Life After Marriage

Life After Marriage
Chapter 57



“Birma cepat, dong, nanti kita telat!” teriak Clara dari teras depan, membuat Birma yang baru saja menuruni tangga sekembalinya dari kamar mencebikkan bibir, karena istrinya itu tidak sabaran.


“Kamu sebenarnya ngambil kunci mobil ke kamar apa ke Dubai sih, Bir? Lama banget!” gerutu Clara yang pada akhirnya menyusul suaminya ke dalam rumah.


“Sabar kali, Yang. Aku kan nyari dulu, lupa dimana simpannya.” Jawabnya beralasan. Padahal sebenarnya Birma memang sengaja berlama-lama di kamar. Berharap waktu cepat berlalu dan mereka telat datang ke pernikahan teman Clara yang beberapa waktu lalu membuatnya cemburu.


Birma tidak mau datang, tapi istrinya itu kekeh ingin hadir. Meskipun tidak memaksa Birma ikut, tapi mana rela Birma membiarkan istrinya pergi sendiri, terlebih dengan orang lain yang berjenis kelamin laki-laki. No! Birma tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Meskipun Clara terkadang kasar dan pemaksa, Birma tetap tidak ingin kehilangan wanitanya.


“Sekarang udah ketemu ‘kan kuncinya? Yuk berangkat, nanti kita telat.” ujar Clara seraya berjalan kembali keluar dari rumah.


Melihat istrinya yang sepertinya sudah tidak sabar ingin pergi membuat Birma menghela napasnya panjang dan melangkah dengan berat hati menyusul sang istri tercinta.


“Manyun aja kamu, kanapa?” tanya Clara begitu suaminya masuk ke dalam mobil dan duduk di jok balik kemudi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah masih dengan kebisuannya.


Menyadari aksi mogok bicara suaminya itu, Clara yakin bahwa sepertinya sariawan pria itu mulai kembali kambuh. Namun jangan salah menafsirkan, sariawan yang Clara maksudkan disini adalah sariawan dalam kata lain cemburu, bukan sariawan penyakit.


Tidak menghiraukannya, Clara memilih untuk berselancar dengan benda pipih kesayangannya, bertukar pesan dengan Cella yang menunggu di tempat acara. Memang, sejak pertemuannya dengan Radit beberapa waktu lalu, bukan hanya Clara yang di undang, tapi Cella pun ikut menerima undangan itu. Alasan Radit karena Cella cantik terlebih teman Clara. Makanya wanita itu ikut di undang meskipun tidak di kenal.


Setibanya di tempat acara, Birma langsung menggandeng istrinya itu dengan posesif, berjalan masuk dengan Bram dan Cella lalu menemui si pengantin untuk memberikan ucapan selamat.


Sial dan menyebalkan, Birma malah dijadikan photographer dadakan oleh istrinya sendiri untuk mengambil potret perempuan itu dengan kedua mempelai pengantin.


Yang membuat panasnya adalah tangan si pengantin laki-laki merangkul pundak Clara, padahal istri dari pria itu ada di sampingnya. Tidak sampai di sana saja, karena selanjutnya berbagai pose ketiga orang itu lakukan seolah Clara dan mempelai wanita bagai memperebutkan si laki-laki. Birma kesal, dan protesanpun tentu saja dirinya layangkan. Tapi Clara yang sepertinya memang sengaja malah semakin senang memanasi.


Pembalasan dendam wanita itu masih berlanjut ternyata, padahal Birma mengira bahwa semuanya sudah selesai, apalagi melihat tekad Clara yang berusaha menjadi istri baik, lembut dan manis belakangan ini, meskipun selalu Birma gagalkan. Namun ternyata semua anggapannya itu salah, Clara tetaplah Clara. Pembalasan akan perempuan itu layangkan di setiap ada kesempatan. Tapi perlu di ingat bahwa apa yang Birma lakukan adalah ketidaksengajaan. Tidak seperti yang dilakukan istrinya saat ini.


Sebal, tentu Birma rasakan, tapi mau bagaimana lagi, Birma tidak mungkin menghajar Radit di tengah acara pernikahan laki-laki itu sendiri. Terlebih ia tahu, apa yang dilakukan kedua orang itu sekedar becanda hanya untuk berusaha membuatnya cemburu.


Arghh, Clara memang paling bisa membuatnya kesal hingga panas dingin.


🍒🍒🍒


“Rumah suami baru gue kok rame, Cla. Lagi banyak tamu, ya?” tanya Cella begitu turun dari mobilnya yang barada di belakang mobil Birma. Clara hanya mengedikan bahunya sebagai jawaban. Lagi pula apa yang mesti Clara katakan di saat dirinya sendiri tidak tahu?


Clara melangkahkan kaki terlebih dulu, diikuti Cella, Birma dan Bram di belakangnya. Kerutan di kening Clara dengan cepat hilang begitu melihat siapa yang menjadi tamu di rumah kedua orangtuanya, lalu masuk tanpa sungkan, meninggalkan Cella yang terpaku di ambang pintu dengan mata berbinar dan mulut terbuka lebar.


“Masuk Cell, ngapaian lo masih bengong disana?” suara Clara itulah yang menyadarkan Cella dari tingkah bodohnya yang membuat perhatian orang-orang di dalam sana. Dan Cella pun baru sadar bahwa suaminya sudah bergabung dengan orang-orang yang tidak di kenalnya itu. Hanya tinggal dirinya sendiri yang berdiri di ambang pintu. Malu? Ck, tentu saja itu tidak ada dalam kamus Cella.


“Cell, lo gak mau masuk?” tegur Clara untuk kedua kalinya, karena mantan sekretaris dari suaminya itu tidak juga memberi respons.


“Bawel lo, Cla. Tunggu dulu bentar kenapa sih, gue masih mengamati ini!” dengusnya kesal seraya melayangkan delikan pada Clara.


“Mengamati apa?” tanya salah satu wanita cantik di dalam sana yang tidak sama sekali Cella kenal.


“Mengamati pangeran-pangeran yang ada di ruangan ini, Tan. Saya jadi bingung mau pilih yang mana.” Celetuk Cella dengan polosnya, mengejutkan semua orang di dalam sana.


Sebagian orang ada yang tercengang, ada juga yang menahan senyum akibat tingkah polos wanita hamil itu. Sementara Clara menepuk jidatnya cukup keras, lalu menghampiri Cella yang tidak juga bergerak dari tempatnya.


“Jangan mulai, Cell. Pawangnya ganas semua, gue khawatir lo di telan mereka.” Clara memberikan peringatan, tahu bagaimana posesifnya istri dari sahabat-sahabat ayah dan bunda-nya. Clara was-was juga sedikit menyesal membawa wanita itu ke rumah orang tuanya.


“Gak apa-apa biar nanti gue telan balik.” Kata Cella dengan santainya. Matanya tidak juga lepas dari sosok-sosok tampan yang memanjakan mata di depannya saat ini, tanpa peduli bahwa tatapan tajam sudah satu per satu menghunusnya.


“Loh, Tu, kamu datang?” satu suara merdu itu mengalihkan Clara dan Cella. Clara hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara Cella sudah memekik senang dengan kehadiran seseorang yang ingin di temuinya.


“Hallo Pak Sayang,” sapa Cella dengan kedipan genitnya, membuat suasana langsung mencekam dengan tatapan horror yang berasal dari wanita cantik di usianya yang tidak lagi muda itu, apalagi saat sebuah anggukan dan senyum kecil di berikan laki-laki di depan sana sebagai respons.


“Siap-siap lo, Cell, bentar lagi Ibu Macan ngamuk.” Bisik Clara tepat di depan telinga mantan sekretaris suaminya itu.


“Gak apa-apa, anak macannya aja udah biasa gue hadapi selama enam tahun ini.” Cuek Cella masih juga belum menyadari kehororan yang sedang berlangsung di ruang tamu yang penuh ini. Tatapannya masih terfokuskan pada sosok gagah Pandu yang membuatnya kagum.


Bram yang melihat aksi istrinya itu hanya mampu menggelengkan kepala. Memiliki istri seperti Cella memang sebuah ujian, apalagi jika mode genitnya sudah on. Bram kadang tidak enak hati pada orang yang tidak sengaja istrinya usik. Meskipun tahu Cella hanyalah kagum semata dan tidak mungkin berbuat lebih, tetap saja, Bram khawatir istrinya terancam. Karena bagaimanapun tidak semua orang seperti Birma dan Clara yang kebal di goda. Semoga kali ini istrinya selamat.