
“Selama aku kerja kamu di rumah aja, jangan berkeliaran!” pesan Birma pada sang istri di pagi dingin akibat gerimis mengundang kemalasan untuk tetap rebahan tapi sayang tidak dapat Birma lakukan karena tanggung jawab pekerjaan.
“Iya,” Clara memutar bola matanya malas. Lagi pula siapa yang mau berkeliaran di cuaca dingin dan hujan seperti ini. Jikapun ada itu sudah pasti bukan Clara. Ia lebih memilih rebahan, apalagi dengan perut besarnya sekarang, jangankan untuk keluyuran ke kamar mandi saja malas jika tidak karena panggilan alam.
“Ya udah kalau gitu aku berangkat kerja dulu. Kamu baik-baik di rumah. Baby juga baik-baik di perut Mommy ya, Nak, jangan nakal!” bisik calon ayah itu tepat di depan perut Clara.
“Iya Daddy, adek gak akan nakal,” sahut Clara dengan suara yang sengaja menirukan anak kecil. Terdengar menggemaskan walau sedikit menggelikan di indera pendengaran Birma, namun tak urung senyum itu terbit di bibirnya. Setelahnya Birma mengacak rambut sang istri, kemudian melayangkan kecupan di kening seperti biasa sebelum berlalu pergi untuk bekerja, mengais rejeki demi menghidupi istri dan anaknya yang akan lahir beberapa minggu lagi.
Tidak butuh waktu lama untuk Birma tiba di kantornya, dan beruntung, begitu tiba hujan pun ikut reda, membuatnya tidak harus ribet mengeluarkan payung untuk melindungi pakaiannya agar tidak basah.
“Pak Birma!”
Panggilan itu membuat Birma yang berjalan masuk ke lobi menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara berasal. Beberapa meter di belakangnya sosok yang sudah lama tidak menyapanya itu mengulas senyum sambil berjalan anggun dengan payung ungu muda yang menutupi kepalanya, padahal hujan sudah tidak lagi mengguyur bumi.
“Kenapa Din?” tanya Birma saat sosok cantik itu sudah berjarak beberapa langkah di depannya. Sengaja Birma tidak melakukan basa-basi dengan perempuan itu, karena bagaimanapun ada istrinya yang pasti akan cemburu jika tahu kedekatannya ini, jadi Birma memilih untuk bertanya langsung tujuan Dinda memanggilnya.
Sudah cukup lama mereka tidak bertegur sapa karena Birma memang tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan sang istri, dan sepertinya Dinda pun memang tidak berusaha untuk menampakan diri di depannya beberapa waktu belakangan ini. Entahlah apa alasan perempuan itu, yang jelas Birma cukup lega dengan itu. Namun entah ada angin dari mana tiba-tiba sekarang memanggilnya. Membuat Birma heran, tentu saja.
Dinda yang seolah paham akan keengganan Birma berlama-lama di dekatnya pun mengulas senyum tipis, berusaha tegar walau dalam hati terasa perih. “Aku cuma mau pamit, Mas,” ucapnya pelan, berusaha untuk tidak menatap mata pria tampan di depannya itu yang masih saja selalu memberikan kejut jatuh cinta pada hatinya yang lemah.
“Pamit? Kamu mau ke mana memangnya?” tanya heran Birma. Seingatnya Dinda adalah karyawan tetap di perusahaan ayah mertuanya ini, bahkan sudah pernah akan di angkat menjadi sekretarisnya waktu itu, tapi tantu saja karena Clara jabatan itu tidak jadi Dinda sandang.
“Iya, Mas, Dinda mau kembali ke Yogya. Ini hari terakhir Dinda kerja, mumpung ketemu Mas di sini, Dinda sekalian pamit,” ucapnya dengan seulas senyum yang terlihat jelas dipaksakan. Sejenak mendongak lalu kembali menunduk. Tidak kuasa jika lebih lama menatap mata pria yang sejak dulu disukainya itu. Dinda tidak ingin kembali lemah dan memilih menjadi bodoh, mengganggu rumah tangga Birma yang sudah bahagia bersama istrinya. Dinda tidak ingin menjadi wanita jahat dalam cerita cinta orang lain.
“Kenapa resign?" heran Birma menaikan sebelah alisnya. "Bukan gara-gara …. Mas ‘kan?” ini memang terdengar sedikit percaya diri, tapi hanya kesimpulan itulah yang melintas di kepalanya. Awalnya Birma merasa bodoh bisa mengucapkan itu, namun setelah mendapati kebisuan Dinda barulah Birma yakin bahwa memang dirinya yang menjadi alasan wanita itu berhenti dari pekerjaannya. “Mas minta maaf, Din…”
Dengan cepat Dinda mendongak dan menggelengkan kepalanya. “Mas gak salah, Dinda yang tidak tahu malu karena masih saja mengharapkan Mas di saat Mas sudah berkeluarga. Dinda yang seharusnya meminta maaf. Maaf membuat Mas berantem sama Mbak Clara, maafin Dinda karena sudah sempat merusak keharmonisan rumah tangga kalian. Tidak seharusnya Dinda memiliki perasaan itu, maafin Dinda Mas,” Dinda kembali menunduk seiring dengan suaranya yang semakin lirih.
Mengenai perasaan Dinda, Birma tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perempuan itu karena bagaimanapun itu hadir tanpa disadari, berkembang tanpa bisa di tahan dan bertahta tanpa mampu di hindari. Perasaan cinta itu tidak salah, hanya saja hadirnya tidak tepat waktu. Jikapun dalam waktu yang tepat, Birma tidak bisa memastikan bahwa perasaan Dinda akan terbalas, karena takdir, Tuhan yang mengendalikan, sementara manusia harus siap di permainkan oleh takdir itu sendiri.
“Mas gak akan menghalangi kepergian kamu, Din, Mas hanya berharap kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas, laki-laki yang bisa membalas perasaan kamu melebihi perasaan kamu terhadap Mas. Dan Maaf karena mungkin secara tidak sengaja Mas sudah menyakiti kamu. Maaf tidak bisa membalas perasaan kamu, dan maaf membuat masa lalu kita menimbulkan harapan besar untuk kamu tentang kita. Kemanapun pada akhirnya kamu pergi, Mas berharap kamu selalu bahagia.” Seulas senyum tulus Birma berikan sekaligus menutup obrolan mereka yang cukup panjang karena Birma harus segera masuk untuk bekerja begitu pun dengan Dinda yang harus mengemasi barang-barangnya sebelum benar-benar pergi dari kota yang memberinya kenangan pahit akibat masa lalu yang tidak lagi bisa dirinya kejar dan jadikan masa depan sesuai harapan yang tersimpan selama bertahun-tahun lamanya.
🍒🍒🍒
“Lo ngobrol apa tadi sama mantan lo itu, Bir?” Rapa yang saat datang tadi pagi sempat melihat ipar dengan karyawannya mengobrol di lobi langsung mendatangi ruangan Birma begitu jam makan siang tiba.
Sungguh rasa penasarannya amat menyiksa sepanjang hari ini. Dan Rapa sebenarnya sudah ingin menghampiri adik iparnya itu sejak tadi, tapi sayang, sang ayah tidak berhenti menjejalinya dengan pekerjaan yang setiap lima menit sekali datang dan harus dirinya pelajari. Pandu terlalu kejam menjadi ayah sekaligus bos untuknya. Beruntung ia tidak muntah karena pekerjaan-pekerjaan itu.
“Gak ngobrol apa-apa,” jawab Birma yang masih fokus pada kertas di depannya, tidak sama sekali menoleh sejak tahu bahwa Rapa-lah yang menjadi tamunya.
“Cih bohong banget,” cibir Rapa yang tentu saja tidak percaya mengenai apa yang dikatakan adik iparnya itu. Lagi pula memangnya siapa yang akan percaya kedua orang itu tidak mengobrol apa-apa sementara mulut bergerak? Jika bukan mengobrol, lalu apa dong, ngunyah? “Gue aduin Atu, lo Bir!” ancamnya kemudian, membuat Birma mendengus dan mengalihkan perhatian pada sang kakak ipar yang nyebelinnya minta ampun.
Birma bukannya takut di adukan pada sang istri mengenai pertemuannya tadi pagi bersama Dinda, karena tanpa di adukanpun Birma memang sudah berniat memberitahu Clara mengenai Dinda, sekaligus menyampaikan permintaan maaf sahabat kecilnya itu pada sang istri. Alasannya merespons karena tidak ingin kakak iparnya itu terus merecoki. Rapa tidak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya terjawab. Tidak beda jauh dengan perempuan kepo yang haus akan sebuah gosip. Semenyebalkan itu memang iparnya.
Akhirnya mau tidak mau Birma menceritakan mengenai kejadian tadi pagi secara singkat pada Rapa. Hanya pokok utamanya menganai pamitnya Dinda saja yang Birma pertegas agar laki-laki menyebalkan yang sayangnya kakak dari wanita tercintanya itu tahu bahwa tidak ada yang mesti di curigai. Birma tidak akan menghianati adik pria itu, dan dirinya tidak akan mengecewakan ibu dari calon anaknya. Birma setia, sampai kapanpun akan tetap setia pada Clara yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya.
***
Birma manis mulu belakangan ini guys, suka gak? kalau gak suka aku bangkitkan lagi jiwa menyebalkannya, 😄
samai di sini dulu ya, jangan lupa tinggalkan jejak dan dukung autor lewat like komen dan vote-nya ya.