
Birma menceritakan semua masalah yang menimpanya pada sang istri yang kini setia duduk di sampingnya, air mata wanita hamil itu sudah menetes dengan begitu derasnya, membuat Birma mengelus punggung Clara dan kecupan ikut serta dirinya layangkan.
Ini yang membuat Birma tidak ingin berbagi masalahnya dengan sang istri, karena ia tidak pernah ingin melihat isrinya menangis selain tangisan bahagia. Tapi mau bagaimana lagi, Clara adalah bagian dari hidupnya, dan benar apa yang di katakan ayah mertuanya, akan beresiko jika sampai wanita hamil itu mendengar dari orang lain.
“Itu lah kenapa siang tadi aku menemui ayah sama Abang kamu. Awalnya aku tidak ingin merepotkan siapa pun, tapi mau bagaimana lagi ....” Birma menghela napasnya, kemudian kembali melayangkan kecupan di kening istri cantiknya itu, mengurai pelukannya dan menyeka air mata yang membasahi pipi Clara.
“Ayah bantu kamu ‘kan?” tanya Clara yang di angguki oleh suaminya itu.
“Awalnya aku gak mau cerita masalah ini sama kamu, karena terlalu takut membuat kamu kepikiran dan berakhir membahayakan anak kit...”
“Aku istri kamu, apa pun masalah kamu jelas aku wajib tahu, Bir. Jangan hanya mengenai kebahagiaan yang harus kita bagi, tapi juga kesulitan. Karena sejak kamu dan Ayah berjabat tangan, sejak itu lah aku dan kamu resmi menjadi kita. Jadi, jangan pernah sembunyikan masalah sepahit apa pun itu, karena aku akan siap menjadi pendengar segala keluh kesah kamu.” Clara memotong ucapan suaminya, meraih tangan suami tercintanya, lalu melayangkan kecupan di sana.
“Mas Bram, bidadarimu baper.” Seru Cella sedikit berteriak menyadarkan kedua orang di depannya akan kehadiran satu orang lain yang sejak tadi menyaksikan dengan terharu.
“Merusak suasana aja lo, Cellaram.” Dengus Clara mencebikkan bibirnya.
“Kalau gak gue ganggu yang ada kalian berdua lupa dunia. Gue juga yang sengsara.” Cibir Cella di akhiri dengan desahan lirih.
“Itu mah derita lo.” Birma dan Clara berucap kompak, membuat Cella yang sejak tadi menjadi penonton tanpa bayaran memberikan dengusannya. Selalu saja dirinya menjadi pihak ketiga yang tak di harapkan jika sudah berada di antara sepasang suami istri menyebalkan itu. Ah, sudah lah, lagi pula mana ada pihak ketiga yang di inginkan.
“Mentang-mentang gue cuma jadi selingkuhan, di sayangnya waktu gak ada nyonya sah doang.” Dengus pelan Cella dengan wajah yang seolah terluka.
“Tenang Cell, beberapa hari terakhir ini saya akan perlakukan kamu dengan baik, gak akan buat kamu jengkel, apa lagi membuatmu kesal.” Ucap Birma seraya memberikan senyumnya yang dulu berhasil memikat Cella, meskipun sebenarnya hingga saat ini pun masih, tapi tidak berani mengatakan, karena istri dari atasannya itu lebih galak dari anjingnya tetangga.
“Maksud Bapak apa, ya? Kok saya gak paham,” Cella mengenyitkan keningnya. Kembali Birma melayangkan senyumnya, dan itu membuat Cella kesal. “Please deh Pak Birma kesayangannya Cella istri Mas Bram, jangan kasih senyum itu terus, nanti saya makin naksir Bapak gimana coba? Saya gak siap ninggalin Masa Bram tercinta saya.”
Mendengar ucapan bernada lebay dan wajah seolah frustrasi itu, membuat Clara melemparkan bantal sofa tepat pada wajah Cella yang kini semakin cemberut. “Berani naksir laki gue, gak akan segan-segan gue kasih racun di minuman lo!” ancam Clara.
“Gue udah naksir dari lama kali,” Cella memutar bola matanya. “Siapa suruh, Pak Birma ganteng.” Kedipan mata genit Cella berikan pada Birma yang langsung saja bersembunyi di belakang punggung istrinya.
“Lo godain laki gue lagi, gue laporin nih sama laki lo saat nanti dia jemput ke sini.” Ancam Clara, yang membuat Cella seketika panik dan melayangkan plototan protesnya.
“Ck, mainnya ancaman. Awas aja lo, Bu boss!” kesal Cella melayangkan tatapan tajamnya, tapi jelas saja itu tidak berpengaruh pada Clara. “Pak Bos lanjutin dong, maksud dari beberapa hari terakhir itu apa? Pak bos benar-benar akan masuk penjara?” tanya Cella mengalihkan obrolannya, ia sudah begitu penasaran mengenai ucapan atasannya itu, dan kini hatinya entah kenapa terasa hampa.
Teng nong ...
Baru saja Birma akan berucap, tapi suara bel lebih dulu menghentikanya, membuat Cella cemberut dan menggerutu, menyalahkan siapa yang berani bertamu di sore-sore seperti ini. Terkadang Cella memang setidak tahu diri itu, lupa bahwa dia tengah berada di rumah orang.
“Bukain pintu dong, Cell, gue mager.” Titah Clara seraya menyenderkan punggungnya pada tangan sofa dan meluruskan kakinya, bertumpu pada pangkuan suaminya, meminta di pijatkan oleh Birma yang beberapa detik lalu hendak bangkit, namun urung karena Clara lebih dulu menarik suaminya itu untuk kembali duduk.
“Kenapa hari ini gue malah jadi sekretaris plus-plus gini sih,” dengus kesal Cella, tapi tak urung wanita itu bangkit dari duduknya, melangkah menuju pintu utama untuk melihat siapa tamu yang datang.
“Gue mau puas-puasin nyuruh sama ngerjain lo, Cell, mumpung masih jadi sekretaris laki gue.” Kata Clara sedikit berteriak, lalu setelahnya tertawa. Sementara Birma hanya menggelengkan kepala, dan Cella berusaha tidak memedulikan istri dari atasannya itu, memilih melangkah untuk membukakan pintu yang bel-nya kembali berbunyi.
“Ish, Mas Bram ganggu aja deh,” gerutu Cella begitu membuka pintu untuk si penekan bel. Namun tak urung perempuan cantik itu menggandeng tangan laki-laki yang menjadi suaminya tiga tahun ini. “Padahal barusan aku sama Pak Birma lagi tegang-tegangnya.” Lanjut Cella dengan bibir cemberut.
“Emang kalian lagi ngapain?” laki-laki yang di panggil Mas Bram itu bertanya dengan kening mengerut, karena jujur saya apa yang di katakan istrinya terdengar ambigu, dan dirinya tidak ingin sampai salah paham.
“Ayo deh masuk dulu nanti juga tahu,” kata Cella menggiring suaminya kembali masuk ke dalam rumah milik sang atasan yang sudah dirinya anggap sebagai rumah sendiri. Oh tentu saja, sebagai selingkuhan bukankah berhak menganggap seperti itu?
Cella yang masih saja menggerutu sambil bergelayut manja di lengan suaminya, menghampiri pasangan Birma–Clara yang masih dalam posisi seperti semula, dimana kaki wanita hamil itu berada di pangkuan Birma yang setia memijatnya. Namun begitu Cella kembali dengan seseorang yang sudah mereka kenal, karena beberapa kali pernah bertemu dan mengobrol, Clara kembali menurunkan kakinya dan menyalami pria kesayangan Cella itu.
Sebagai tuan rumah, Birma tak lupa untuk meminta tamunya itu duduk, meskipun Cella yang kadang lupa diri itu sudah lebih dulu mendorong suaminya untuk duduk. Birma dan Bram, mengobrol untuk sekedar basa-basi sampai Clara yang beberapa menit lalu beranjak, kembali dengan satu cangkir kopi di tangannya dan segera menyuguhkan di depan laki-laki yang cukup tampan itu.
Clara kadang tidak mengerti dengan otak Cella yang memilih menjadi sekretaris Birma di bandingkan duduk anteng di rumah menunggu suami pulang kerja. Padahal laki-laki yang menjadi suaminya itu cukup mapan dan mampu untuk memenuhi kebutuhan Cella yang memang cukup berkelas. Tapi setelah kembali di pikir, bagaimana dengan dirinya sendiri? Bukankah sama saja? Ah, sudahlah Clara memang kadang tak sadar diri.
“Pak Bir, lanjutin dong yang tadi,” pinta Cella memotong obrolan basa-basi antara suami dan atasannya.
“Gak sopan kamu itu, main potong pembicaraan orang aja.” Bram yang berada di samping Cella, memberikan satu sentilan pelan di pelipis istrinya itu, membuat Cella memajukan bibirnya.
“Kalau gak di potong nanti kamu sama Pak bos keasyikan, dan akhirnya obrolannya merambat soal pekerjaan, lupa waktu dan aku di cuekin. Lagi pula obrolan aku sama Pak Birma lebih penting dari pada obrolan kamu. Ini soal masa depan, antara lanjut dan tidaknya perselingkuhan aku sama Pak Birma.” Ujar Cella panjang lebar, yang lagi-lagi mendapatkan sentilan dari suaminya.
“Kamu mah KDRT, aku laporin ke Badan Perlindungan Anak baru tahu rasa!” delik Cella yang kali ini dapat lemparan bantal sofa dari Clara.
“Pak Bram dapat istri model gini dari mana sih? Jangan bilang kalau waktu itu Pak Bram khilaf, atau malah kelilipan?” Clara memicing curiga, menatap laki-laki yang usianya di atas Birma, dan tentu juga di atas dirinya. Bram yang mendapatkan pertanyaan itu bukannya tersinggung tapi malah terkekeh dan itu membuat Cella, sang istri semakin cemberut.