
“Elusnya yang bener dong, Birma!” omel Clara, membuat Birma yang hampir ketiduran mengerjapkan matanya.Tangannya yang berada di perut buncit sang istri kembali bergerak lembut di tengah rasa kantuk yang benar-benar sudah sulit dirinya tahan. Tentu saja, ini sudah malam, bahkan hampir pagi tapi Clara melarang dirinya untuk tidur. Sedikit saja elusannya berhenti maka Clara akan memberikan cubitan panasnya agar Birma kembali melek. Kejam bukan?
“Birma, perut aku kok makin mulas,”
“Ya udah ke kamar mandi aja sana,” Birma menyahut dengan mata setengah terpejam. Ia benar-benar ngantuk saat ini, dan hanya dalam hitungan detik dari sahutannya barusan, Birma sudah berhasil terpejam sepenuhnya. Tidak lagi peduli dengan guncangan yang Clara berikan saking ngantuknya, membuat Clara mendengus kesal, sementara perut semakin mulas ia rasakan.
Merasa tidak berguna membangunkan suaminya, Clara meraih ponsel yang sengaja ia simpan di samping bantalnya lalu segera menghubungi orangtuanya untuk datang menjemput. Beruntunglah sang ayah sigap di sana, jadi Clara tidak lagi perlu cemas, hanya harus menunggu dan menahan rasa sakit yang semakin menjadi untuk beberapa waktu hingga orangtuanya datang. Sementara Birma tidak sama sekali terganggu dalam tidurnya. Cakaran yang Clara berikan hanya di balas desisan pria yang mengaku ingin menjadi suami dan ayah siaga, nyatanya malah justru tertidur di saat istrinya siap melahirkan. Haruskan Clara menendang laki-laki itu saja? Menyebalkan!
“Birma kamu yakin gak mau bangun? Aku mau lahiran loh ini, Birma!” guncangan yang tidak lembut sama sekali Clara berikan pada tubuh suaminya, air mata sudah menetes saking kesalnya pada sang suami juga mulas yang di rasakannya. Tapi Birma malah menggeliat malas, lalu mengubah posisinya menjadi membelakangi. Sungguh menyebalkan. Laki-laki itu bisa tidur nyenyak di saat dokter sudah mewanti-wanti mengenai kelahirannya.
“Ya Tuhan, kenapa gue punya suami kek gini amat,” keluhnya seraya turun perlahan dari tempat tidur, melangkah dengan sesekali meringis menahan rasa sakit yang semakin menjadi di bagian bawah perutnya. Hingga Clara yang sudah tidak lagi kuat berjalan memilih untuk duduk di undakan tangga paling atas dan bersandar pada pagar pembatasnya, meringis sambil terus meneriaki Birma yang tidak juga kunjung datang. Hingga suara pintu terbuka dari arah bawah mengembangkan senyum lega Clara. Ayah, bunda dan abangnya datang di susul mertuanya.
“Clara, astaga!” panik Arindi begitu melihat kondisi lemah menantunya. “Suami kamu mana, sayang?” sambil mengusap peluh di kening menantu kesayangannya Arindi bertanya seraya menatap sekeliling mencari keberadaan sang putra.
“Ti—tidur,” sahut Clara dengan suara lemahnya. Arindi hampir saja menyemburkan kemarahannya jika Rapa dan Pandu tidak dengan sigap menggeser Arindi untuk membawa Clara menuju mobil segera. Saat ini marah-marah bukanlah hal yang utama. Clara tengah kesakitan dan harus segera di bawa ke rumah sakit. Urusan Birma bisa menyul nanti. Dan ingatkan Rapa untuk memberi iparnya itu pelajaran setidaknya sebuah tinjuan mematikan.
🍒🍒🍒
Begitu sinar matahari mengusik tidurnya, Birma bangun lalu menggeliat, meregangkan tubuhnya yang sedikit terasa pegal, kemudian dengan perlahan membuka matanya yang masih saja terasa lengket padahal ia sudah merasa bahwa tidurnya begitu nyenyak. Tidak seperti malam-malam biasanya yang terganggu rengekan Clara yang meminta di elus.
Menoleh pada sisi lain tempat tidurnya, Birma sudah tidak lagi menemukan sang istri di sana. Tidak ada panik mendapati itu, karena bagaimanapun bukan hanya sekali ini saja Clara bangun lebih dulu. Dengan santainya Birma turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi sebelum kemudian keluar dari kamar, seperti biasa mencari istri montoknya untuk ia setor kecupan selamat pagi.
Namun pagi ini Birma merasakan keanehan di dalam rumahnya, teriakannya tidak ada balasan, dan seluruh penjuru rumah terasa sepi tak berpenghuni. Tentu saja Birma heran, karena tidak biasanya rumah sesepi ini. mendengar teriakannya sekali saja, Clara biasanya sudah mengomel. Tapi untuk kali ini jangankan omelan, sahutan saja tidak Birma dengar. Dan rumah benar-benar kosong begitu setiap penjurunya Birma cek untuk mencari keberadaan sang istri yang ia anggap tengah bersembunyi.
“Kamu ke mana sih, Yang, tumben banget!” Birma melanjutkan langkahnya keluar dari rumah menuju pos satpam, menanyakan ke mana sekiranya sang istri pergi.
“Loh, saya kira Bapak ikut ke rumah sakit semalam,” kata pak satpam dengan heran, melihat sang majikan yang seperti tidak tahu apa-apa.
“Bukain pintu pagarnya, Pak!” teriak Birma pada satpam rumahnya begitu berhasil mengambil kunci mobilnya. Dengan gesit pak satpam membuka gerbang dan membiarkan mobil yang Birma kendarai melesat dengan cepat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Birma tidak hentinya menggerutu, memaki dirinya sendiri karena sudah abai pada istrinya, melupakan kondisi Clara yang kapan saja bisa melahirkan buah cintanya. Dan sialnya semalam ia malah memilih rasa kantuknya dari pada peduli pada rengekan Clara yang mengatakan mulas di perutnya.
“Astaga kenapa gue bisa sebodoh ini,” rutuknya berusaha tiba secepat mungkin di rumah sakit tempat sang istri akan melahirkan. Jalanan macet membuat Birma berkali-kali menyumpah serapahi walau kemudian kembali melantunkan doa untuk keselamatannya dan juga istri serta anaknya yang entah di lahirkan atau belum.
Perjalanan yang biasanya bisa ia tempuh dengan cepat, kini jadi terasa lama dan panjang, membuat Birma tak sabar hingga memarkirkan mobilnya begitu saja dan sempat kena tegur satpam di sana. Untunglah satpam itu bisa memahami keadaannya dan mau membantu untuk memarkirkan mobil Birma dengan benar. Sampai di sini setidaknya Birma bersyukur tidak harus membuang waktu lebih lama lagi.
“Sus, pasien melahirkan atas nama Clara Ratu Yeima?” tanya Birma dengan tidak sabaran pada si resepsionis di lobi rumah sakit.
“Di ruang bersalin no 204 …"
Belum selesai wanita cantik resepsionis itu berucap, Birma sudah lebih dulu belari ke arah lift, dan seolah hapal, pria itu langsung menekan angka dimana kamar dengan nomor yang di sebutkan tadi berada. Menunggu selama beberapa detik, hingga akhirnya tiba di lantai yang Birma tuju. Di sana terlihat sepi, dan keberadaan keluarganyapun tidak dapat Birma temukan, padahal ia sudah berada di depan ruangan bersalin 204, sesuai dengan yang di sebutkan resepsionis tadi.
“Sus, pasien melahirkan atas nama Clara Ratu Yeima, di sini bukan?” Birma mencegat salah satu suster yang kebetulan lewat di depannya.
“Betul Bapak, tapi ibu Clara sudah pindah ruangan beberapa menit yang lalu,” kata suster itu dengan ramah.
“Pindah ke mana, Sus?”
“Kalau tidak salah ruang VVIP lantai 8, untuk nomor kamarnya saya kurang tahu, Bapak bisa tanyakan pada suster di sana nanti.” Setelahnya Birma mengucapkan terima kasih, dan berlalu pergi menaiki tangga karena lift yang ingin di tumpanginya masih tertutup, di tambah dengan banyaknya orang yang juga menunggu di sana, membuat Birma lebih memilih menaiki tangga agar lebih cepat sampai. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, melihat putrinya kecilnya yang kemungkinan besar sudah lahir. Dan Birma benar-benar menyesal karena tidak menyaksikan langsung proses melahirkan sang istri, Birma menyesal tidak berada di samping Clara saat wanita itu berjuang melahirkan buah cinta mereka.
“Siap-siap aja gue kena murka Nenek sihir, mulai dari induknya sampai moyangnya,” Birma menggelengkan kepala, ngeri membayangkan bagaimana murkanya keluarganya nanti saat dirinya datang. “Semoga aja, wajah tampan gue gak berkurang ketampanannya nanti,” desah Birma begitu langkahnya semakin dekat menuju lantai delapan yang di sebutkan suster yang di temuinya tadi. “Nak, doain Daddy kamu selamat dari amukan para macan menyeramkan kesayangan Mommy-mu.” Pinta Birma pada sang putri yang entah dimana keberadaannya saat ini. Berharap bahwa anaknya bisa melindunginya nanti ketika ia bertemu dengan keluarganya juga keluarga dari istrinya.