IJAB'MU TALAK'KU

IJAB'MU TALAK'KU
48. Bayaran Penyesalan



21 : 00 malam Paris,,,


Malam itu, Aluna berjalan ringan di pintu utama hotel tempatnya bermalam, di temani oleh Leo.


Saat berada di depan tangga, Aluna menghentikan langkahnya begitu juga dengan Leo. Keduanya berhadapan dan saling menatap.


"Terima kasih sudah mengantarku." Ucap Aluna mengulas senyum kecil.


Leo mengulas senyum mengangguk kecil. "Masuklah dan istirahat!" Balasnya.


Aluna berbalik perlahan menaiki tangga, sementara Leo masih berdiri memandangi nya.


"E' Aluna?" Panggilnya saat Aluna baru saja menaiki anak tangga ke 3. Sontak Aluna berbalik.


"Jangan lupa bsok malam!" Lanjutnya dan Aluna mengangguk. Keduanya kembali mengembangkan senyuman.


Karena malam itu Aluna sedikit lelah setelah menghadiri penutupan pameran. Jadi mereka telah sepakat untuk jalan berdua besok malam saja. Leo pun sangat memahami kondisi Aluna yang sekarang.


'


'


'


_PT. PERKASA WIJAYA_


"Ting!"


Pagi itu Arlan di dampingi Kris, dengan langkah lebar plus wajah datarnya ia berjalan keluar dari lift.


Dalam balutan stelan jas berwarna putih, dipadukan kemeja dan dasi senada terlihat tampan, terlebih dengan kacamata hitamnya semakin memancarkan aura ketampanan juga kewibawaannya sebagai pimpinan perusahaan.


Langkahnya lebar berjalan melewati beberapa ruangan yang berdinding kaca, menuju ruangan pribadinya.


"Yuni pak Rama sudah datang?" Tanya Arlan saat melewati Yuni.


"Hari ini beliau tidak masuk pak!" Balas Yuni sedikit menunduk.


Arlan menghentikan langkahnya mengerutkan dahi. "Kalau begitu bawakan dokumen proyek yang pernah pak Rama tangani sebelumnya!" Serunya serak kembali melanjutkan langkahnya.


"Siap pak!" Balas Yuni, lalu segera menuju ruang penyimpanan berkas.


'


"Ceklek!"


Kris pun dengan sigap membuka pintu ruangan, sehingga Arlan hanya langsung masuk dan duduk di kursi putar kebesarannya.


"Kris tolong urus pembekuan kredit untuk Nindia. Dan pastikan dia tidak lagi kembali ke apartemen!" Serunya serak.


"Baik pak!" Balas Kris yang berdiri di depannya.


"Em,, lalu bagaimana dengan mertua bapak?" Tanya Kris.


Sontak membuat Arlan membuka kacamata lalu mengerutkan dahi menatap Kris.


"E,, em maksud saya mantan mertua bapak?" Lanjutnya sedikit terbata menyadari kesalahan ucapnya.


"Itu terserah kamu saja, yang jelas aku tidak ingin melihat mereka lagi!" Balasnya.


'


"Took,, Took,, Took,,"


Suara ketukan dari balik pintu membuat keduanya berbalik, perlahan Yuni berjalan memasuki ruangan dengan membawa beberapa bundel di tangannya.


"Pak, ini dokumen yang bapak minta!" Ucapnya meletakkan bundel di atas meja.


Arlan pun mulai membuka bundel tersebut, dan Yuni sendiri langsung meninggalkan ruangan. Arlan berencana memeriksa kesesuaian laporan keuangan dan proyek yang di tangani oleh Rama. Dan seperti biasa selalu di dampingi oleh Kris.


Arlan terlihat fokus membaca setiap lembaran dokumen itu, lalu mulai mencocokkan dengan beberapa laporan lainnya.


'


Hampir sejam ia bergelut dengan dokumen - dokumen di depannya. Tiba - tiba saja ponselnya berdering.


"Derr,, Derr,, Derr,,"


Arlan melirik ponselnya di atas meja, "Papa?" Gumamnya mengerutkan dahi.


"Halo pa?" Ucapnya serak.


"Arlan, ibu kamu berencana ke apartemen! Papa khawatir kalau mereka bertemu akan membuat kekacauan lebih besar!"


Arlan membulatkan mata mendengar ucapan papanya. "Papa tenang saja biar Arlan yang menyusulnya." Balasnya memutus telepon.


Dengan cepat Arlan beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangan. "Yuni amankan dokumen di ruangan ku, aku ada urusan mendesak!" Serunya sambil melanjutkan langkahnya yang lebar bahkan sedikit menegang.


'


'


'


_APARTEMEN_


"Ting Tong, Ting Tong"


"Ting Tong, Ting Tong, Ting Tong"


Suara bel berbunyi beberapa kali membuat ibu Nindia bergegas membuka pintu.


"Ceklek!"


"Nyo,,,"


"PLAK!"


Belum sempat bertanya, nyonya Wijaya sudah mendaratkan satu tamparan di pipi kiri ibu Nindia.


"Akh!" Ringisnya memegangi pipinya yang memerah. "Nyonya, ada apa ini?" Tanyanya ketus.


"NINDIA?!"


"NINDIA?!"


Teriaknya tegas seraya memasuki ruangan tengah.


"Nyonya, ada apa ini? Nindia tidak ada!" Balas ibu Nindia mengikuti ke ruangan tengah.


"DIMANA PENGHIANAT ITU?" Tanyanya membentak menatap tajam ibu Nindia.


"Apa maksud nyonya penghianat? Datang - datang berteriak seperti ini?"


"Hegg,, tidak usah berpura - pura baik! Aku sudah mengetahui semuanya!" Balasnya mencengkram lengan kiri ibu Nindia.


"Aku sudah tahu kalau Nindia selama ini berselingkuh dengan Rama dan anak dalam kandungannya itu anak Rama BUKAN ARLAN!" Lanjutnya bergetar dengan mata memerah diakhir dengan bentakan.


"Baguslah kalau sudah mengetahui, jadi saya tidak perlu lagi menjelaskan" Balasnya melepaskan cengkraman nyonya Wijaya dengan kasar.


"Itu tamparan untuk ibu dari seorang penghianat!" Lanjutnya seraya menunjuk ibu Nindia.


"PLAK!"


Ibu Nindia membalas dengan menampar wajah nyonya Wijaya, hingga membuatnya membulatkan mata semakin memanas.


"Berani kamu melawanku?" Ucap nyonya Wijaya dingin.


"Kenapa tidak? Nyonya berani menamparku duluan dan mengatakan saya ibu dari penghianat. Lalu bagaimana dengan nyonya yang membuang menantunya sendiri demi mendapatkan menantu lain?!" Balasnya menantang semakin membuat nyonya Wijaya masam.


Nyonya Wijaya menarik kasar rambut ibu Nindia. "Akh!" Ringisnya memegang rambutnya.


"Dengar, aku sangat menyesal telah menerima kalian di keluarga ini! Jadi mulai sekarang kamu sudah bukan siapa - siapa lagi!" Ucapnya dengan mata berkaca - kaca.


"Akh!" Nyonya Wijaya meringis saat ibu Nindia ikut menarik rambutnya.


"Nyonya pikir cuma nyonya yang bisa bertindak kasar seperti ini! Saya juga bisa!" Balasnya semakin menarik kuat rambut nyonya Wijaya.


"Dasar wanita tidak tahu diri. Bermuka dua." Balas nyonya Wijaya yang juga menguatkan tarikannya.


Keduanya salin tarik menarik dengan kuat selama beberapa saat membuat keduanya oleng hingga terjatuh ke sofa, dan barulah saling melepaskan tarikan rambut masing - masing.


"Aku tidak akan melepaskan mu!" Ucap nyonya Wijaya bangkit mencekik leher ibu Nindia yang masih terlentang di sofa ruang tengah.


Tatapannya memerah dan tajam, ada rasa kecewa bercampur penyesalan di hati nyonya Wijaya. Dia terus mencekik leher ibu. India.


Sementara yang dicekik memegang kedua tangan nyonya Wijaya berusaha melepaskan cekikikan itu. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya, matanya membulat dan napasnya mulai. tersengal.


'


"MA?"


Teriak Arlan yang berdiri di ambang pintu, lalu dengan cepat menghampiri mereka.


"Ma lepaskan dia ma!" Ucapnya berusaha melepaskan mamanya.


"Tidak Arlan, biarkan ibu mengirimnya ke neraka! Untuk membayar dosa - dosanya!" Balasnya


"A' aa'''..." Ibu Nindia semakin memerah bahkan memucat membulatkan mata.


"Ma,, berhenti ma!" Ucap Arlan menarik kuat mamanya, hingga melepaskan cekikikannya.


"Ukhuk, ukhuk, hhhhhh,, hhhhh,, ukhuk, ukhuk!"


Sontak ibu Nindia terbatuk sambil memegangi lehernya yang berdenyut, bahkan dadanya terasa sakit.


Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya di lantai bersandar di sofa. "Hhhhhh, hhhhhh," wajahnya pucat dipenuhi keringat dingin, ia bersandar mengatur napasnya yang tersengal.


Sementara nyonya Wijaya bersama Arlan berdiri di depannya. Keduanya menatap dengan masam.


Perlahan ibu Nindia mendongak menatap, "Ar,,," menatap Arlan.


"Bawa barangnya keluar!" Seru Arlan, lalu dengan cepat kedua bodyguardnya juga Kris memasuki ruangan mengeluarkan koper dan tas yang berisi pakaian ibu Nindia.


Sontak ibu Nindia membulatkan mata melihat barangnya yang di lempar ke depan pintu apartemen.


"Tinggalkan tempat ini sekarang juga! Dan ingat jangan pernah muncul lagi!" Ucap Arlan dingin tanpa meliriknya.


Perlahan ibu Nindia berdiri lalu menatap ibu dan anak itu bergantian. Wajahnya memucat merasakan getaran seluruh tubuhnya.


Dengan langkah gontai, rambut acak - acakan, juga pakaian yang lusuh. Ibu Nindia menarik kopernya meninggalkan apartemen itu.


"Jangan coba - coba kembali ke rumah Aluna! Jika tidak ingin hidup lebih sengsara!" Ucap Arlan penuh penekanan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Sontak membuat ibu Nindia kembali membulatkan mata. Tenggorokannya tercekat, dengan susah payah menelan saliva. Ia terus melanjutkan langkahnya terlihat malang perlahan buliran jernih mengalir membasahi kedua pipinya.


Ia menangis akan penghinaan yang dia dapatkan itu. Tatapannya tajam mengatupkan rahangnya.


'


'


'


_VILLA RAMA NINDIA_


Sejak kejadian kemarin, Rma bersama Nindia tidak kembali ke rumah. Mereka ke villa pribadi milik Rama yang tidak diketahui oleh keluarganya termasuk Arlan.


"Bagaimana ini mas? Sekarang rahasia kita sudah diketahui! Kita bahkan belum mengambil alih aset mas Arlan, bahkan mas belum menjadi CEO!"


"Itu karena kamu terlalu lamban. Aku merelakan mu menikahi Arlan agar kamu bisa dengan mudah mengambil uang dan asetnya. Tapi apa? Kamu dan ibu malah diam - diam menyewa seseorang untuk membunuh Aluna tanpa persetujuanku!" Balas Rama ketus.


"Yah mau gimana lagi mas? Aku pikir Arlan akan dengan mudah mencintai ku! Tapi ternyata dia masih mencintai Aluna. dan Mas tahu kan dia bahkan tidak ingin menyentuhku secara sadar." Balas Nindia melipat tangan kesal dengan Rama.


Rama mengerutkan dahi, "Lalu mengapa Arlan mengira anak itu adalah anaknya? Kalau dia enggan menyentuhmu?" Balas Rama sedikit tidak suka mendengar perkataan Nindia.


"Itu,, itu karena di awal pernikahan kami masa keterpurukannya, mas Arlan sering mabuk - mabukan. Sehingga dia menganggap ku Aluna!" Balasnya lirih.


"Kamu yakin hanya seperti itu?" Kembali Rama bertanya dan Nindia pun mengangguk kecil.


'


'


'


"Arlan,, nak?" Ucap nyonya Wijaya menggenggam tanga kanan Arlan.


"Mama minta maaf nak. Ini semua salah mama karena telah termakan tipu daya mereka." Lanjutnya dengan bergetar, perlahan air matanya menetes, namun Arlan enggan meliriknya.


"Pak antarkan nyonya kembali ke rumah utama!" Ucap Arlan serak dengan wajah datar yang menegang.


"Arlan, bicaralah nak! Maafkan mama hiks, hiks, hiks,!" Ucap nyonya Wijaya terisak.


Arlan pun menarik tangannya, lalu melangkah meninggalkan apartemen.


"Arlan? Arlan?" Panggil nyonya Wijaya mengikuti Arlan seraya menarik lengan kanan Anaknya.


Sontak Arlan menghentikan langkahnya namun tidak berbalik. Tubuhnya bergetar dan kedua matanya memerah.


"Arlan maafkan ibu nak hiks, hiks, hiks, Ibu tahu ibu salah kepada mu dan Aluna, tapi tolong maafkan ibu hiks, hiks, hiks,!" Ucapnya berlutut di kaki Arlan.


Arlan mengepalkan kedua tangannya. Rasa sakitnya terlalu besar hingga ia tidak mampu memberikan maaf secepat itu.


Arlan menarik tangannya dari genggaman mamanya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang lebar.


"Arlan,,, hiks, hiks, hiks, ARLAN? ARLAN? Hiks. Hiks. Hiks.!" Nyonya Wijaya tidak hentinya memanggil anaknya sambil terisak bahkan isakan-nya menggenggam memenuhi lorong apartemen.


"Hiks, Hiks, Hiks," Ia terus terisak bersimpuh di lantai, menyesali kesalahannya, sambil memandangi punggung Arlan yang berlalu memasuki lift di ujung lorong pendek itu.


'


"Nyonya, sebaiknya kita pulang saja!" Sahut sang supir seraya membantu nyonya Wijaya berdiri.


Kini giliran nyonya Wijaya yang meninggalkan apartemen dalam keadaan lusuh, wajahnya pucat berderai air mata terlihat malang.


Bersambung,,,