
Birma mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk menyesaikan indra penglihatannya dengan cahaya matahari yang menembus lewat jendela, yang gordennya tidak di pasang. Itu adalah keinginan ibu hamil kesayangannya semalam.
Clara memang selalu aneh-aneh keinginannya, entah karena kehamilannya atau pikiran wanita itu sendiri, yang jelas Birma tidak berani untuk menolak. Resikonya terlalu berat, dan Birma tidak ingin menanggungnya.
“Erghh…,” erangan kecil Clara terdengar dan tak lama wanita cantik yang berada di sampingnya itu mengerjapkan kedua matanya, terganggu oleh bias cahaya yang langsung masuk menembus kaca.
“Selamat pagi Mommy-nya anak-anakku,” sapa Birma manis saat kedua mata Clara terbuka sempurna, kemudian melayangkan kecupan singkat di kening istrinya sebagai permulaan menyambut hari.
“Pagi juga Daddy,” sahut Clara sedikit ragu-ragu. Jujur saja, hingga saat ini Clara masih saja geli memanggil Birma dengan sebutan itu. Berasa menjadi sugar baby-nya om-om kurang belaian.
Birma menyunggingkan senyumnya saat mendengar sahutan dari Clara, kemudian kembali melayangkan kecupan di kening, setelah itu bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan meminta sang istri raih dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka.
Untuk kali ini Clara tidak banyak protes, karena tidak ingin paginya rusak seperti pagi-pagi biasanya. Sekarang Clara ingin membuat suasana pagi menjadi tenang, tanpa perdebatan dan tanpa teriakan. Semoga saja suaminya bisa di ajak kerja sama dalam menjalin sebuah keharmonisan yang memang begitu jarang mereka dapatkan selain sebuah kekesalan yang di akibatkan dari kejahilan salah satu di antara mereka. Namun…
“Birma!” teriak Clara kesal saat sebuah tangan yang penuh dengan tepung mendarat di wajahnya.
“Haha….” Tawa Birma begitu membahana memenuhi seantero dapur. Bahagia karena berhasil mengeluarkan kembali jiwa macan Clara di tengah fokunya membuat adonan kue untuk hidangan yang akan di suguhkan pada sahabat-sahabatnya yang akan datang siang nanti.
Sejak tiga puluh menit lalu hanya diam tanpa percekcokan seperti hari-hari sebelumnya, membuat Birma merasa tidak berada di rumah. Maka, menjahili istrinya itulah yang pada akhirnya Birma lakukan, karena dengan begitu, kekesalah Clara akan keluar dan suasana tidak lagi sepi.
Clara sepertinya memang tidak bisa menjadikan harinya normal yang penuh ketenangan, karena ada saja yang Birma lakukan untuk menghancurkannya. Dan Clara tidak pernah bisa menghentikan itu.
Hormon kehamilannya yang membuat ia tidak bisa mengontrol kekesalan terhadap laki-laki di depannya. Entah mengapa seiring berjalannya usia kandungan, Clara merasa bahwa Birma begitu menyebalkan di matanya. Semoga saja anaknya yang masih berada di dalam perut tidak menolak keberadaan ayahnya.
🍒🍒🍒
“Gak ada jamuannya nih, Cla?” tanya Daniel menatap ke arah meja yang di huni oleh beberapa gelas berisi sirup melon.
“Hooh, Cla, lo gak tahu kalau perut gue kelaparan?” Akbar mengusap-usap perutnya yang baru saja berbunyi, melayangkan protesan karena tidak di beri hidangan.
“Tahu lo, ada tamu bukannya di suguhin, malah di biarin kelaparan, setidaknya ada keripik kentang, Cla, atau brownis keju.” Tambah Nino, kemudian meneguk hingga setengah gelas sirup di depannya.
Clara mendengus pelan, teringat bagaimana pada akhirnya ia membuang-buang adonan kue yang seharusnya saat ini terhidang. Gara-gara Birma yang malah terus membuatnya kesal, mencolek-colekan adonan yang sedang di buat pada wajahnya, dan bahkan terigu yang akan dirinya gunakan pun malah berakhir berserakan di lantai. Semua itu jelas Birma penyebabnya.
Dapur berantakan tanpa hasil, semua di sebabkan oleh Birma, membuat Clara menyesal kenapa tidak memilih mengurung laki-laki itu di kamar.
“Sebentar lagi datang mungkin. Gue udah pesan makanan tadi.” Pada akhirnya Clara menutuskan untuk memesan beberapa kue dari toko langganannya.
Sungguh berat Clara melakukan itu, karena harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk menjamu sahabat-sahabatnya yang tidak ada yang tidak rakus.
Menyebalkannya lagi, Birma tidak ingin mengeluarkan uang untuk membayar tagihan itu dengan alih-alih uang belanja sudah masuk rekening Clara. Hanya bisa menghela napas Clara pada akhinya.
Akbar dan Nino yang masih berstatus jomlo meluncurkan aksinya dalam menggoda meskipun pada akhirnya di patahkan dengan kedatangan Dava yang ternyata sudah mengenal lebih dulu dan mengutarakan niatnya untuk melamar.
Dan pada akhirnya kekesalan Clara yang sejak pagi bersarang tergantikan dengan tawa kepuasan atas penderitaan kedua sahabat jomlonya. Terlebih percekcokan antara kedua calon pengantin di hadapannya.
Clara jadi merasa tengah bercermin, menyaksikan bagaimana dirinya dengan Birma setiap hari, yang tidak jauh-jauh dari sebuah percekcokan yang di sebabkan dari sebuah kejahilan, atau sebab lainnya yang selalu saja memancing kekesalan. Dan akan kembali akur saat lelah menghinggapi keduanya.
“Lo belum gue nikahin udah buas aja sih, Fa. Gue jadi makin penasaran segimana buasnya lo di tempat tidur.”
Satu bantal sofa Clara lemparkan ke arah Daniel yang selalu saja berbicara ngasal dan menjurus pada hal-hal yang kotor. Tidak hentinya Clara mengusap perutnya agar sang jabang bayi tidak mencontoh sikap orang-orang di sekelilingnya.
“Makin buas, Niel asal lo tahu.” Birma menyahut.
“Yang benar lo, Bir?” Daniel bertanya tak percaya, dan satu anggukan mantap menjadi jawaban yang Birma berikan.
“Anjir, kalau gitu gue harus nyari yang buas juga dong biar ranjang selalu bergoyang.”
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Clara, Shafa dan Kayla yang berada lebih dekat dengan Nino langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi, dan inginnya merobek mulut si gigi gingsul itu hingga robek. Sementara Cleona dengan segera menutup telinga kedua anaknya agar tidak terkontraminasi dengan hal-hal yang belum selayaknya bocah kembar itu dengar. Rapa menendang tulang kering sahabatnya dan memaki Nino atas ucapan mesumnya. Tidak sadar bahwa dirinya sendiri sudah meracuni telinga putranya yang masih di bawah umur dengan kata-kata kasarnya.
“Nak, nanti kamu jangan bergaul sama om-om kamu ini ya, mereka gak baik, apalagi ucapannya. Kamu harus seperti layaknya pangeran, yang baik tutur katanya, perilakunya, ju…”
“Uuueekkk.” Semua orang yang ada di sana berlaku seperti ingin muntah mendengar setiap ucapan Clara pada perutnya, kecuali Birma yang kini sudah mengangguk menyetujui ucapan istrinya. Lagi pula mana ada orang tua yang tidak ingin memiliki anak yang berkribadian baik? Jika pun ada, itu jelas bukan Birma orangnya.
“Pangeran apa, Cla? Paneran kodok?”
“Ibunya aja modelan lo, mana mungkin anaknya layak pangeran.”
“Yang ada juga gak akan beda jauh sama Bapaknya, kalem-kalem nyebelin. Atau justru kayak lo…”
“Bagus dong kalau kayak gue, anggun, cantik, lemah lembut, baik hati dan tidak sombong.” Clara memotong ucapan yang saling bersahutan dari sahabat-sahabatnya, lalu mengibaskan rambutnya dengan sok cantik. Namun semua yang ada di sana malah semakin ingin memuntahkan isi perutnya, terlebih Birma yang begitu berat mengakui apa yang di ucapkan istrinya.
Ingat, Birma hidup serumah dengan Clara sudah akan menuju angka lima, ia tahu bagaimana istrinya, dan Birma harus dengan berat hati mengatakan keanggunan itu tidak ada pada diri Clara, bahkan saat tidur sekalipun.