
"Bagaimana kabarmu Aluna?" Tanya Bu Ambar seraya menghampiri Aluna yang duduk di meja seorang diri.
"Baik, ibu sendiri bagaimana?"
"Syukurlah, ibu juga baik, oh yah saya sudah melihat desain kamu dan sangat cantik!" Balasnya mengulas senyum.
"Terima kasih, ini semua berkat ibu yang selalu mengajarkan nilai ketulusan dalam bekerja!"
"Saya bangga sama kamu. Dan,, saya,, sudah dengar tentangmu dan Arlan. Apa kamu baik - baik saja?" Kembali ibu Ambar bertanya dengan raut sedikit sendu.
"Mm,, awalnya sangat berat, tapi sekarang sudah jauh lebih baik." Balasnya mengulas senyum kecil, "Ibu bisa lihat aku punya calon malaikat!" Lanjutnya sedikit membuka mantelnya bagian depan memperlihatkan perutnya.
Sontak ibu Ambar menutup mulut terkejut dengan yang dia lihat. "I,, ini beneran kamu hamil?" Tanyanya mengulas senyum juga sedikit tidak percaya dan Aluna pun mengangguk.
"Ibu ucapkan selamat, semoga kalian selalu sehat!" Balasnya mengelus kecil bahu Aluna dengan mata memerah, membuat Aluna ikut terharu.
"Lalu berapa lama kamu berada di sini?"
"Dirut Piola memberiku cuti 3 hari, jadi aku akan berada di sini selama seminggu."
"Bagus, jadi kita bisa jalan - jalan bersama."
"Hehehe!" Kompak terkekeh kecil.
'
'
'
"Pak kami sudah melakukan penyelidikan kemarin malam, dan memang benar kemungkinan besar di pemukiman itu adalah markas mereka." Lapor Kris saat berada di dalam ruangan Arlan.
Arlan mengangguk kecil menatap Kris yang berdiri di depannya, sementara Edward sejak semalam ia tidak diketahui keberadaanya. Dan itu sudah menjadi sifat alaminya yang kadang hilang tanpa pamit lalu muncul tanpa permisi. Arlan pun tidak memikirkan karena baginya Edward hidup di hutan pun tidak jadi masalah.
"Apa ada sesuatu yang kalian temukan di sana sehingga meyakini itu markas mereka?" Tanya Arlan.
"Kami menemukan sebuah gudang yang terlihat kumuh, namun memiliki ruang bawah tanah yang luas dilengkapi beberapa pasilitas moderen." Balas Kris sedikit berbisik.
Arlan mengerutkan dahi, "Ruang bawah tanah?" Gumamnya seraya mengelus kecil dagunya.
"Benar pak, di dalamnya sudah menyerupai kotak harta karun!" Ucapnya lalu mengeluarkan ponsel.
Arlan pun mengamati setiap foto yang mereka ambil. Termasuk foto selfie Kris dan Edward di tengah tumpukan emas batangan itu. Arlan pun menggeser ke foto selanjutnya dan melihat peta, daftar nama anggota juga jadwal pembongkaran barang selanjutnya.
"Kalian tidak menemukan catatan ketua mereka?" Tanya Arlan dan Kris pun menggeleng.
Arlan berfikir sejenak, mengenai ketua gangster itu yang sedikit misterius.
"Ok, beritahu yang lain untuk memastikan jadwal pembongkaran barang selanjutnya! Aku akan ikut dengan kalian!" Seru Arlan dengan wajah datarnya memancarkan aura dingin dan Kris pun mengangguk.
'
'
'
_KEDIAMAN KELUARGA WIJAYA_
Siang itu, kediaman keluarga Wijaya cukup tenang, dan seperti biasa tuan Wijaya bersama dengan kepala pelayan itu berada di halaman belakang menikmati secangkir teh hangat.
'
"DOR!"
Suara dor dari laki - laki terdengar serak yang dari belakang tiba - tiba membuat tuan Wijaya membulatkan mata lalu melipat surat kabar ditangannya.
"Edward,,,," Sahutnya.
"Heheh paman,," Balas Edward tersenyum memperlihatkan gingsul-nya seraya berdiri di depan tuan Wijaya.
"Sudah 3 hari pulang dan baru sekarang kamu kembali ke rumah?!" Ucap tuan Wijaya.
Dengan cepat Edward duduk di sampingnya, "Paman,,,"
"2 minggu lalu kamu bahkan masuk ke hutan untuk mengejar komplotan penyeludupan senjata! Tapi tidak punya waktu pulang ke rumah" Lanjut tuan Wijaya.
"Maaf paman!" Ucapnya menautkan kedua telapak tangan memohon.
"Sekarang kamu sudah dewasa, perusahaan menunggumu bergabung!"
"Aduh paman,, kan ada kak Arlan! Dia juga sudah menjadi CEO nomor satu tanpa bantuan Edward!" Balasnya seraya melirik sekitar seakan mencari keberadaan orang di rumah.
Tuan Wijaya pun hanya menggeleng kepala dengan keponakannya itu. Sudah bertahun - tahun Edward selalu menolak bergabung di perusahaan dan selalu saja tuan Wijaya tidak berkutik dengannya.
'
'
'
_PT. PERKASA WIJAYA _
"Tok,, Tok,, Tok,,"
Ketukan dari balik pintu membuat Arlan dan Kris menoleh melihat Yuni yang memasuki ruangan dengan terburu - buru.
"Pak, p,, proyek FAMILY RESIDENCE runtuh pak!". Ucap Yuni terbata - bata.
"DUG!"
Arlan sontak membulatkan mata, tubuhnya bergetar seketika. "APA?" Tanyanya dengan nada terkejut seraya berdiri dari duduknya.
"Kok bisa? Lalu bagaimana keadaan di lokasi?" Tanyanya dengan wajah memucat.
"Dari laporan tim yang di lapangan, korban luka - luka sekitar 10 dan,, dan 2 orang telah di nyatakan tewas!"
Arlan semakin terkejut mendengar korban yang luka bahkan tewas.
"Kris antarkan aku ke sana!" Serunya.
"Tapi pak di sana sangat berbahaya buat bapak!" Balas Yuni.
"Benar pak, biar saya saja ke sana!" Ucap Kris namun Arlan menolak. Dengan terpaksa Kris berangkat bersama Arlan.
'
'
'
"Pemirsa dimana pun anda berada, saat ini saya sedang berada di lokasi pembangunan FAMILY RESIDENCE, milik PT. PERKASA WIJAYA. Seperti yang anda lihat, bangunan yang telah berjalan sekitar 50 % ini telah dinyatakan runtuh pada jam 13 : 00 siang tadi.
"Dari insiden ini, setidaknya memakan korban sebanyak 10 orang yang luka dan 2 orang di nyatakan tewas. Dan saat ini beberapa ambulance sudah berada di lokasi untuk mengevakuasi para korban untuk di bawah ke rumah sakit terdekat."
'
"Pak, bapak yakin ingin ke sana?"
Tanya Kris memastikan saat melihat lokasi ramai, bahkan beberapa media telah datang untuk meliput, tangisan keluarga para korban pun menghiasi lokasi saat itu.
Namun Arlan tidak memperdulikan, ia tetap berlari ke tengah - tengah runtuhan itu, tubuhnya kembali bergetar melihat para korban dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Sakit,,aduh"
"Tolong,, sakit!"
"Sakit,,,"
"Pembunuh!" Sahut ibu - ibu paru baya serak menunjuk Arlan.
"Dasar pembunuh!"
Teriakan beberapa keluarga korban menggema saat itu juga.
"Ibu - ibu dan bapak - bapak tolong tenang!" Sahut Arlan!
"Pembunuh! Kalian semua pembunuh!" Teriak mereka bahkan lebih keras.
"Semuanya mohon tenang! Kami bisa bicarakan baik - baik!" Sahut Keris menenangkan, namun mereka tidak peduli.
"Pembunuh!"
"Kalian harus bertanggung jawab!
"Pembunuh! Pembunuh!"
"BUG!"
"Akh!" Ringis Arlan memegangi dahinya yang berdarah.
Arlan merasa tertekan dengan teriakan - teriakan itu sampai tidak bisa berpikir jernih, terlebih saat seseorang melemparkan batu dan mengenai dahinya.
"Pak, bapak tidak pa - pakan?" Tanya Kris menopang tubuh Arlan yang sudah oleng.
Beberapa keamanan pun menghalau keributan itu, dan tidak lolos dari liputan media. Sangat jelas wajah Arlan yang memucat dengan dahi yang mengalirkan darah. Dengan cepat Kris membawa Arlan ke rumah sakit terdekat.
'
'
'
"Arlan, pa,, Arlan!" Sahut nyonya Wijaya berlari menghampiri suaminya yang duduk main catur bersama Edward.
"Ada apa ma?" Tanyanya bingung.
"Arlan pa, hik. hiks. hiks." Ucapnya terisak.
"Arlan kenapa ma?" Tanya tuan Wijaya dengan khawatir dan Edward hanya menatap khawatir tanpa berbicara.
"Proyeknya runtuh pah, mama lihat diberita! Hiks. Hiks. Hiks.!" Nyonya Wijaya semakin terisak.
Tuan Wijaya membulatkan mata merasakan getaran di sekujur tubuhnya, sementara nyonya Wijaya semakin terisak.
"Paman dan bibi tenang yah! Biar Edward yang menemui mereka!"
"Kabari paman secepatnya!" Balas tuan Wijaya dan Edward pun langsung berlari.
Bibi Meryam bersama dengan beberapa pelayanan pun membawa nyonya Wijaya dan tuan Wijaya ke ruang tengah untuk menenangkan mereka.
'
"Halo Kris kalian di mana?" Tanya Edward seraya mengemudi.
"Kami di rumah sakit terdekat pak!" Balas Kris dan Edward pun langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit yang dimaksud.
Sepanjang jalan Edward mengkhawatirkan kakak sepupunya. Ia terus mengemudi dalam kecepatan tinggi.
'
'
'
"Bagaimana keadaan bapak?" Tanya Kris saat melihat dokter selesai memberikan perban di dahinya.
"Saya tidak papa!" Balasnya melirik Kris bergantian dengan dokter.
"Luka bapak tidak terlalu serius, tapi sebaiknya jangan dibiarkan terkena air selama 3 hari!" Jelas dokter itu dan Arlan pun mengangguk.
"Saya permisi dulu pak!"
"Terima kasih dok!" Balasnya serak.
'
"Kak Arlan?" Sahut Edward memasuki ruangan.
"Edward? Arlan menatap Edward.
"Kakak baik - baik ajakan?" Tanyanya khawatir dan Arlan pun mengangguk.
"Bagaimana keadaan di rumah?" Tanya Arlan.
"Mereka semua mencemaskan kakak, terutama bibi dia menangis saat melihat kakak diberita." Jelasnya.
'
"Kris apa ada info dari lokasi?" Tanya Arlan.
"Mereka masih sementara menyelidiki pak, Belum di temukan penyebab pastinya. Hanya saja mereka menduga jika bahan material yang kita gunakan tidak memenuhi standar!"
Arlan kembali terkejut mendengar laporan dari Kris. Perlahan memijat pelipisnya merasakan denyutan di kepalanya. Ia meyakini bahan yang digunakan kualitas tinggi dan tidak mungkin dengan mudah runtuh.
"Kris? Korban yang luka dan tewas ada di rumah sakit ini?" Tanyanya dan Kris pun mengangguk.
"Antarkan aku ke sana, aku ingin melihat orangnya!"
"Jangan pak! Keadaan tidak aman. Biarkan saya dan pak Edward yang melihatnya!" Arlan pun menuruti.
'
'
'
"Hiks. Hiks. Hiks."
"Hiks. Hiks, Hiks."
Saat Edward dan Kris berjalan menuju ruang jenazah, tangisan keluarga korban telah menggema di ruangan. Edward dan Kris pun sudah mengatur rencana.
Edward tidak menampakkan dirinya secara langsung, sehingga hanya Kris yang berjalan mendekati mereka. Sontak membuat mereka kembali heboh.
"Itu dia, dimana bos kalian?" Dia harus bertanggung jawab!" Sahut bapak - bapak itu saat melihat Kris.
"Kalian harus bertanggung jawab!"
"Bos kalian pembunuh!"
Mereka terus memaki Kris, namun yang dimaki terpaksa menahan emosi dan tetap berusaha tenang.
"Mohon semuanya tenang! Kami semua turut perihatin, tapi ini musibah dan bukan kemauan kami!" Ucapnya seraya memastikan Edward masuk dalam ruangan dengan baik, saat ia mengalihkan perhatian keluarga korban.
"Kami tidak butuh uang!"
"Betul, Kami akan menuntut!"
Mereka tidak termakan bujukan dan semakin memanas.
Saat ini Edward sudah memasuki ruangan, lalu meneliti 2 korban itu, tak lupa kembali memotret untuk diserahkan ke Arlan. Beruntung mereka melakukan dengan baik hingga berhasil meninggalkan ruangan.
Bersambung,,,