IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
67. Kehidupan Setelah 3 Tahun



Yah. Ia akui dirinya masih sangat beruntung karena keluarga Wijaya tetap memperlakukannya dengan baik. Namun tetap saja hatinya masih memiliki celah, setiap kali melihat Arlan bersama Edward ia selalu merasa sedih. Bagaimana pun ia seorang ibu.


"Bibi, jangan terlalu bersedih! Aku yakin akan ada hari dimana kebahagiaan menjadi milik bibi!"


"Kamu benar. Bibi hanya merindukan keluarga bibi."


"Aku memahami perasaan bibi. Bibi juga harus ingat, biar bagaimanapun Nindia masih saudara ku, tapi ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya hingga ia beberapa kali mencoba bunuh diri sampai kehilangan bayinya. Dan kini ia bahkan harus dirawat di rumah sakit jiwa."


"Kamu benar."


"Aku yakin, Rama pasti sudah menyadari kesalahannya. Jika bibi sangat merindukannya, bibi bisa menjenguknya." Menggenggam tangan bibi Meryam.


'


'


'


Tepat 1 tahun Rama mendekam di balik jeruji besi. Bibi Meryam pun memberanikan diri untuk menemui putranya.


Bibi Meryam bergetar melihat sang putra yang semakin kurus dan terpaksa menggunakan tongkat karena kaki kirinya telah lumpuh.


"Mama?"


Bibi Meryam mengulas senyum namun matanya memerah saat mendengar kata itu setelah 1 tahun lamanya.


"Mama? Ini beneran mama? Berkaca - kaca.


"Mama beneran menjengukku? Mama tidak marah lagi?" Mengulas senyum dengan kedua matanya berlinang.


Perlahan bibi Meryam memegangi wajah Rama, "Bagaimana kabarmu?"


Rama terdiam sejenak, tenggorokannya tercekat lalu menatap dalam mamanya.


"Ma,, Rama minta maaf Rama telah berbuat jahat dan tidak mendengarkan mama, hiks hiks hiks!" Menggenggam tangan mamanya.


"Rama menyesal ma Hiks. Hiks. Hiks.!"


Keduanya menangis sambil berpelukan.


'


'


'


Sementara Aluna sendiri saat ini telah berkunjung ke rumah sakit jiwa tempat Nindia dirawat.


"Anak ku, anakku Aluna hehehe!" Menggendong boneka.


"Bukan. Kamu bukan anakku. Hiks. Hiks. Hiks." Melempar boneka lalu menangis.


"Aluna? Anakku?" Berfikir sambil menggaruk kepala. Anakku dimana? Hiks. Hiks. Hiks." Kembali menangis.


Aluna berdiri dibalik jendela memandangi wanita yang terlihat lusuh, rambut acak - acakan juga pakaian yang terlihat tidak layak. 


"Bagaimana dengan keadaan pasien?"


"Masih seperti awal masuk, ia terus memanggil anaknya dan juga selalu menyebut nama Aluna sebagai anaknya."


"Aku kakaknya, namaku Aluna! Sebelum dipenjara kami beberapa kali terlibat masalah!" Ucapnya bergetar.


"Tolong rawat dia dengan baik, saya berharap dia bisa kembali normal!" 


'


'


'


Waktu terus berlalu, hingga memasuki tahun ke 3. Hari itu merupakan hari ulang tahun Nathan dan Nala yang ke 3. Perayaan ulang tahun dilakukan secara sederhana di rumah Aluna. Hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja.


Tepat di halaman rumah yang bernuansa hijau itu, Nathan dan Nala memandangi cake cantik yang bersusun di atas meja. Mata keduanya berbinar memandangi cake itu.


Semua orang telah berkumpul termasuk keluarga Wijaya, Leo, Kris, Helen Yuni, Calista anak Kris dan beberapa tetangga terdekat. 


"Daddy!!" Teriak keduanya sambil berlari saat melihat Arlan berjalan membawa 2 bingkisan.


Arlan meletakkan bingkisannya dia atas rumput, lalu menggendong kedua anaknya. Mengecup pipi keduanya.


"Happy birthday malaikat - malaikatnya Daddy!" Mengulas senyum sontak kedua anak dalam gendongannya itu nyengir memperlihatkan barisan gigi mereka yang kecil dan terlihat lucu.


"Thank you Daddy! Cup! Kompak mengecup pipi Arlan membuat semua yang melihat tersenyum.


'


"Happy birthday to you, happy birthday to you! Prok. Prok. Prok."


Walau sederhana, namun raut semua orang yang ada di pesta itu terlihat bahagia.


"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga!" 


"Yeee... Heheheh!" Kompak tertawa saat Nathan dan Nala meniup lilin lalu di lanjutkan dengan memotong kue.


"Untuk Mommy, terima kasih telah melahirkan kami!" Ucap Nathan memberikan potongan pertama sontak Aluna memeluk kedua anaknya.


"Terima kasih sayang - sayangnya mommy!"


"Ini untuk Daddy, terima kasih sudah menyayangi kami dan selalu membelikan kami mainan banyakkk!" Celoteh Nala.


"Terima kasih malaikatnya Daddy!" Memeluk kedua anaknya.


"Ini untuk kakek dan Nenek!" Kompak.


"Hehehe,, terima kasih cucu cantik dan gantengnya kakek!" 


"Terima kasih cucu kesayangan nenek. Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu!" Nyonya Wijaya memeluk kedua cucunya dengan mata berkaca - kaca.


Satu persatu memberikan ucapan selamat kepada Nathan dan Nala, wajah keduanya berbinar menerima hadiah dan tak lupa juga keduanya membagikan kue untuk mereka.


Semua orang dewasa telah duduk menikmati beberapa hidangan yang telah di sediakan sambil ngobrol ringan. Edward dan Helen yang kini sudah menjalin hubungan terlihat menikmati moment itu, mereka ngobrol sambil tertawa. Sedangkan anak - anak terlihat asyik bermain di halaman yang luas itu, mereka berlari, melompat dan tertawa bersama. Suasana terlihat tenang dan damai.


'


Leo menghampiri Aluna yang duduk di kursi pojok seorang diri sambil mengamati anak - anak yang asyik bermain.


"Tidak terasa mereka sudah berumur 3 tahun!"  Sahut Leo duduk di samping Aluna.


"Kamu benar. Walau telah melewati banyak rintangan tapi kehadiran mereka kini telah menjadi obat untukku!" 


"Jadi aku benar - benar ditolak?" Tanya Leo membuat Aluna menatapnya.


"Ayolah dokter Leo, yang tertampan di RS HARAPAN IBU. Kamu adalah teman yang sangat berharga bagiku, aku tidak ingin menjalani pertemanan yang singkat dengan mu hanya karena sebuah hubungan. Aku ingin pertemanan kita seperti lingkaran yang tidak memiliki ujung!"


"Heheheh!" Kompak tertawa kecil.


Disisi lain, Arlan yang duduk bersama yang lainnya terlihat memandangi mereka.


"Leo aku berterima kasih kepadamu, dan maaf karena diakhir cerita aku lebih memilih menjadi temanmu untuk selamanya! Aku yakin ada hati yang diam - diam menunggumu!" Mengulas senyum.


Leo mengerutkan dahi perlahan melirik Yuni yang terlihat duduk menikmati makanan di piringnya. Keduanya kembali terkekeh kecil.


'


Leo menghampiri meja tempat Arlan dan yang lainnya.


"Semuanya aku pamit dulu yah, ada jadwal seminar!" Mengulas senyum menawan khasnya.


"Loh kok buru - buru bro?" Tanya Edward.


"Iya nih!" Sambung Yuni sontak membuat semua yang ada di meja itu saling melirik menahan tawan.


"Besok - besok kita tetap bisa kumpul lagi!"


"Ya sudah hati - hati!" Sahut Arlan dan Leo mengangguk sedangkan Kris yang berdiri di sampingnya menepuk kecil bahu Leo.


Selama beberapa tahun terakhir mereka semua telah menjalin hubungan pertemanan yang baik termasuk Aluna, sesekali mereka meluangkan waktu berkumpul ditengah kesibukan masing - masing.


'


'


'


Pesta telah usai, semua orang telah pulang terkecuali Arlan yang masih sibuk bermain dengan putra putrinya di halaman itu.


"Nala, Nathan kakak pulang dulu yah! Lain kali kita beli ice cream bareng - bareng lagi!" Nathan dan Nala tersenyum mendengar perkataan Calista sebelum memasuki mobil.


"Hey keponakan cantik dan tampannya paman, kalian jangan nakal yah paman pamit dulu!"


"Hati - hati paman!"


Setelah Kris, Calista, Edward, Helen juga Yuni pergi, kini giliran tujuan Wijaya dan Nyonya Wijaya yang berpamitan.


"Bye - bye kakek, nenek." Kompak melambaikan tangan saat mobil Van hitam itu perlahan meninggalkan tempat itu.


'


'


'


Aluna dan Arlan kembali ke halaman, keduanya duduk berdampingan.


"Sudah 3 tahun berlalu, Nala dan Nathan sudah besar. Tapi kita masih seperti orang asing yang terpisah jarak walau terlihat dekat!" Arlan memandangi Nala dan Nathan yang bermain.


"Hie Hie, Nathan ayo kejar kakak!" Nala berlari.


"Huaaaa! Nathan berlari mengejar Nala!"


"HiHie ,,Hie Hie,," Keduanya berlari sambil tertawa khas anak kecil.


Aluna menatap Arlan, "Aku tidak mengatakan tidak ingin kembali kepadamu, karena aku tidak tahu seperti apa takdir kita ke depannya! Tapi, setelah melewati perjalanan panjang diantara kita. Aku tidak ingin mengambil keputusan hanya karena egoku, aku tidak ingin semua terulang, aku sudah membuat kesalahan karena meminta perpisahan dan aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi, jadi maaf jika aku belum bisa kembali kepadamu! Bahkan aku tidak pernah berpikir untuk membuka hati untuk yang lain"


"Kamu orang baik, meski pada akhirnya kita belum bersama, tapi kamu tidak kehilangan, terutama Nala dan Nathan. Mereka akan tetap menjadi anakmu apapun status kita nantinya. Jika kita masih berjodoh dan waktunya telah tiba aku akan tetap kembali kepadamu!"


"Aku sudah mengatakan tidak akan memaksamu, aku hanya berharap kamu menemukan jalan keluar juga kebahagiaan. Meski diakhir cerita kamu tetap tidak memilih untuk kembali kepadaku, tapi hatiku telah memilihmu dan aku memutuskan menutup pintu untuk hati yang lain!" 


Keduanya saling tersenyum kecil, mereka tidak saling memaksa dan saling menuntut. Mereka lebih memilih menjadi orang yang dewasa untuk saling memahami dan menjadi orang tua yang baik.


Bersambung...