda orang terdekatnya, meskipun itu dulu.
Dinda hanya memberi anggukan kaku, tak lepas menatap tangan Birma dan Cella yang bergandengan. Clara hanya memperhatikan dari tempatnya kini berdiri.
“Ini—bener istri Mas Birma?” tanya ragu Dinda, menunjuk Cella.
Panggilan yang terdengar akrab itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala Cella, mengenai siapa wanita itu dan memiliki hubungan apa keduanya. Setelahnya Cella melirik pada Clara yang berada satu meter dari posisinya berdiri. Clara hanya mengedikan bahunya cuek sambil berjalan mendekati ketiga orang itu, melepaskan tangan Cella dari tangan Birma dan di gantikan dengan tangannya.
“Apa-apaan sih lo, Cla!” protes Cella yang tidak terima di lepaskan dari kenyamanannya. Padahal kapan lagi bisa menggandeng laki-laki pujaannya jika bukan saat ini sebelum suaminya datang dan melayangkan plototan.
“Cuma mau menegaskan kalau Birma hanya milik gue!” tekan Clara dengan sorot mata yang tertuju pada Dinda. Seolah perkataannya itu memang Clara tujukan pada wanita di depannya. Tanpa menunggu suara dari siapa pun, Clara menarik suaminya pergi, meninggalkan Dinda dan Cella yang terbengong di tempatnya.
Melangkah, Cella kemudian menghentikannya kembali lalu menoleh ke belakang dimana Dinda masih berdiri di tempatnya. Mundur dua langkah hingga mereka sejajar, Cella kemudian berbicara tepat di depan telinga Dinda. “Siapa pun lo dan apa pun perasaan lo terhadap Pak Birma, lebih baik lo mundur, hilangkan dan menjauh sebelum lo semakin di permalukan Clara. Jangan terlalu mendamba pada apa yang sudah menjadi milik orang lain, karena itu malah akan semakin membuat lo terluka. Gue cuma mau ngasih tahu, buka mata lo … di depan sana ada laki-laki yang lebih mengharapkan lo. Gue pernah berada di posisi lo, menjadi murahan hanya untuk mendapatkan perhatian dari Pak Birma, nyatanya Clara bisa lebih mempermalukan lo. Sayangi harga diri lo, karena jika bukan di mulai dari diri sendiri, siapa yang nanti akan menghargainya?”
Cella mengedikan bahunya, dan berniat untuk melangkah pergi menyusul Clara juga Birma, namun lebih dulu di hentikan oleh ucapan Dinda.
“Lalu kenapa lo masih bisa sedekat itu sama Mas Birma? Kenapa Mbak Clara gak marah sama lo meskipun lo gandeng-gandeng suaminya di depan dia?”
Cella mengunggingkan senyumnya, lalu kembali menoleh. “Karena Clara percaya, gue gak akan perebut miliknya. Dia percaya pada suaminya, bahwa Pak Birma tidak akan menghianatinya.”
“Kenapa Mbak Clara bisa percaya sama lo di saat dengan terang-terangan lo berusaha meraih Mas Birma?” kembali Dinda melayangkan pertanyaannya.
“Karena gue gak munafik! Apa barusan lo lihat tatapan gue yang memuja Pak Birma?” Cella menggelengkan kepalanya. “Dulu gue boleh suka dan berusaha mendapatkannya, tapi Clara menyadarkan gue akan sebuah perasaan yang sebenarnya.” Cella menyunggingkan senyumnya, mengingat kembali pada masa lalunya dengan Clara.
“Gue selalu merenungkan ucapan pedasnya, sindirannya dan nasihatnya. Sampai pada akhirnya gue tahu bahwa apa yang gue rasakan terhadap Pak Birma hanyalah sebuah kekaguman. Gue pernah bertingkah murahan, tapi Clara menyadarkan gue tentang berharganya menjaga sebuah kehormatan. Dan gue sadar. Itu mengapa gue pada akhirnya sedekat ini sama mereka. Perasaan ingin memiliki yang dulu sempat tumbuh tidak lagi ada, hanya kekaguman yang tersisa, dan lagi gue memang suka menggoda Clara hanya untuk melihat kemarahannya. Lagi pula berkat kata-kata Clara yang membuka mata dan hati gue hingga pada akhirnya gue menemukan laki-laki terbaik yang tidak pernah gue bayangkan sebelumnya. Laki-laki yang bisa menghargai gue, mencintai gue dan menerima setiap kekurangan gue. Sekarang gue bahagia meskipun tidak hidup bersama pujaan gue.” Senyum Cella semakin lebar terukir, pikirannya ringan, hatinya tentram dan perasaannya tidak mengambang karena ada sang suami yang menjadi penawar.
“Gue bisa melihat bagaimana gak sukanya Clara terhadap lo,” Cella kembali membuka suara. “Kemungkinannya hanya dua … pertama keberadaan lo dia anggap sebagai ancaman, dan kedua lo terlalu munafik!”
Setelah mengatakan itu, Cella benar-benar berlalu pergi, sedikit berlari karena ternyata di pintu lobi suaminya baru saja hendak masuk. Cella tentu saja langsung berhambur ke dalam pelukan laki-laki tercintanya itu, lalu berjalan keluar, menyusul Clara dan Birma yang sudah menunggu di dalam mobil.
Pemandangan itu tidak lepas dari penglihatan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Dapat ia lihat bagaimana senyum bahagia Cella, manjanya dan cerianya perempuan itu. Lalu membandingkan dengan manjanya Cella pada Birma yang tadi sempat Dinda perhatikan, dan itu memang terlihat berbeda.
Memutar kembali ucapan Cella yang tertangkap otaknya, kini Dinda merenungkannya. Apa yang di katakan Cella memang tidak salah, Dinda akui dirinya memang munafik, ia terlalu menutup mata hingga tidak bisa melihat kenyataan di depannya. Wajar jika Clara memang manganggapnya sebagai ancaman, karena memang benar bahwa Dinda mengharap Birma meliriknya dan Dinda masih mengharapkan masa lalunya dengan Birma kembali terulang. Dinda terlalu menutup mata, mengenai sang pujaan yang sudah tak lagi sendirian.
“Mungkinkah ini saatnya aku menghilang, melepas cinta yang bersarang pada pria dari masa lalu yang ternyata sudah memiliki gandengan? Sudah saatnyakah aku merelakan sang pujaan, dan mulai membuka hati untuk seseorang di kehidupan baru yang akan datang? Siapkah aku? Bisakah aku merelakan? Bisakah aku melepaskan, dan bisakah aku memulai cinta baru yang belum pernah aku kenal?”
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Dinda saat ini. Ia masih bingung harus dari mana ia mulai melangkah, dari mana ia mulai melepaskan dan dari mana ia memulai sebuah perubahan. Cintanya terhadap Birma sudah terlalu mendalam, merelakan bukanlah sesuatu yang pernah Dinda bayangkan dan ingin dirinya relakan, tapi terlukapun bukan sesuatu yang Dinda harapkan.
Tunggu! Terluka? Dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya. Birma tidak pernah melukainya. Ya, Birma tidak pernah melukai Dinda, hanya perasaan Dinda-lah yang melukai dirinya sendiri. Jadi, sudah bisa di simpulkan bukan, jika tidak ingin terluka, ya Dinda harus menghilangkan perasaan yang dimilikinya. Karena jika masih ada, sampai kapan pun nyatanya Dinda tidak akan pernah bahagia.